Minggu, 19 April 2026

HUKUM MENGGUNAKAN BBM SUBSIDI UNTUK MOBIL PREMIUM (TINJAUAN SYARIAT & NEGARA)

HUKUM MENGGUNAKAN BBM SUBSIDI UNTUK MOBIL PREMIUM (TINJAUAN SYARIAT & NEGARA)

Penggunaan BBM subsidi pada kendaraan yang tidak memenuhi kriteria termasuk persoalan yang menyentuh dua aspek; amanah harta publik dalam syariat dan ketaatan terhadap aturan negara (ulil amri). Dalam Islam, subsidi merupakan bentuk tasharruf al-imam ‘ala ar-ra’iyyah (kebijakan penguasa untuk kemaslahatan rakyat), sehingga penggunaannya wajib sesuai tujuan yang ditetapkan.

Di Indonesia, BBM subsidi diatur penggunaannya oleh pemerintah dan hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu. Menggunakan subsidi di luar ketentuan termasuk pelanggaran administratif hingga pidana, karena dianggap merugikan keuangan negara.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;

فإن تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة، فإذا تصرف بما فيه عدل ومصلحة للناس، كان ذلك من أعظم الواجبات، ومخالفته في ذلك ظلم وفساد

“Sesungguhnya kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus bergantung pada kemaslahatan. Jika ia menetapkan kebijakan yang mengandung keadilan dan kemaslahatan bagi manusia, maka hal itu termasuk kewajiban terbesar. Dan menyelisihinya dalam hal tersebut merupakan kezaliman dan kerusakan.”

Jadi buat mereka yg koar-koar taat ulil amri dalam perkara ma'ruf, kini saatnya anda membuktikannya, dan buat anda yg selalu gelisah dengan kezaliman para penguasa, maka jangan sampai anda juga berlaku zalim. Karena sesungguhnya kezaliman itu dapat menimbulkan kemudharatan yg besar dan kegelapan di hari kiamat.

Allah ﷻ berfirman dalam hadits qudsi;

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”

semoga Allah merahmati mereka semua.Mereka menyifati Allah sesuai dengan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri melalui perbuatan, ucapan, zuhud, dan ketakwaan. Mereka tidak menyibukkan diri dengan ilmu kalam (dialektika teologis) maupun perdebatan.


"... Takwil. Ketahuilah bahwa para Imam yang empat dan para pendahulu mereka dari kalangan Ahlussunnah, serta mayoritas tokoh sufi yang karamahnya tampak nyata di tengah manusia—seperti **Malik bin Dinar**, **Ibrahim bin Adham**, **Fudhail bin Iyadh**, **Dzun Nun al-Mishri**, **Sari al-Saqathi**, **Ma'ruf al-Karkhi**, **Sahl bin Abdullah al-Tustari**, dan tokoh-tokoh besar lainnya seperti **Junaid al-Baghdadi** dan **Abu Bakar al-Syibli**—semoga Allah merahmati mereka semua.
Mereka menyifati Allah sesuai dengan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri melalui perbuatan, ucapan, zuhud, dan ketakwaan. Mereka tidak menyibukkan diri dengan ilmu kalam (dialektika teologis) maupun perdebatan. Mayoritas umat ini berada di atas jalan tersebut hingga munculnya kelompok **Mu'tazilah**.
Kemudian setelah mereka muncul **al-Asy'ari**, yang membawa mazhab yang menyelisihi jalan yang ditempuh al-Asy'ari sebelumnya (saat ia masih Mu'tazilah). Ia lahir sekitar 300 tahun setelah wafatnya **Imam al-Syafi'i**. Maka bagaimana mungkin pengikut mazhab Syafi'i mengikuti apa yang dibawa oleh al-Asy'ari, padahal ia baru muncul tiga ratus sekian tahun setelah masa Imam al-Syafi'i?
Bagaimana bisa diterima hal-hal yang dibawa oleh al-Asy'ari dan yang serupa dengannya, yang mengandung keburukan dan kebodohan? Karena ia menjadikan firman Allah: *'Dialah Allah yang Maha Mencipta, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa'* sebagai sebuah kedustaan dan sihir. Hal ini tampak jelas kelemahannya karena ia menjadikan Kalamullah itu tidak ada (maknanya secara harfiah)..."

Salafy itu metode beragama bukan kelompok.

Salafy itu metode beragama bukan kelompok.

Salafy itu berrarti mengikuti pemahaman dan praktek beragama generasi salaf. Sehingga yang menjadi fokus salafy adalah gagasan, diskusiya tentang gagasan atau pemikiran, bukan tentang brand  tertentu baik ormas atau partai politik atau lainnya.

Namun ada tangan tangan yang sedang berusaha menggiring agar salafy di indonesia kembali menjadi kelompok, yang bisa dikendalikan dari balik "daun pisang', sebagaimana yang pernah terjadi ketika brand salafy diceburkan ke ambon, dengan brand baru "LJ" bukan RJ atau STMJ.

