Sabtu, 31 Oktober 2026

konsep tauhid menurut ibnu qoyim

REFLEKSI: KETIKA PENCARI ILMU LEMAH DALAM MEMVERIFIKASI INFORMASI

REFLEKSI: KETIKA PENCARI ILMU LEMAH DALAM MEMVERIFIKASI INFORMASI

Salah satu kelemahan mendasar yang saya amati pada sebagian pencari ilmu adalah lemahnya kemampuan menelusuri keabsahan informasi, membedakan fakta dari interpretasi, serta mengenali fenomena framing.

Ironisnya, hal ini juga terjadi pada sebagian mereka yang mempelajari ilmu hadis, sebuah disiplin ilmu yang justru memiliki tradisi verifikasi informasi sangat ketat.

Mengapa saya mengatakan demikian?

Karena saya menyaksikan dan mengalami sendiri dinamika tahdzir internal di kalangan Salafi sejak tahun 1990-an. Fenomena tersebut ternyata terus berlangsung hingga sekarang.

Belakangan, saya juga melihat pola serupa di kalangan yang sering disebut Aswaja, baik dalam dinamika internal mereka maupun dalam hubungan antarkelompok.

Polanya relatif sama. Informasi tentang seseorang atau kelompok mudah diterima, kemudian diyakini dan disebarluaskan. Padahal, ketika ditelusuri lebih jauh, tidak sedikit yang ternyata merupakan framing, penggalan informasi, interpretasi sepihak, atau kesimpulan yang kehilangan konteks.

Yang lebih memprihatinkan, informasi semacam itu terkadang menjadi dasar untuk menilai, melabeli, bahkan memperingatkan orang lain agar menjauhi seseorang.

Padahal, kebenaran sebuah kutipan belum tentu menjamin kebenaran kesimpulan yang dibangun darinya.

Dalam ilmu hadis, kita mengenal penelitian sanad, kritik matan, perbandingan riwayat, syadz, dan illat. Namun, mengapa ketelitian yang sama tidak selalu diterapkan ketika menerima informasi tentang sesama muslim?

Apakah karena informasi itu datang dari guru sendiri? Apakah karena pihak yang dibicarakan berbeda kelompok? Ataukah karena informasi tersebut sesuai dengan prasangka yang sudah terbentuk sebelumnya?

Kalau mereka yang mengaku santri atau thalibul ilmi saja masih mudah terjebak dalam persoalan ini, bagaimana dengan masyarakat awam?

Menariknya, berdasarkan pengamatan pribadi saya, fenomena semacam ini tampak relatif lebih sedikit di sebagian lingkungan modernis. Tentu ini masih sebatas pengamatan, bukan kesimpulan penelitian. Akan menarik jika diteliti lebih jauh apakah perbedaan budaya kritik, pendidikan, dan struktur otoritas keilmuan turut memengaruhinya.

Saya semakin berkesimpulan bahwa banyak fitnah dan kekacauan bukan bermula dari perbedaan pendapat itu sendiri, melainkan dari kegagalan mengelola informasi tentang perbedaan tersebut.

Kita boleh berbeda pandangan, bahkan mengkritik dengan tegas. Namun, kritik harus dibangun di atas informasi yang sahih, konteks yang utuh, dan kesimpulan yang adil.

Jangan sampai kita begitu teliti memeriksa riwayat dari seribu tahun yang lalu, tetapi begitu mudah mempercayai kabar tentang saudara kita yang masih hidup.

Ilmu bukan sekadar mengetahui kaidah, melainkan juga konsisten menerapkannya, termasuk ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.

Barangkali, salah satu kebutuhan mendesak dalam pendidikan para pencari ilmu hari ini bukan hanya memperbanyak hafalan dan penguasaan kitab, tetapi juga memperkuat literasi informasi, kemampuan berpikir kritis, serta keadilan dalam menilai manusia.

Sebab tabayyun bukan sekadar materi pelajaran. Ia seharusnya menjadi budaya ilmiah dan akhlak sehari-hari.

