Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Minggu, 31 Mei 2026
Jika engkau belum mampu bersungguh-sungguh dalam beramal, maka tetaplah berada di pintu permohonan kepada Allah. Berusahalah meraih hembusan rahmat-Nya. Karena para penyihir Fir'aun pun meraih keberuntungan hanya dalam satu momen.
Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata
"إن لم تقدر على الجِّد في العمل؛ فقفْ على باب الطلب، تعرَّض لنفحةٍ من نفحات الربِّ، ففي لحظةٍ أفلح السحرة".
"Jika engkau belum mampu bersungguh-sungguh dalam beramal, maka tetaplah berada di pintu permohonan kepada Allah. Berusahalah meraih hembusan rahmat-Nya. Karena para penyihir Fir'aun pun meraih keberuntungan hanya dalam satu momen."
[بدائع الفوائد ٣/ ١٢١٣ ط. عالم الفوائد]
Jangan berputus asa karena sedikitnya amal atau banyaknya kekurangan. Tetaplah mengetuk pintu Allah dengan taubat, doa, dan harapan. Sebab hidayah dan perubahan hati bisa datang dalam sekejap, sebagaimana para penyihir Fir'aun yang pada pagi hari masih menjadi pendukung kebatilan, namun di penghujung hari menjadi syuhada yang diridhai Allah.
UNN
keyakinan keliru di kalangan sejumlah masyarakat awam pengajian terkait "nuzul Allah ilas sama ad-dunya"
Selain kekeliruan dalam memaknai "Allah fis sama" yang saya tulis sebelumnya, begitu pula saya telah menemukan keyakinan keliru di kalangan sejumlah masyarakat awam pengajian terkait "nuzul Allah ilas sama ad-dunya" bahwasanya Dzat Allah benar-benar masuk ke dalam langit.
Semoga Allah memperbaiki ihwal kaum muslimin.
طمر بن طمر
karena itu, doktrin Salaf dan Imam adalah bahwa sekalipun Dia turun ke langit terendah, Dia tetap berada di atas Arasy. Dia tidak berada di bawah makhluk, dan makhluk pun tidak pernah mengelilingi-Nya. Sebaliknya, Dia Maha Tinggi: Maha Agung (2) dalam kedekatan-Nya, Maha Dekat dalam keagungan-Nya.
Oleh karena itu, lebih dari satu orang menyebutkan konsensus umat Islam awal bahwa Tuhan tidak berada di dalam langit. Namun, sekelompok orang mungkin berkata: Dia turun dan Arasy berada di atas-Nya, dan mereka berkata: Dia berada di dalam langit, dan makhluk-makhluk mungkin mengelilingi-Nya dan lebih besar dari-Nya.
Mereka adalah orang-orang yang sesat dan bodoh, yang bertentangan dengan akal sehat dan pengetahuan otentik yang diturunkan. Demikian pula, mereka yang mengingkari keberadaan Tuhan, dengan mengatakan bahwa tidak ada apa pun di dalam atau di luar dunia, juga bodoh dan sesat, yang bertentangan dengan akal sehat dan pengetahuan otentik yang diturunkan. Dengan demikian, panteisme dan pengingkaran keberadaan Tuhan adalah hal yang berlawanan.
Adapun mereka yang membayangkan bahwa langit akan terbelah lalu menutup kembali, ini adalah kebodohan terbesar, meskipun sekelompok orang terjerumus ke dalamnya.
Pandangan yang benar adalah pandangan Salaf: bahwa Dia turun dan Arasy tidak pernah kosong dari-Nya, dan jiwa hamba tetap berada di dalam tubuhnya siang dan malam sampai ia meninggal. Saat tidur, jiwa itu naik dan mungkin bersujud di bawah Arasy, namun jiwa itu tidak meninggalkan tubuhnya. Demikian pula, ia paling dekat dengan Tuhannya ketika ia bersujud, dan jiwanya berada di dalam tubuhnya. Hukum-hukum mengenai jiwa berbeda dengan hukum-hukum mengenai tubuh, lalu bagaimana dengan para malaikat?! Lalu bagaimana dengan Tuhan Semesta Alam?!