Hari ini, salafy sedang dipersiapkan ke arah yang sama, makanya sering dibuatkan ring, agar latihan perang perangan melawan ormas..... bukan sibuk berdiskusi tentang gagasan dan pemikiran..... makanya para oknum di balik "daun pisang" itu doyan menanyakan: apa pendapat antum tentang Muhammadiyah, PKS, atau NU, atau MUI dan sejenisnya.

Diskusi tentang ied, bergeser ke tuduhan ke ormasnya, bukan gagasannya....padahal yang berhari raya tidak bersama pemerintah itu banyak, bukan hanya MU, namun oknum oknum itu fokus ke ormasnya.

Kawan! Yuk kembali ke labtop, bahwa salafy itu metode berpikir dan mengamalkan agama, sehingga fokus membicarakan pemikiran dan amalan, bukan ormas atau partai atau lainnya.

Kok gitu? Karena ormas atau partai itu benda, sedangkan islam itu ngurusi perbuatan dan ucapan manusia, sehingga mari kembali ke labtop, diskusi tentang gagasan, pemikiran, amalan, karena itulah obyek hukum dalam Islam.

Sedangkan ormas atau partai atau lembaga bisa berubah seiring dengan perubahan oknumnya..... la yang pegang Al Qur'an, bawa Al  Hadits, menimbun kitab kitab ulama' saja tidak serta merta amalan dan ucapannya sesuai, UU, atau AD ART atau lainnya juga bernasib serupa tidak serta merta dijalankan, tidak serta merta mencerminkan oknumnya .

Coba ingat, dahulu para sahabat menjadi generasi terbaik, dengan islam mereka bersatu, untuk islam mereka berjuang, berbagai perbedaan, suku, kepentingan dan lainnya mereka lupakan demi kejayaan Islam.

Sedangkan saat ini, dengan semakin lama belajar dan dengan alasan manhaj salaf kita berpecah belah, dari hari ke hari semakin banyak varian perpecahannya, bukan semakin bersatu....... Benarkah manhaj salaf itu tidak bisa mempersatukan? Benarkan manhaj salaf itu memang berdampak memecah belah dan memperbanyak perpecahan? 
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ
فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ
فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran 103)

Apa anda kira para sahabat tidak memiliki perbedaan metode memahami agama, atau mengamalkan agama?

Di antara mereka terjadi banyak perbedaan, ada metode tekstual dan ada pula metode kontekstual, sebagaimana pada kisah perjalanan para sahabat ketika berperang melawan suku Quraizhoh.

Kawan! Sekali lagi salafy itu metode, karena fokus berdiskusi tentang pemikiran dan amalan, bukan brand tertentu...sehingga kondusif, tidak terjebak pada fanatisme kelompok.....

Kawan! Bukalah mata, bahwa perpecahan, atau perbedaan antara para syikeh di timur tengah ternyata tidak luput dari aspek aspek personal, masak harus diinpor utuh utuh seperti perilaku para pengimpor pakaian bekas?  

Anda ndak percaya, simak saja 2 link berikut: 

https://www.youtube.com/watch?v=hNWXBMi4mm8

https://www.youtube.com/watch?v=icxr0J_Fka0

Semoga mencerahkan.

Perbedaan antara manhaj salafi dan orang yang mengaku salafi

Perbedaan antara manhaj salafi dan orang yang mengaku salafi

Syaikh Muhammad Aman Al-Jami -rahimahullah- menjelaskan:

Pertama:  
Manhaj salafi adalah manhaj yang benar dan terjaga dari kesalahan, karena ia adalah Islam yang murni sesuai Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para salaf.  
Maka salafiyyah itu bukan kelompok baru, tetapi Islam yang bersih dan asli.  
Kita bukan yang menentukan kebenaran salafiyyah, justru salafiyyah yang menjadi standar untuk menilai kita.

Kedua:  
Adapun orang-orang yang mengaku mengikuti manhaj salafi, maka mereka tetap manusia biasa:  
bisa benar dan bisa salah, tidak ma’shum.  
Jika ada yang salah, walaupun dia tokoh, maka:  
• Tidak boleh membela kesalahannya  
• Harus dinasihati dengan baik  
• Tidak ikut-ikutan dalam kesalahannya  
Karena manhaj salafi tidak salah, tapi orangnya bisa salah.

Intinya:  
Kebenaran itu ada pada manhaj (ajaran), bukan pada tokoh atau orangnya.  

Maka kita harus mengikat hati kepada Allah dan kebenaran, bukan kepada individu.

Sembuh Tanpa Berobat

📚 Sembuh Tanpa Berobat

Syaikhul Islam rahimahullah  berkata, "Banyak orang yang sakit atau kebanyakan mereka diberikan kesembuhan tanpa berobat. Mereka sembuh karena sebab doa mustajab, ruqyah bermanfaat, atau kekuatan sanubari dan tawakal dengan baik." (Majmu' al-Fatawa, 21/563)

HORMATI_ULAMA

#HORMATI_ULAMA

Syaikhuna, ada sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Sunnah atau Salafiyyah, namun suka mencela para ulama, baik secara terang-terangan maupun sindiran. Bagaimana sikap penuntut ilmu terhadap mereka?

