Dulu saya pernah mengalami langsung kerasnya budaya tahdzir dan pelabelan. Ada laqab-laqab seperti manhaj pramuka — “di sini senang, di sana senang” —, mumayyi’, turotsy, sururi, bahkan ungkapan sekeras anjing-anjing neraka. Itu bukan sekadar istilah yang dibaca di buku atau didengar dari cerita orang. Sebagiannya pernah saya rasakan sendiri dalam interaksi nyata.
Saya pernah mengalami salam yang tidak dijawab, orang membuang muka di depan saya, melengos ketika berpapasan, memilih jalan lain saat bertemu, didiamkan meski saya mengajak bicara. Yang paling membuat saya shock, pernah ada momen ketika saya berbicara, lalu lawan bicara benar-benar menutup telinganya dengan jari sambil berlari menjauh. Pengalaman-pengalaman seperti itu membekas, bukan karena saya ingin mengungkit luka lama, tetapi karena dari situlah saya belajar membedakan antara ilmu yang utuh dan penerapan yang parsial.
Alhamdulillah, Allah memberi jalan agar saya memiliki ilmu alat untuk belajar langsung dari kitab-kitab ulama. Di masa itu akses video dan internet belum semudah sekarang. Saya sempat belajar dari CD Kutub Tis’ah dan beberapa Maktabah Syamilah versi CD. Justru dari proses itulah saya tidak lari dari manhaj salafi. Sebaliknya, saya semakin paham bahwa ada jarak antara warisan ilmu para ulama yang utuh, mendalam, dan berkaidah, dengan praktik sebagian orang yang mengambilnya secara parsial, keras dalam vonis, tetapi kurang utuh dalam memahami konteks, maqashid, dan adab.
Karena itu, pengalaman masa lalu tidak membuat saya membenci jalan salaf, tetapi justru membuat saya semakin sadar bahwa kebenaran tidak boleh direduksi menjadi fanatisme kelompok, budaya label, atau semangat memusuhi sesama muslim. Manhaj yang benar semestinya melahirkan ilmu, keadilan, adab, dan ketakwaan; bukan sekadar keberanian memberi cap, tetapi miskin kebijaksanaan dalam bermuamalah.