Selasa, 21 April 2026

Siapa yang semakin luas ilmunya, maka akan semakin sedikit pengingkarannya (terhadap suatu masalah)."** Sejauh mana kebenara



Ada yang bertanya: Sebagian orang melontarkan kaidah: **"Siapa yang semakin luas ilmunya, maka akan semakin sedikit pengingkarannya (terhadap suatu masalah)."** Sejauh mana kebenaran kaidah ini?
Adapun jika yang dimaksud adalah menceritakan sebuah realita bahwa para ulama tidak sering turun ke pasar-pasar atau menghadiri perkumpulan orang awam karena kesibukan mereka dengan hal-hal yang lebih penting; maka ucapan ini memiliki sisi kebenaran. Artinya, Anda tidak akan mendapati ulama-ulama besar sering mendatangi majelis, perkumpulan, atau pasar yang di dalamnya banyak terjadi pelanggaran (syariat), hal itu karena luasnya ilmu mereka dan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap mereka. Dari sisi ini, kaidah tersebut masuk akal.
Namun, apakah luasnya ilmu seseorang memengaruhi caranya dalam mengingkari kemungkaran yang ia lihat? Hal ini bisa dilihat dari dua sisi:
### 1. Sisi Keluasan Pandangan (Wawasan)
Orang yang ilmunya sedikit dan hanya tahu bahwa sesuatu itu "mungkar", biasanya tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak tahu adanya pendapat-pendapat yang berbeda atau argumen tandingan yang mungkin bisa melahirkan dugaan kuat (zhan) apakah hal itu benar-benar mungkar atau bukan. Setidaknya, ilmu tersebut tidak menimbulkan keraguan padanya, terutama saat pendapat lawan memiliki argumen yang kuat.
Orang awam atau yang semi-awam biasanya hanya tahu satu hukum: **"Ini haram, titik."** Ia tidak tahu bahwa imam fulan berkata ini boleh, atau ini makruh. Maka, orang yang memiliki ilmu tentang berbagai pendapat beserta dalil-dalilnya, tentu memiliki kelapangan dada yang lebih besar dibandingkan penuntut ilmu pemula atau orang awam.
### 2. Sisi Kekuatan Argumen dan Keyakinan
Jika seseorang tahu bahwa suatu hal itu mungkar, dan pendapat yang paling kuat (rajih) baginya adalah haram, namun pendapat kedua (yang membolehkan) masih memiliki landasan argumen yang layak dipertimbangkan—terutama pada kondisi-kondisi tertentu di mana hukum haram tidak bisa diterapkan secara mutlak—maka di sinilah muncul sikap moderat atau kelapangan pada orang yang berilmu.
Akan tetapi, jika sudah jelas baginya bahwa perkara tersebut haram, maka ia **wajib mengingkarinya**, meskipun orang lain menganggapnya boleh. Sebab, ia bertindak berdasarkan apa yang ia yakini sebagai agamanya di hadapan Allah. Seseorang harus mengamalkan dan mengingkari sesuatu berdasarkan keyakinannya sendiri, bukan berdasarkan keyakinan orang lain.
## Kesimpulan Tingkatan Pengingkaran
Sering kali seseorang dituduh terlalu longgar (tasahul) dalam mengingkari sesuatu, padahal bagi dia perkara tersebut memang bukan kemungkaran karena adanya dalil lain yang menguatkannya, atau setidaknya ada argumen yang meringankan kadar kemungkaran tersebut.
Masalah **Rajih** (pendapat kuat) dan **Marjuh** (pendapat lemah) adalah perkara relatif:
 * **Perkara Qath'i (Pasti):** Jika tingkat kebenaran suatu pendapat mencapai 100% (masalah kesepakatan ulama/ijma), maka tidak ada perselisihan di sini.
 * **Perkara Rajih Kuat (90%):** Ini juga harus diingkari, karena pendapat yang menyelisihinya dianggap tidak berbobot (hanya 10%).
 * **Perkara Khilafiyah yang Dekat (55% vs 45%):** Seseorang tetap harus mengamalkan dan mengingkari berdasarkan apa yang ia yakini benar (yang 55% tadi). Namun, level pengingkarannya tidak akan sama kerasnya dengan pengingkaran pada masalah-masalah yang sudah disepakati atau masalah yang perbedaan pendapatnya dianggap ganjil (syadz) dan lemah.
يقول: بعضهم يطلق قاعدة: من كثر علمه قل إنكاره، فما مدى صحتها؟