Sekadar refleksi dari pengalaman dan pengamatan selama lebih dari tiga dekade. 😊
Ustadz noor akhmad setiawan

Sebelum Membawa Keluarga Tinggal di Negeri Non-Muslim, Pikirkan Sampai Generasi Ketiga*

*Sebelum Membawa Keluarga Tinggal di Negeri Non-Muslim, Pikirkan Sampai Generasi Ketiga*

Tinggal dan bekerja di luar negeri, khususnya di negara maju yang mayoritas penduduknya non-Muslim, memang menawarkan banyak hal yang menarik. Penghasilan yang lebih baik, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang bagus, pelayanan publik yang tertata, lingkungan yang nyaman, serta jaminan sosial yang kuat bisa membuat seseorang berpikir, “Mengapa tidak sekalian menetap dan membesarkan keluarga di sini?”

Pertanyaan itu wajar. Namun bagi seorang Muslim, menurut saya ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Bagaimana agama kita, anak-anak kita, cucu kita, bahkan generasi ketiga setelah kita?
Berdasarkan pengalaman saya sekitar 19 tahun tinggal di beberapa negara non-Muslim, serta berinteraksi dan menangani berbagai persoalan keluarga Muslim Indonesia di luar negeri, saya melihat bahwa keputusan untuk menetap bersama keluarga di luar negeri perlu dipikirkan dengan sangat hati-hati dan dipersiapkan dengan matang.

Saya melihat sendiri berbagai kondisi yang memprihatinkan. Ada keluarga yang pada awalnya masih menjaga agama, tetapi perlahan mulai meninggalkan shalat. Ada keluarga yang suaminya mualaf dan akhirnya mengalami kesulitan mempertahankan kehidupan Islam di tengah keluarga. Ada pula anak-anak Muslim yang tumbuh dewasa tanpa lagi mengerjakan shalat, kemudian menikah dengan pasangan non-Muslim.

Tentu tidak semua keluarga Muslim di luar negeri seperti itu. Alhamdulillah, banyak juga keluarga yang mampu menjaga agama dan bahkan membangun komunitas Islam yang baik. Namun pengalaman-pengalaman tersebut cukup menjadi peringatan bahwa risiko itu nyata dan tidak boleh dianggap ringan.

Yang sering kita pikirkan hanya generasi pertama.
Kita masih shalat. Kita masih mengenal halal dan haram. Kita masih mencari masjid. Kita masih mengajarkan Al-Qur'an kepada anak.
Tetapi bagaimana dengan anak kita ketika sudah berusia 25 atau 30 tahun dan tidak lagi tinggal bersama kita?

Lalu bagaimana dengan cucu kita?
Dan bagaimana generasi ketiga, yang mungkin sudah tidak mengenal Indonesia, tidak berbicara bahasa orang tuanya, dan tidak lagi mempunyai hubungan kuat dengan lingkungan masyarakat Muslim tempat kakek-neneknya berasal?

Inilah yang menurut saya harus direnungkan sebelum mengambil keputusan besar untuk menetap permanen bersama keluarga.

Kenyamanan dunia memang nyata
Kita juga harus jujur dan adil. Di beberapa negara maju, termasuk negara-negara Eropa seperti Denmark, kualitas pelayanan publik, pendidikan umum, kesehatan, kesejahteraan sosial, kebersihan, keamanan, dan keseimbangan kehidupan kerja memang bisa sangat baik.

Seorang pekerja informal pun dalam kondisi tertentu dapat menikmati standar hidup yang layak. Perpindahan profesi lebih terbuka. Anak mendapat dukungan negara. Ketika kehilangan pekerjaan pun tersedia sistem perlindungan sosial.
Semua itu adalah nikmat yang tidak perlu kita ingkari.

Namun seorang Muslim tidak cukup bertanya:
“Di mana hidup saya lebih nyaman?”
Kita juga perlu bertanya:
“Di mana peluang saya dan keluarga untuk istiqamah dalam agama lebih besar?”
Sebab ada sesuatu yang sulit diukur dengan angka: lingkungan yang mengingatkan kita kepada Allah.

Di Indonesia, suara adzan, masjid, shalat Jumat, pengajian, keluarga besar Muslim, makanan halal, Ramadhan, Idul Fitri, dan berbagai aktivitas keislaman terasa biasa karena kita menjumpainya sejak kecil.
Justru karena terlalu biasa, kadang kita tidak menyadari betapa berharganya semua itu sampai kita tinggal di tempat di mana untuk pergi ke masjid saja membutuhkan perjalanan yang jauh dan perencanaan khusus.
Yang perlu kita pikirkan bukan hanya diri kita
Orang tua mungkin mengatakan:
“InsyaAllah saya bisa menjaga diri.”
Mungkin benar.

