Kamis, 16 Juli 2026

*Nasehat al-Ustadz al-Waalid Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I حفظه اللّه dalam Reuni Akbar Hasanat Ke-05 Tahun 2026*

*Nasehat al-Ustadz al-Waalid Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I حفظه اللّه dalam Reuni Akbar Hasanat Ke-05 Tahun 2026*

1) Salah satu pilar terpenting dalam agama Allah adalah nasehat. Meskipun yang memberikan nasehat belum tentu lebih baik dari yang dinasehati. 

2) Selalu menjaga keikhlasan dalam seluruh aktivitas kita, dalam menolong agama Allah dan beribadah kepada-Nya. 

3) Teruslah meningkatkan kualitas diri kita dan dalam meningkatkan kualitas diri ini juga harus ikhlas dan dengan tujuan memberikan manfaat lebih besar kepada kaum muslimin. Jangan rendah diri dan merasa minder. Allah berfiman:

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran : 139) 

4) Berkayarlah pada bidangnya masing-masing. Jangan hanya menjiplak dan ini akan memberikan contoh pada generasi mendatang. Ini akan menjadi amal jariyah. 

5) Pupuklah semangat kita, jangan lemah dan mengeluh. Ingatlah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, 

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)

Jangan takut dengan masa depan dan carilah teman yang shalih dan bisa memberikan semangat serta motivasi. Ingatlah kisah Musa dan Harun! 

6) Mintalah pertolongan kepada Allah, karena kita manusia yang lemah. 

لا حول ولا قوّة إلا باللّه

 Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah

7) Mulailah sesuatu dari nol, jangan jadi orang yang maunya instant. Angka 10 itu dari 1, angka 1000 pun dari angka 1. Begitu pula dalam membangun pondok, jangan maunya langsung banyak. Mulai dari yang sedikit, ikutilah sunnatullah. Hanya Allah yang bisa langsung jadi "kun fayakun". Lihatlah dakwah para anbiya, ada mereka yang tak ada pengikut, apakah gagal dakwah mereka? Tidak, karena tugas mereka hanya menyampaikan! 

8) Dalam mendidik ikutilah metode para anbiya dan para Rasul, yang terpenting adalah MENCETAK MANUSIA. Bagaimana manusia-manusia ini bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi umat. Jangan sibuk sarana prasarana, kelasnya tidak pakai AC dan makanannya begini begitu. Itu adalah pelengkap, justru yang prioritas tidak boleh ditinggalkan. 

9) Miliki tanggung jawab moral di tengah umat, umat percaya pada anda. Lalu apa yang harus anda lakukan untuk menjaga kepercayaan ini? Setelah Anda berbuat maksimal untuk umat maka serahkan kepada Allah. Lihatlah Nuh 'alaihissalam yang tetap maksimal mendakwahkan anaknya,  bahkan ketika anaknya telah binasa masih terus didoakan sampai akhirnya di tegur oleh Allah. 

10) Jangan pernah merasa sudah maksimal dan berhasil. Ingatlah juga kisah Imam Ahmad رحمه الله yang disebutkan oleh al-Imam adz-Dzahabi رحمه الله tatkala akan wafat maka anaknya mengatakan, "Wahai ayahku, katakanlah Laa Ilaaha illallah!" Maka Imam Ahmad mengatakan, "Nanti!" Hal ini terjadi berulang. Setelah Imam Ahmad sadar dari mabuk kematiannya, maka sang anak pun bertanya, "Apa yang engkau katakan tadi wahai ayahku?" Maka Imam Ahmad menjawab, "......ada setan di hadapanku yang mengatakan 
"نجوت مني يا أحمد"
"Engkau telah selamat dariku, wahai Ahmad", 
maka imam Ahmad menjawab; "Tidak...aku belum selamat darimu."

Ditulis oleh Noviyardi Amarullah dan telah dikoreksi oleh al-Ustadz Mubarak Bamualim حفظه اللّه

Kusuma Agro Wisata, 28 Muharram 1448 H / 14 Juli 2026

menikah dengan penuntut ilmu

Mutiara Faedah Daurah

*Mutiara Faedah Daurah*

1. Kaidah
ترك المأمور أشد عند الله من فعل المحظور
Meninggalkan perintah lebih berat di sisi Allah daripada menerjang larangan. 