Rangkuman Materi Daurah Ilmu Firaq oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja Hafidzhahullah
*Rangkuman Materi Daurah Ilmu Firaq oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja Hafidzhahullah | Sesi Pertama*
_Ahad, 30 Mei 2026_
_Gedung Ma'had Ibadurrohman - Bina Dakwah Sunnah_
*A. Pengantar: Apa Itu Ilmu al-Firaq?*
Ilmu al-firaq adalah ilmu yang membahas kelompok-kelompok keagamaan, khususnya kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam, baik yang masih berada dalam lingkup Islam maupun yang menyimpang jauh darinya. Istilah:
الفِرَقُ المُنْتَسِبَةُ إِلَى الإِسْلَامِ
al-firaq al-muntasibah ilā al-Islām
yaitu kelompok-kelompok yang mengaku atau berafiliasi kepada Islam.
Pembahasan ini bukan untuk mencari-cari kesalahan semata, tetapi untuk mengenali jalan penyimpangan agar seorang Muslim lebih kokoh dalam memahami kebenaran dan tidak mudah tertipu oleh nama-nama indah yang digunakan oleh kelompok menyimpang.
*B. Pokok Besar Pembahasan Akidah*
Kajian akidah tidak hanya membahas rukun iman secara umum, tetapi juga pembahasan-pembahasan pelengkap yang penting. Secara garis besar, tema-tema akidah yang disebutkan antara lain:
*Pertama, masā’il al-īmān*, yaitu pembahasan tentang iman. Di dalamnya masuk pembahasan tentang hakikat iman, hubungan iman dan Islam, bertambah dan berkurangnya iman, istitsnā’ dalam iman, pembatal-pembatal iman, serta masalah al-asmā’ wa al-aḥkām, yakni status pelaku dosa besar: apakah masih mukmin, kafir, fasik, atau berada di antara dua kedudukan.
*Kedua, al-i‘tiṣām bi al-sunnah*, yaitu berpegang teguh kepada sunnah dan meninggalkan bid‘ah. Di sini dibahas kesempurnaan syariat, kewajiban mengikuti Nabi ﷺ, kedudukan sunnah, serta bahaya bid‘ah.
*Ketiga, pembahasan firqah-firqah* seperti Khawarij, Mu‘tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah, Syiah, Qadariyyah, dan kelompok lainnya.
*Keempat, pembahasan mazhab-mazhab pemikiran modern* seperti rasionalisme, liberalisme, pluralisme, darwinisme, Qur’aniyyah, ateisme, agnostisisme, dan pemikiran-pemikiran kontemporer yang mengganggu akidah.
*Kelima, pembahasan al-adyān* , yaitu agama-agama lain, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Sikh, Hindu, dan lainnya, khususnya dari sisi keyakinan yang menyelisihi Islam.
*C. Mengapa Ilmu Firaq Penting Dipelajari?*
Mengenali keburukan bukan berarti ingin mengikutinya, tetapi agar bisa menjauhinya. Disebutkan makna ungkapan:
_“Aku mengenal keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjauhinya.”_
Maksudnya, orang yang hanya mengetahui kebaikan tetapi tidak mengenali bentuk-bentuk penyimpangan, bisa saja terjatuh ke dalam penyimpangan tanpa sadar.
*Urgensi mempelajari ilmu firaq antara lain:*
a. Mengetahui lawan dari kebenaran
> Kebenaran akan semakin jelas ketika lawannya juga diketahui. Al-Qur’an sendiri menyebut jalan orang beriman, tetapi juga menyebut jalan Yahudi, Nasrani, kaum munafik, musyrikin, dan orang-orang sesat. Tujuannya agar jalan kebenaran dan jalan kebatilan sama-sama tampak jelas.
*b. Membantah ahlul bid‘ah*
> Membantah bid‘ah termasuk bagian dari pembelaan terhadap agama. Bid‘ah dianggap berbahaya karena merusak agama dari dalam. Kalau musuh dari luar tampak jelas, maka bid‘ah sering datang dengan wajah agama, bahkan dianggap sebagai sunnah.
*c. Menjaga umat dari penyimpangan lama yang muncul kembali*
> Ditekankan bahwa setiap kaum memiliki pewaris. Artinya, meskipun suatu firqah lama telah melemah atau hilang sebagai organisasi, pemikirannya bisa muncul lagi dengan nama baru. Misalnya pemikiran Mu‘tazilah, Jahmiyyah, atau Qadariyyah bisa hidup kembali dalam bentuk modern.
