Rabu, 15 Juli 2026

Jangan menaruh kepercayaan kepada siapa pun sebelum engkau mengetahui empat hal darinya, yaitu rasa malunya, baik sangkanya kepada orang lain, keteguhannya dalam menjaga persahabatan, serta kesediaannya mendahulukan kebenaran di atas kepentingan pribadinya."

Orang Arab berkata:
"Jangan menaruh kepercayaan kepada siapa pun sebelum engkau mengetahui empat hal darinya, yaitu rasa malunya, baik sangkanya kepada orang lain, keteguhannya dalam menjaga persahabatan, serta kesediaannya mendahulukan kebenaran di atas kepentingan pribadinya."
Al akh Sucipto hadi

Di antara keberkahan doa yang paling cepat dirasakan adalah, Allah lebih dahulu menghibur hati hamba-Nya sebelum mengabulkan apa yang ia minta

Di antara keberkahan doa yang paling cepat dirasakan adalah, Allah lebih dahulu menghibur hati hamba-Nya sebelum mengabulkan apa yang ia minta. Allah menurunkan ketenangan, keridaan, dan ketenteraman ke dalam hatinya, hingga ia merasakan seolah-olah karunia itu telah mulai datang, meskipun keinginannya belum terwujud.

Betapa banyak doa yang lebih dulu mengangkat beban dari hati, sebelum Allah mengangkat kesulitan dalam hidup. Sering kali, jawaban pertama dari sebuah doa bukanlah terkabulnya keinginan, melainkan ketenangan yang Allah curahkan ke dalam dada. Setelah itu, apa yang diminta pun datang pada waktu yang Allah tetapkan, dengan hikmah dan pengaturan-Nya yang sempurna.
Ustadz nurhadi nugroho

MENGAPA DIPERINTAHKAN MEMBACA ISTIDAZAH SEBELUM FATIHAH?

MENGAPA DIPERINTAHKAN MEMBACA ISTIDAZAH  SEBELUM FATIHAH?

Bismillāh.

Sebelum Allah mengajarkan kita membaca Al-Fātiḥah, terlebih dahulu Dia mengajarkan satu kalimat:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”

Allah berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
(QS. An-Naḥl: 98)

Mengapa demikian?

Karena sebelum hati dipenuhi cahaya Al-Qur’an, hati harus terlebih dahulu dibersihkan dari penghalang terbesar, yaitu bisikan setan.

Allah mengulang perintah ini dalam beberapa ayat:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ

“Apabila setan menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah.”
(QS. Al-A’rāf: 200)

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Apabila setan menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Fuṣṣilat: 36)

Menariknya, sebelum ayat isti’adzah dalam Surah Al-A’rāf, Allah terlebih dahulu mengajarkan cara menghadapi keburukan manusia:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf, perintahkan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.”
(QS. Al-A’rāf: 199)

Seakan Allah mengajarkan kepada kita:

Menghadapi manusia yang berbuat buruk bukan dengan emosi, tetapi dengan memaafkan, tetap mengajak kepada kebaikan, dan tidak melayani kebodohan mereka. Adapun jika setan mulai meniupkan amarah dan kebencian ke dalam hati, saat itulah kita diperintahkan berlindung kepada Allah.

Menghadapi manusia, Allah mengajarkan kita:

* Memaafkan.
* Tetap mengajak kepada kebaikan.
* Berpaling dari kebodohan mereka.

Menghadapi setan, Allah mengajarkan kita:

* Jangan mengandalkan kekuatan diri.
* Jangan melawan sendirian.
* Berlindunglah kepada Allah.

Karena tidak ada yang mampu mengalahkan setan selain Allah.

Mungkin inilah salah satu hikmah mengapa sebelum membaca Al-Fātiḥah kita diperintahkan membaca isti’adzah. Sebelum hati dipenuhi cahaya wahyu, terlebih dahulu ia harus dibersihkan dari bisikan musuh yang paling berbahaya, yaitu setan.

BERSIHKAN HATI DARI KEBURUKAN BARU SUCIKAN DENGAN AMAL IBADAH

Hati dan iman serta amal Sholeh itu ibarat tanah yang mau di tanam. Tanah bila mau ditanam takkan dapat berhasil sebelum membersihkan tanah dari segala gulma, jamur, dan hama, dan dengan menggemburkan tanah terlebih dahulu. Bilamana sudah siap barulah ditanam padanya berbagai tanam-tanaman, biji-bijian, sayur mayur, buah-buatan dan seterusnya. 

Para ulama mengatakan:

التخلية قبل التحلية

“Membersihkan didahulukan sebelum menghiasi.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hati harus dibersihkan terlebih dahulu dari penyakit-penyakitnya sebelum dihiasi dengan iman dan ketaatan. Sebab, menghiasi hati yang masih dipenuhi penyakit tidak akan memberikan hasil yang sempurna.