أما إن كان يحكي عن واقع وأن العلماء لا ينزلون إلى الأسواق، ولا يباشرون محافل الناس لانشغالهم عن ذلك بما هو أهم؛ فهذا الكلام له حظ من النظر، يعني ما تجد كبار أهل العلم يغشون مجالس الناس ومحافلهم وأسواقهم التي يقع فيها المخالفات؛ لكثرة علمهم ولكثرة حاجة الناس إليهم، هذا من هذه الحيثية له وجه، أما كون الإنسان مع كثرة علمه..، كثرة علمه تؤثر في إنكاره المنكر الذي يراه فمن وجه دون وجه، من وجه باعتبار أن الذي قل علمه وعلم أن هذا الأمر منكر ما عنده خيارات، ولا يعرف أقوال معارضة أو مقابلة تورث هذه الأقوال عنده غلبة ظن أن هذا المنكر منكر أو ليس بمنكر؟ أو على أقل الأحوال تورث عنده شيء من التردد لاسيما عند قوة قول المخالف، الذي لا يعرف إلا قول واحد من عامي أو شبه عامي هذا ما عنده إلا هذا حرام خلاص، ما يعرف إن الإمام الفلاني قال: لا هذا حلال وهذا مكروه يعني الذي عنده شيء من العلم بالأقوال بأدلتها لا شك أن عنده من السعة أكثر مما عند طالب العلم المبتدئ أو العامي، فإذا عرفت مثلاً أن هذا المنكر بعض العامة يرون أن هذا المنكر مما اختلف فيه بأنهم توارثوا هذا القول من بيئتهم مثلاً أو من واقعهم ووضعهم، تجد هذا ما عنده أدنى إشكال في كونه ينكر على هذا، ولا يتردد في كونه منكر، فما عنده مشكلة في هذا، ولا يتأخر في إنكاره؛ لكن الذي يعرف هذا المنكر، والراجح فيه أنه حرام؛ لكن القول الثاني له حظ من النظر وله وجه لاسيما في حال دون حال، وهذه الحال لا ينطبق عليها القول بالتحريم من كل وجه؛ تجد هناك سعة عند من عنده شيء من العلم؛ لكن إذا ترجح عنده أن هذا الأمر محرم يلزمه إنكاره، ولو كان مباحاً عند غيره ، ولو رأى غيره أنه مباح لأنه إنما يفعل ما يدين الله به، عليه أن يفعل وينكر ما يعتقد، يعني يعمل بما يعتقد لا ما يعتقده غيره، ومن هذه الحيثية تجدون إن بعض الناس قد يرمى بالتساهل في الإنكار مع أنه قد يكون المترجح عنده أن هذا ليس بمنكر، وأن له ما يدل له، أو على أقل الأحوال إن هناك ما يعارض الدليل الذي يدل على أنه منكر، مما يخفف عنده شيء من هذا الأمر؛ لأن القول بالرجحان والمرجوحية أمور نسبية، يعني هناك من المسائل ما يصل فيها الترجيح إلى حد مائة بالمائة هذا في الأمور القطعية التي لا يختلف فيها أحد، وهناك من الأمور ما يصل فيه الرجحان إلى تسعين بالمائة هذا أيضاً لا بد من إنكاره؛ لأن القول المخالف لا حظ له من النظر، عشرة بالمائة لا شيء، ثم تزداد هذه النسبة إلى أن يصل أحد القولين إلى خمس وأربعين بالمائة، والثاني إلى خمس وخمسين، وهو يعتقد إن الراجح ما نسبته خمس وخمسين، وهو الذي عليه أن يعمل به وينكر من رآه يفعله، لكن ليس إنكاره بالمستوى الذي ينكر فيه الأمور القطعية المجمع عليها، أو الأمور التي الخلاف فيها شاذ أو ضعيف.
https://shkhudheir.com/faeda/2068?fbclid=IwdGRjcARVT6ZjbGNrBFVOe2V4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHvt_71uXxMSoHsmcFLJjMvPgecq30s1on9qk264qqm7OaDYokM3lw2Kg6GpV_aem_-zkSlDpfswSIbn4-uPpKTw

Benarkah Kaidah "Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan" ?

