Senin, 02 Maret 2026

Apakah boleh mengafirkan Syiah?

ما حكم تكفير الشِّيعة؟

السؤال:
هل يجوز تكفير الشِّيعة؟

الجواب:
الشيعة أقسام وأنواع، ذكرها بعضُهم اثنتين وعشرين نوعًا –يعني: فرقة- لكن الباطنية منهم: كالجعفرية، والإمامية أتباع الخميني الاثنا عشرية، هؤلاء لا شكَّ في كفرهم؛ لأنهم رافضة، خصوصاً قادتهم وأئمتهم الذين يدعون إلى الشرك بالله وعبادة أهل البيت، ويغلون في عليٍّ، ويعبدونه من دون الله، وفي الحسن والحسين، ويرون أنهم يعلمون الغيب، وأنهم معصومون، ويدَّعون أنَّ عليًّا هو الإله، هكذا النُّصيرية، وهكذا الإسماعيلية، هؤلاء من أكفر الناس، القادة والأئمَّة منهم والكبار.
أما عامَّتهم فهم جهلة ضالون، لكن أئمَّتهم الكبار وعلماءهم يعرفون هذه الأمور، ويعتقدون هذه الأمور -نعوذ بالله- ومن أضلّ الناس وأبعدهم عن الهدى -نسأل الله العافية.
وفيهم شيعة جهله، لا يغلون في أهل البيت، ولا يعبدونهم من دون الله، ولا يعتقدون أنهم يعلمون الغيب، ولكن يُفضلون عليًّا ويقولون: علي أفضل من الصديق، وأفضل من عمر، هذا غلطٌ وجهلٌ ومعصيةٌ، لكن ما يكونون كفَّارًا، يكونون عصاةً، ويكونون مبتدعةً، ولا يكونون كفَّارًا، إلا إذا غلوا في أهل البيت وعبدوهم من دون الله، وقالوا في عليٍّ وأهل البيت أنهم يعلمون الغيب، أو أنه تجوز عبادتهم من دون الله، أو قالوا أنهم أفضل من الأنبياء، وأنهم فوق محمدٍ والأنبياء، كما يقول الخميني في رسالته "الحكومة الإسلامية"، يقول: "إن أئمتنا بلغوا منزلةً ما بلغها ملك مُقرَّب ولا نبي مرسل" -نسأل الله العافية.
وحُكَّام إيران اليوم من أضلّ الناس وأكفرهم، وإن تظاهروا بالإسلام -نعوذ بالله-؛ لأنهم دعاة للشرك، دعاة لعبادة غير الله، دعاة للرفض، دعاة لسبِّ الصحابة، ولعن الصحابة، والغلو في عليٍّ وأهل البيت، وأنهم معصومون يعلمون الغيب، وأنهم يُعْبَدون ويُدْعَون من دون الله: يُستغاث بهم، ويُنذر لهم، إلى غير ذلك -نسأل الله العافية.

