Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Sabtu, 20 Juni 2026
Ketika pembahasan Al 'uluw Syaikh Dr Malik Husain sya'ban ( Dosen Lipia Jakarta)Beliau merekomendasikan beberapa kitab
Ketika pembahasan Al 'uluw
Syaikh Dr Malik Husain sya'ban
( Dosen Lipia Jakarta)
Beliau merekomendasikan beberapa kitab
اجتماع الجيوش الإسلامية
كتاب العرش للحافظ شمس الدين الذهبي، دراسة وتحقيق الدكتور محمد بن خليفة التميمي
محمد بن عثمان بن أبي شيبة وكتابه العرش دراسة وتحقيق الأستاذ الدكتور محمد بن خليفة بن علي التميمي
Awal Kemunculan Sekte Sufi
Awal Kemunculan Sekte Sufi
Syaikh Dr. Isa bin Abdillah as-Sa'di mengatakan:
وأول من عُرف بالصوفي أبو هاشم الكوفي المتوفى سنة ١٥٠هـ، وقيل: إنه عبدك المتوفى سنة ٢١٠هـ، وقيل: إنه جابر بن حيان المتوفى سنة ٢٠٨هـ. وهناك اهتمام من الغربيين ومراكز الاستشراق بالتصوف إعجاباً بروحانيته عند بعضهم، وخبثاً من بعضهم لما يرى فيه من روح الاستسلام واتجاه سلبي نحو الحياة.
“Orang pertama yang dikenal dengan sebutan sufi adalah Abu Hasyim al-Kufi yang wafat pada tahun 150 H. Ada pula yang mengatakan bahwa sufi pertama adalah ‘Abdak yang wafat pada tahun 210 H. Dan ada yang mengatakan bahwa sufi pertama adalah Jabir bin Hayyan yang wafat pada tahun 208 H.
Ada ketertarikan besar dari kalangan Barat dan pusat-pusat orientalisme terhadap sufisme. Sebagian dari mereka tertarik karena mengagumi sisi spiritualitasnya, dan sebagian yang lain karena motif yang tidak baik, karena mereka memandang bahwa di dalamnya terdapat semangat pasrah dan kecenderungan menyikapi kehidupan (dunia) dengan negatif” (Mukhtashar fil Adyan wal Firaq, hal. 47).
Nuruddin Abdurrahman al-Jami rahimahullah mengatakan:
أنَّ أبا هاشِمٍ الكوفيَّ أوَّلُ مَن دُعيَ بالصُّوفيِّ، ولم يُسَمَّ أحَدٌ قَبلَه بهذا الاسمِ، كما أنَّ أوَّلَ خانِقاه بُنِي للصُّوفيَّةِ هو ذلك الذي في رَملةِ الشَّامِ
“Sesungguhnya Abu Hasyim al-Kufi adalah orang pertama yang disebut dengan gelar sufi. Dan sebelum dirinya tidak ada seorang pun yang dinamai dengan nama tersebut. Demikian juga khanqah (tempat menyendiri untuk kaum sufi) pertama yang dibangun bagi kaum sufi adalah yang berada di Ramlah, wilayah Syam" (Nafahat al-Uns, hal. 31).
Jelaslah bahwa di zaman Nabi dan para salaf, tidak ada sekte sufi. Namun ia adalah cara beragama baru yang diada-adakan oleh orang belakangan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
إنَّ لفظَ الصُّوفيَّةِ لم يَكُنْ مَشهورًا في القُرونِ الثَّلاثةِ، وإنَّما اشتَهَرَ التَّكَلُّمُ به بَعدَ ذلك
"Lafadz 'sufiyah' tidak dikenal di tiga generasi awal umat Islam. Namun masyhur dibicarakan di masa setelah itu" (as-Shufiyah wal Fuqara', hal. 5).
Semoga Allah Ta'ala memberi taufik.
Fawaid Kangaswad | Umroh Bersama Kami: bit.ly/fawaid-umroh
Ada kaidah fiqih penting dari Syeikh Labib di dars Fathul Mu'in,
Ada kaidah fiqih penting dari Syeikh Labib di dars Fathul Mu'in,
من لا يشترط رضاه لا يشترط علمه
"orang yg tidak disyaratkan ridho-nya, maka tidak disyaratkan pengetahuannya".