Oleh karenanya, dosa Iblis yang meninggalkan perintah Allah untuk sujud lebih berat daripada dosa Adam yang menerjang larangan makan buah. 

2. Kaidah
   كل فهم سلبه العمل فهو ضعيف
Setiap pemahaman yang sulit diamalkan maka itu pemahaman yang lemah. 

Contoh ucapan sebagian ahli fikih yang mengatakan bahwa wajib dalam mandi untuk menggosok semua badan. Ini sulit dipraktekkan. 

3. Bantahan kepada yang mengingkari hadits ahad dalam aqidah:
- Teori kalian ini termasuk aqidah, sehingga butuh dalil qath'i, maka kita tidak menerima teori kalian ini berdasarkan kaidah kalian sendiri. 
- Contoh hadits mutawatir sejatinya kembali kepada ahad juga dari kalam ulama. 
- Tunjukkan kepada kita kitab khusus yang ditulis ulama tentang aqidah yang hanya berdasarkan hadits mutawatir. Tidak akan ada. Maka hanya ada kemungkinan, mungkin ulama yang sesat atau kalian yang sesat? 

(Faedah Syeikh Masyhur Hasan dalam Daurah Batu, Senin 14 Juli 2026)
Ustadz yusuf abu ubaidah 

pendapat dalam masalah ini ada lima pendapat:

Aku berkata (penulis kitab): Kesimpulannya, pendapat dalam masalah ini ada lima pendapat:
Pertama: Pendapat Al-Asy'ari dan para pengikutnya, yaitu pendapat yang ditunjukkan oleh Al-Kitab (Al-Qur'an), As-Sunnah, dan disepakati (ijmak) oleh generasi salaf umat ini: Bahwa kemampuan hamba (qudratul 'abd) sama sekali tidak memiliki pengaruh (efek) terhadap apa yang ditentukan baginya (maqdur), melainkan kemampuan tersebut hanya menyertai (berbarengan) dengannya saja.
Kedua: Pendapat yang diriwayatkan dari Al-Imam (Al-Juwaini): Bahwa kemampuan yang baru (qudrah haditsah) memberikan pengaruh dalam mewujudkan suatu perbuatan berdasarkan kadar kemampuan yang diciptakan oleh Sang Pencipta (Allah) Ta'ala.
Ketiga: Pendapat Al-Qadhi (Abu Bakar Al-Baqillani) dan para pengikutnya: Bahwa kemampuan tersebut memberikan pengaruh pada sifat khusus dari perbuatan itu, bukan pada wujud (eksistensi) perbuatannya.
Keempat: Mazhab Jabariyyah: Bahwa hamba sama sekali tidak memiliki kemampuan (qudrah) asal-asalan. Apa yang diciptakan bagi hamba hanyalah apa yang ditakdirkan baginya saja, seperti gerakan dan diam (refleks), tanpa ada tambahan kemampuan apa pun. Mereka menyamakan antara orang yang terpaksa (seperti orang yang gemetar karena sakit) dan orang yang memilih.
Kelima: Mazhab Qadariyyah—yang merupakan Majusinya umat ini—: Bahwa kemampuan yang baru (qudrah haditsah) memberikan pengaruh dalam mewujudkan perbuatan secara mandiri (independen).
Ustadz nidlol mas'ud / babanya sofia

Rabu, 15 Juli 2026

menonton piala dunia

DAURAH ِAl Muqoddimaat fii Ilmit Tauhid

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات 

Telah terlaksana DAURAH ِAl Muqoddimaat fii Ilmit Tauhid 

المقدمات في علم التوحيد 

Bersama : 
🎙️ٍSyaikh Dr. Malik Husain Sya'ban,hafizhahullah 

Rabu - Kamis, 17 - 18 Juni 2026 

Semoga ada kesempatan kembali bagi kami dapat bersimpuh dalam Agenda Dauroh-dauroh Du'at di moment selanjuta nya 
 
Jazakumullah khoiron wa barakallah fiikum kami ucapkan secara umum kepada segenap panitia penyelenggara Bina Dakwah Sunnah Yogyakarta,YPIA,Muslim.or.id dan Twit Ulama,Ma'had Ibadurrahman Sleman begitu juga terkhusus kepada Pemateri Dauroh Du'at kali ini atas semua kebaikan-kebaikan nya 

Semoga menjadi penguatan literasi di bidang akidah yang bermanfaat khususnya bagi para du'at ahlussunnah dan kaum muslimin di Yogyakarta dan sekitar nya . 