Tetapi keputusan membawa keluarga menetap di suatu negeri bukan hanya tentang kemampuan iman seorang ayah atau ibu hari ini.
Pertanyaannya adalah apakah kita sudah mempersiapkan anak agar tetap menjaga shalat ketika tidak ada lagi ayah dan ibu yang mengingatkan?
Apakah mereka memiliki sahabat Muslim yang baik?
Apakah mereka mempunyai akses yang realistis kepada masjid dan komunitas Muslim?
Bagaimana pendidikan agamanya?
Bagaimana lingkungan sekolah dan pergaulannya?
Bagaimana ketika nilai-nilai yang diajarkan di rumah berbeda jauh dengan nilai dominan yang ditemuinya setiap hari?
Dan kelak ketika mereka memilih pasangan hidup, nilai agama seperti apa yang akan menjadi pertimbangan utama mereka?

Karena itu, menurut saya, keputusan menetap harus melihat setidaknya tiga lapis generasi:
kita → anak kita → cucu kita.
Jangan sampai kita memenangkan kenyamanan ekonomi untuk satu generasi, tetapi meninggalkan persoalan agama yang jauh lebih berat kepada generasi setelah kita.

Islam tidak menjanjikan dunia sebagai tempat tanpa kesulitan
Allah mengingatkan Nabi Adam عليه السلام:
فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ
"Kemudian Kami berfirman, 'Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti engkau akan bersusah payah.'"
(QS. Thaha: 117)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia memang bukan surga.

Karena itu, ketika menghadapi berbagai kekurangan hidup di negeri sendiri, jangan sampai kegelisahan kita terhadap masalah ekonomi, birokrasi, pekerjaan, pendidikan, atau kenyamanan hidup membuat kita melihat negeri lain hanya dari kelebihannya.
Setiap tempat mempunyai harga yang harus dibayar.
Ada tempat yang mungkin menuntut harga lebih tinggi secara ekonomi, ada pula lingkungan yang tantangannya lebih besar dalam menjaga agama dan pendidikan anak.

Bagi seorang Muslim, pertimbangannya bukan semata-mata:
Di mana gajinya paling besar?
Di mana sekolahnya paling bagus?
Di mana hidupnya paling nyaman?
Tetapi juga:
Di mana shalat keluarga lebih terjaga?
Di mana anak lebih mudah mengenal Allah?
Di mana mereka mempunyai lingkungan dan sahabat yang membantu menjaga agamanya?
Bagaimana kemungkinan anak dan cucu kita mempertahankan Islam ketika kita sudah tidak ada?

Bukan berarti tidak boleh tinggal di negeri non-Muslim
Pesan ini bukan untuk menghukumi setiap Muslim yang tinggal di luar negeri. Kondisi setiap orang berbeda. Ada yang tinggal sementara karena pekerjaan, pendidikan, dakwah, kesehatan, atau kebutuhan lainnya. Bahkan ada keluarga yang justru memiliki lingkungan Muslim dan pendidikan agama yang sangat baik di sana.

Yang ingin ditekankan adalah:
jangan menjadikan kenyamanan dunia sebagai satu-satunya ukuran ketika menentukan tempat tinggal keluarga.
Sebelum memutuskan menetap, buatlah semacam risk assessment keluarga, bukan hanya financial assessment.
Periksa masjid dan komunitas Muslim di sekitar tempat tinggal. Pikirkan akses shalat Jumat. Tentukan bagaimana pendidikan Al-Qur'an dan aqidah anak. Perhatikan dengan siapa mereka bergaul. Rencanakan pendidikan agama ketika mereka memasuki usia remaja. Dan yang paling penting, bangun rumah yang benar-benar hidup dengan shalat dan ketaatan, bukan menyerahkan pendidikan iman sepenuhnya kepada sekolah atau komunitas.

Kita terbiasa mempersiapkan karier, visa, rumah, sekolah, asuransi kesehatan, dan tabungan sebelum pindah negara.
Mengapa persiapan untuk menjaga iman keluarga justru tidak dibuat seteliti itu?
Pada akhirnya, keputusan terbaik setiap keluarga bisa berbeda. Tetapi jangan hanya memikirkan kehidupan 5 atau 10 tahun ke depan.
Pikirkan pula keadaan anak setelah kita tua.
Pikirkan cucu ketika kita sudah tidak mampu menasihati mereka.