https://binbaz.org.sa/fatwas/4834/%D9%85%D8%A7-%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%AA%D9%83%D9%81%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%B9%D8%A9
Apa Hukum Mengafirkan Syiah?
Pertanyaan:
Apakah boleh mengafirkan Syiah?
Jawaban:
Syiah itu bermacam-macam bagian dan jenisnya, sebagian ulama menyebutkan ada dua puluh dua jenis—yakni firqah (kelompok). Namun, kelompok Batiniah di antara mereka seperti: Ja'fariyah dan Imamiyah (pengikut Khomeini/Itsna Asyariyah), mereka ini tidak diragukan lagi kekafirannya.
Hal ini dikarenakan mereka adalah Rafidhah, terutama para pemimpin dan imam mereka yang menyeru kepada kesyirikan kepada Allah dan penyembahan terhadap Ahlul Bait. Mereka bersikap melampaui batas (ghuluw) terhadap Ali, menyembahnya selain Allah, begitu juga terhadap Hasan dan Husain. Mereka beranggapan bahwa para imam tersebut mengetahui hal gaib dan bersifat maksum (terjaga dari dosa). Mereka bahkan mengklaim bahwa Ali adalah tuhan. Demikian pula halnya dengan kelompok Nushairiyah dan Ismailiyah; mereka termasuk manusia yang paling kafir, terutama para pemimpin, imam, dan tokoh-tokoh besarnya.
Adapun orang-orang awam di antara mereka, maka mereka adalah orang-orang bodoh yang sesat. Namun, para imam besar dan ulama mereka mengetahui perkara-perkara ini dan meyakininya—kita berlindung kepada Allah. Mereka adalah manusia yang paling sesat dan paling jauh dari petunjuk—kita memohon keselamatan kepada Allah.
Di antara mereka juga ada orang Syiah yang bodoh (awam) yang tidak bersikap ghuluw terhadap Ahlul Bait, tidak menyembah mereka selain Allah, dan tidak meyakini bahwa mereka mengetahui hal gaib. Akan tetapi, mereka hanya mengunggulkan Ali dan berkata: "Ali lebih utama daripada Ash-Shiddiq (Abu Bakar) dan lebih utama daripada Umar." Hal ini adalah kesalahan, kebodohan, dan kemaksiatan, namun mereka tidak menjadi kafir. Mereka statusnya adalah pelaku maksiat dan ahli bid'ah, bukan kafir.
Mereka baru menjadi kafir jika:
 * Bersikap ghuluw terhadap Ahlul Bait dan menyembah mereka selain Allah.
 * Mengatakan bahwa Ali dan Ahlul Bait mengetahui hal gaib.
 * Mengatakan bahwa mereka boleh disembah selain Allah.
 * Mengatakan bahwa para imam lebih utama daripada para nabi, atau kedudukannya di atas Muhammad dan para nabi lainnya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Khomeini dalam risalahnya "Al-Hukumah Al-Islamiyyah", ia berkata: "Sesungguhnya imam-imam kami telah mencapai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang dekat (dengan Allah) maupun nabi yang diutus." —kita memohon keselamatan kepada Allah.
Para penguasa Iran saat ini termasuk manusia yang paling sesat dan paling kafir, meskipun mereka menampakkan keislaman—kita berlindung kepada Allah. Karena mereka adalah penyeru kesyirikan, penyeru penyembahan kepada selain Allah, penyeru paham Rafidhah, penyeru pencelaan dan pelaknatan terhadap para sahabat, serta bersikap melampaui batas terhadap Ali dan Ahlul Bait dengan menganggap mereka maksum dan tahu hal gaib. Mereka menganggap Ahlul Bait boleh disembah dan diseru selain Allah: dimintai pertolongan (istighatsah), diberikan nazar, dan lain sebagainya—kita memohon keselamatan kepada Allah.


KEMIRIPAN SYIAH DENGAN YAHUDI ( 2 )

KEMIRIPAN SYIAH DENGAN YAHUDI ( 2 )

YAHUDI MEYAKINI BAHWA ALLAH MENGETAHUI SESUATU SETELAH TADINYA TIDAK TAHU, BEGITU JUGA DENGAN SYIAH

Yahudi dikenal lancang terhadap Alloh Taala, mereka mengatakan bahwa Alloh menyesal tatkala memilih Saul menjadi raja bagi Bani Israil karena dia menyelisihi perintah-perintahNya, di dalam Safar Samuel disebutkan :  Dan adalah perkataan Tuhan kepada Nabi Samuel adalah :  Aku telah menyesal menjadikan Saul sebagai raja, karena dia telah kembali di belakangKu dan tidak menegakkan kalamKu   ( Al-Ishhah ke-15 paragraf 10-11 ).

Perkataan ini menunjukkan bahwa Alloh Taala tidak tahu apa yang akan terjadi dari perkara Saul, kalau seandainya tahu maka tidak akan memilihnya menjadi raja bagi Bani Israil  Maha suci Alloh dari perkataan mereka -.

Adapun orang-orang Syiah maka di antara pokok-pokok aqidah mereka yang disepakati oleh mereka adalah menetapkan sifat Bada bagi Alloh, Al-Kulaini berkata :  Tidaklah Alloh diibadahi dengan sesuatu yang seperti Bada  ( Al-Kafi 1/146 ).
Bada secara bahasa memiliki dua makna, yang pertama : nampak setelah sebelumnya tersembunyi, dan yang kedua : mencetuskan pemikiran baru ( lihat Lisanul Arab 14/66 ), dan maksud orang-orang Syiah dari kata Bada ini tidak keluar dari maknanya secara bahasa, Al-Iyasyi  seorang gembong Syiah - berkata dalam Tafsirnya 1/44 :  

{وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً }
 
Dan (ingatlah), ketika kami berjanji kepada Musa empat puluh malam,    ( Al-Baqarah : 51 ). Abu Jafar Alaihi Salam berkata :  Adalah dalam ilmu dan takdir 30 malam kemudian nampak bagi Alloh maka Dia tambah 10 malam maka sempurnlah perjanjian Tuhannya yang awal dan akhir menjadi 40 malam .