Syaikh Ubaid Al Jabiri rahimahullah menjawab:
"Jangan duduk bersama mereka, karena pergaulan itu memiliki pengaruh.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Abu Sa'id Al Khudri: 'Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti peniup api [tukang besi] dan penjual minyak wangi. Penjual minyak wangi, bisa jadi ia memberimu hadiah, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan darinya bau yang harum. Adapun teman yang buruk, seperti peniup api, apa yang didapatkan seseorang darinya? Tidaklah engkau dapatkan darinya kecuali ia akan menyakitimu dengan baunya atau dengan apinya'. 

Sekarang lihatlah, jika engkau memakai pakaian yang bersih dan indah, lalu engkau duduk di antara karung-karung aspal atau kantong-kantong arang, apa hasilnya? Pakaianmu akan menjadi kotor dan tampak buruk, padahal sebelumnya engkau dalam keadaan rapi.

Maka wajib atas kalian untuk duduk bersama orang-orang shaleh dari kalangan ahli ilmu -yang dikenal manhajnya-. Sesungguhnya para salaf dari Ahlus Sunnah tidak saling mencela di antara mereka. Mungkin mereka berbeda pendapat dalam sebagian masalah, namun mereka tetap saling mengunjungi dan saling mencintai karena Allah, dan tidak saling mencela.

Seorang salafi tidaklah ma'shum. Bahkan para shahabat secara umum bisa saja terjadi kesalahan dari mereka. Akan tetapi, kesepakatan para shahabat adalah hujjah dan dalil yang mengikat atas hamba-hamba Allah. Jika mereka berselisih, maka dilihat kepada dalilnya. Orang yang paling berbahagia adalah yang mengikuti dalil. "
____________
رحم الله الشيخ عبيد الجابري رحمة واسعة وغفر له وجزاه خيرا.
https://www.facebook.com/share/v/17wLGz17UG/

Sabtu, 18 April 2026

Prof. Dr. Tsair al-Hallaq pernah mendapat pertanyaan bahwa guru dari sang penanya menyebut Ibnu Taimiyyah tidak konsisten dalam penilaiannya terhadap para tokoh: kadang ia memuji mereka dan kadang ia mencela?

Prof. Dr. Tsair al-Hallaq pernah mendapat pertanyaan bahwa guru dari sang penanya menyebut Ibnu Taimiyyah tidak konsisten dalam penilaiannya terhadap para tokoh: kadang ia memuji mereka dan kadang ia mencela? 

Beliau menjawab: 

Di antara kaidah manhaj Ibnu Taimiyyah adalah bahwa pada diri seseorang itu dapat berkumpul kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan keburukan. Jadi, ketika beliau memuji seseorang, maka beliau memujinya pada sisi kesesuaiannya terhadap Quran dan Sunnah. Pada saat beliau mencelanya, maka itu dikarenakan penyelisihannya terhadap Quran dan Sunnah. Itulah timbangan yang benar, bahkan termasuk derajat tertinggi dalam sikap adil, objektif, dan bersih dari hawa nafsu serta syahwat. 

Ibnu Taimiyyah memuji kalangan Asy’ariyyah terdahulu karena sanggahan mereka terhadap berbagai kelompok agama yang menyimpang, dan karena kesesuaian mereka dengan Ahli Hadis. Namun beliau juga mengkritik kalangan yang belakangan dari mereka, karena terpengaruh Jahmiyyah dalam pembahasan Asma wa Shifat. Beliau bersikap adil kepada seluruh lawannya, bahkan pun terhadap al-Hallaj, yang dibunuh dengan “pedang fatwa” dari dua kelompok: para fuqaha dan kalangan Sufi. Beliau menyampaikan bahwa ada perkara-perkara tidak valid yang dinisbatkan kepada al-Hallaj.

Bahkan beliau juga berlaku adil terhadap lawannya yang paling keras, yaitu Rafidhah. Beliau memuji kezuhudan sebagian tokoh mereka, dan bahwa melalui tangan mereka banyak orang masuk Islam. 

Demikianlah kaidah yang kokoh dan konsisten dalam warisan ilmiah beliau. Siapa yang menemukan adanya problem atau kegoncangan dalam hal tersebut, maka karena ia tidak membaca warisan ilmiah beliau dengan pembacaan yang benar dan objektif. Begitulah seseorang memusuhi terhadap apa yang tidak ia ketahui. Wallahu a‘lam. 

(Kutipan selesai.) 

☆☆☆ 

Note: Perhatikan bahwa sikap Ibnu Taimiyyah di atas berbeda dengan yang diterapkan oleh sebagian kalangan yang mengklaim (paling "sejati" atau "kokoh") di atas manhaj Salaf. 

— adniku 260419 

#moderatisme #wasathiyyah