Senin, 27 April 2026

pesan dari Syekh Saleh Al-Suhaimi mengenai sikap bijak dalam menghadapi perselisihan (khilafiyah).

Video ini berisi pesan dari Syekh Saleh Al-Suhaimi mengenai sikap bijak dalam menghadapi perselisihan (khilafiyah). Berikut adalah ringkasan pesan beliau yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

1. Jangan Membawa Perselisihan Luar ke Negeri Sendiri

  • ​Beliau mengingatkan bahwa terkadang muncul perselisihan di wilayah tertentu, lalu ada orang yang membawanya masuk ke negeri mereka sendiri padahal negeri tersebut sedang tenang [00:03].
  • ​Hal ini dapat menyebabkan permusuhan di antara sesama muslim karena masalah yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan mereka [00:17].

2. Sikap Terhadap Pembawa Berita yang Memecah Belah

  • ​Jika ada orang yang datang hanya untuk mencela, menyesatkan (tafsiq), atau membid'ahkan (tabdi') orang lain, maka hendaknya ditolak dengan sopan [01:04].
  • ​Katakan kepada mereka: "Jika Anda ingin mengajarkan 'Qalallah wa Qalarasul' (Al-Qur'an dan Hadis), kami terima dengan senang hati. Namun jika ingin menyeret kami ke dalam perselisihan, kembalilah dari mana Anda datang" [01:16].

3. Fokus pada Hal yang Dibutuhkan Masyarakat

  • ​Beliau memberikan contoh tentang seorang dai yang berceramah di depan masyarakat pedalaman yang masih polos (fitrah) [02:39].
  • ​Masyarakat tersebut belum mengenal istilah-istilah teologis yang rumit (seperti Asy'ariyah, Muktazilah, atau Jahmiyah) dan lebih membutuhkan bimbingan dasar seperti tata cara wudhu, bersuci, dan tauhid yang benar [02:50].
  • ​Membahas bantahan-bantahan teologis yang rumit kepada orang awam yang tidak mengenalnya justru merupakan bentuk "kebisingan" atau gangguan (tasywish), bukan perlindungan (tahshin) [03:02].

Kesimpulan:

Syekh menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam berdakwah. Fokuslah pada apa yang dibutuhkan umat dan jangan menyebarkan kegaduhan atau perpecahan dengan membawa-bawa perselisihan yang tidak perlu ke tengah masyarakat yang sedang damai.

​Video lengkapnya dapat Anda lihat di sini: https://youtu.be/qTT91LfJRyI

"Lima Buku Penting bagi Siapa Saja yang Ingin Memperdalam dan Menguasai Ilmu Aqidah" oleh Syaikh Shalih Sindi.

Video ini berjudul "Lima Buku Penting bagi Siapa Saja yang Ingin Memperdalam dan Menguasai Ilmu Aqidah" oleh Syaikh Shalih Sindi. Berikut adalah ringkasan poin-poin penting dan daftar buku yang direkomendasikan dalam video tersebut:

​Syaikh menekankan bahwa bagi seorang penuntut ilmu, sangat penting untuk memiliki perhatian besar terhadap ilmu aqidah agar memiliki landasan yang kokoh [00:00]. Beliau menjamin jika Anda membaca buku-buku ini dengan serius dan teliti, Anda akan mencapai kemantapan dalam ilmu aqidah [00:31].

​5 Buku Rekomendasi untuk Memperdalam Aqidah:

  1. Taisir al-Aziz al-Hamid Syarah Kitab at-Tauhid [01:16]
    • ​Karya Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab.
    • ​Ini adalah syarah (penjelasan) Kitab Tauhid yang paling agung dan menjadi rujukan utama para ulama setelahnya.
  2. At-Tanbihat as-Sunniyah 'ala al-Aqidah al-Wasithiyyah [01:59]
    • ​Karya Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid.
    • ​Dianggap sebagai salah satu syarah terbaik dan paling bermanfaat untuk Kitab Wasithiyyah. Buku ini mudah dipahami dan berisi kutipan-kutipan berharga dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim.
  3. Syarah Aqidah Thahawiyyah [03:00]
    • ​Karya Ibnu Abil Izz al-Hanafi.
    • ​Buku ini berisi pembahasan penting yang tidak ditemukan di dua buku sebelumnya. Sebagian besar isinya merupakan nukilan dari pemikiran Syaikhul Islam dan Ibnu Qayyim.
  4. Mukhtashar as-Shawa'iq al-Mursalah [05:01]
    • ​Karya asli Ibnu Qayyim, diringkas oleh Al-Mushili.
    • ​Buku ini sangat bermanfaat untuk memberikan kemampuan dalam membela aqidah dan mendiskusikan atau membantah pemikiran kelompok yang menyimpang [05:29].
  5. Thariq al-Hijratain [06:00]
    • ​Karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
    • ​Buku ini memuat pembahasan yang sangat detail dan mendalam yang mungkin tidak ditemukan di buku-buku lain [06:14].

