Minggu, 24 Mei 2026

Kesedihan itu melemahkan hati, mengendurkan tekad, dan membahayakan kemauan. Dan tidak ada sesuatu pun yang lebih disukai oleh setan melainkan membuat seorang mukmin bersedih


 Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Dan maksudnya adalah bahwa Nabi ﷺ menjadikan kesedihan sebagai sesuatu yang dimohonkan perlindungan darinya.
Hal itu karena kesedihan dapat melemahkan hati, mengendurkan tekad (semangat), dan membahayakan kemauan (kehendak).
Dan tidak ada sesuatu pun yang lebih disukai oleh setan melainkan membuat seorang mukmin bersedih.
Allah Ta'ala berfirman: Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk (perbuatan) setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih.' [QS. Al-Mujadilah: 10]"
📚 Thariq al-Hijratain (2/607)
(Teks pada gambar latar belakang bunga merekap poin utamanya):
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Kesedihan itu melemahkan hati, mengendurkan tekad, dan membahayakan kemauan. Dan tidak ada sesuatu pun yang lebih disukai oleh setan melainkan membuat seorang mukmin bersedih."
(Thariq al-Hijratain 2/607)

IBNU TAIMIYYAH MUJASSIMAH?

Posting ulang 

Edisi Bantahan 

IBNU TAIMIYYAH MUJASSIMAH?

Sebagian orang menuduh bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah menyimpang dari akidah salaf, akidah ahlussunnah waljamaah, yakni diantaranya terjatuh pada akidah tajsim (yakni paham yang meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki jisim (tubuh, fisik, atau anggota badan)). Maka dikatakanlah oleh mereka bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah seorang MUJASSIMAH. Dan berakidah tasybih, yakni menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya. Mereka pun menyebut Ibnu Taimiyyah rahimahullah seorang MUSYABBIHAH.

Tuduhan ini telah dibantah oleh para ulama ahlussunnah waljamaah. Baik yang sezaman dengannya atau ulama sesudahnya. 

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (wafat tahun 852 H) rahimahullah,

وَهَذِهِ تَصَانِيْفُهُ طَافِحَةٌ بِالرَّدِّ عَلَى مَنْ يَقُوْلُ بِالتَّجْسِيْمِ وَالتَّبَرُّؤِ مِنْهُ

“Dan inilah karya-karyanya (Ibnu Taimiyyah) penuh dengan bantahan terhadap orang yang berpemahaman TAJSIM. Dan beliau (Ibnu Taimiyah) berlepas diri darinya.” (Taqridz Ibn Hajar terhadap kitab al-Radd al-Wafir Maktabah Ibnu Taimiyyah).

Berkata Al-Hafizh Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi (wafat tahun 855 H) rahimahullah, 

وَهَذَا الْإِمَامُ كَمَا رَأَيْتَ عَقِيْدَتَهُ وَكَاشَفْتَ سَرِيْرَتَهُ، فَمَنْ كَانَ عَلَى هَذِهِ الْعَقِيْدَةِ كَيْفَ يُنْسَبُ إِلَيْهِ الْحُلُوْلُ وَالْإِتِّحَادُ أَوِ التَّجْسِيْمُ أَوْ مَا يَذْهَبُ إِلَيْهِ أَهْلُ الْإِلْحَادِ ؟

 “Dan sang Imam ini (Ibnu Taimiyyah) adalah sebagaimana telah engkau ketahui akidahnya dan engkau singkap kepribadiannya. 

Maka barangsiapa berada di atas akidahnya ini, bagaimana bisa pelakunya disematkan kepada pemahaman hulûl, ittihād dan TAJSIM serta apa yang dipahami oleh para ahlul-ilhād ?  (Ghayah Al-Amani Fi Ar-Radd ‘Ala An-Nabhani).