*d. Tidak tertipu oleh nama-nama indah*
> Banyak penyimpangan datang dengan “casing” yang menarik. Dalam transkrip diberikan contoh bahwa sebagian kelompok menamakan penyimpangan mereka dengan istilah indah seperti “tanzih”, “keadilan”, “cinta Ahlul Bait”, “zuhud”, “ma‘rifat”, “Islam progresif”, dan sejenisnya. Padahal substansinya bisa merusak ajaran Islam.
*D. Contoh Firqah dan Isu yang Dibahas*
Beberapa kelompok dan isu yang dibahas antara lain:
1. *Khawarij* , yaitu kelompok yang mudah mengkafirkan kaum Muslimin dan memberontak terhadap penguasa. Mereka dikenal keras dalam takfir dan dalam sejarah banyak membunuh kaum Muslimin.
2. *Qadariyyah* , yaitu kelompok yang menyimpang dalam masalah takdir. Mereka diserupakan dengan Majusi karena keyakinan mereka terkait penciptaan perbuatan manusia dianggap menyerupai dualisme.
3. *Mu‘tazilah* , yaitu kelompok yang dikenal dengan penggunaan akal secara berlebihan dalam akidah. Mereka menolak sebagian sifat Allah, mengatakan Al-Qur’an makhluk, dan memiliki prinsip-prinsip khas seperti al-uṣūl al-khamsah.
4. *Jahmiyyah* , yaitu kelompok yang menolak sifat-sifat Allah secara ekstrem.
5. *Syiah/Rafidhah* , yaitu kelompok yang ghuluw terhadap Ahlul Bait dan mencela para sahabat.
6. *Asy‘ariyyah* , yaitu kelompok ini memiliki perkembangan pemikiran dari masa ke masa. Disebutkan bahwa akidah Asy‘ariyyah tidak selalu satu bentuk, karena mengalami fase dan perubahan pada tokoh-tokohnya.
7. *Qur’aniyyah* , yaitu kelompok yang hanya menerima Al-Qur’an dan menolak Sunnah Nabi ﷺ.
8. *Ateisme dan agnostisisme* , disebut sebagai isu kontemporer yang perlu dibahas karena mengganggu keimanan, khususnya dalam masalah rububiyyah dan keberadaan Allah.
*E. Masalah Bid‘ah: Definisi dan Perbedaan Pendekatan Ulama*
* Bagian cukup penting dibahas adalah pembahasan bid‘ah. Dijelaskan bahwa ulama berbeda dalam mendefinisikan bid‘ah. Ada yang membagi bid‘ah menjadi lima hukum, seperti wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Namun pembagian semacam itu lebih tepat dipahami sebagai bid‘ah secara bahasa, bukan bid‘ah secara syar‘i.
* Bid‘ah secara bahasa bisa mencakup hal-hal baru yang tidak ada pada zaman Nabi ﷺ, seperti ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu musthalah hadits, atau sarana-sarana pendidikan.
* Adapun bid‘ah secara syar‘i adalah perkara baru dalam agama yang dimaksudkan sebagai bentuk ibadah dan tidak memiliki dasar syar‘i.
Disebutkan bahwa definisi bid'ah oleh Imam asy-Syathibi dinilai lebih kuat, yaitu bid‘ah sebagai jalan baru dalam agama yang menyerupai syariat dan dimaksudkan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah.
*F. Masalah Fikih yang Masuk dalam Kitab Akidah*
Tidak semua pembahasan dalam kitab akidah murni masalah akidah. Ada sebagian masalah fikih yang dimasukkan ke dalam kitab akidah karena menjadi pembeda antara Ahlus Sunnah dan ahlul bid‘ah.
Contohnya:
* Mengusap khuf. Secara asal, ini masalah fikih. Namun karena sebagian kelompok seperti Khawarij mengingkarinya padahal haditsnya mutawatir, maka pembahasan ini masuk dalam kitab akidah.
* Ketaatan kepada penguasa Muslim. Secara asal, ini juga terkait fikih siyasah. Tetapi karena berkaitan dengan pemikiran Khawarij, pemberontakan, dan takfir terhadap penguasa, maka masuk dalam pembahasan akidah.