​Saran Metode Belajar:

  • Membaca dengan Teliti: Baca sambil menyiapkan pena untuk mencatat faedah penting dan hal-hal yang sulit dipahami guna dicari jawabannya nanti [03:44].
  • Mengulang Bacaan: Syaikh menyarankan untuk membaca buku-buku penting ini sebanyak dua kali agar informasinya terukir kuat di dalam pikiran [04:13].
  • Pentingnya Bahasa Arab: Syaikh juga mengingatkan bahwa untuk menjadi ahli dalam ilmu syariah, seseorang wajib menguasai ilmu bahasa Arab sebagai pondasi utama [08:00].

​Setelah menguasai buku-buku di atas, Syaikh menyarankan untuk terus mendalami karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, dan para imam dakwah karena karya mereka memberikan ringkasan dan sari pati dari persoalan ilmu [07:29].

​Video asli dapat ditonton di sini: https://youtu.be/KikiYd-IlgQ

Video ini berisi penjelasan dari Syekh Saleh Sindi yang membantah klaim Muhammad Hassan Walad al-Dadu mengenai pengelompokan Ahlus Sunnah

https://youtu.be/KwbEUSACQ54?si=2HzFfCOGKgnVytHA

Video ini berisi penjelasan dari Syekh Saleh Sindi yang membantah klaim Muhammad Hassan Walad al-Dadu mengenai pengelompokan Ahlus Sunnah. Berikut adalah ringkasan poin-poin penting dari video tersebut:

Kritik terhadap Klaim "Tiga Kelompok Ahlus Sunnah"

  • Istilah Ahlus Sunnah yang Mulia: Syekh Saleh Sindi menekankan bahwa istilah "Ahlus Sunnah" adalah gelar yang sangat mulia dan terhormat, sehingga tidak boleh disematkan secara sembarangan kepada kelompok yang memiliki penyimpangan akidah [00:00].
  • Bantahan terhadap Pembagian Kelompok: Video ini menanggapi pernyataan Muhammad Hassan Walad al-Dadu yang mengklaim bahwa Ahlus Sunnah terbagi menjadi tiga madzhab akidah: Ahlul Hadits (Salafi), Asy'ariyah, dan Maturidiyah [00:10].

Perbedaan Mendasar yang Sangat Dalam

​Syekh Saleh menjelaskan bahwa perbedaan antara pengikut Salaf (Ahlus Sunnah yang sebenarnya) dengan kelompok Asy'ariyah bukan hanya sekadar masalah sifat Allah, melainkan mencakup hal-hal fundamental lainnya:

  • Metode Pengambilan Dalil (Istidlal): Terdapat celah besar dalam cara kedua kelompok ini menerima dan memahami dalil agama [01:38].
  • Sifat-Sifat Allah: Kelompok tersebut cenderung menolak atau melakukan takwil (penafsiran menyimpang) terhadap sebagian besar sifat Allah [01:55].
  • Masalah Iman: Syekh menyebut mereka beraliran Murji'ah dalam masalah iman, yang berbeda dengan keyakinan para Salaf [02:18].
  • Masalah Takdir: Mereka dianggap menganut paham Jabariyah melalui konsep Kasb (usaha), di mana mereka meyakini manusia seolah-olah dipaksa secara batin namun tampak memilih secara lahir [02:28].