Bahkan, kalau perlu, tanyakan:
“Jika saya mengambil keputusan ini hari ini, seperti apa kemungkinan keadaan agama generasi ketiga keluarga saya nanti?”
Sebab keberhasilan sebuah keluarga Muslim bukan hanya ketika anak-anaknya mendapatkan pendidikan tinggi, pekerjaan bagus, rumah nyaman, dan kehidupan yang mapan.

Ada keberhasilan yang jauh lebih besar:
ketika setelah kita meninggal, anak-anak dan keturunan kita masih mengenal Allah, menjaga shalat, mencintai agamanya, dan mendoakan kedua orang tuanya.

Itulah warisan yang nilainya jauh melampaui kenyamanan hidup di mana pun kita berada.
Wallahu a'lam.

Aslam Salimudin 
Paris, 29 Oktober 2026

Adapun mengingkari mereka (secara lisan/hati) maka tidak mengapa, wahai kaum Muslimin, bahwa kamu bukanlah seorang pengajak revolusi, dan tidak ada pendorong kudeta. Akan tetapi, kamu menyeru untuk mengubah kemungkaran ini.


"Adapun masalah memberontak terhadap mereka (penguasa), selagi mereka masih beragama Islam, maka tidak boleh memberontak terhadap mereka: kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata di sisi kalian yang ada buktinya dari Allah".

"Adapun mengingkari mereka (secara lisan/hati) maka tidak mengapa, wahai kaum Muslimin, bahwa kamu bukanlah seorang pengajak revolusi, dan tidak ada pendorong kudeta. Akan tetapi, kamu menyeru untuk mengubah kemungkaran ini. Alih-alih memberontak kepada para penguasa, bangkitlah melawan orang-orang fasik dan pembawa kerusakan yang telah merusak masyarakat. Inilah yang wajib. Jika mereka melihat seorang pemabuk, mereka tahu bahwa pemerintah tidak berlaku adil dan amanah terhadap fitnah, serta bahwa pengingkaran terhadap kemungkaran dapat mengarah kepada sesuatu yang lebih berat darinya, tidak mengapa untuk mengubahnya. Demikian pula jika mereka melihat seorang wanita pezina, atau seorang laki-laki pezina, atau mereka melihat sebuah rumah dipersiapkan untuk kerusakan, maka hukumnya demikian pula, dan sesungguhnya urusannya adalah bersikap teliti."

"Adapun pencemaran nama baik terhadap mereka seperti yang telah lalu, jika yang dimaksud adalah memprovokasi orang-orang untuk memberontak terhadap mereka, maka tidak boleh. Dan jika yang dimaksud adalah memotivasi orang-orang untuk mengingkari para pelaku kemungkaran, maka itu adalah urusan yang baik: 'Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka dahulu tidak saling melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang selalu mereka perbuat'. Dan Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: 'Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman'."

"Sebagian orang jika mendengar orang yang mengingkari kemungkaran berkata: 'Kamu dengan ini memprovokasi orang-orang untuk memberontak terhadap pemerintah, atau kamu adalah seorang Khawarij'. Janganlah kalian berlebihan dan jangan pula mengaburkan masalah. Orang yang menyeru manusia kepada revolusi dan kudeta adalah orang yang menyeru kepada fitnah. Adapun orang yang menyeru dan memperingatkan dari kemungkaran—maka jika orang yang melakukan kemungkaran tersebut tidak meninggalkan kemungkarannya, dan tiga atau empat orang dari kelompok yang mungkin saja memukul pelaku kemungkaran tersebut jika pengingkaran itu tidak membawa kepada sesuatu yang lebih besar dari itu—maka kepada Allah-lah memohon pertolongan."

Dari kaset: (Pertanyaan-pertanyaan Bani Qais Bahasy).

Jumat, 30 Oktober 2026

Barang siapa diberi taufik oleh Allah untuk meminta pada Allah, sesungguhnya ia sedang dikehendaki untuk diberi. Begitulah makna yang pernah saya dengar dari para ulama.

Barang siapa diberi taufik oleh Allah untuk meminta pada Allah, sesungguhnya ia sedang dikehendaki untuk diberi. Begitulah makna yang pernah saya dengar dari para ulama.