* Khabar ahad. Ini berkaitan dengan ilmu hadits, tetapi masuk dalam pembahasan akidah karena banyak masalah akidah ditetapkan berdasarkan hadits ahad. Jika hadits ahad ditolak, maka banyak perkara akidah ikut ditolak.
Jadi, suatu masalah bisa masuk kitab akidah karena menjadi ciri khas penyimpangan kelompok tertentu, atau karena menyentuh prinsip besar dalam agama.
*G. Makna “Maqālāt” dalam Kitab Firaq*
Dalam konteks kitab-kitab klasik, maqālāt bukan berarti “makalah” seperti tulisan ilmiah modern, tetapi berarti pernyataan keyakinan, doktrin, atau pendapat akidah suatu kelompok.
Misalnya:
* maqālah al-Jahmiyyah berarti pendapat atau doktrin Jahmiyyah.
* maqālah al-Mu‘tazilah berarti pendapat atau doktrin Mu‘tazilah.
* maqālāt al-Islāmiyyīn berarti kumpulan pendapat kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam.
*H. Metode Penulisan Kitab-Kitab Firaq*
Para ulama memiliki beberapa metode dalam menulis kitab tentang firqah dan maqālāt.
*a. Metode pertama* : menyebut pemikiran dahulu, lalu tokohnya
* Contohnya, penulis menjelaskan suatu pemikiran seperti hulul, ittihad, penolakan sifat Allah, atau pendapat tertentu, lalu menyebut siapa saja kelompok atau tokoh yang berpandangan demikian.
*b. Metode kedua* : menyebut firqah dahulu, lalu pemikirannya
* Contohnya, penulis menyebut Mu‘tazilah, lalu menjelaskan akidah mereka. Menyebut Khawarij, lalu menjelaskan ciri-cirinya. Menyebut Syiah, lalu menjelaskan cabang dan keyakinannya.
*c. Metode gabungan*
* Sebagian kitab menggabungkan dua metode tersebut. Contoh: kitab Maqālāt al-Islāmiyyīn karya Abu al-Hasan al-Asy‘ari menggunakan dua pendekatan: pada satu bagian menyebut firqah dahulu lalu pemikirannya, dan pada bagian lain menyebut pemikiran dahulu lalu siapa yang memegangnya.
*I. Referensi Kitab-Kitab dalam Ilmu Firaq*
Beberapa kitab klasik yang disebut dalam transkrip antara lain:
1. Maqālāt al-Islāmiyyīn karya Abu al-Hasan al-Asy‘ari. Kitab ini dinilai paling lengkap dan teliti dalam menukil pendapat kelompok-kelompok Islam. Penulisnya banyak menukil, tetapi tanpa mengkritik.
2. Al-Farq bayna al-Firaq karya al-Baghdadi. Kitab ini menyusun firqah-firqah dengan lebih sistematis, tetapi penulisnya berakidah Asy‘ari dan memandang Ahlus Sunnah dari perspektif Asy‘ariyyah.
3. Al-Fiṣal fi al-Milal wa al-Ahwā’ wa al-Niḥal karya Ibn Hazm. Kitab ini lebih luas karena tidak hanya membahas firqah Islam, tetapi juga agama lain seperti Yahudi, Nasrani, dan kelompok filsafat.
4. Al-Milal wa al-Niḥal karya asy-Syahrastani. Kitab ini juga membahas kelompok Islam dan non-Islam, termasuk filsafat Yunani, Yahudi, Nasrani, dan kelompok lainnya.
Tidak semua kitab maqālāt dapat dijadikan pegangan mutlak, karena penulisnya berasal dari latar belakang akidah yang berbeda-beda: ada yang Syiah, Mu‘tazilah, Asy‘ari, dan Ahlus Sunnah. Karena itu, kitab-kitab tersebut berguna sebagai literatur untuk mengenali pendapat kelompok, tetapi penilaian benar-salahnya tetap harus ditimbang dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman salaf.
*J. Sikap Ilmiah dalam Mengkritik Kelompok atau Tokoh*
> Salah satu pelajaran penting dari transkrip adalah pentingnya amanah ilmiah. Ketika mengkritik kelompok tertentu, seseorang tidak boleh menambah-nambahi, mengurangi, atau memelintir perkataan mereka.
*Cara yang adil adalah:*
* *Pertama* , membaca langsung sumber mereka.Kedua, memahami maksud mereka secara benar.
* *Ketiga* , menukil dengan amanah.