Riwayat ini menunjukkan bahwa Alloh tidaklah mengetahui waktu perjanjian kepada Musa kecuali 30 malam, itulah yang ada pada ilmu dan takdirNya. Adapun 10 malam yang berikutnya belum diketahui oleh Alloh, bahkan lepas dari ilmu dan takdirNya  Maha suci Alloh dari perkataan mereka -. 

Keyakinan Yahudi dan Syiah ini jelas merupakan kebatilan yang nyata, karena yang haq bahwasanya Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi, tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Alloh baik di langit maupun di bumi, Alloh telah mentakdirkan  takdir-takdir para makhluk sebelum Alloh ciptakan mereka, maka penciptaan tersebut sesuai dengan takdirNya, Alloh ( berfirman:

{۞ وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ (59) وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُّسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (60)

 Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)".  Dan dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, Kemudian dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang Telah ditentukan, Kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.   ( Al-Anam : 59-60 ). 

Rasulullah ( bersabda :  Kunci-kunci gaib ada lima tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh, tidak ada yang tahu apa yang terjadi besok kecuali Alloh, tidak ada yang tahu apa yang berkurang dari rahim-rahim kecuali Alloh, tidak ada yang tahu kapan datangnya hujan kecuali Alloh, tidak tahu jiwa di bumi manakah dia akan mati, dan tidak ada yang tahu kapan terjadinya hari kiyamat kecuali Alloh  ( Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya : 4697 ).

Di antara doa Rasulullah ( adalah doa sholat Istikhoroh yang berbunyi  : 

اللهم إني أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسألك من فضلك العظيم فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب 

“ Ya Alloh sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmuMu dan aku mohon kekuasaanMu ( untuk mengatasi persoalanku ) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib.  ( Shahih Bukhari 1/391 ).
Ustadz arif fathul ulum 

menggerakan bibir dan bersuara lirih sampai di dengar sendiri ketika shalat

خمس بخمس /Lima hal dikenali melalui lima perkara: *

خمس بخمس

خمس يعرفن بخمس: الشجرة تعرف من ثمارها، والمرأة عند افتقار زوجها، الصديق عند الشدة، والمؤمن عند الابتلاء، والكريم عند الحاجة.

وخمس يرفعن خمسا: التواضع يرفع العلماء، والمال يرفع اللئام، والصمت يرفع الزلل، والحياء يرفع الخلق، والهزل يرفع الكلفة.

وخمس يطمسن خمسا: الزور يطمس الحق، والمال يطمس العيوب، والتقوى تطمس هوى النفس، والمن يطمس الصدقة، والحاجة تطمس المبادئ!

خمس يؤدين إلي خمس: العين تؤدي إلى الزنا، والطمع يؤدي إلى الندم، والقناعه تؤدي إلى الرضا، وكثرة السفر تؤدي إلى المعرفة، والجدل يؤدي إلى الخصام.

وخمس يأتين بخمس: الاستغفار يأتي بالرزق، وغض البصر يأتي بالفراسة، والحياء يأتي بالخير، ولين الكلام يأتي بالمسألة، والغضب يأتي بالندم.

وخمس قربهن سعادة: الابن البار، والزوجة الصالحة، والصديق الوفي، والجار المؤمن، والعالم الفقيه!
وخمس يكبن بخمس: النار بالهشيم، والشك بسوء الظن، والجفاء بعدم الإحسان، والخصام بعدم الصفح، والقطيعة بعدم السؤال!

وخمس يطبن بخمس: الصحة برغد العيش، والسفر بحسن الصحبة، والجمال بحسن الخلق، والنوم براحة البال، والليل بذكر الله.

على قدر الهدف يكون الانطلاق؛ ففي طلب الرزق قال تعالى: فامشوا، وللصلاة قال: فاسعوا، وللجنة قال: وسارعوا، وأما إليه سبحانه فقال: ففروا إلى الله.

