FAKHRUDDIN PASHA DI MATA PENDUDUK MADINAH
-------
Fakhruddin Pasha kerap kali diglorifikasi sebagai Medine Mudafi, “The Defender of Madina” (Pahlawan yang Mempertahankan Madinah) dan dengan berbagai gelar kepahlawanan lainnya.
Perannya sangat penting bagi Turki Utsmani dalam mempertahankan Kota Madinah dari serangan Syarif Husein yang saat itu memang sudah memproklamirkan pemisahan dirinya dari Kekhilafahan Turki Utsmani.
FYI, Syarif Husein dan pasukannya ini muslim ya. Bahkan anak keturunan Rasulullah. Jadi yang menyerang posisi Fakhruddin itu juga muslim, bukan kafir seperti yang ditulis di salah satu foto Fakhruddin Pasha.
Baik... bagaimana pendapat penduduk Madinah sendiri terhadap sosok ini?
Ahmad Amin Shalih Mursyid telah menghimpun berbagai kesaksian, dokumen, dan rekaman dari keluarga-keluarga Madinah mengenai masa pengepungan Madinah di era Fakhruddin dalam Thaybah wa Dzikrayat Al Ahibbah (طيبة وذكريات الأحبة) kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia: At Taiba (Madinah) Kenangan dari Orang-orang Tercinta.
Kesaksian-kesaksian tersebut menggambarkan sisi yang gelap dan pahit.
Saat itu kelaparan melanda penduduk Madinah. Dalam kutipan Mursyid disebutkan bahwa kelaparan bahkan membuat sebagian penduduk Madinah dan sekitarnya memakan kucing.
Kucing jadi hewan yang langka karena bila ditemukan, pasti disembelih dan dijadikan makanan, meskipun kita semua tahu hukumnya haram.
Disebutkan dalam sebuah kesaksian (halaman 183)
"Seorang laki-laki dari Takarna (Afrika) berhasil menangkap seekor kucing, sesuatu yang pada waktu itu sangat jarang terjadi. Harga seekor kucing pada masa itu setara dengan harga seekor domba. Ia kemudian dihentikan oleh dua orang penduduk Madinah yang membeli kucing tersebut seharga tiga junaih, lalu membawanya kepada seorang tukang jagal Turki yang berada di Jembatan al-Mudarraj.
Ketika ditanya berapa biaya untuk menyembelihnya, tukang jagal tersebut menjawab bahwa ia bersedia menyembelih dan menguliti kucing itu dengan syarat ia diperbolehkan ikut memakannya. Mereka menyetujuinya. Kucing tersebut kemudian disembelih, lalu mereka memakannya bersama-sama.
Yang lebih menyakitkan, menurut kesaksian tersebut, gudang-gudang militer sebenarnya dipenuhi persediaan makanan, persediaan itu diperuntukkan bagi tentara Turki, penduduk Madinah tidak diperbolehkan mengambil bahkan kurma atau gandum dari gudang tersebut.
Dalam kondisi kelangkaan itu, makanan menjadi barang yang sangat mahal dan sulit diperoleh oleh masyarakat.
Asy Syakh Mahdi al-Jarrah rahimahullah menceritakan pada saat itu para tentara Turki membuang seekor kuda mati milik salah seorang komandan Turki di kawasan Masjid Sab’ah (dekat lokasi Perang Khondaq).
Syaikh Mahdi al-Jarrah bersama beberapa orang lainnya kemudian membawa sebuah pisau dan pergi ke tempat tersebut untuk memotong-motong daging kuda yang telah mati itu agar dapat mereka makan dan menghilangkan rasa lapar.
Namun ketika mereka tiba di sana, “pertempuran” mereka justru terjadi dengan anjing-anjing liar. Kawasan tersebut benar-benar sepi, kecuali Syaikh Mahdi dan kawan-kawannya. Anjing-anjing itu berusaha mengusir mereka dengan gonggongan keras dan menerjang ke arah mereka. Dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil memotong sepotong daging kuda tersebut. (halaman 323)
Belum lagi pemindahan penduduk Madinah secara paksa dari kampung halaman mereka sendiri.
Mursyid bahkan menyusun kesaksian dan daftar keluarga yang mengalami pemindahan paksa, pemindahan sukarela, maupun yang tetap tinggal di Madinah.
Tragedi tersebut juga menyebabkan banyak keluarga tercerai-berai. Suami terpisah dari istri, orang tua dari anak, dan sebagian keluarga akhirnya menetap jauh dari Madinah setelah dipindahkan melalui jalur kereta Hijaz.
Tentu, dari sudut pandang Turki, ada seribu satu alasan untuk menjelaskan dan membenarkan kebijakan tersebut. Mereka bisa saja beralasan bahwa Madinah sedang dalam pengepungan, perang sedang berlangsung, pasokan makanan terbatas, dan kekuatan para tentara harus diprioritaskan.
Tetapi penduduk Madinah juga manusia. Mereka adalah kaum Muslimin yang hidup di kota Nabi shallallahu alaihi wasallam. Penderitaan mereka tidak semestinya dihapus dari sejarah hanya untuk mengglorifikasi seorang Fakhruddin Pasha.
Wira Mandiri Bachrun, pengajar Sejarah Islam di ANB Channel.