Saudaraku dan saudariku yang kucintai karena Allah,
Ada masa dalam kehidupan seseorang ketika semuanya terasa baik. Doa terasa mudah; hati tenang; pekerjaan lancar; keluarga baik-baik saja; kita membaca Al-Qur'an dan hati terasa dekat dengan Allah.
Tetapi ada pula masa yang berbeda.
Kita berdoa, tetapi belum melihat jawaban. Kita berusaha, tetapi pintu belum juga terbuka. Kita ingin menangis, tetapi bahkan tidak tahu kepada siapa harus menceritakan semuanya.
Yang paling berat, terkadang, bukanlah masalah itu sendiri. Yang paling berat adalah perasaan bahwa kita sedang menghadapi semuanya sendirian.
Lalu setan datang membisikkan,
"Mengapa Allah belum menolongmu?"
"Mengapa doamu belum dikabulkan?"
"Mengapa hidupmu begini?"
"Jangan-jangan Allah sudah meninggalkanmu."
Perasaan semacam ini pernah dialami oleh Rasulullah. Pada suatu masa, wahyu sempat terhenti. Nabi yang senantiasa menanti kedatangan wahyu tentu merasakan kesedihan dan kegelisahan. Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh kaum musyrikin untuk melontarkan perkataan-perkataan yang menyakitkan, seakan-akan Rabbnya telah meninggalkan dan membencinya.
Maka Allah menurunkan Surah adh-Dhuha sebagai penghiburan bagi Nabi-Nya:
وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى
“Demi dhuha (siang), dan demi malam apabila telah sunyi. Rabb-mu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”
Seakan-akan Allah berkata kepada Nabi-Nya, “Wahai Muhammad, jangan engkau mengira Aku meninggalkanmu.”
Dan mungkin, ada di antara kita yang saat ini juga membutuhkan pesan yang sama: Jangan pernah mengira keterlambatan pertolongan Allah berarti Allah telah meninggalkanmu.
Allah bersumpah dengan dua keadaan: siang yang terang dan malam yang sunyi.
Seolah-olah sejak awal surah ini Allah mengajarkan kepada kita sebuah sunnatullah yang pasti, yakni ada terang, ada gelap; ada lapang, ada sempit; ada kemudahan, ada kesulitan. Namun semuanya tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Malam tidak berarti matahari telah hilang untuk selamanya. Gelap pun tidak bermakna cahaya tidak akan kembali. Betapapun panjang malam, fajar pasti akan datang.
Maka jika hari ini hidupmu sedang berada dalam “malam” yang panjang, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkanmu.
Bisa jadi, Allah sedang mengajarkanmu untuk lebih dekat kepada-Nya.
Bisa jadi, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang belum mampu engkau lihat.
Dan bisa jadi, sebagaimana malam yang pada akhirnya berganti menjadi siang, kesulitan yang sedang engkau jalani pun akan Allah gantikan dengan kemudahan.
Tetap berbaik sangka kepada Allah.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى
“Rabb-mu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”
------
Renungan suci untuk yang tengah bersusah hati.
Klang, Malaysia.
Ahad, 27 Sept 2026.
Ustadz ahmad remanda