وخمس يصرفن خمسا: لين الكلام يصرف الغضب، والاستعاذة بالله تصرف الشيطان، والتأني يصرف الندامة،  وإمساك اللسان يصرف الخطأ، والدعاء يصرف شر القدر.
وخمس عمرهن قصير: الحفظ في الكبر، والكلام بالنظر، والنعيم بالبطر، والصحبة في السفر، والعظة من العبر!
:
Lima Dibalas Lima
Lima hal dikenali melalui lima perkara:
 * Pohon dikenali dari buahnya.
 * Wanita (istri) dikenali saat suaminya jatuh miskin.
 * Sahabat dikenali saat masa sulit.
 * Orang mukmin dikenali saat diberi ujian.
 * Orang dermawan dikenali saat ia dibutuhkan.
Lima hal mengangkat lima golongan:
 * Ketawadhuan mengangkat derajat para ulama.
 * Harta mengangkat derajat orang yang tercela (di mata manusia).
 * Diam mengangkat (menutupi) kesalahan.
 * Rasa malu mengangkat akhlak.
 * Candaan mengangkat (mencairkan) kecanggungan.
Lima hal menghapus lima perkara:
 * Kesaksian palsu menghapus kebenaran.
 * Harta menghapus (menutupi) aib.
 * Ketakwaan menghapus hawa nafsu.
 * Menyebut-nyebut pemberian menghapus pahala sedekah.
 * Kebutuhan (kemiskinan) menghapus prinsip!
Lima hal membawa kepada lima perkara:
 * Pandangan mata membawa kepada zina.
 * Ketamakan membawa kepada penyesalan.
 * Qana’ah (merasa cukup) membawa kepada keridaan.
 * Banyak bepergian membawa kepada pengetahuan.
 * Debat kusir membawa kepada pertikaian.
Lima hal mendatangkan lima perkara:
 * Istigfar mendatangkan rezeki.
 * Menundukkan pandangan mendatangkan firasat yang tajam.
 * Rasa malu mendatangkan kebaikan.
 * Lemah lembutnya perkataan mendatangkan terkabulnya permintaan.
 * Amarah mendatangkan penyesalan.
Lima kedekatan yang merupakan kebahagiaan:
 * Anak yang berbakti.
 * Istri yang saleha.
 * Sahabat yang setia.
 * Tetangga yang beriman.
 * Ulama yang ahli fikih!
Lima hal yang memadamkan/menghancurkan lima perkara:
 * Api menghancurkan kayu bakar.
 * Keraguan menghancurkan persangkaan baik.
 * Sikap kaku menghancurkan kebaikan.
 * Pertikaian menghancurkan pemaafan.
 * Pemutusan silaturahmi menghancurkan kepedulian.
Lima hal menjadi indah karena lima perkara:
 * Kesehatan menjadi indah dengan kehidupan yang makmur.
 * Perjalanan menjadi indah dengan teman yang baik.
 * Kecantikan menjadi indah dengan akhlak yang baik.
 * Tidur menjadi indah dengan ketenangan hati.
 * Malam menjadi indah dengan berzikir kepada Allah.
> Tingkat kesungguhan bergantung pada tujuan yang ingin dicapai:
> Dalam mencari rezeki, Allah berfirman: "Maka berjalanlah".
> Untuk salat, Allah berfirman: "Maka bersegeralah".
> Untuk surga, Allah berfirman: "Dan berlomba-lombalah".
> Adapun menuju kepada-Nya, Allah berfirman: "Maka berlarilah (kembalilah) kepada Allah".
Lima hal menolak lima perkara:
 * Lemah lembutnya perkataan menolak amarah.
 * Memohon perlindungan kepada Allah menolak setan.
 * Sikap tenang/kehati-hatian menolak penyesalan.
 * Menjaga lisan menolak kesalahan.
 * Doa menolak keburukan takdir.
Lima hal yang usianya pendek (singkat):
 * Menghafal di usia tua.
 * Berbicara berdasarkan penglihatan sekilas.
 * Kenikmatan yang disertai kesombongan.
 * Pertemanan dalam perjalanan (singkat).
 * Pelajaran yang hanya diambil dari satu kejadian!
Indah sekali, bukan? Bagian mana dari nasihat ini yang paling berkesan bagi Anda saat ini? Mungkin saya bisa membantu menguraikan maknanya lebih dalam.
Ust budiansyah abu nizar

Minggu, 01 Maret 2026

Berapa Kitab Suci Yang Pernah Allah Turunkan?

Berapa Kitab Suci Yang Pernah Allah Turunkan?

