Posting ulang
Edisi Bantahan
IBNU TAIMIYYAH MUJASSIMAH?
Sebagian orang menuduh bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah menyimpang dari akidah salaf, akidah ahlussunnah waljamaah, yakni diantaranya terjatuh pada akidah tajsim (yakni paham yang meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki jisim (tubuh, fisik, atau anggota badan)). Maka dikatakanlah oleh mereka bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah seorang MUJASSIMAH. Dan berakidah tasybih, yakni menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya. Mereka pun menyebut Ibnu Taimiyyah rahimahullah seorang MUSYABBIHAH.
Tuduhan ini telah dibantah oleh para ulama ahlussunnah waljamaah. Baik yang sezaman dengannya atau ulama sesudahnya.
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (wafat tahun 852 H) rahimahullah,
وَهَذِهِ تَصَانِيْفُهُ طَافِحَةٌ بِالرَّدِّ عَلَى مَنْ يَقُوْلُ بِالتَّجْسِيْمِ وَالتَّبَرُّؤِ مِنْهُ
“Dan inilah karya-karyanya (Ibnu Taimiyyah) penuh dengan bantahan terhadap orang yang berpemahaman TAJSIM. Dan beliau (Ibnu Taimiyah) berlepas diri darinya.” (Taqridz Ibn Hajar terhadap kitab al-Radd al-Wafir Maktabah Ibnu Taimiyyah).
Berkata Al-Hafizh Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi (wafat tahun 855 H) rahimahullah,
وَهَذَا الْإِمَامُ كَمَا رَأَيْتَ عَقِيْدَتَهُ وَكَاشَفْتَ سَرِيْرَتَهُ، فَمَنْ كَانَ عَلَى هَذِهِ الْعَقِيْدَةِ كَيْفَ يُنْسَبُ إِلَيْهِ الْحُلُوْلُ وَالْإِتِّحَادُ أَوِ التَّجْسِيْمُ أَوْ مَا يَذْهَبُ إِلَيْهِ أَهْلُ الْإِلْحَادِ ؟
“Dan sang Imam ini (Ibnu Taimiyyah) adalah sebagaimana telah engkau ketahui akidahnya dan engkau singkap kepribadiannya.
Maka barangsiapa berada di atas akidahnya ini, bagaimana bisa pelakunya disematkan kepada pemahaman hulûl, ittihād dan TAJSIM serta apa yang dipahami oleh para ahlul-ilhād ? (Ghayah Al-Amani Fi Ar-Radd ‘Ala An-Nabhani).
Berkata Syaikhul-Islam Shalih bin ‘Umar Al-Bulqini Asy-Syafi’i (wafat tahun 868 H) rahimahullah,
وَلَمْ نَقِفْ إِلَى الْآنِ بَعْدَ التَّتَبُّعِ وَالْفَحْصِ عَلَى شَيْءٍ مِنْ كَلَامِهِ يَقْتَضِي كُفْرَهُ وَلَا زَنْدَقَتَهُ، إِنَّمَا نَقِفُ عَلَى رَدِّهِ عَلَى أَهْلِ الْبِدَعِ وَالْأَهْوَاءِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يُظَنُّ بِهِ بَرَاءَةُ الرَّجُلِ وَعُلُوُّ مَرْتَبَتِهِ فِي الْعِلْمِ وَالدِّيْنِ
“Sampai sekarang aku tidak menemukan dari perkataan Ibnu Taimiyyah yang menunjukkan kekufuran dan kezindiqannya setelah aku meneliti dan menyelidikinya. Justru yang aku dapat adalah bantahannya terhadap ahlul-bid’ah dan ahlul-hawa serta yang lainnya yang menunjukkan berlepas dirinya beliau (dari setiap tuduhan yang disematkan) dan tingginya kedudukannya dalam ilmu dan agama.” (Ghayah Al-Amani Fi Ar-Radd ‘Ala An-Nabhani).
Berkata Asy-Syaikh Ibrahim Al-Kurani Asy-Syafi’i (wafat tahun 1101 H) rahimahullah,
أَقُوْلُ : اِبْنُ تَيْمِيَّةَ لَيْسَ قَائِلًا بِالتَّجْسِيْمِ
“Aku katakan : “Ibn Taimiyyah bukanlah seorang yang berkeyakinan TAJSIM.” (Jilā’ul-‘Ainain, hal. 336).
Berkata Al-Mulla ‘Ali Al-Qari’ Al-Hanafi (wafat tahun 1014 H) rahimahullah, ketika menjawab tuduhan Ibnu Hajar Al-Haitami terhadap Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, beliau mengatakan :
أَنَّهُمَا كَانَا مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، بَلْ وَمِنْ أَوْلِيَاءِ هَذِهِ الْأُمَّةِ
“Keduanya termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jamā’ah, bahkan termasuk walinya umat ini.”