Berkata Syaikhul-Islam Shalih bin ‘Umar Al-Bulqini Asy-Syafi’i (wafat tahun 868 H) rahimahullah, 
 
وَلَمْ نَقِفْ إِلَى الْآنِ بَعْدَ التَّتَبُّعِ وَالْفَحْصِ عَلَى شَيْءٍ مِنْ كَلَامِهِ يَقْتَضِي كُفْرَهُ وَلَا زَنْدَقَتَهُ، إِنَّمَا نَقِفُ عَلَى رَدِّهِ عَلَى أَهْلِ الْبِدَعِ وَالْأَهْوَاءِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يُظَنُّ بِهِ بَرَاءَةُ الرَّجُلِ وَعُلُوُّ مَرْتَبَتِهِ فِي الْعِلْمِ وَالدِّيْنِ  

“Sampai sekarang aku tidak menemukan dari perkataan Ibnu Taimiyyah yang menunjukkan kekufuran dan kezindiqannya setelah aku meneliti dan menyelidikinya. Justru yang aku dapat adalah bantahannya terhadap ahlul-bid’ah dan ahlul-hawa serta yang lainnya yang menunjukkan berlepas dirinya beliau (dari setiap tuduhan yang disematkan) dan tingginya kedudukannya dalam ilmu dan agama.” (Ghayah Al-Amani Fi Ar-Radd ‘Ala An-Nabhani).

Berkata Asy-Syaikh Ibrahim Al-Kurani Asy-Syafi’i (wafat tahun 1101 H) rahimahullah,

أَقُوْلُ : اِبْنُ تَيْمِيَّةَ لَيْسَ قَائِلًا بِالتَّجْسِيْمِ

“Aku katakan : “Ibn Taimiyyah bukanlah seorang yang berkeyakinan TAJSIM.” (Jilā’ul-‘Ainain, hal. 336).

Berkata Al-Mulla ‘Ali Al-Qari’ Al-Hanafi (wafat tahun 1014 H) rahimahullah, ketika menjawab tuduhan Ibnu Hajar Al-Haitami terhadap Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, beliau mengatakan :

أَنَّهُمَا كَانَا مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، بَلْ وَمِنْ أَوْلِيَاءِ هَذِهِ الْأُمَّةِ

“Keduanya termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jamā’ah, bahkan termasuk walinya umat ini.”

Lalu beliau mengatakan, 

وَظَهَرَ أَنَّ مُعْتَقَدَهُ مُوَافِقٌ لِأَهْلِ الْحَقِّ مِنَ السَّلَفِ وَجُمْهُوْرِ الْخَلَفِ فَالطَّعْنُ الشَّنِيْعُ وَالتَّقْبِيْحُ الفَظِيْعُ غَيْرُ مُوَجَّهٍ عَلَيْهِ وَلَا مُتَوَجِّهٍ إِلَيْهِ فَإِنَّ كَلَامَهُ بِعَيْنِهِ مُطَابِقٌ لِمَا قَالَهُ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ وَالْمُجْتَهِدُ الْأَقْدَمُ فِي فِقْهِهِ الْأَكْبَرِ ... وَحَيْثُ اِنْتَفَى عَنْهُ اِعْتِقَادُ التَّجْسِيْمِ.

“Maka jelaslah bahwa akidahnya (Ibnu Taimiyyah) sesuai dengan para ahlul-haq (penegak kebenaran) dari kalangan salaf dan jumhur khalaf. Maka celaan yang buruk dan hinaan yang keji tidaklah dapat dialamatkan dan ditujukan padanya. Karena perkataannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Imam yang teragung dan terkemuka dalam Fiqhul-Akbar (yaitu Imam Abu Hanifah)... Begitu pula ternafikan darinya keyakinan TAJSIM.” (Mirqāh Al-Mafātih Syarh Misykah Al-Mashābîh).