Bukankah gelas yang kotor harus dicuci dahulu sebelum diisi air yang jernih?

Demikian pula hati.

Isti’adzah adalah proses membersihkan hati. Sedangkan Al-Fātiḥah adalah cahaya yang memenuhi hati.

Setelah hati dibersihkan, barulah kita diajak memasuki empat maqam agung dalam Al-Fātiḥah:

1. Maqam Pujian

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Seorang hamba belajar memuji Rabbnya.

2. Maqam Penghambaan

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Seorang hamba memperbarui ikrar bahwa hanya Allah yang disembah dan hanya kepada-Nya tempat meminta pertolongan.

3. Maqam Hidayah

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Seorang hamba menyadari bahwa tidak ada nikmat yang lebih besar daripada petunjuk.

4. Maqam Nikmat

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Ia memohon agar dimasukkan ke jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat; jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Maka jangan pernah meremehkan bacaan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Kalimat ini bukan sekadar pembuka bacaan Al-Qur’an. Ia adalah pintu untuk membersihkan hati, agar siap menerima cahaya Al-Fātiḥah dan seluruh petunjuk Al-Qur’an.

Hidayah akan lebih mudah masuk ke hati yang bersih. Dan hati tidak akan bersih kecuali dengan pertolongan Allah. Karena itu, mulailah dengan isti’adzah.

PENUTUP

“Kalau sebelum membaca satu surat saja Allah memerintahkan kita berlindung dari setan, lalu bagaimana mungkin kita menjalani seluruh kehidupan tanpa terus-menerus berlindung kepada-Nya?”

————
Batu, Kusuma Agrowisata, 29 Muharam 1448/14 Juli 2026
Ustadz abu fairuz ahmad ridwan

Janganlah sekali-kali engkau bertaklid (mengikuti tanpa dalil) kepada Malik dan Abu Hanifah, tetapi ambillah dari mana mereka mengambil (yakni dari Al-Qur'an dan As-Sunnah)'?

Maksud Perkataan Imam Ahmad

​Pertanyaan Penanya:

​وهذا السائل يقول: ما معنى قول الإمام أحمد رحمه الله: "لا تقلدن مالكاً ولا أبا حنيفة وخذ من حيث أخذوا"؟
​Dan penanya ini berkata: Apa makna perkataan Imam Ahmad semoga Allah merahmatinya : 'Janganlah sekali-kali engkau bertaklid (mengikuti tanpa dalil) kepada Malik dan Abu Hanifah, tetapi ambillah dari mana mereka mengambil (yakni dari Al-Qur'an dan As-Sunnah)'?

​Jawaban Syaikh Shalih al-Fawzan:

​الإمام أحمد يخاطب علماء، يخاطب عالماً مثله.
​Imam Ahmad sedang berbicara kepada para ulama, beliau sedang berbicara dengan seorang alim yang selevel dengannya.

​يخاطب عالماً مثله قادراً على الاجتهاد واستنباط الأحكام.
​Beliau berbicara kepada seorang alim seperti dirinya yang memiliki kemampuan untuk melakukan ijtihad dan mengistinbath hukum.

​هذا لا يجوز له أن يقلد.
​Orang yang seperti ini (yakni seorang mujtahid) tidak diperbolehkan baginya untuk bertaklid.

​أما العاجز فله أن يقلد للضرورة.
​Adapun orang yang lemah (tidak memiliki kemampuan untuk berijtihad/orang awam), maka ia harus bertaklid karena kondisinya darurat.

Ibn Nashrullah

Ini tulisan yg sangat indah, tulisan kakak kelas saya yg saya tau keilmuan dan ketinggian adab beliau wala uzakki Alallah ahada, beliau Ustad Dr. Muhtar Arifin hafizhahullah…

BACA!

Ini tulisan yg sangat indah, tulisan kakak kelas saya yg saya tau keilmuan dan ketinggian adab beliau wala uzakki Alallah ahada, beliau Ustad Dr. Muhtar Arifin hafizhahullah…

========

DARI GUDANG MATERIAL MENUJU MEJELIS ILMU: 
AWAL SEBUAH PENGEMBARAAN RUHANI

Tahun 2000 M... 26 tahun yang lalu. Dulu, saya - hamba yang lemah ini - berdiri di ujung jalan.  
Di belakang saya: Asrama PAY Muhammadiyah Muntilan, tempat Allah Ta'ala melapangkan langkah saya di SMU Muhammadiyah 1.  
Di depan saya: Dua pintu takdir.  
- *Pintu kanan:* Kuliah. Tapi mimpi itu terlalu mahal untuk keadaan saya yang serba terbatas.  
- *Pintu kiri:* Menjadi pelayan toko bangunan. Langsung kerja tanpa melamar yang ditawarkan seorang saudara. Tangan saya siap bertaburkan semen. Punggung saya siap bekerja keras memikul besi dan perlengkapannya.