* *Keempat* , baru kemudian mengkritik berdasarkan dalil dan kaidah ulama.
Mengkritik kesalahan ulama bukan berarti menghina ulama. Para ulama sejak dahulu saling mengkritik, tetapi tetap menjaga adab dan keilmiahan.
*K. Kesimpulan Utama*
Ilmu firaq penting dipelajari sebagai bagian dari penjagaan akidah. Tujuannya bukan untuk sibuk memberi label kepada orang lain, tetapi untuk memahami mana jalan Ahlus Sunnah dan mana jalan penyimpangan.
Pokok pelajaran:
1. Ilmu akidah tidak hanya membahas rukun iman, tetapi juga membahas penyimpangan yang merusak iman.
2. Firqah-firqah lama bisa hilang sebagai kelompok, tetapi pemikirannya dapat muncul kembali dengan nama baru.
3. Banyak penyimpangan datang dengan nama-nama indah, sehingga umat perlu memahami substansinya, bukan hanya istilahnya.
4. Kitab-kitab firaq penting dibaca, tetapi harus hati-hati karena penulisnya memiliki latar belakang akidah yang berbeda.
5. Mengkritik kesalahan harus dilakukan dengan amanah, adil, dan berdasarkan ilmu.
Jadi, substansi mempelajari ilmu firaq adalah untuk penjagaan: menjaga akidah dari penyimpangan, menjaga umat dari syubhat, dan membantu seorang Muslim memahami kebenaran dengan lebih kokoh.
https://www.facebook.com/share/19sAmaUEqB/
Sabtu, 30 Mei 2026
Thn 2006 Awal Mengenal Karya² Syaikh al-Utsaimin
Thn 2006 Awal Mengenal Karya² Syaikh al-Utsaimin
20 Thn kemudian bisa sampai ke Unaizah, الحمد لله
Saya mulai tertarik dengan istilah "Salafus Shalih" awalnya adalah dari buku-buku terjemahan yang dibagikan secara gratis pada tahun 2006, beberapa diantaranya adalah karya Syaikh al-Utsaimin rahimahullah. Semakin dibaca, semakin penasaran dan menambah wawasan, Alhamdulillah.
Dan setelah lulus D3 Bhs. Arab di Ma'had Aly as-Sunnah Medan, Saya pun bisa menyimak kajian² Syaikh dlm bahasa Arab. Pulang-pergi dalam perjalanan dakwah seringnya sambil istifadah dari ceramah beliau, sampai selesai beberapa kitab/risalah. Bahasa penyampaian beliau mudah difahami bagi saya yang pemula.
Akhirnya saya sampai di Kota Unaizah, tenang damai dan pantas diberi gelar sebagai "Kota Santri" bersama beberapa teman dan menemui temen² WNI disana, kami diajak berkunjung ke Masjid Jami' Syaikh al-Utsaimin, Yayasan Dakwah yg dikelola atas nama beliau. Warga di Unaizah juga cukup ramah ; ada yang menawarkan hadiah kitab tafsir beberapa jilid dan karya² Syaikh as-Si'di dan Syaikh al-Utsaimin Rahimahullah ajma'in.
Demikianlah sepenggal kisah ini, hanya ingin mengungkapkan kegembiraan bisa sampai ke Unaizah, dan terimakasih buat teman-teman WNI yang yang telah menerima kami dengan baik. Jazaahumullahu Khairan.
Syubhat: "Kami tidak mencela pemerintah, tapi mengkritik. Bedakan mencela dengan mengkritik!"
Syubhat: "Kami tidak mencela pemerintah, tapi mengkritik. Bedakan mencela dengan mengkritik!"
Simak fatwa Dr. Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berikut ini:
السؤال : هل يسوغ الاعتراض على ولي الأمر في قرارٍ من القرارات إذا كان فيه خطأ أومعصية، وما العمل في هذا عند السلف الصالح، افتونا مأجورين ؟
Pertanyaan:
Apakah boleh mengkritik waliyul amr terhadap suatu kebijakannya apabila di dalamnya terdapat kesalahan atau kemaksiatan? Bagaimana praktik salafus saleh dalam masalah ini? Mohon fatwanya, semoga Anda mendapat pahala.
الواجب: طاعة ولي الأمر، قال الله ‑ جل وعلا ‑: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ }النساء59
Jawab:
Wajib bagi kita untuk menaati pemimpin. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri (pemimpin) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59).