Berkata ‘Allamah Manshur bin Yunus Al-Buhuti Al-Hanbali (wafat tahun 1051 H) rahimahullah,

كَانَ إمَامًا مُفْرَدًا أَثْنَى عَلَيْهِ الْأَعْلَامُ مِنْ مُعَاصِرِيهِ فَمَنْ بَعْدَهُمْ، وَامْتُحِنَ بِمِحَنٍ وَخَاضَ فِيهِ أَقْوَامٌ حَسَدًا، وَنَسَبُوهُ لِلْبِدَعِ وَالتَّجْسِيمِ، وَهُوَ مِنْ ذَلِكَ بَرِيءٌ، وَكَانَ يُرَجِّحُ مَذْهَبَ السَّلَفِ عَلَى مَذْهَبِ الْمُتَكَلِّمِينَ، فَكَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ بِنَصْرِهِ، وَقَدْ أَلَّفَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ فِي مَنَاقِبِهِ وَفَضَائِلِهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا - رَحِمَهُ اللَّهُ - وَنَفَعَنَا بِهِ.

“Beliau (Ibnu Taimiyyah) adalah imam yang istimewa. Para ulama baik yang sezaman maupun setelahnya memujinya. 

Beliau diuji dengan berbagai ujian, beberapa kalangan terjerumus pada sikap hasad kepadanya, dan mereka menyematkan bid’ah dan TAJSIM kepada beliau, padahal beliau berlepas diri darinya. 

Beliau merajihkan madzhab salaf di atas madzhab ahli kalam. Maka terjadilah apa yang terjadi pada beliau. 

Allah menolongnya atas mereka dengan pertolongan-Nya. Sebagian ulama baik yang dulu maupun kemudian telah menyusun keutamaan-keutamaan dan manaqibnya –rahimhullah-, dan kami mendapatkan manfaat darinya.” (Kasysyāf Al-Qinā’ ‘An Matni Al-Iqnā’ Dār Ālimul Kutub).

Berkata Asy-Syihāb Mahmûd Al-Ālûsi Al-Mufassir (wafat tahun 1270 H) rahimahullah,

حَاشَا الله تَعَالَى أَنْ يَكُوْنَ -يَعْنِي اِبْنُ تَيْمِيَّةَ- مِنَ الْمُجَسِّمَةِ، بَلْ هُوَ أَبْرَأُ النَّاسِ مِنْهُمْ. نَعَمْ يَقُوْلُ بِالْفَوْقِيَّةِ، وَذَلِكَ مَذْهَبُ السَّلَفِ، وَهُوَ بِمَعْزِلٍ عَنِ التَّجْسِيْمِ.

“Mahasuci Allah ta’ala bahwa (yakni Ibnu Taimiyyah) termasuk MUJASSIMAH, bahkan dia adalah orang yang paling berlepas diri dari mereka. Betul, dia meyakini fauqiyyah, dan itu adalah madzhab Salaf, dan dia terlepas dari TAJSIM.” (Jila’ul-‘Ainain).

Berkata ‘Allamah Jamaluddin al-Qasimi (wafat tahun 1332 H) rahimahullah, 

وَأَقُوْلُ إِنَّ كُلَّ مَنْ رَمَى مِثْلَ هَذَا الْإمَامَ بِالتَّجْسِيْمِ فَقَدِ افْتَرَى وَمَا دَرَى

“Dan aku katakana : “Sesungguhnya setiap orang yang menuduh semisal imam ini (Ibnu Taimiyyah) dengan tajsim, maka sungguh dia telah berdusta, dan tidak tahu.” (Mahasinut Ta’wil, 5/83)."

Dari perkataan-perkataan ulama di atas, jelaslah sudah, bahwa Ibnu Taimiyyah rahimahullah bukan berakidah tajsim atau tasybih dan bukan seorang mujassimah dan musyabbihah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berakidah salaf dan seorang sunni salafi.