Benarkah Kaidah "Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan" ? 

Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi:

من كثر علمه قل إنكاره

"Siapa yang banyak ilmunya, akan sedikit pengingkarannya".

Pertama, perkataan ini bukan ayat al-Qur'an, bukan hadits Nabi dan bukan perkataan para sahabat. Namun memang dikatakan oleh sebagian ulama baik secara tekstual atau secara makna. 

Dengan demikian, perkataan ini bisa bernilai benar dan juga bisa keliru, tergantung apakah sesuai dengan dalil atau tidak.

Kedua, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam adalah manusia yang PALING banyak ilmunya di muka bumi sejak awal hingga akhir dengan sepakat ulama. Namun apakah beliau sedikit mengingkari kemungkaran? Jawabnya: TIDAK. 

Bahkan beliau orang yang paling semangat dalam ingkarul mungkar, tentu disertai dengan ilmu dan cara yang hikmah. 

* Beliau menghancurkan berhala dengan tangannya sendiri 
* Beliau mengingkari kesyirikan dimana-mana 
* Beliau mengingkari orang yang memakai jimat dan mencopotnya
* Beliau mengingkari orang yang berlebihan memuji beliau 
* Beliau mengingkari orang yang sujud kepada beliau
* Beliau mengingkari shalat-nya buruk
* Beliau mengingkari wudhu-nya kurang sempurna 
* Beliau mengingkari orang yang terlihat tidak shalat
* Beliau mengingkari orang yang belum bayar zakat 
* Beliau mengingkari orang yang isbal 
dst. 

Dari sisi ini maka kaidah di atas sangat-sangat KELIRU. Bisa berkonsekuensi tuduhan bahwa Nabi sedikit dalam ingkarul mungkar atau justru sebaliknya, tuduhan bahwa Nabi kurang berilmu karena banyak ingkarul mungkar.

Ketiga, kaidah di atas bisa benar maknanya jika kita maknai:
* Jangan terburu-buru dalam mengingkari 
* Jangan mengingkari tanpa ilmu yang benar
* Jangan mengingkar tanpa cara yang hikmah 
* Jangan menjadi orang yang sombong dengan ilmunya dan merendahkan orang lain 

Keempat, semestinya seseorang ketika bertambah ilmunya maka ia semakin takut kepada Allah Ta'ala. Ia takut untuk melakukan dosa-dosa karena takut kepada Allah. Dan ia semangat untuk ingkarul mungkar terhadap kaumnya karena takut Allah timpakan adzab kepada kaumnya karena perbuatan dosa mereka. 

Tentunya ingkarul mungkar wajib dengan ilmu dan cara yang benar. 

Kelima, ketika orang berilmu diam terhadap kemungkaran, itu adalah dosa dan akan mendatangkan azab Allah.

Keenam, ketika orang berilmu diam, maka orang-orang jahil akan berbicara. Merekalah yang disebut ruwaibidhah.  

Ketujuh, para ulama menjelaskan bahwa kaidah di atas bisa bermakna benar dan bisa bermakna keliru. 

Syaikh Dr. Abdulkarim al-Khudhair menjelaskan:

أما إن كان يحكي عن واقع وأن العلماء لا ينزلون إلى الأسواق، ولا يباشرون محافل الناس لانشغالهم عن ذلك بما هو أهم؛ فهذا الكلام له حظ من النظر، يعني ما تجد كبار أهل العلم يغشون مجالس الناس ومحافلهم وأسواقهم التي يقع فيها المخالفات؛ لكثرة علمهم ولكثرة حاجة الناس إليهم، هذا من هذه الحيثية له وجه

Adapun jika yang dimaksud adalah menggambarkan kenyataan bahwa para ulama biasanya tidak turun ke pasar-pasar dan tidak langsung terjun ke keramaian masyarakat (untuk ingkarul mungkar) karena kesibukan mereka dengan hal-hal yang lebih penting, maka ucapan ini ada benarnya. Maksudnya, kita memang tidak banyak mendapati para ulama besar sering mendatangi majelis-majelis umum, keramaian masyarakat, atau pasar-pasar yang di dalamnya terjadi berbagai pelanggaran. Hal itu karena luasnya ilmu mereka dan besarnya kebutuhan manusia terhadap mereka. Dari sisi ini, pernyataan tersebut dapat diterima.