Kesimpulan Syekh Saleh Sindi

  • Bukan Bagian dari Ahlus Sunnah: Beliau menegaskan bahwa sangat keliru jika menganggap kelompok-kelompok tersebut sebagai bagian dari Ahlus Sunnah. Menurutnya, akidah mereka justru lebih dekat dengan paham Jahmiyah jika dilihat dari metode pendalilannya [03:38].
  • Tujuan Istilah Ahlus Sunnah: Istilah ini dibuat untuk membedakan antara mereka yang mengikuti Islam murni sesuai tuntunan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya dengan kelompok yang telah tercampur oleh inovasi (bid'ah) dalam akidah [05:05].

​Video ini dapat ditonton selengkapnya di sini: الشيخ صالح سندي يبين غلط هذا الادعاء

Video Syaikh Shalih Sindi yang membahas mengenai kedudukan Imam An-Nawawi dan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kaitannya dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

https://youtu.be/1tKNqVn6dJs?si=V_zHSuW4Li-qzgYO
Video  Syaikh Shalih Sindi yang membahas mengenai kedudukan Imam An-Nawawi dan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kaitannya dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Berikut adalah ringkasan poin-poin penting dari penjelasan beliau:
Perbedaan antara Ibnu Hajar dan An-Nawawi: Syaikh menjelaskan bahwa Ibnu Hajar tidak sama dengan An-Nawawi dalam hal metodologi akidah [00:21]. Ibnu Hajar dinilai mengalami "kegoncangan" (idhtirab) dalam bab sifat; terkadang mengikuti manhaj Salaf, terkadang mengikuti Asy'ariyah (tawil atau tafwid), dan terkadang hanya menukil perkataan ahli kalam tanpa memberi komentar [00:33].
Metodologi An-Nawawi: Imam An-Nawawi dinilai lebih konsisten pada satu jalur dalam menyikapi hadits-hadits sifat, yaitu jalur tawil (menafsirkan secara metaforis) [01:28]. Oleh karena itu, Ibnu Hajar dianggap memiliki kondisi yang "lebih baik" dalam masalah sifat dibandingkan An-Nawawi [01:53].
Sikap Pertengahan (Tawasut): Syaikh menekankan pentingnya sikap moderat. Kita tidak boleh menjatuhkan mereka sepenuhnya karena jasa besar mereka terhadap Sunnah, namun kita juga tidak boleh menyebut mereka sebagai "Imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah" dalam masalah akidah secara mutlak karena adanya kesalahan tersebut [04:11].
Menghormati namun Tetap Mengkritisi: Para ulama Ahlus Sunnah (seperti Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab) menghormati kedua tokoh ini atas kontribusi besar mereka dalam ilmu hadits, namun tetap memperingatkan kesalahan akidah mereka jika diperlukan [02:45].
Kesimpulan: Kebenaran lebih dicintai daripada siapapun. Kesalahan mereka harus dijelaskan agar tidak membingungkan orang awam, namun tetap dengan mendoakan rahmat bagi mereka dan menghargai ilmu yang mereka wariskan [03:59].
Tonton video lengkapnya di sini: https://youtu.be/1tKNqVn6dJs

Minggu, 26 April 2026

Bersikap inshof dan adil

Diantara karakter Ahlussunnah

Bersikap inshof dan adil. Yang mereka perhatikan adalah hak Allah Ta'ala bukan hak diri atau hak kelompok. Oleh karena itu mereka tidak ghuluw terhadap teman yang memberi loyalitas kepadanya dan tidak bersikap zalim kepada orang yng memusuhinya. Dan tidak meremehkan orang yang memiliki keutamaan siapapun ia.
(Mujmal Ushul Ahlissunnah)

Ini yang sulit
ust badrusalam 

Hal yang harus antum ketahui ketika berhadapan dengan syubhat ahlul bida' (Part 2)

📚Hal yang harus antum ketahui ketika berhadapan dengan syubhat ahlul bida' (Part 2) 

📝Perhatikan baik-baik. Senjata paling ampuh sekaligus paling mudah dalam membantah syubhat ahlul bida' adalah konteks dalil (dalalah siyaq) yang mereka bawakan. Mereka ini ketika mentakwil nash selalu aja ada bantahannya dari nash itu sendiri, atau dari nash lain yang semisal. 