Lalu beliau mengatakan,
وَظَهَرَ أَنَّ مُعْتَقَدَهُ مُوَافِقٌ لِأَهْلِ الْحَقِّ مِنَ السَّلَفِ وَجُمْهُوْرِ الْخَلَفِ فَالطَّعْنُ الشَّنِيْعُ وَالتَّقْبِيْحُ الفَظِيْعُ غَيْرُ مُوَجَّهٍ عَلَيْهِ وَلَا مُتَوَجِّهٍ إِلَيْهِ فَإِنَّ كَلَامَهُ بِعَيْنِهِ مُطَابِقٌ لِمَا قَالَهُ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ وَالْمُجْتَهِدُ الْأَقْدَمُ فِي فِقْهِهِ الْأَكْبَرِ ... وَحَيْثُ اِنْتَفَى عَنْهُ اِعْتِقَادُ التَّجْسِيْمِ.
“Maka jelaslah bahwa akidahnya (Ibnu Taimiyyah) sesuai dengan para ahlul-haq (penegak kebenaran) dari kalangan salaf dan jumhur khalaf. Maka celaan yang buruk dan hinaan yang keji tidaklah dapat dialamatkan dan ditujukan padanya. Karena perkataannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Imam yang teragung dan terkemuka dalam Fiqhul-Akbar (yaitu Imam Abu Hanifah)... Begitu pula ternafikan darinya keyakinan TAJSIM.” (Mirqāh Al-Mafātih Syarh Misykah Al-Mashābîh).
Berkata ‘Allamah Manshur bin Yunus Al-Buhuti Al-Hanbali (wafat tahun 1051 H) rahimahullah,
كَانَ إمَامًا مُفْرَدًا أَثْنَى عَلَيْهِ الْأَعْلَامُ مِنْ مُعَاصِرِيهِ فَمَنْ بَعْدَهُمْ، وَامْتُحِنَ بِمِحَنٍ وَخَاضَ فِيهِ أَقْوَامٌ حَسَدًا، وَنَسَبُوهُ لِلْبِدَعِ وَالتَّجْسِيمِ، وَهُوَ مِنْ ذَلِكَ بَرِيءٌ، وَكَانَ يُرَجِّحُ مَذْهَبَ السَّلَفِ عَلَى مَذْهَبِ الْمُتَكَلِّمِينَ، فَكَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ بِنَصْرِهِ، وَقَدْ أَلَّفَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ فِي مَنَاقِبِهِ وَفَضَائِلِهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا - رَحِمَهُ اللَّهُ - وَنَفَعَنَا بِهِ.
“Beliau (Ibnu Taimiyyah) adalah imam yang istimewa. Para ulama baik yang sezaman maupun setelahnya memujinya.
Beliau diuji dengan berbagai ujian, beberapa kalangan terjerumus pada sikap hasad kepadanya, dan mereka menyematkan bid’ah dan TAJSIM kepada beliau, padahal beliau berlepas diri darinya.
Beliau merajihkan madzhab salaf di atas madzhab ahli kalam. Maka terjadilah apa yang terjadi pada beliau.
Allah menolongnya atas mereka dengan pertolongan-Nya. Sebagian ulama baik yang dulu maupun kemudian telah menyusun keutamaan-keutamaan dan manaqibnya –rahimhullah-, dan kami mendapatkan manfaat darinya.” (Kasysyāf Al-Qinā’ ‘An Matni Al-Iqnā’ Dār Ālimul Kutub).
Berkata Asy-Syihāb Mahmûd Al-Ālûsi Al-Mufassir (wafat tahun 1270 H) rahimahullah,
حَاشَا الله تَعَالَى أَنْ يَكُوْنَ -يَعْنِي اِبْنُ تَيْمِيَّةَ- مِنَ الْمُجَسِّمَةِ، بَلْ هُوَ أَبْرَأُ النَّاسِ مِنْهُمْ. نَعَمْ يَقُوْلُ بِالْفَوْقِيَّةِ، وَذَلِكَ مَذْهَبُ السَّلَفِ، وَهُوَ بِمَعْزِلٍ عَنِ التَّجْسِيْمِ.
“Mahasuci Allah ta’ala bahwa (yakni Ibnu Taimiyyah) termasuk MUJASSIMAH, bahkan dia adalah orang yang paling berlepas diri dari mereka. Betul, dia meyakini fauqiyyah, dan itu adalah madzhab Salaf, dan dia terlepas dari TAJSIM.” (Jila’ul-‘Ainain).
Berkata ‘Allamah Jamaluddin al-Qasimi (wafat tahun 1332 H) rahimahullah,
وَأَقُوْلُ إِنَّ كُلَّ مَنْ رَمَى مِثْلَ هَذَا الْإمَامَ بِالتَّجْسِيْمِ فَقَدِ افْتَرَى وَمَا دَرَى
“Dan aku katakana : “Sesungguhnya setiap orang yang menuduh semisal imam ini (Ibnu Taimiyyah) dengan tajsim, maka sungguh dia telah berdusta, dan tidak tahu.” (Mahasinut Ta’wil, 5/83)."
Dari perkataan-perkataan ulama di atas, jelaslah sudah, bahwa Ibnu Taimiyyah rahimahullah bukan berakidah tajsim atau tasybih dan bukan seorang mujassimah dan musyabbihah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berakidah salaf dan seorang sunni salafi.