أما كون الإنسان مع كثرة علمه..، كثرة علمه تؤثر في إنكاره المنكر الذي يراه فمن وجه دون وجه 

Namun jika maksudnya seseorang yang memiliki banyak ilmu, banyaknya ilmu dia mempengaruhi sikapnya ingkarul mungkar yang ia lihat, maka ini bisa benar dan bisa keliru.

الذي عنده شيء من العلم بالأقوال بأدلتها لا شك أن عنده من السعة أكثر مما عند طالب العلم المبتدئ أو العامي ... الذي يعرف هذا المنكر، والراجح فيه أنه حرام؛ لكن القول الثاني له حظ من النظر وله وجه لاسيما في حال دون حال، وهذه الحال لا ينطبق عليها القول بالتحريم من كل وجه؛ تجد هناك سعة عند من عنده شيء من العلم؛ لكن إذا ترجح عنده أن هذا الأمر محرم يلزمه إنكاره، ولو كان مباحاً عند غيره ، ولو رأى غيره أنه مباح لأنه إنما يفعل ما يدين الله به، عليه أن يفعل وينكر ما يعتقد

Orang yang memiliki pengetahuan tentang berbagai pendapat beserta dalil-dalilnya, tentu ia memiliki keluasan pandangan yang tidak dimiliki oleh penuntut ilmu pemula atau orang awam.

Orang yang mengetahui bahwa suatu perkara pada dasarnya haram menurut pendapat yang lebih rajih, tetapi juga mengetahui bahwa ada pendapat lain yang memiliki dasar dan pertimbangan, terutama dalam kondisi tertentu di mana tidak semua keadaan masuk dalam keharaman secara mutlak, maka ia akan memiliki kelonggaran dalam menyikapi hal tersebut karena ilmunya.

Meski demikian, jika telah jelas baginya bahwa perkara itu haram, maka ia wajib mengingkarinya, walaupun orang lain menganggapnya boleh. Karena ia beramal berdasarkan apa yang ia yakini sebagai kebenaran di hadapan Allah. Ia wajib beramal dan mengingkari sesuai dengan keyakinannya, bukan mengikuti keyakinan orang lain.

لكن ليس إنكاره بالمستوى الذي ينكر فيه الأمور القطعية المجمع عليها، أو الأمور التي الخلاف فيها شاذ أو ضعيف.

Namun, cara pengingkarannya tidak boleh sama dengan pengingkaran terhadap perkara-perkara yang bersifat pasti dan disepakati (ijma’), atau perkara yang perbedaannya sangat lemah dan tidak mu'tabar.

[ Sumber: Web Resmi Syaikh Al-Khudhair, https://shkhudheir.com/faeda/2068 ]

Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan:
"Justru yang benar adalah sebaliknya, semakin banyak ilmu seseorang ia seharusnya semakin banyak mengingkari kemungkaran. Karena orang berilmu lebih mengetahui mana yang perkara yang mungkar, daripada orang selainnya. Dan tanggung jawab ia lebih besar daripada orang selainnya. Demikian".

[Ditranskrip dari : https://www.youtube.com/watch?v=cq3cdcYTT6Q ]

Syaikh DR. Shalih bin Sa'ad as-Suhaimi mengatakan: 

"Kaidah bahwa siapa yang banyak ilmunya, akan sedikit pengingkarannya, ini tidak benar. Karena manusia terhadap ilmu itu ada 3 golongan. 
Golongan pertama, orang yang ilmunya membuat ia sombong
Golongan kedua, orang yang ilmunya membuat ia takut kepada Allah
Golongan ketiga, orang yang ilmunya membuat ia tawadhu'. 
Oleh karena itu, perkataan bahwa bertambahnya ilmu akan mengantarkan kepada sedikitnya ingkarul mungkar, maka ini tidak benar. Karena ilmu seharusnya membuat orang takut kepada Allah. Semakin bertambah ilmunya, semakin takut ia kepada Allah (dan melakukan ingkarul mungkar)".