Dari Abu Dzar radhiallahu’anhu, 

دخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإذَا رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- جَالِسٌ وَحْدَهُ... قلْتُ: يَا رَسُولَ الله!  كَمْ كِتَاباً أنْزَلَهُ الله؟
​​قَالَ: مِئَةُ كِتَابٍ، وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ: أُنْزِلَ عَلَى شِيثَ خَمْسُونَ صَحِيفَةً، وَأُنْزِلَ عَلَى أخْنُوخَ ثَلاثُونَ صَحِيفَةً، وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشْرُ صَحَائِفَ، وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشْرُ صَحَائِفَ، وَأُنْزِلَ التَّوْرَاةُ وَالإنْجِيلُ وَالزَّبُورُ وَالْفُرْقَانُ

Aku masuk ke masjid, ternyata Rasulullah ﷺ sedang duduk sendirian.

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, berapa banyak kitab yang Allah turunkan?”

Beliau bersabda, “Seratus kitab dan empat kitab. Diturunkan kepada Syits 50 lembar (suhuf), diturunkan kepada Akhnukh (Idris) 30 lembar, diturunkan kepada Ibrahim 10 lembar, dan diturunkan kepada Musa sebelum Taurat 10 lembar.

Dan diturunkan pula Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Qur’an).”
(HR. Ibnu Hibban).

Namun al-Hafizh Ibnu Rajab mengatakan:

وقد روي من وجوه متعددة، عن أبي ذر، وكلها لا تخلو من مقال

“Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan berbeda dari Abu Dzar dan semuanya tidak lepas dari kritikan” (Fathul Bari, 3/274).

Hadits ini lemah. Namun al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga berkata:

أنزل الله مائة كتاب وأربعة كتب من السماء، أودع علومها أربعة منها : التوراة والإنجيل والزبور والفرقان، ثم أودع علوم هذه الأربعة الفرقان، ثم أودع علوم القرآن المفصل، ثم أودع علوم المفصل فاتحة الكتاب

Allah menurunkan seratus kitab dan empat kitab dari langit. Ilmu-ilmunya dihimpunkan dalam empat kitab di antaranya: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Qur’an).

Kemudian ilmu-ilmu dari keempat kitab itu dihimpunkan dalam Al-Furqan.

Lalu ilmu-ilmu Al-Qur’an terhimpun dalam ayat-ayat Al-Mufashshal.

Kemudian ilmu-ilmu dalam ayat Al-Mufashshal terhimpun dalam Fatihatul Kitab (Surah Al-Fatihah).
(Syu’abul Iman, 2/451). 

Itu pendapat sebagian ulama, bahwa jumlah kitab suci yang pernah Allah turunkan adalah 104 kitab. 

Namun tentu ini bukan angka yang pasti. Kita tidak mengetahui secara pasti berapa kitab yang pernah Allah turunkan.

Imam al-Marwazi rahimahullah mengatakan:

فأن تؤمن بما سمى الله من كتبه في كتابه ، من التوراة، والإنجيل، والزبور خاصة، وتؤمن بأن لله سوى ذلك كتبا، أنزلها على أنبيائه، لا يعرف أسماءها وعددها إلا الذي أنزلها، وتؤمن بالفرقان، وإيمانك به غير إيمانك بسائر الكتب.

Maka hendaklah engkau beriman kepada kitab-kitab yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya, yaitu Taurat, Injil, dan Zabur secara khusus.

Dan engkau juga beriman bahwa Allah memiliki kitab-kitab selain itu, yang Dia turunkan kepada para nabi-Nya; tidak ada yang mengetahui nama-nama dan jumlah kitab tersebut kecuali Dzat yang menurunkannya.

Dan engkau beriman kepada Al-Furqan (Al-Qur’an), dan keimananmu kepadanya berbeda dari keimananmu kepada kitab-kitab yang lain.

(Ta’zhim Qadris Shalah, 1/393).

Wallahua’lam.

Fawaid Kangaswad | Support Media Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad

APAKAH SYIAH RAFIDHAH KAFIR?

APAKAH SYIAH RAFIDHAH KAFIR?