Furu' kaidah:
1. Tdak disyaratkan keridhoan istri ketika ingin menjatuhkan talak, maka talak tetap sah walaupun tidak diketahui istri.
2. Tidak disyaratkan keridhoan istri ketika ingin merujuknya, maka ruju' tetap sah walaupun istri tidak tahu.
3. Tidak disyaratkan keridhoan wakil ketika muwakkil ingin memberhentikannya sebagai wakil, maka sah hal itu dilakukan tanpa sepengetahuannya.
Jumat, 19 Juni 2026
Tahdzir keras dari Syaikh Mahir Bin Dzafir Al-Qahtani kepada para pengkritik penguasa.
Tahdzir keras dari Syaikh Mahir Bin Dzafir Al-Qahtani kepada para pengkritik penguasa.
"Pernyataan Musthafa Al-'Adawi yang berbunyi:
'Mengingkari (kebijakan penguasa) secara terbuka hukumnya boleh, untuk meraih kemaslahatan,'
Perkataan ini adalah inti dari pemikiran kaum Khawarij, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka!
Perbuatan tersebut justru merupakan sebuah kemungkaran, bid'ah, dan kesesatan. Sebaliknya, larangan menyuarakan penentangan secara terbuka kepada penguasa merupakan salah satu prinsip syariat yang sudah baku.
Dalam pandangan ini, Musthafa Al-'Adawi mengekor kepada (pemikiran) Ali Farkus Al-Jazairi, orang yang memelopori bid'ah pengingkaran penguasa secara terang-terangan ini.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang ingin memberikan nasihat kepada penguasa, maka janganlah ia menyampaikannya secara terang-terangan (di muka umum)."
Shc
Bayi (laki-laki) yang masih menyusu dan belum memakan makanan (padat), maka cukup dipercikkan air pada air kencingnya apabila mengenai pakaian, menurut pendapat mayoritas ulama.
Bayi (laki-laki) yang masih menyusu dan belum memakan makanan (padat), maka cukup dipercikkan air pada air kencingnya apabila mengenai pakaian, menurut pendapat mayoritas ulama.
Namun, apakah susu formula mengambil hukum yang sama dengan Air Susu Ibu (ASI), ataukah mengambil hukum makanan (padat) sehingga wajib dicuci apa pun yang terkena air kencing bayi tersebut pada pakaian?
Masalah ini adalah salah satu permasalahan yang diperselisihkan oleh dua Syaikh, yakni Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin rahimahumallah Ta'ala.
~ Al-Allamah Ibnu Baz berkata:
"Pembicaraan mengenai masalah ini adalah ruang lingkup ijtihad.
Barangsiapa yang berpegang teguh pada lafazh hadits, ia akan berkata: 'Ini bukanlah susu; karena susu yang dibekukan (susu bubuk) berbeda dengan air susu ibu.' Maka pendapat yang lebih mendekati (kebenaran) adalah: Susu tersebut tidaklah sama dengan air susu ibunya..."
Beliau juga berkata:
"Dan (bayi) yang meminum susu formula, kedudukannya sama seperti yang memakan makanan (padat); sehingga air kencingnya harus dicuci, tidak seperti (bayi) yang disusui langsung oleh ibunya."
~ Al-Allamah Ibnu Utsaimin berkata:
"Tampaknya (pendapat yang zhahir), bahwa bayi yang diberi nutrisi dengan susu formula, sama halnya dengan bayi yang diberi nutrisi dengan susu alami (ASI)... maka ia berkedudukan sama seperti air susu ibunya."
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
📝 Syarh Bulughul Maram karya Ibnu Baz 1/ 187
📝 At-Ta'liq 'ala Shahih Muslim karya Ibnu Utsaimin 2/ 168
https://www.facebook.com/share/14kGbawUwdB/
الطفل(الذكر) الرضيع الذي لم يأكل الطعام يكفي في بوله الرشُّ والنضح إذا أصاب الثوب عند كثير من أهل العلم
ولكن هل الحليب الصناعي يأخذ حكم حليب الأم، أم يأخذ حكم الطعام، فيجب غسل ما أصاب الثوب من بول الصبي؟
هذه المسألة من المسائل التي اختلف فيها الشيخان ابن باز وابن عثيمين رحمهما الله تعالى.
🔹️فقال #العلامة_ابن_باز - : الكلام على هذه المسألة موضع اجتهاد.