Demi Allah... andai langit saat itu tidak ikut campur, mungkin sampai hari ini, yang saya buka bukan kitab, tapi sak semen. Yang saya hitung bukan lembaran-lembaran tulisan para ulama, tetapi paku-paku yang siap ditancapkan.

Tapi Allah... Dia Maha Indah dalam menata cerita hamba-Nya. Allah Ta'ala kirimkan seorang hamba-Nya: Ustadz Muhammad Wujud hafizhahullah. Beliau tidak hanya menunjuk arah. Beliau turun, menggenggam tangan saya yang gemetar, dan berkata tanpa suara secara langsung: “Ikut saya ke majelis ilmu.”

Bersama Ustadz Marsin hafidzahullah, beliau menuntun saya keluar dari tawaran gemuruhnya besi, semen dan debu... menuju sunyi dan tenangnya cahaya majelis ilmu: Ma’had ‘Ali Al-Irsyad Surabaya, yang kini menjadi STAI Ali bin Abi Thalib. Di sanalah saya duduk bersimpuh... di antara para pelita yang mulia:  
Ustadz Abdurrahman At-Tamimi, Ustadz Mubarak Bamu’allim, Ustadz Salim Ghanim, Ustadz Arif Sulistiyono _hafizhahumullah jami'an_, dan Ustadz Husnul Yaqin _rahimahullah_. Mereka menabur huruf di atas papan hati saya yang gersang. Meski saya tahu... saya murid yang tak sanggup menyerap seratus persen cahaya mereka, tapi mereka tetap sabar.

Imam Syafi’i _rahimahullah_ pernah berkata:  
لولا مالك ما تفقهت  
_"Seandainya bukan karena (Imam) Malik... niscaya saya tidak akan paham agama."_ (_Al-Amali Asy-Syarihah Li Mufradatil Fatihah,_ karya Ar-Rafi’i, tahqiq Wail Muhammad (hlm. 381).

Saya pun ikut terharu dengan atsar tersebut, dan berkata dengan suara yang terpatah-patah:  
_“Seandainya bukan karena Allah, lalu jasa Ustadz Wujud hafizhahullah... Niscaya saya tak akan kenal tafaqquh fiddin.”_

Bahkan mungkin, hingga detik ini, saya masih berdiri di balik rak semen sebagai pelayan toko bangunan.

Demi Allah, ini bukan untuk merendahkan.  
Pelayan toko bangunan itu mulia.  
Tanpa semen mereka, tak ada masjid untuk sujud.  
Tanpa besi mereka, tak ada bangunan ma’had untuk mengaji.  
Tanpa peluh mereka, ilmu tak punya atap. Tapi ini... adalah tahadduts bin ni’mah.  
Ini tangis saya menceritakan nikmat, agar sujud saya tidak kering. Sebagaimana kata penyair itu dalam Ha-iyyahnya:  
فَتَشَبَّهُوْا ‌إِنْ ‌لَمْ ‌تَكُوْنُوْا مِثْلَهُمْ إِنَّ التَّشَبُّهَ بِالْكِرَامِ فَلاَحُ  
_"Maka menyerupailah... meski tak akan pernah sama. Karena menyerupai orang mulia, itu sudah kemenangan."_ (_Irsyadul Arib Ila Ma'rifatil Adib (Mu'jamul Udaba')_ (VI/2808)

Ustadzku... Ayahku dalam ilmu... Jazakallahu ‘anni khairal jaza’.  
Demi Allah, saya tak bisa membalas satu pun tetes keringatmu dalam mengantarkanku sampai ke gerbang LIPIA. Maka Ya Allah... Balaslah beliau dengan rumah di Surga yang pintunya terbuat dari setiap huruf yang pernah saya baca karena sebab beliau.  
Jadikan setiap faidah yang merasuk ke dada saya, menjadi gunung pahala di timbangan beliau, sampai Kiamat tiba. Amin.
Ustadz fadlan fahamsyah

Laisa kullu ‘aabidin muhtadi (tidak semua ahli ibadah itu mendapat hidayah).

Faedah Daurah (2):

Syaikhuna Masyhur Hasan hafizhahullah berkata:

Laisa kullu ‘aabidin muhtadi (tidak semua ahli ibadah itu mendapat hidayah).

Beliau mengutip firman Allah: 

ُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ ۝ ٢
عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۝ ٣
تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً 

Pada hari itu wajah-wajah mereka tampak khusyuk
Mereka beramal dengan penuh letih nan payah
Tapi mereka memasuki neraka yg panas menganga.

=====

Tidak semua amal diterima, dan tidak semua orang yang beribadah mendapat hidayah

Daurah Kota Batu 
Subuh, 14/7/2026

tidak semua ahli ibadah itu mendapat hidayah