1. Imam Bukhari rahimahullahu berkata: Aku tidak membedakan apakah aku shalat di belakang pengikut kelompok Jahmiyah, Syiah Rafidhah, ataukah aku shalat di belakang orang-orang Yahudi dan Nashara. Tidak boleh mengucapkan salam kepada mereka, tidak boleh menjenguk mereka, tidak boleh dinikahi, tidak boleh mereka dijadikan saksi dan tidak boleh dimakan sesembelihan mereka. (Khalqu Af'al Al-Ibad hal. 11 poin 40 oleh Imam Al-Bukhari)
Apalagi menggelari mereka syahid, na'udzu billahi.

2. Imam Ahmad rahimahullahu ditanya siapakah kelompok Syiah Rafidhah? Beliau menjawab: Mereka adalah orang-orang yang mencela dan mencaci maki Abu Bakar dan Umar rahimahumallahu.
Dan beliau juga ditanya status orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah radhiyallahu 'anhum? Maka beliau menjawab: Aku tidak menggangapnya di atas agama Islam.
(As-Sunnah 2/492-493 oleh Al-Khallal)

3. Imam Malik rahimahullahu berdalil dengan ayat لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّار "Agar Allah menjadikan orang-orang kafir murka kepada mereka (para sahabat nabi)" (QS. Al-Fath: 29) akan kekafiran Syiah Rafidhah yang membenci para sahabat. (Tafsir Al-Quran Al-Azhim 4/259 oleh Imam Ibnu Katsir)

4. Imam Ahmad bin Yunus rahimahullahu berkata: Seandainya ada orang Yahudi menyembelih kambing dan orang Syiah Rafidhah menyembelih kambing, maka aku akan makan dari sesembelihan orang Yahudi dan aku tidak mau makan dari sesembelihan orang Syiah Rafidhah karena dia murtad dari Islam.
(Ash-Sharim Al-Maslul 'ala Syatimi Ar-Rasul hal. 570 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

5. Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahullahu berkata: Inilah dua agama (selain Islam) Jahmiyah dan Syiah Rafidhah.
(Khalqu Af'al Al-Ibad hal. 11 poin 41 oleh Imam Al-Bukhari)
Ustadz abdurahman thayib

penjelasan (syarah) atas risalah shalat Imam Ahmad bin Hanbal.

penjelasan (syarah) atas risalah shalat Imam Ahmad bin Hanbal. 
Masalah-Masalah Terpisah:
 * Masalah Pertama: Apakah seseorang menjadi kafir jika meninggalkan satu shalat fardhu atau meninggalkan shalat secara keseluruhan?
   * Jawaban: Barangsiapa yang terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya, maka ia tidak dikafirkan sampai ia meninggalkan shalat secara keseluruhan. Pendapat ini dinyatakan oleh sekelompok ulama.
   * Pendapat lain mengatakan: Jika seseorang meninggalkan satu shalat fardhu dengan sengaja tanpa alasan (takwil), bukan karena lupa atau tertidur yang dimaafkan, hingga habis waktunya, maka ia telah kafir.
 * Masalah Kedua: Shalat harus dilakukan dengan penuh perhatian sebagaimana yang ditetapkan oleh Imam Ahmad dalam risalah ini. Harus ada tuma'ninah (ketenangan); jika tuma'ninah hilang, maka shalatnya batal.
   * Makna tuma'ninah: Adanya ketenangan, ketidaktergesaan, dan kehati-hatian dalam dirimu, hingga setiap sendi kembali ke tempatnya. Maka janganlah terburu-buru dalam rukuk, sujud, maupun dalam membaca (bacaan shalat).
   * Imam Ahmad rahimahullah dalam risalah ini sangat menekankan pentingnya tuma'ninah dan mengerjakan shalat tepat pada waktunya.
 * Masalah Ketiga: Wajib bagi kaum muslimin untuk saling menasihati dan tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Barangsiapa melihat orang yang tidak tuma'ninah dalam shalatnya, maka ia wajib menasihatinya. Jika ia tidak menasihatinya, maka ia ikut menanggung dosanya; maka nasihat itu adalah keharusan.
   * Telah datang dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata: "Barangsiapa melihat saudaranya melakukan sesuatu yang dibenci dalam shalatnya lalu tidak menasihatinya, maka ia adalah sekutunya (rekannya) dalam dosa dan celaan." Maka, saling menasihati dan menyebarkan kebaikan adalah suatu keharusan.
(Catatan Kaki 1): Diriwayatkan oleh Ibnu as-Shalt dalam Fawaid Ibnu as-Shalt wal-Fardhi (1/57/19).