Berkata Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah, 

ثُمَّ امْتُحِنَ سَنَةَ خَمْسٍ وَسَبْعِمَائَةٍ بِالسُّؤَالِ عَنْ مُعْتَقَدِهِ بِأَمْرِ السُّلْطَانِ، فَجَمَعَ نَائِبُهُ القُضَاةَ والعُلَمَاءَ بِالقَصْرِ، وَأُحْضِرَ الشَّيْخُ، وَسَأَلَهُ عَنْ ذلِكَ، فَبَعَثَ الشَّيْخُ مَنْ أَحْضَرَ منْ دَارِهِ "العَقِيْدَةَ الوَاسِطِيَّةَ" فَقَرَءُوْهَا فِي ثَلَاثِ مَجَالِسَ، وَحَاقَقُوْهُ، وَبَحَثُوا مَعَهُ، وَوَقَعَ الاتِّفَاقُ بَعْدَ ذلِكَ عَلَى أَنَّ هَذِهِ عَقِيْدَةٌ، سُنِّيَّةٌ، سَلَفِيَّةٌ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ ذلِكَ طَوْعًا، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَهُ كَرْهًا. وَوَرَدَ بَعْدَ ذلِكَ كِتَابٌ مِنَ السُّلْطَانِ فِيْهِ: إِنَّمَا قَصَدْنَا بَراءَةَ سَاحَةِ الشَّيْخِ، وَتَبَيَّنَ لَنَا أَنَّهُ عَلَى عَقِيْدَةِ السَّلَفِ

"Kemudian beliau (Ibnu Taimiyyah) diuji pada tahun 705 H dengan pertanyaan tentang aqidahnya melalui perintah dari Sultan. Lalu wakilnya mengumpulkan para qadhi dan para ulama di istana dan syekh (Ibnu Taimiyyah) dihadirkan dan bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Lalu syakh mengutus orang yang mengambil dari rumahnya "AQIDAH WASITHIYYAH", lalu mereka membacanya dalam tiga majelis, mereka memperdebatkannya dan mengkaji bersamanya, dan terjadilah kesepakatan setelah itu bahwa "ini adalah AQIDAH SUNNI SALAFI", di antara mereka ada yang mengatakannya secara suka rela, dan adapula yang dengan terpaksa. Setelah itu ada surat dari sultan yang di dalamnya ia mengatakan, "Kami hanya bermaksud menunjukkan terbebasnya syekh yang mulia (dari tuduhan), dan menjadi jelaslah bagi kita bahwa ia berada di atas AQIDAH SALAF". (Ibnu Rojab Al-Hanbali, Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, 4/501). 

Berkata Syaikh Mar'i Al-Karmi (wafat tahun 1033 H) rahimahullah,

فإن طعن على الشيخ ابن تيمية - رحمه الله - من حيث العقيدة، فعقيدته عقيدة السلف، كما وقع الاتفاق على ذلك وقت المناظرة، فليطعن على السلف من طعن فيه.

"Jika dicelanya Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah dari segi aqidah, maka aqidahnya adalah aqidah Salaf. Sebagaimana telah terjadi kesepakatan pada waktu perdebatan. Maka hendaklah cela Salaf, orang yang mencela beliau." (Al-Kawakib Ad-Durriyyah fi Manaqib Al-Mujtahid Ibnu Taimiyyah).
 
Oleh karena itu, tuduhan terhadap Ibnu Taimiyyah rahimahullah seorang mujassimah dan musyabbihah adalah tuduhan yang tidak berdasar. Tuduhannya hanya berdasarkan kebencian dan mengikuti hawa nafsunya  

Ulama ahlussunnah mengatakan, orang yang membenci Ibnu Taimiyyah rahimahullah, apalagi orang yang mencela dan memfitnahnya, hanyalah orang yang bodoh dan pengikut hawa nafsu.

Berkata Bahauddin Muhammad bin Abdil Bar As-Subki Asy-Syafi’I (wafat tahun 777 H) rahimahullah,

وَاللهِ يَا فُلَانُ مَا يَبْغَضُ ابْنَ تَيْمِيَّةَ إِلَّا جَاهِلٌ أَوْ صَاحِبُ هَوَى فَالْجَاهِلُ لَا يَدْرِي مَا يَقُوْلُ وَصَاحِبُ الْهَوَى يَصُدُّهُ هَوَاهُ عَنِ الْحَقِّ بَعْدَ مَعْرِفَتِهِ بِهِ.

“Demi Allah wahai fulan! Tidaklah orang yang membenci Ibnu Taimiyyah itu melainkan ia bodoh atau pengikut hawa nafsu. Orang yang bodoh itu tidak mengetahui apa yang ia ucapkan, dan pengikut hawa nafsu itu terhalangi oleh hawa nafsunya dari kebenaran setelah ia mengetahuinya.” (Ar-Rad Al-Wafir)."
 