🔎Kita ambil satu sampel nash aqidah: 

ينزل ربنا تبارك وتعالى في كل ليلة إلى السماء الدنيا، حين يبقى ثلث الليل الآخر، فيقول: من يدعوني فأستجيب له، من يسألني فأعطيه، من يستغفرني فأغفر له

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu ketika tinggal sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Barangsiapa berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan! Barangsiapa meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan! dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni”. [H.R. Bukhari & Muslim]

📔Di sini ahlul kalam mentakwil sifat nuzul bahwa yang turun bukan Allah, melaikan rahmat Allah, atau perintah Nya, atau malaikat Nya. 

📖Bantahan: Jika antum baca dari awal hingga akhir nash maka akan antum temukan kontradiksi jika menafsirkan turunnya Allah dengan turunnya rahmat atau perintah Allah. Bagaimana mungkin
rahmat mengatakan: "Barangsiapa berdoa kepadaku maka akan aku kabulkan." Ini sama saja memisahkan sifat dari pemilik sifat aslinya. 

Dan yang lebih parahnya adalah jika yang mengatakan kalimat di atas adalah malaikat!! Bagaimana mungkin malaikat yang notabenenya adalah makhluk ciptaan Allah bisa mengabulkan do'a dan mengampuni dosa. Jelas ini merupakan kesyirikan jika mentakwil nuzul dengan turunnya malaikat. 

Ga ada hubungannya nash ini dengan takwilan bathil mereka. Sudah jelas bahwa yang turun adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan kaifiyah yang layak untukNya. Namun begitu lah ahlul bathil, selalu ingin menyelewengkan nash syar'i agar sejalan dengan ajaran ilmu kalam yang ia yakini. 

🗞Sebenarnya banyak lagi contoh lain. Mungkin ini salah satu yang masyhurnya. Selebihnya bisa antum rujuk kepada kitab-kitab ulama Ahlussunnah mengenai asma' wa shifat.
Ustadz muhammad taufiq

Qolaidul Iqyan

Alhamdulillah malam ini adalah khataman kitab Qolaidul Iqyan karya Imam Ibnu Balban (w. 1083 H) bersama gurunda al Ustadz Nur Fajri Ramadhan حفظه الله sebanyak 17 pertemuan. Di akhir pembahasan, ada nasihat dan wasiat yang sangat bagus sekali dari penulis, yang kurang lebih beliau mengatakan:

- Maka hendaknya engkau —wahai saudaraku—senantiasa berpegang teguh pada jalan para Ahlus Sunnah wal Atsar, bukan jalan para pengekor logika dan pemikiran semata.
​Sebab, terlalu banyak berlogika sebelum memahami dalil itu sedikit manfaatnya tapi besar bahayanya. 

- Terlalu mendalam pada masalah logika yang tercela, serta memprovokasi orang untuk tenggelam di dalamnya, hanya akan memicu permusuhan antar sesama, menyebarkan kebencian, menghancurkan kewibawaan, mengurangi rasa takut kepada Allah, serta mengeraskan hati. ​Hal seperti itu tidak akan membuat seorang pemula tenang, tidak pula akan bisa dipahami oleh orang yang cerdas. Jangan sampai pemikiranmu tertipu; karena sesungguhnya tanda kekuasaan Allah Ta’ala itu tidak bisa dicapai hanya dengan mengandalkan akal-akalan saja.

- ​Maka wajib bagimu untuk mencari kebenaran dengan jujur, berhenti pada hal-hal yang memang penting (bermanfaat), serta jangan jauhi kebenaran dan kejujuran. Bersungguh-sungguhlah untuk tidak masuk ke dalam perkara yang tidak mendatangkan konsekwensi amal bagimu; karena hal itu hanya akan membuatmu lelah dan menyesal di kemudian hari.

- ​Maka ambillah nasihat ini, wahai saudaraku (semoga Allah senantiasa membimbingmu). Aku telah mencurahkan segenap usahaku dalam menasihatimu karena rasa sayangku padamu. Sesungguhnya jalan yang kita tempuh ini (mengikuti atsar) adalah jalan yang paling benar, paling berpahala, paling selamat, paling lurus, dan paling kuat. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

الحمد لله رب العالمين

Khataman kitab
Ahad, 9 Dzulqa'dah 1447 H