Suatu hari, begitu saya tiba di masjid, syahdan hujan turun. Padahal sepanjang perjalanan, hujan itu belum hadir. Saya menengok jam digital di dinding masjid. Waktu menuju ikamah Zuhur ternyata masih cukup lama.

Saya langsung membatin: masyaallah, Allah sedang memberikan taufik kepada saya untuk berdoa di tengah bertumpuknya sebab-sebab terkabulnya doa. Hujan sedang turun. Pintu langit tengah terbuka (waktu zawal). Jeda antara azan dan ikamah masih terbentang. Tiga sebab ijabah ini ada dalam satu waktu.

Saya pun salat, bersujud, lalu membuka doa di dalam sujud tersebut dengan pembuka doa yang datang dari Nabi ﷺ, yang beliau menjanjikan pengabulan bagi yang membaca kalimat-kalimat tersebut. Sekali lagi saya membatin, Allah kembali memberi saya taufik untuk mengerjakan dua tumpukan sebab terkabulnya doa yang lainnya: ketika sujud dan membuka doa dengan apa yang diajarkan oleh kekasih-Nya ﷺ.

Rasanya, puas sekali berdoa dalam sujud ketika itu. Tidak tergesa-gesa karena waktu yang terasa panjang. Semua atas taufik dari Allah.

Dan, tak lama, besok paginya Allah kirimkan pengabulan doa tersebut secara kontan. Saya seperti tersergah di pagi buta itu. Pengabulan yang bagi kami sekeluarga adalah sesuatu yang sangat besar dalam kehidupan kami.

Sesuatu yang kemarin saya pintakan dalam sujud atas taufik-Nya, pagi itu telah Allah hadirkan di hadapan kami dengan kuasa-Nya. Sekali lagi, barang siapa yang digerakkan untuk meminta, artinya ia memang ingin diberi.

Rabbana, semoga Engkau berkenan memaafkan kami jika pernah terbesit sekejap saja keraguan atas pengabulan doa dari-Mu. Kami beriman bahwa Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui apa yang kami butuhkan, dan Engkau Maha Mampu mengabulkan doa-doa hamba-Mu.
Ust muhammad rezki hr

سئل الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله :لقد ظهر بين طلاب العلم اختلاف في تعريف المبتدع ،

سئل الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله :

لقد ظهر بين طلاب العلم اختلاف في تعريف المبتدع ،

فقال بعضهم : هو من قال أو فعل البدعة ، ولو لم تقع عليه الحجة ، ومنهم من قال لابد من إقامة الحجة عليه ، ومنهم من فرق بين العالم المجتهد وغيره من الذين أصلوا أصولهم المخالفة لمنهج أهل السنة والجماعة ، وظهر من بعض هذه الأقوال تبديع ابن حجر والنووي ، وعدم الترحم عليهم ؟

فأجاب :

" أولاً: لا ينبغي للطلبة المبتدئين وغيرهم من العامة أن يشتغلوا

بالتبديع والتفسيق ؛

لأن ذلك أمر خطير وهم ليس عندهم علم ودراية في هذا الموضوع ، وأيضاً هذا يُحدث العداوة والبغضاء بينهم ، فالواجب عليهم الاشتغال بطلب العلم ، وكف ألسنتهم عما لا فائدة فيه ، بل فيه مضرة عليهم ، وعلى غيرهم

ثانياً: البدعة : ما أحدث في الدين مما ليس منه ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : ( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ) - رواه

البخاري - ،

وإذا فعل الشيء المخالف جاهلاً :

فإنه يعذر بجهله ، ولا يحكم عليه بأنه مبتدع ، لكن ما عمله يعتبر

بدعة

ثالثاً: من كان عنده أخطاء اجتهادية تأوّل فيها غيره ، كابن حجر ، والنووي ، وما قد يقع منهما من تأويل بعض الصفات : لا يحكم عليه

بأنه مبتدع ، ولكن يقال :

هذا الذي حصل منهما خطأ ، ويرجى لهما المغفرة بما قدماه من خدمة عظيمة لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فهما إمامان جليلان ، موثوقان عند أهل العلم " انتهى .

"المنتقى من فتاوى الفوزان" (2/211) ، (212)

سبيل الرشاد في تقرير مسائل الاعتقاد على ضوء الأدلة الشرعية والمأثور عن سلف الأمة)