Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Minggu, 12 April 2026
Termasuk tipu daya setan:
video Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili
https://youtu.be/UL-UIf9j2Z4?si=Ln6YqozPoMD-1p_S
isi video Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili tersebut ke dalam bahasa Indonesia:
"Demi Allah yang tidak ada sembahan yang haq selain Dia, dan kita saat ini berada di Masjidil Haram, aku tidak mengetahui satu pun dari kalangan Ahlussunnah—aku tidak sedang berbicara tentang seorang ulama saja, tapi satu orang pun dari Ahlussunnah—yang mengatakan bahwa pemimpin itu ditaati dalam segala hal, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang yang menyimpang saat ini demi membuat orang lain lari dari prinsip mendengar dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin.
Mereka berkata: 'Orang-orang Salafi ini, orang-orang Madkhali, orang-orang Jammi, orang-orang Wahabi ini mewajibkan mendengar dan taat kepada pemimpin dalam segala hal.'
Demi Allah yang tidak ada sembahan yang haq selain Dia, tidak ada satu pun laki-laki atau perempuan yang menisbatkan diri kepada Sunnah yang mengatakan bahwa pemimpin Muslim itu ditaati dalam segala hal. Semua (ulama) telah bersepakat bahwa pemimpin tidak boleh ditaati dalam kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bagaimana mungkin tidak demikian, sedangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.' Ini adalah kaidah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani.
'Tidak ada ketaatan'—kata ketaatan di sini berbentuk nakirah (umum) dalam konteks penafian—artinya tidak ada ketaatan kepada makhluk siapa pun itu; baik suami, penguasa, atau siapa pun. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.
Jika seorang suami berkata kepada istrinya: 'Lepas cadarmu, aku suamimu dan aku memerintahkanmu,' sementara sang istri meyakini bahwa cadar itu wajib, maka tidak halal baginya untuk menaati suaminya. Jika seorang penguasa memerintahkan kemaksiatan kepada Allah, maka tidak halal bagi siapa pun untuk menaatinya dalam hal (maksiat) tersebut, namun ketaatan dalam hal lainnya tetap berlaku. Maka janganlah melepaskan tangan dari ketaatan (secara total).
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Wajib bagi setiap individu Muslim'—perhatikanlah ini wahai saudara-saudaraku, ini menunjukkan bahwa sifat seorang Muslim adalah demikian, ini adalah sifat yang melekat dan kewajiban baginya—'untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan. Jika diperintahkan maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak ada ketaatan.'"