[Ditranskrip dengan peringkasan dari : https://www.youtube.com/watch?v=TI2FYcqRpYY ]

Wallahu ta'ala a'lam. 

Fawaid Kangaswad | Support Media Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad

Tidak termasuk sebuah kedurhakaan, jika seorang anak tidak menaati orangtuanya yg memerintahkan untuk mentalak istrinya yg ia cintai..

Tidak termasuk sebuah kedurhakaan, jika seorang anak tidak menaati orangtuanya yg memerintahkan untuk mentalak istrinya yg ia cintai..

Begitu juga tidak termasuk sebuah kedurhakaan jika anak laki-laki tidak menaati paksaan orangtuanya untuk menikahi perempuan yg ia tidak suka.

Dalam al-Ādab as-Syar'iyyah disebutkan,

قال الشيخ: وليس لهما أي لأبويه إلزامه بنكاح من لا يريد نكاحها لعدم حصول الغرض بها فلا يكون عاقا بمخالفتهما في ذلك كأكل ما لا يريد أكله

"Orang tua tidak punya hak untuk memaksa anak laki-lakinya menikahi perempuan yg ia tidak sukai, dan bukan termasuk sebuah kedurhakaan jika tidak taat, sebagaimana jika mereka memaksa anaknya makan sesuatu yg ia tidak sukai.."
__

Yg di gambar, dari kitab as-Syamsul Munirah menukil dari Hasyiah Bujairimi atas al-Manhaj..
ust amru hamdany

Poin-poin mengenai permasalahan khitan (sunat) bagi wanita berdasarkan mazhab Hambali yang telah dirapikan

Poin-poin mengenai permasalahan khitan (sunat) bagi wanita berdasarkan mazhab Hambali yang telah dirapikan:

Hukum Dasar
Dalam mazhab Hambali, khitan bagi wanita hukumnya wajib, setara dengan hukum bagi laki-laki dan individu khunsa. Kewajiban ini mulai berlaku ketika seorang wanita mencapai usia balig, yakni saat beban syariat (taklif) serta kewajiban salat dan thaharah ditetapkan.

Dalil Kewajiban
Kewajiban ini didasarkan pada dua argumen utama:

Hadis Nabi ﷺ: "Apabila dua khitan telah bertemu, maka wajib mandi," yang mengindikasikan bahwa wanita pada masa tersebut juga dikhitan.

Prinsip Syariat: Khitan mengharuskan terbukanya aurat. Karena hukum asal membuka aurat adalah haram kecuali untuk urusan yang wajib, maka tindakan khitan dianggap sebagai suatu kewajiban.

Tata Cara
Khitan dilakukan dengan memotong sebagian kulit yang berada di atas tempat masuknya alat kelamin (klitoris), yang bentuknya menyerupai jengger ayam.

Ketentuan Pengambilan
Disunahkan untuk tidak memotong seluruh kulit tersebut (tidak dihabiskan). Pengambilan hanya dilakukan pada sebagian kecil saja dengan tujuan untuk menstabilkan syahwat wanita tanpa menghilangkannya. Hal ini merujuk pada hadis: "Potonglah sedikit dan jangan dihabiskan, karena itu lebih mencerahkan wajah dan lebih menyenangkan bagi suami."

Syarat Keamanan
Kewajiban khitan dapat gugur jika berdasarkan tinjauan medis atau pertimbangan ahli, tindakan tersebut dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan jiwa atau menimbulkan kerugian fisik yang serius pada wanita tersebut.