Berkata Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah,
ثُمَّ امْتُحِنَ سَنَةَ خَمْسٍ وَسَبْعِمَائَةٍ بِالسُّؤَالِ عَنْ مُعْتَقَدِهِ بِأَمْرِ السُّلْطَانِ، فَجَمَعَ نَائِبُهُ القُضَاةَ والعُلَمَاءَ بِالقَصْرِ، وَأُحْضِرَ الشَّيْخُ، وَسَأَلَهُ عَنْ ذلِكَ، فَبَعَثَ الشَّيْخُ مَنْ أَحْضَرَ منْ دَارِهِ "العَقِيْدَةَ الوَاسِطِيَّةَ" فَقَرَءُوْهَا فِي ثَلَاثِ مَجَالِسَ، وَحَاقَقُوْهُ، وَبَحَثُوا مَعَهُ، وَوَقَعَ الاتِّفَاقُ بَعْدَ ذلِكَ عَلَى أَنَّ هَذِهِ عَقِيْدَةٌ، سُنِّيَّةٌ، سَلَفِيَّةٌ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ ذلِكَ طَوْعًا، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَهُ كَرْهًا. وَوَرَدَ بَعْدَ ذلِكَ كِتَابٌ مِنَ السُّلْطَانِ فِيْهِ: إِنَّمَا قَصَدْنَا بَراءَةَ سَاحَةِ الشَّيْخِ، وَتَبَيَّنَ لَنَا أَنَّهُ عَلَى عَقِيْدَةِ السَّلَفِ
"Kemudian beliau (Ibnu Taimiyyah) diuji pada tahun 705 H dengan pertanyaan tentang aqidahnya melalui perintah dari Sultan. Lalu wakilnya mengumpulkan para qadhi dan para ulama di istana dan syekh (Ibnu Taimiyyah) dihadirkan dan bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Lalu syakh mengutus orang yang mengambil dari rumahnya "AQIDAH WASITHIYYAH", lalu mereka membacanya dalam tiga majelis, mereka memperdebatkannya dan mengkaji bersamanya, dan terjadilah kesepakatan setelah itu bahwa "ini adalah AQIDAH SUNNI SALAFI", di antara mereka ada yang mengatakannya secara suka rela, dan adapula yang dengan terpaksa. Setelah itu ada surat dari sultan yang di dalamnya ia mengatakan, "Kami hanya bermaksud menunjukkan terbebasnya syekh yang mulia (dari tuduhan), dan menjadi jelaslah bagi kita bahwa ia berada di atas AQIDAH SALAF". (Ibnu Rojab Al-Hanbali, Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, 4/501).
Berkata Syaikh Mar'i Al-Karmi (wafat tahun 1033 H) rahimahullah,
فإن طعن على الشيخ ابن تيمية - رحمه الله - من حيث العقيدة، فعقيدته عقيدة السلف، كما وقع الاتفاق على ذلك وقت المناظرة، فليطعن على السلف من طعن فيه.
"Jika dicelanya Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah dari segi aqidah, maka aqidahnya adalah aqidah Salaf. Sebagaimana telah terjadi kesepakatan pada waktu perdebatan. Maka hendaklah cela Salaf, orang yang mencela beliau." (Al-Kawakib Ad-Durriyyah fi Manaqib Al-Mujtahid Ibnu Taimiyyah).
Oleh karena itu, tuduhan terhadap Ibnu Taimiyyah rahimahullah seorang mujassimah dan musyabbihah adalah tuduhan yang tidak berdasar. Tuduhannya hanya berdasarkan kebencian dan mengikuti hawa nafsunya
Ulama ahlussunnah mengatakan, orang yang membenci Ibnu Taimiyyah rahimahullah, apalagi orang yang mencela dan memfitnahnya, hanyalah orang yang bodoh dan pengikut hawa nafsu.
Berkata Bahauddin Muhammad bin Abdil Bar As-Subki Asy-Syafi’I (wafat tahun 777 H) rahimahullah,
وَاللهِ يَا فُلَانُ مَا يَبْغَضُ ابْنَ تَيْمِيَّةَ إِلَّا جَاهِلٌ أَوْ صَاحِبُ هَوَى فَالْجَاهِلُ لَا يَدْرِي مَا يَقُوْلُ وَصَاحِبُ الْهَوَى يَصُدُّهُ هَوَاهُ عَنِ الْحَقِّ بَعْدَ مَعْرِفَتِهِ بِهِ.
“Demi Allah wahai fulan! Tidaklah orang yang membenci Ibnu Taimiyyah itu melainkan ia bodoh atau pengikut hawa nafsu. Orang yang bodoh itu tidak mengetahui apa yang ia ucapkan, dan pengikut hawa nafsu itu terhalangi oleh hawa nafsunya dari kebenaran setelah ia mengetahuinya.” (Ar-Rad Al-Wafir)."
AFM
Copas dari berbagai sumber
Bahasan terkait
PUJIAN ULAMA AHLUSSUNNAH TERHADAP IBNU TAIMIYYAH
https://www.facebook.com/share/p/1CVCSRFwq6/