AFM 

Copas dari berbagai sumber 

Bahasan terkait
PUJIAN ULAMA AHLUSSUNNAH TERHADAP IBNU TAIMIYYAH 
https://www.facebook.com/share/p/1CVCSRFwq6/

Ketika orang Junub lalu meninggal bagaimana cara mandikannya?

Pertanyaan
Ketika orang Junub lalu meninggal bagaimana cara mandikannya?

معلومات الكتاب
المجموع شرح المهذب
النووي - أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي
 
جزء 5
 صفحة128
Judul Kitab: Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب)
Penulis: An-Nawawi – Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Jilid: 5
Halaman: 128
(Cabang Masalah) Madzhab kami (Syafi'i) berpendapat bahwa apabila seorang yang junub atau wanita yang sedang haid meninggal dunia, maka mereka cukup dimandikan dengan satu kali pemandian saja. Pendapat ini juga diikuti oleh seluruh ulama, kecuali Al-Hasan Al-Bashri yang berpendapat: "Mereka harus dimandikan dengan dua kali pemandian." Ibnu Al-Mundzir mengatakan: "Tidak ada seorang pun (ulama) yang berpendapat demikian selain beliau."
Grup fb fathul muin 

Al-Muhith (المحيط)

Al-Muhith (المحيط) – Yang Maha Meliputi
Allah Ta'ala berfirman: “Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” [QS. Fussilat: 54].
Makna Nama ini bagi Allah Ta'ala:
(Al-Muhith) adalah Dia yang kekuasaan-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya, dan Dia yang meliputi segala sesuatu dari segi ilmu-Nya, serta menghitung segala sesuatu secara rinci/jumlahnya.
Dia-lah (Al-Muhith) (Yang Maha Meliputi) segala sesuatu dengan ilmu, kekuasaan, rahmat, dan keperkasaan-Nya.
Di antara Pengaruh Iman kepada Nama yang Mulia ini:
Pertama: Rasa takut kepada Allah, malu kepada-Nya, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya dalam setiap lintasan pikiran, ucapan, kedipan mata, dan langkah kaki. Karena ilmu-Nya yang Mahasuci meliputi segala sesuatu; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, baik itu hal yang kecil, besar, samar, maupun yang tampak.
Kedua: Menjauhkan diri dari menzalimi hamba-hamba Allah dan berbuat semena-mena terhadap mereka. Hal itu karena (kesadaran bahwa) kekuasaan Allah telah meliputi segala sesuatu, sehingga tidak ada yang dapat luput dari-Nya atau melemahkan-Nya. Mengingat kekuasaan yang meliputi ini akan mencegah seorang hamba dari tertipu oleh kekuasaannya sendiri atas manusia dan dari menzalimi mereka; karena kekuasaan Allah berada di atas kekuasaannya, dan Dialah Yang Maha Memaksa yang keperkasaan-Nya meliputi segala sesuatu, dan tidak ada satu makhluk bergerak pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.
Ketiga: Sesungguhnya mengimani liputan kekuasaan Allah dan keperkasaan-Nya atas segala sesuatu, akan membuahkan rasa meremehkan (tidak takut pada) kekuatan makhluk dari kalangan musuh yang kafir dan munafik di dalam hati, setelah menempuh sebab-sebab untuk membela diri dari keburukan mereka. Karena Allah meliputi mereka dan Maha Memaksa atas mereka. Dan apabila ketakwaan serta kesabaran telah terwujud pada diri orang-orang mukmin, maka tipu daya orang-orang yang membuat makar tidak akan membahayakan mereka sedikit pun; karena Allah meliputi apa yang mereka kerjakan dan rencanakan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [QS. Ali 'Imran: 120].

berhati hati

قال الشيخ بكري شطا الدمياطي - رحمه الله - :

" [ والأحوط صوم الثامن ] أي لأنه ربما يكون هو التاسع في الواقع "

【 إعانة الطّالبين  -  بكري شطا الدمياطي 】

Manhaj (janganlah engkau memuji waliyyul amri karena kebaikan yang ada padanya, dan jangan mencelanya, dan dengan klaim bahwasanya ini manhaj salaf, manhaj para aimmatud da'wah, dan ulamâ' kibâr. Dan ia pun menukil kalâm milik mereka pada pembicaan di konteks khusus, dan ia menjadikannya kaidah umum.