Perbedaan Pendapat
Terdapat riwayat lain dalam mazhab Hambali (yang juga dipilih oleh Al-Muwaffaq Ibn Qudamah) yang menyatakan bahwa khitan wanita tidak wajib, melainkan hanya bersifat kemuliaan (sunah/makramah). Perbedaan ini berpijak pada perbedaan tujuan: khitan pria bertujuan untuk kesucian dari najis (air kencing), sedangkan khitan wanita bertujuan untuk menstabilkan syahwat.

Waktu Pelaksanaan

Waktu Utama: Meskipun kewajiban dimulai saat balig, melakukan khitan saat masih kecil (sebelum balig) dianggap lebih utama karena luka lebih cepat sembuh.

Catatan Khusus: Melakukan khitan pada hari ketujuh setelah kelahiran dianggap makruh hukumnya karena dianggap menyerupai tradisi Yahudi.

STDI itu dirintis sejak rahun 2007 oleh 6 personil:

STDI itu dirintis sejak rahun 2007 oleh 6 personil: 
1. Ust Noor Ikhsan Silviantoto, Lc. Keluar tahun 2022.
2. Ust Nur Kholis Kurdian, Lc. 
3. Ust Suhuf Subhan, S.Pdi. keluar tahun 2014.
4. Wahyudi, ST. Keluar tahun 2017.
5. Boris Tonesa, ST. Keluar tahun 2009
6. Hamba yang fakir, sedang menunggu proses  perpindahan.

Pada tahun 2008 tambah 1 personil Ust Ahmad Danil, Lc. Keluar tahun 2009.

Pada tahun 2009 tambah 4 personil:
1. Ust Muhammad Hafizh, Lc. Keluar tahun 2011
2. Ust Misbahus Zulam, Lc.
3. Ust Muhsan Syarafudin, Lc.
4. Ust Jamaluddin, Lc. Keluar tahun 2010

Pada Juli tahun 2010 ijin resmi operasional keluar. Maka berdirilah STDI secara resmi beralih status dari Ma'had Aly Imam Syafi'i

Dari perintis yg masih tersisa:
1. Ust Nur Kholis Kurdian.
2. Ust Muhsan Syarafudin.
3. Ust Misbahus Zulam.

Pada akhir 2010 bergabung:
1. Dr. Arifin Badri, M.A.
2. Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.
3. Muhammad Yasir, Lc.

Pada 2011 bergabung Baharuddin Baco, Lc, Keluar 2018.

Pada Tahun 2013 bergabung:
1. Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
2. Anas Burhanuddin, M.A.
3. Sanusin, M.A. keluar tahun 2020.

Sepetember 2013 jabatan kami sebagai Ketua diakhiri.

Pada Tahun 2013 STDI mengalami Perubahan dan Perluasan:
1. Pembangunan Ruangan Kantor 2 tingkat di samping kiri Masjid.
2. Perluasan Masjid 2 tingkat.
3. Pembangunan Ruang Kuliah 2 Tingkat 12 lokal posisi depan Masjid.
4. Penambahan Ruang asrama 2 tingkat posisi samping kanan masjid dan diatas perpustakaan dan dapur, sekitar 25 kamar lebih.
5. Perpustakaan, labor komputer, dapur dan ruang makan.
6. Rumah dosen 16 unit.
7. Perluasan lokasi dari 4000/m menjadi sekitar 20.000/m.
8. 4 0rang dosen lulus sertifikasi.
9. Pengajuan borang akreditasi.

Mungkin sebagian tahunnya ada yg kurang tepat, karena ditulis sesuai perkiraan, Allahu A'lam.

Ditulis Oleh : Ust Alimusri Semjan Putra حفظه الله تعالى (salah satu perintis STDI Jember)

Kisah Keajaiban Syaikh Basyyar Bersama Imam al-Bukhari

بشارةٌ عجيبة تحمل معاني الأمل واليقين  🤍

مكثتُ سبعةَ عشر عامًا بعد زواجي لم أُرزق بولد.

وفي عام ١٤٠٢هـ، وخلال أيام شهر رمضان المبارك، كنتُ في عمّان أعمل مع أخي الشيخ المحقق شعيب الأرنؤوط رحمه الله، وكنا نَعكِفُ على تحقيق كتابٍ في مكتبته.