نفعنا الله و إياكم بالعلم النافع و العمل الصالح 

 Ringkasan Daurah Syaikh Dr. Malik Husain Sya'ban Hafidzahullah

أبرز معاني الاستدلال عند أهل السنة والجماعة في أبواب الاعتقاد

١. أهل السنة والجماعة يسلمون تسليما مطلقا لكل من جاء في نصوص الوحي. فما أثبته النقل أثبتوه وما نفاه نفوه وما سكت عنه توقفوا فيه دون اثبات أو نفي

٢. أهل السنة والجماعة مجمعون على الأخذ بكل ما صح من السنة النبوية في مسائل الاعتقاد سواء كان ذلك من المتواتر او من الآحاد 

٣. أهل السنة والجماعة لا يأخذون بالاحاديث الضعيفة في مسائل الاعتقاد 

٤. أهل السنة والجماعة يجرون النصوص العقيدة على ظاهرها من غير تحريف ولا تعطيل ومن غير تكييف ولا تمثيل 

٥. أهل السنة والجماعة لا يعارضون نصوص الكتاب والسنة بعضها ببعض. لأن كلها وحي من عند الله عز وجل 

٦. أهل السنة والجماعة لا يعارضون نصوص الكتاب والسنة بالعقل الفاسد ونحوه 

٧. أهل السنة والجماعة يعتقدون أن فهم السلف الصالح ومن بعدهم لنصوص الوحيين حجة معتمدة

Makna-makna Argumentasi Ahlus Sunnah wal Jama'ah Yang Paling Populer:

1. Penerimaan Mutlak terhadap Wahyu

Ahlussunnah wal Jamaah menerima secara mutlak setiap yang datang dalam nash wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah). Apa yang ditetapkan oleh dalil naqli (nash), maka mereka menetapkannya; apa yang ditiadakan olehnya, maka mereka meniadakannya; dan apa yang didiamkan (tidak dibahas) olehnya, maka mereka bersikap tawaquf (diam/menahan diri) tanpa menetapkan maupun meniadakannya.

2. Kedudukan Hadis dalam Akidah

Ahlussunnah wal Jamaah bersepakat (ijma') untuk mengambil segala sesuatu yang shahih dari Sunnah Nabawiyah dalam masalah akidah, baik itu yang berstatus mutawatir maupun ahad.

3. Penolakan terhadap Hadis Dhaif 

Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengambil (tidak menggunakan) hadis-hadis dhaif (lemah) dalam masalah akidah.

4. Memahami Nash Sesuai Makna Lahirnya

Ahlussunnah wal Jamaah memberlakukan nash-nash akidah sesuai dengan makna lahirnya tanpa melakukan tahrif (penyelewengan makna), ta'thil (penolakan/pengosongan sifat), takyif (mempertanyakan bagaimana hakikatnya), maupun tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk).

5. Harmonisasi Nash

Ahlussunnah wal Jamaah tidak mempertentangkan nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah satu sama lain, karena semuanya adalah wahyu yang datang dari Allah Azza wa Jalla.​

6. Kedudukan Akal terhadap Wahyu

Ahlussunnah wal Jamaah tidak mempertentangkan nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan akal yang rusak (akal yang menyimpang) dan hal-hal sejenisnya.

7. Otoritas Pemahaman Salaf 

Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa pemahaman as-salaf ash-shalih (generasi terdahulu yang shalih) dan orang-orang setelah mereka terhadap nash-nash wahyu adalah hujjah (argumen) yang dapat diandalkan.

Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat. Amin 🤲

🔰 Diselenggarakan oleh :
* YPIA - Yayasan Pendidikan islam Al-Atsari 
* Muslim.or.id
* Twitt Ulama
* Bina Dakwah Sunnah
* Ma'had Ibadurrahman

𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗕𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗧𝗲𝗸𝘀, 𝗣𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗝𝘂𝗴𝗮 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁..

𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗕𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗧𝗲𝗸𝘀, 𝗣𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗝𝘂𝗴𝗮 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁...

Dalam salah satu ceramahnya, Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah menyampaikan sebuah faedah yang sangat berharga bagi kita, para thalabul 'ilmi.

