Kisah Sahabat Ma'iz bin Malik radhiallahu 'anhu.
Dikisahkan bahwa beliau terjatuh dalam dosa zina, kemudian atas saran dari ayah angkatnya yang bernama Hazzaal radhiallahu 'anhu beliau menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengakui perbuatannya berzina.
Karena telah mengakui berzina, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallampun memerintahkan agar ia dirajam. Di tengah proses rajam, sahabat Ma'iz menarik pengakuannya, namun demikian para sahabat melanjutkan proses rajam hingga sahabat Ma'iz meninggal dunia.
Ketika sikap sahabat Ma'iz menarik pengakuannya ini diceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau menyayangkan sikap para sahabat yang tetap merajamnya hingga meninggal dunia. Beliau bersabda:
هَلَّا تَرَكْتُمُوهُ لَعَلَّهُ أَنْ يَتُوبَ فَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ
Mengapa kalian tidak berhenti merajamnya dan membiarkannya pergi , semoga Allah menerima taubatnya. (Ahmad, Abu Dawud dll)
Kemudian ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berjumpa dengan sahabat Hazzaal ayah angkat sahabat Ma'iz, beliau menyesalkan sikap beliau yang mengarahkan anak angkatnya mengakui perbuatannya, beliau bersabda:
والله يا هزال لو كنت سترته بثوبك كان خيرا مما صنعت به
Sungguh demi Allah, wahai Hazzaal, andai engkau menutupi perbuatannya dengan bajumu, tentu lebih baik dibanding tindakanmu menyarankan mengakui perbuatannya . (Ahmad dll)
Lo, lo, lo piye iki kawan?
Penasaran, kok begitu ceritanya, la ...apa ...? apa ...?
Kawan, masalah ini dikaji secara mendalam di kampus ini https://pmb.stdiis.ac.id/ pada matkul Fiqih Hudud.....kuncinya: pelanggar hak hak Allah, tidak harus mengakui perbuatannya di depan penegak hukum dan boleh memilih bertaubat dengan merahasiakan perbuatannya.
La, kalau begitu kapan jeranya?
Kawan! Jera itu bukan menjadi prioritas dalam dunia pendidikan, karena namanya juga anak anak, bolak dan balik gagal menjalankan konsep atau pelajaran itu biasa, karena itu tahapannya ialah menyadarkan, lalu membiasakannya agar suatu saat bisa....katanya: ala bisa karena biasa.....
So, berarti selama belum terbiasa maka wajar saja bila siswa atau anak didik kita belum bisa.....
Wah berat sekali menjadi pendidik dong? betapa tidak, anak didiknya kata orang tegal: dikandani bolak balik ora nggatekna ya! (dibilangi bolak balik masih saja diulangi lagi)
Kok gitu?
Simak contoh nyata pendidikan yang dijalakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan para sahabatnya. Sahabat Hanzholah radhiallahu 'anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
نَافَقَ حَنْظَلَةُ، يا رَسُولَ اللهِ، فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ وَما ذَاكَ؟ قُلتُ: يا رَسُولَ اللهِ، نَكُونُ عِنْدَكَ، تُذَكِّرُنَا بالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حتَّى كَأنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِن عِندِكَ، عَافَسْنَا الأزْوَاجَ وَالأوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، نَسِينَا كَثِيرًا فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بيَدِهِ إنْ لو تَدُومُونَ علَى ما تَكُونُونَ عِندِي، وفي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ المَلَائِكَةُ علَى فُرُشِكُمْ وفي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah menjadi orang munafik. Rasulullah bertanya: Ada apa gerangan ?
Sahabat Hanzhalah berkata: ‘Wahai Rasulullah ketika kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang surga dan neraka, seakan keduanya nyata di depan mata kami .
Namun, ketika kami telah berinteraksi lagi dengan anak, istri dan harta kekayaan, kondisi itu luntur .‘
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Demi Dzat yang jiwaku ada pada genggaman-Nya, jika kondisi kalian terus tetap sebagaimana ketika kalian berada di sisiku dan ketika berdzikir, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur kalian maupun di jalan-jalan.
Karena itu wahai Hanzhalah, sesaat begini dan sesaat begitu.‘ Beliau mengulanginya sampai tiga kali.” (Muslim dll).
Monggo direnungkan.
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma