Minggu, 27 September 2026

Saudaraku dan saudariku yang kucintai karena Allah,

Saudaraku dan saudariku yang kucintai karena Allah,

Ada masa dalam kehidupan seseorang ketika semuanya terasa baik. Doa terasa mudah; hati tenang; pekerjaan lancar; keluarga baik-baik saja; kita membaca Al-Qur'an dan hati terasa dekat dengan Allah.

Tetapi ada pula masa yang berbeda.

Kita berdoa, tetapi belum melihat jawaban. Kita berusaha, tetapi pintu belum juga terbuka. Kita ingin menangis, tetapi bahkan tidak tahu kepada siapa harus menceritakan semuanya.

Yang paling berat, terkadang, bukanlah masalah itu sendiri. Yang paling berat adalah perasaan bahwa kita sedang menghadapi semuanya sendirian.

Lalu setan datang membisikkan, 
"Mengapa Allah belum menolongmu?"
"Mengapa doamu belum dikabulkan?"
"Mengapa hidupmu begini?"
"Jangan-jangan Allah sudah meninggalkanmu."

Perasaan semacam ini pernah dialami oleh Rasulullah. Pada suatu masa, wahyu sempat terhenti. Nabi yang senantiasa menanti kedatangan wahyu tentu merasakan kesedihan dan kegelisahan. Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh kaum musyrikin untuk melontarkan perkataan-perkataan yang menyakitkan, seakan-akan Rabbnya telah meninggalkan dan membencinya.

Maka Allah menurunkan Surah adh-Dhuha sebagai penghiburan bagi Nabi-Nya:

وَالضُّحَى ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى ۝ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

“Demi dhuha (siang), dan demi malam apabila telah sunyi. Rabb-mu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”

Seakan-akan Allah berkata kepada Nabi-Nya, “Wahai Muhammad, jangan engkau mengira Aku meninggalkanmu.”

Dan mungkin, ada di antara kita yang saat ini juga membutuhkan pesan yang sama: Jangan pernah mengira keterlambatan pertolongan Allah berarti Allah telah meninggalkanmu.

Allah bersumpah dengan dua keadaan: siang yang terang dan malam yang sunyi.

Seolah-olah sejak awal surah ini Allah mengajarkan kepada kita sebuah sunnatullah yang pasti, yakni ada terang, ada gelap; ada lapang, ada sempit; ada kemudahan, ada kesulitan. Namun semuanya tetap berada dalam kekuasaan Allah.

Malam tidak berarti matahari telah hilang untuk selamanya. Gelap pun tidak bermakna cahaya tidak akan kembali. Betapapun panjang malam, fajar pasti akan datang.

Maka jika hari ini hidupmu sedang berada dalam “malam” yang panjang, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkanmu.

Bisa jadi, Allah sedang mengajarkanmu untuk lebih dekat kepada-Nya.

Bisa jadi, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang belum mampu engkau lihat.

Dan bisa jadi, sebagaimana malam yang pada akhirnya berganti menjadi siang, kesulitan yang sedang engkau jalani pun akan Allah gantikan dengan kemudahan.

Tetap berbaik sangka kepada Allah.

 مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

“Rabb-mu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”

------
Renungan suci untuk yang tengah bersusah hati.
Klang, Malaysia.
Ahad, 27 Sept 2026.
Ustadz ahmad remanda 

jauhilah semua orang yg menyakitimu

Hendaknya ia mempercepat langkah kakinya agar laknat tidak menimpanya bersama kaum tersebut.

سُئٍلَ الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله عن رجل مرَّ بجماعة فسلّم عليهم فلم يردوا عليه السلام؟
فقال : يُسرِع في خطاه لا تلحقه اللعنة مع القوم.

الآداب الشرعية /لابن مفلح الحنبلي
Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang seorang pria yang melewati sekelompok orang lalu mengucapkan salam, namun mereka tidak membalas salamnya.
Beliau menjawab:
"Hendaknya ia mempercepat langkah kakinya agar laknat tidak menimpanya bersama kaum tersebut."
(Al-Adab ash-Shar'iyyah karya Ibn Muflih al-Hanbali)

perniagaan yg paling menguntungkan dan merugikan

tidak memiliki sifat amanah

Sabtu, 26 September 2026

Umar bin Abdul Aziz menangis.

Umar bin Abdul Aziz pernah berdiam diri sementara sahabat-sahabatnya sedang berbincang-bincang. Mereka bertanya: "Mengapa engkau tidak berbicara sepatah kata pun, wahai Amirul Mukminin?" Ia menjawab: "Aku sedang berpikir tentang penduduk surga, bagaimana mereka di dalam surga saling berkunjung, dan tentang penduduk neraka bagaimana mereka di dalam neraka berteriak-teriak minta tolong." Kemudian Umar bin Abdul Aziz menangis.

(Ibnu Rajab, Takhwif Minan Nar, hlm. 34)

Hukum Memakai & Menjual Lensa Kontak, Cat Kuku, Kuku Palsu & Bulu Mata Palsu

Hukum Memakai & Menjual Lensa Kontak, Cat Kuku, Kuku Palsu & Bulu Mata Palsu

Fatwa No. 63
Oleh :
Asy-Syaikh Al-Faqih Nu'man bin Abdil Karim Al-Watr Hafidzahullah 
('Ulama Yaman, Mufti Haji Yaman Tahun 1447 H)

السؤال:
ما حكم بيع العدسات والجفون والمناكير والأظافر الصناعية؟

الجواب:
العدسات الصناعية، والرموش الصناعية، والأظافر الصناعية بيعها وشراؤها محرم، واستعمال النساء لها محرم، وهذا من المنكرات وتغيير خلق الله، وأما الطلاء الذي يسمى بالمناكير الذي يوضع على الأظافر؛ فإن كان سيزال قبل الوضوء وقبل الغسل فلا بأس، وإن كانت المرأة tفعلُه في حال حيضها ونفاسها أيضاً فلا بأس، أما أنها تضعه على أظافرها ثم تتوضأ أو تغتسل وهو على الأظافر فوضوؤها غير صحيح، وغسلها غير صحيح، وصلاتها غير صحيحة، نسأل الله العافية.

Pertanyaan:
Apa hukum menjual lensa kontak, bulu mata palsu, kuteks (manicure), dan kuku palsu?

Jawaban:
Lensa kontak (yang berwarna-warni & bukan untuk terapi pengobatan mata melainkan mempercantik mata), bulu mata palsu, dan kuku palsu, menjual dan membelinya hukumnya haram, demikian pula menggunakannya bagi kaum wanita hukumnya haram.

Hal ini termasuk kemungkaran dan mengubah ciptaan Allah.

Adapun pewarna yang disebut manicure/kuteks yang digunakan pada kuku, apabila dihilangkan sebelum berwudu dan sebelum mandi wajib, maka tidak mengapa.

Demikian pula apabila seorang wanita menggunakannya ketika sedang haid atau nifas, maka tidak mengapa.

Namun, jika seorang wanita mengoleskan kuteks pada kukunya, kemudian berwudu atau mandi dalam keadaan kuteks tersebut masih menutupi kuku, maka wudunya tidak sah, mandinya tidak sah, dan salatnya juga tidak sah.

Kita memohon kepada Allah keselamatan.
Ust askari bin jamal