As-Syaikh Muhammad bin 'Umar Bâzmûl hafizhahullâh berkata:

Dinukil dari Twitter; As-Syaikh Sulaimân Ar-Ruhailiy hafizhahullâh berkata pada postingannya:

"Manhaj (janganlah engkau memuji waliyyul amri karena kebaikan yang ada padanya, dan jangan mencelanya, dan dengan klaim bahwasanya ini manhaj salaf, manhaj para aimmatud da'wah, dan ulamâ' kibâr. Dan ia pun menukil kalâm milik mereka pada pembicaan di konteks khusus, dan ia menjadikannya kaidah umum.

Lalu mengklaim bahwasanya memuji waliyyul amri karena kebaikan yang ada padanya adalah perbuatn ghuluw dan ithrâ' atau pujian yang berlebihan).

Manhaj takhdîriy (pembiusan akal) dan taktîkiy (taktik dan strategi politik) ini berbahaya, karena meninggalkan pintu terbuka untuk para ahlul fitan dengan mencela waliyyul amri."

Kekeliruan, kritik, dan saran terkait terjemahan sampaikan pada penerjemah

FB Penerjemah: Dihyah Abdussalam 
IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Penjelasan maksud kalâm:
- Larangan memuji kebaikan penguasa itu berasal dari manhaj takhdîriy (pencucian akal), dan taktîkiy (da'i politik)

- Manhaj semacam ini akan meninggalkan pintu dalam keadaan terbuka bagi para ahlul fitan.

- Menisbahkan manhaj semisal ini kepada aimmah salaf hanyalah klaim, karena mereka menukil kalâm aimmah yang berbicara dalam konteks khusus tapi mereka gunakan untuk digeneralisir menjadi kaidah umum.

Duktur Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali

الدكتور الشيخ محمد بن هادي المدخلي هو أحد الدعاة وطلبة العلم في المملكة العربية السعودية، من منطقة جازان، وينتسب إلى قبيلة المداخلة. عُرف باهتمامه بالعقيدة السلفية وعلوم الحديث، وله دروس ومحاضرات في شرح كتب العقيدة والمنهج والحديث.
تلقى العلم على عدد من العلماء، ومن أبرز من ذُكر أنه درس عليهم:
عبد العزيز بن باز
محمد بن صالح العثيمين
ربيع بن هادي المدخلي
وكان يدرّس في الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة، وله تسجيلات صوتية وشروحات متداولة بين طلبة العلم، خاصة في مسائل العقيدة والردود والمنهج.
https://www.facebook.com/share/p/17mErDXAxo/
Duktur Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali adalah seorang pendakwah dan ulama ilmu Islam di Kerajaan Arab Saudi, berasal dari wilayah Jazan, 
dan termasuk dalam suku (garis keturunan) Madkhali. 

Beliau dikenal karena ketertarikannya pada akidah Salafi dan ilmu Hadits, dan beliau memberikan pelajaran dan Muhadoroh yang menjelaskan kitab-kitab tentang akidah, Manhaj, dan Hadits.

Beliau belajar di bawah bimbingan sejumlah ulama, yang paling terkenal antara lain:

Abdul Aziz bin Baz
Muhammad bin Salih al Utsaimin
Rabi' bin Hadi al-Madkhali

Beliau mengajar di Universitas Islam Madinah, dan rekaman audio serta penjelasannya banyak beredar di kalangan pelajar ilmu Islam, terutama dalam hal akidah, Rudud, dan Manhaj...

.
Source:
https://www.facebook.com/share/p/17aPH18fYp/