MENGAPA DIPERINTAHKAN MEMBACA ISTIDAZAH SEBELUM FATIHAH?
Bismillāh.
Sebelum Allah mengajarkan kita membaca Al-Fātiḥah, terlebih dahulu Dia mengajarkan satu kalimat:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Allah berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
(QS. An-Naḥl: 98)
Mengapa demikian?
Karena sebelum hati dipenuhi cahaya Al-Qur’an, hati harus terlebih dahulu dibersihkan dari penghalang terbesar, yaitu bisikan setan.
Allah mengulang perintah ini dalam beberapa ayat:
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ
“Apabila setan menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah.”
(QS. Al-A’rāf: 200)
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Apabila setan menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Fuṣṣilat: 36)
Menariknya, sebelum ayat isti’adzah dalam Surah Al-A’rāf, Allah terlebih dahulu mengajarkan cara menghadapi keburukan manusia:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf, perintahkan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.”
(QS. Al-A’rāf: 199)
Seakan Allah mengajarkan kepada kita:
Menghadapi manusia yang berbuat buruk bukan dengan emosi, tetapi dengan memaafkan, tetap mengajak kepada kebaikan, dan tidak melayani kebodohan mereka. Adapun jika setan mulai meniupkan amarah dan kebencian ke dalam hati, saat itulah kita diperintahkan berlindung kepada Allah.
Menghadapi manusia, Allah mengajarkan kita:
* Memaafkan.
* Tetap mengajak kepada kebaikan.
* Berpaling dari kebodohan mereka.
Menghadapi setan, Allah mengajarkan kita:
* Jangan mengandalkan kekuatan diri.
* Jangan melawan sendirian.
* Berlindunglah kepada Allah.
Karena tidak ada yang mampu mengalahkan setan selain Allah.
Mungkin inilah salah satu hikmah mengapa sebelum membaca Al-Fātiḥah kita diperintahkan membaca isti’adzah. Sebelum hati dipenuhi cahaya wahyu, terlebih dahulu ia harus dibersihkan dari bisikan musuh yang paling berbahaya, yaitu setan.
BERSIHKAN HATI DARI KEBURUKAN BARU SUCIKAN DENGAN AMAL IBADAH
Hati dan iman serta amal Sholeh itu ibarat tanah yang mau di tanam. Tanah bila mau ditanam takkan dapat berhasil sebelum membersihkan tanah dari segala gulma, jamur, dan hama, dan dengan menggemburkan tanah terlebih dahulu. Bilamana sudah siap barulah ditanam padanya berbagai tanam-tanaman, biji-bijian, sayur mayur, buah-buatan dan seterusnya.
Para ulama mengatakan:
التخلية قبل التحلية
“Membersihkan didahulukan sebelum menghiasi.”
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hati harus dibersihkan terlebih dahulu dari penyakit-penyakitnya sebelum dihiasi dengan iman dan ketaatan. Sebab, menghiasi hati yang masih dipenuhi penyakit tidak akan memberikan hasil yang sempurna.
Bukankah gelas yang kotor harus dicuci dahulu sebelum diisi air yang jernih?
Demikian pula hati.
Isti’adzah adalah proses membersihkan hati. Sedangkan Al-Fātiḥah adalah cahaya yang memenuhi hati.
Setelah hati dibersihkan, barulah kita diajak memasuki empat maqam agung dalam Al-Fātiḥah:
1. Maqam Pujian
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Seorang hamba belajar memuji Rabbnya.
2. Maqam Penghambaan
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Seorang hamba memperbarui ikrar bahwa hanya Allah yang disembah dan hanya kepada-Nya tempat meminta pertolongan.
3. Maqam Hidayah
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Seorang hamba menyadari bahwa tidak ada nikmat yang lebih besar daripada petunjuk.
4. Maqam Nikmat
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Ia memohon agar dimasukkan ke jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat; jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Maka jangan pernah meremehkan bacaan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Kalimat ini bukan sekadar pembuka bacaan Al-Qur’an. Ia adalah pintu untuk membersihkan hati, agar siap menerima cahaya Al-Fātiḥah dan seluruh petunjuk Al-Qur’an.
Hidayah akan lebih mudah masuk ke hati yang bersih. Dan hati tidak akan bersih kecuali dengan pertolongan Allah. Karena itu, mulailah dengan isti’adzah.
PENUTUP
“Kalau sebelum membaca satu surat saja Allah memerintahkan kita berlindung dari setan, lalu bagaimana mungkin kita menjalani seluruh kehidupan tanpa terus-menerus berlindung kepada-Nya?”
————
Batu, Kusuma Agrowisata, 29 Muharam 1448/14 Juli 2026
Ustadz abu fairuz ahmad ridwan