فالواجب والأصل طاعة ولي الأمرولكن إذا أمر بمعصية فإنه لايطـــاع في هذه المعصــــــية، لقولـه صلى الله عليه وسلم:«لاطاعة لمخلوق في معصية الخالق» وقال عليه الصلاة والسلام:«إنما الطاعة في المعروف ».
Maka kewajiban kita hukum asalnya adalah menaati pemimpin. Akan tetapi, apabila ia memerintahkan suatu kemaksiatan, maka tidak boleh ditaati dalam kemaksiatan tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah)”. Dan sabda beliau Shallallahu'alaihi Wasallam: “Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma'ruf (baik)”.
ولكن ليس معنى ذلك أنك تخرج عن طاعة ولي الأمر أوتشق عصا الطاعة، ولكن لاتعمل هذه المعصية، وتطيعه فيما سواها وتبقى على موالاته، وتحت أمرتهِ، ولاتخرج عليه، ولاتحرض عليه، ولاتتكلم فيه في المجالس وعند الناس؛
Namun, ini tidak berarti bahwa seseorang boleh tidak taat kepada pemimpin atau memecah persatuan dan ketaatan. Akan tetapi, ia cukup tidak melakukan kemaksiatan tersebut, sementara dalam perkara selain itu ia tetap menaati pemimpin, tetap loyal kepadanya, tetap berada di bawah kepemimpinannya, tidak memberontak kepadanya, tidak menghasut orang lain untuk menentangnya, dan tidak membicarakan keburukannya di majelis-majelis atau di hadapan orang-orang.
لأن هذا يحدث شراً وفتنةً، ويبغض الناس في ولاة أمورهم في وقتٍ الكفار يتألبون علينا فيه، ويتربصون بنا الدوائر، وربما إذا علموا بهذا أنهم ينفثون سمومهم في هؤلاء المتحمسين من المسلمين
Sebab, hal itu akan menimbulkan keburukan dan fitnah (kerusakan), serta membuat masyarakat membenci para pemimpin mereka, terlebih pada saat orang-orang kafir sedang bersekutu untuk menghadapi kita dan menunggu kesempatan untuk mencelakakan kita. Bisa jadi apabila mereka mengetahui keadaan seperti ini, mereka akan meniupkan racun-racun pemikiran mereka kepada sebagian kaum muslimin yang bersemangat namun kurang ilmu.
ويحرضونهم على ولاة أمورهم، فتحصل الفتنة ويفسد الأمر وعند ذلك تطيب للكافرين النتيجة في التسلط على المسلمين. فولي الأمر المسلم مهما كان فيه خيرٌ كثير وفيه مصالح عظيمة،
Mereka akan menghasut orang-orang tersebut untuk melawan para pemimpin mereka, sehingga terjadilah fitnah (kekacauan) dan kacaulah keadaan. Pada saat itulah orang-orang kafir merasa senang karena berhasil menguasai kaum muslimin.
هو بشر ماهومعصوم؛ قد يخطئ في بعض الأوامر فالطريق أنه يناصح في هذا سراً، توصل إليه النصيحة سراً، ويبين له طريق الصواب،
Seorang pemimpin muslim, bagaimanapun keadaannya, tetap memiliki banyak kebaikan dan maslahat yang besar. Ia adalah manusia, bukan orang yang maksum. Bisa jadi ia keliru dalam sebagian kebijakannya. Maka jalan yang benar adalah menasihatinya secara rahasia; nasihat disampaikan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar.
أما الكلام عنه في المجالس، أو‑ أشد من ذلك ‑ في الخطب، أوفي المحاضرات، فهذا شأن أهل الشقاق وأهل النفاق وأهل الشر الذين يريدون شق عصا الطاعة.
Adapun membicarakannya di majelis-majelis, atau yang lebih parah dari itu, di dalam khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah, maka ini adalah ciri orang-orang yang suka menimbulkan perpecahan, orang-orang munafik, dan orang-orang jahat yang ingin memecah persatuan dan merusak ketaatan kepada pemimpin.
___
Transkrip dari fatwa beliau di sini:
https://www.youtube.com/shorts/Oivdq6dsisc
Fawaid Kangaswad | Support Media Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad
Langganan:
Postingan (Atom)