وفي ليلة العشرين من رمضان، غلبني النعاس فنمتُ في المكتب، فرأيتُ رؤيا عجيبة!

رأيتني أنا والشيخ شعيب نجلس لتحقيق "صحيح البخاري"، فدخل علينا رجلٌ منوّر الشيبة، طويل القامة، عليه مهابة ووقار، يلبس عمامة.

سألنا: ماذا تعملون؟
قلت: نحقق صحيح الإمام البخاري.
فقال: ومن أنا؟
فأجبته على الفور: أنت محمد بن إسماعيل البخاري!
فسألني: ومن شيخي؟
قلت: محمد بن بشار بُندار.

فتبسم الإمام البخاري، ونظر إليّ مُبشّرًا وقال:
"يأتيك… يأتيك إن شاء الله".

استيقظتُ صباحًا، وقصصتُ الرؤيا على الشيخ شعيب، وسجلنا تاريخها ووقتها، وقد وثّقت هذه الحادثة وذكرتها في تعليقي على ترجمة الإمام البخاري في كتاب "تهذيب الكمال في أسماء الرجال".

وسبحان من بيده خزائن السماوات والأرض…
تحققت البشارة، وفي نفس التاريخ تمامًا من العام الذي يليه، في ٢٠ رمضان ١٤٠٣هـ، رُزقتُ بابني (محمد).

ذكرها المحقق د. بشار عواد

#بشارات
#فوائد_العلماء
#كلام_العلماء
Kisah Keajaiban Syaikh Basyyar Bersama Imam al-Bukhari 

☆☆☆ 

Syaikh Muhaqqiq Prof. Dr. Basyyar 'Awwad Ma'ruf (sebelah kanan) mengisahkan: 

Aku menjalani tujuh belas tahun pernikahanku tanpa dikaruniai seorang anak. 

Pada tahun 1402 H, di bulan Ramadan, aku berada di Amman, sedang bekerja bersama Syaikh Syu‘aib al-Arnauth (sebelah kiri). Kami sedang melakukan tahqiq di perpustakaan beliau. 

Pada malam kedua puluh Ramadan, aku tertidur di perpustakaan, karena dikalahkan oleh rasa kantuk yang berat. Lalu aku mengalami sebuah mimpi yang menakjubkan. 

Aku melihat diriku bersama Syaikh Syu‘aib sedang duduk untuk melakukan tahqiq terhadap Shahih al-Bukhari. Tiba-tiba masuk kepada kami seorang lelaki dengan uban yang bercahaya, bertubuh tinggi, berwibawa, penuh ketenangan, serta mengenakan sorban. 

Beliau bertanya, “Apa yang sedang kalian kerjakan?”

Aku menjawab, “Kami sedang melakukan tahqiq terhadap Shahih al-Bukhari.” 

Beliau bertanya lagi, “Lantas siapakah aku?” 

Aku segera menjawab, “Engkau adalah Muhammad bin Isma‘il al-Bukhari!” 

Beliau melanjutkan, “Siapa guruku?” 

Aku menjawab, “Muhammad bin Basyyar Bundar.”

Imam al-Bukhari pun tersenyum, lalu memandangku sambil memberi kabar gembira dengan ucapan: “Akan datang kepadamu… akan datang kepadamu, insyaallah.”

Aku terbangun saat Subuh. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada Syaikh Syu‘aib. Kami pun mencatat waktu dan tanggalnya. Aku juga telah mendokumentasikan peristiwa ini dan menyebutkannya dalam ta‘liq terhadap biografi Imam al-Bukhari pada kitab Tahdzib al-Kamal fi Asma` ar-Rijal.

Mahasuci Dzat yang di tangan-Nya perbendaharaan langit dan bumi, kabar gembira itu benar-benar terwujud. Tepat pada tanggal yang sama di tahun berikutnya, yaitu 20 Ramadan 1403 H, aku dikaruniai seorang putra, yang kuberi nama Muhammad. 

(Kutipan selesai.) 

Sumber: FP Fawaid al-'Ulama` 

Link: https://www.facebook.com/share/1L9pC5BuuS/ 

— adniku 260421 

#kisah #kisahinspiratif