ومن تقيد بلفظ الحديث قال: هذا ليس لَبناً؛ لأنَّ اللَّبن المُجمَّدَ يختلف عن لَبَنِ الأم. فالأقرب : أنَّه لا يكون مثل لبن أُمه...
وقال: والذي يشرب الحليب الصناعي، مثل الذي يأكل الطعام؛ فيُغسل بوله، لا كالذي ترضعه أمه .
🔹️وقال #العلامة_ابن_عثيمين : والظاهر أن الذي يتغذى باللبن الصناعي، كالذي يتغذى باللبن الطبيعي...فهو كلبن أمه.
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ☆
📙شرح بلوغ المرام لابن باز ١/ ١٨٧
📒التعليق على مسلم لابن عثيمين ٢/ ١٦٨
https://www.facebook.com/share/p/14fGu766eps/
Kamis, 18 Juni 2026
Apa beda Al-Hamd, Ats-Tsana-u dan Al Majd?
Apa beda Al-Hamd, Ats-Tsana-u dan Al Majd?
——
Ada sebuah faedah menarik ketika membahas tentang pujian kepada Allah dalam dauroh Al Muqoddimah Fii Ilmit Tauhid pagi tadi.
Beliau menerangkan perbedaan Al-Hamd, Ats-Tsana-u dan Al Majd (At tamjid).
Al hamd (الحمد) maknanya memuji Allah yang disertai rasa cinta dan pengagungan.
Adapun Ats Tsana-u (الثناء) maknanya mengulang dan memperluas pujian.
Sedangkan At Tamjid (التمجيد) maknanya memuji dengan mengagungkan dan mengakui kekuasaan, kemuliaan dan kebesaran Allah.
Sebagiaman terdapat dalam hadits,
فإذا قال العبد: ﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾، قال الله تعالى: حمدني عبدي، وإذا قال: ﴿ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴾، قال: أثنى عليَّ عبدي، وإذا قال: ﴿ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴾، قال: مجدني عبدي
“Jika hamba membaca surat Alfatihah: “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin”, maka Allah berfirman: “Hamidanii ‘abdii —HambaKu memujiKu dengan cinta dan pengagungan.”
Jika hamba membaca: “Ar-Rahmanir rahiim”, maka Allah berfirman: “Atsnaa ‘alayya —HambaKu mengulang pujian untukKu..”
Jika hamba membaca: “Maaliki yaumid diin”, maka Allah berfirman: “Majjadanii ‘abdii —HambaKu menyanjung dengan mengakui kekuasaanKu.” (HR. Muslim no 395)
Kita diajari untuk mengucapkan Alhamdulillah yakni memuji Allah disertai dengan rasa cinta dan pengagungan karena kenikmatan yang Allah berikan serta kesempurnaan nama dan sifat-Nya. Sesuai dengan tahmid (alhamd).
Saat mengucapkan Arrahmanirrahiim, kita mengulangi dan memperluas pujian dengan menyebut Allah yang kasih sayangnya luas dan khusus diberikan kepada orang beriman. Sesuai dengan makna ats-tsana-u.
Tatkala mengucapkan Maalikiyaumiddin, kita memuji Allah yang menguasai dan memiliki hari pembalasan. Sesuai dengan makna al majd.
—
Faedah #DaurahYPIA bersama Syaikh Malik Husain Sya’ban (murid Syaikh Alalbani)
Ma’had Ibadurrahman, 17-18 Juni 2026
Kak erlan
https://www.facebook.com/share/r/1HWdPuFnSY/
Faedah ini juga senada dengan penjelasan Ibnul Qoyyim,
فالحمد: الإخبار عنه بصفات كماله سبحانه وتعالى مع محبته والرضا عنه؛ فلا يكون المحب الساكت حامدًا، ولا المثني بلا محبة حامدًا، حتى تجتمع له المحبة والثناء، فإن كرر المحامد شيئًا بعد شيء كانت ثناءً، فإن كان المدح بصفات الجلال والعظمة والكبرياء والملك كان مجدًا، وقد جمع الله تعالى لعبده الأنواع الثلاثة في أول سورة فاتحة الكتاب؛ ((فإذا قال العبد: ﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾، قال الله تعالى: حمدني عبدي، وإذا قال: ﴿ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴾، قال: أثنى عليَّ عبدي، وإذا قال: ﴿ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴾، قال: مجدني عبدي
الوابل الصيب ورافع الكلم الطيب (ص: 219)
Langganan:
Postingan (Atom)