Beliau berkata:
وَأَشْهَرُ فَرْقٍ بَيْنَ مَذْهَبِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَمَذْهَبِ أَهْلِ الظَّاهِرِ: أَنَّ أَهْلَ الْحَدِيثِ يُعْمِلُونَ الْمَعَانِيَ، وَأَنَّ أَهْلَ الظَّاهِرِ يَجْمُدُونَ عَلَى الْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي.
"Perbedaan yang paling masyhur antara metode Ahlul Hadits dan Ahli Dzahir adalah bahwa Ahlul Hadis memperhatikan dan menggali makna-makna, sedangkan Ahli Dzahir membeku pada lafaz dan bentuk teksnya."

Untuk menjelaskan hal tersebut, beliau membawakan kisah yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam I'lamul Muwaqqi'in.

Seorang komandan memerintahkan pasukannya, "𝗜𝘀𝗶𝗹𝗮𝗵 𝘄𝗮𝗱𝗮𝗵-𝘄𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗶𝘁𝘂 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗶𝗿 𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶."

Mereka pun mengisi seluruh wadah itu. Namun setelah penuh, wadah-wadah tersebut justru ditinggalkan di tepi sungai. Ketika ditanya mengapa tidak dibawa pulang, mereka menjawab, "Komandan hanya menyuruh kami mengisinya, bukan membawanya."

𝗠𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗴𝗮𝗴𝗮𝗹 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗺𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵.

Contoh lain yang sering disebut para ulama ushul adalah sabda Nabi ﷺ:
 لا يَبولَنَّ أحَدُكُم في الماءِ الدَّائِمِ الذي لا يَجري...
"Janganlah salah seorang di antara kalian buang air kecil di air yang tidak mengalir."
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sebagian Ahli Zhahir memahami hadis ini sesuai bunyi lafaznya saja. Menurut konsekuensi pemahaman tersebut, yang dilarang hanyalah buang air kecil langsung ke air yang tergenang. 

Adapun buang air besar atau mencemari air dengan cara lain, tidak termasuk larangan karena tidak disebutkan dalam lafaz hadits.

Padahal para ulama menjelaskan bahwa maksud Nabi ﷺ adalah menjaga air agar tidak tercemar dan tidak membahayakan manusia. Karena itu, setiap bentuk pencemaran yang merusak air masuk dalam makna larangan tersebut, bahkan jika lebih buruk daripada sekadar buang air kecil.

𝗗𝗮𝗿𝗶 𝘀𝗶𝗻𝗶 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝘁𝗵𝗮𝗹𝗮𝗯𝘂𝗹 '𝗶𝗹𝗺𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝗺𝗽𝘂𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝘂𝗹𝗮 𝗰𝘂𝗸𝘂𝗽 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮. 𝗦𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗻𝘁𝘂𝘁 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝘀𝗮𝗵𝗮𝗯𝗮𝘁, 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗶𝗺𝗮𝗺, 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗲𝗹𝗮𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗶𝗹 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁, 𝘀𝗲𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝘁𝗮𝗵𝘂𝗶 𝗺𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗯𝘂𝗻𝘆𝗶 𝗹𝗮𝗳𝗮𝘇𝗻𝘆𝗮.

Betapa banyak orang memiliki dalil, tetapi keliru dalam memahaminya. Bukan karena dalilnya salah, melainkan karena ia berhenti pada teks tanpa memahami makna yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah  Ta'ala menjadikan kita termasuk penuntut ilmu yang diberikan pemahaman agama yang benar.

📝 𝙵𝚊𝚎𝚍𝚊𝚑 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚌𝚎𝚛𝚊𝚖𝚊𝚑 𝚂𝚢𝚊𝚒𝚔𝚑 𝙼𝚊𝚜𝚢𝚑𝚞𝚛 𝙷𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚂𝚊𝚕𝚖𝚊𝚗 𝚑𝚊𝚏𝚒𝚣𝚑𝚊𝚑𝚞𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚍𝚊𝚞𝚛𝚊𝚑 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚎𝚕𝚎𝚗𝚐𝚐𝚊𝚛𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚘𝚕𝚎𝚑 𝙼𝚊'𝚑𝚊𝚍 𝙰𝚕-𝙸𝚛𝚜𝚢𝚊𝚍. 𝙳𝚐 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚊𝚍𝚊𝚙𝚝𝚊𝚜𝚒.
Ustadz abu ya'la hisbul madjid