Kamis, 17 September 2026

تزوّج رجلٌ على عهد عمر - رضي الله عنه

‏تزوّج رجلٌ على عهد عمر - رضي الله عنه -، وكان قد خضَب لحيته، فنَصل خضابُه - أي: زال-، فاستعدى عليه أهلُ المرأة عمرَ، وقالوا: حسِبناه شاباً! فأوجعه عمرُ ضرباً، وقال له: غررتَ القوم!
‏= كتاب: [الإحياء].

‏- قلتُ: فما بالكم بمَن يغشّ بناتِ المسلمين بأبنائهم المرضى النفسيين، أو مدمني المخدرات، أو مدمني الفواحش!
والعكس صحيح ما بالكم بمَن يغشّ أبناء المسلمين ببناتهم الفاسدات المفسدات.

 #قناة_الغرباء

Sulitnya menggabungkan antara ilmu dunia dan akhirat

Sulitnya menggabungkan antara ilmu dunia dan akhirat 

Imam Al-Ghazali Rahimahullah menjelaskan bahwa akal seseorang itu tidak bisa menguasai ilmu-ilmu dunia dan akhirat sekaligus. Keduanya adalah ilmu yang saling bertentangan. Jika seseorang mencurahkan perhatian dan pikirannya untuk salah satunya, berkuranglah kadar ilmu satunya lebih banyak. Oleh karena itu, Ali Radhiyallahu Anhu membuat tiga permisalan untuk dunia dan akhirat. Keduanya seperti dua daun timbangan dan seperti timur dan barat juga seperti dua perempuan yang dimadu yang jika engkau senangkan salah satunya, engkau membuat tidak suka yang satunya. Oleh karena itu, jika engkau mendapati orang yang mendalam ilmu dunianya seperti ilmu kedokteran dan teknik misalnya, dia tidak begitu paham perkara-perkara akhirat. Demikian pula, jika engkau dapati orang yang mendalam ilmu agama, umumnya tidak mengerti ilmu dunia. Ini semua karena akal tidak bisa memenuhi kebutuhan ilmu agama dan dunia secara bersamaan, sehingga salah satu menjadi penghalang kesempurnaan ilmu satunya. 
( diringkas dari Faidhul Qadir II/79)

Hukum di atas berlaku secara umum, artinya ada juga orang yang bisa menggabungkan ilmu dunia secara mendalam sekaligus paham ilmu agama. Namun, yang seperti ini jarang dijumpai sehingga tidak bisa dijadikan acuan hukum karena hukum diambil dari keumuman. Dengan demikian, jika seseorang ingin mendalami salah satu ilmu baik itu ilmu dunia atau akhirat, maka harus ada yang dimenangkan salah satunya. Menggabungkan memang memungkinkan akan tetapi sulit untuk bisa mendalam. Disamping itu, waktu dan pikiran  yang dicurahkan untuk ilmu dunia -misalnya- tentu akan mengurangi kesempatan untuk menambah ilmu akhirat. Satu jam yang dicurahkan untuk mempelajari ilmu dunia, menyebabkan terluputnya ilmu akhirat dalam kadar waktu tersebut. Ini juga berlaku untuk sebaliknya.
Allahu a'lam 

Semoga Allah beri kita taufik.
Baarakallahu fiikum
Ustadz agus waluyo 
Mudir ma'had darusalam yogyakarta

jika engkau memohon suatu hajat kepada Allah, katakanlah: 'dalam keadaan 'afiyah'."https://shamela.ws/book/13250/38


Telah memberitakan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin 'Abd al-Wahhab bin Mandah, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami 'Abdul Karim al-Mulaihi al-Harawi dalam kitabnya, bahwasanya Ishaq bin Ibrahim al-Hafizh menceritakan kepada mereka, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abdillah bin Muhammad bin al-Husain, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ahmad asy-Syami, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin al-Khallal, ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata:

"Dahulu aku hafal Al-Qur'an. Namun ketika aku mulai menuntut ilmu hadis, aku menjadi sibuk (hingga lupa). Aku pun berkata: 'Kapan (aku bisa memulihkannya)?' Lalu aku memohon kepada Allah Azza\ wa\ Jalla agar menganugerahkan kembali hafalan Al-Qur'an kepadaku, tetapi aku tidak mengucapkan: 'dalam keadaan 'afiyah (keselamatan/sehat walafiat)'. Maka aku tidak bisa menghafalnya kembali melainkan saat berada di dalam penjara dan belenggu rantai. Oleh karena itu, jika engkau memohon suatu hajat kepada Allah, katakanlah: 'dalam keadaan 'afiyah'."

https://shamela.ws/book/13250/38

Namun, aku tidak mengatakan: ‘dalam keadaan sejahtera dan selamat (عافية).’Maka aku tidak berjaya menghafalnya melainkan ketika aku berada dalam penjara dan dibelenggu

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:
“Aku dahulu menghafaz al-Quran. Kemudian, apabila aku mula menuntut hadis, aku menjadi sibuk (dengan menuntutnya).
Lalu aku memohon kepada Allah عز وجل agar Dia mengurniakan kepadaku kemampuan untuk menghafalnya. Namun, aku tidak mengatakan: ‘dalam keadaan sejahtera dan selamat (عافية).’
Maka aku tidak berjaya menghafalnya melainkan ketika aku berada dalam penjara dan dibelenggu.
Oleh itu, apabila kamu memohon sesuatu hajat kepada Allah, maka katakanlah: ‘Dalam keadaan sejahtera dan selamat (عافية).’”
📚 Manaqib al-Imam Ahmad, karya Ibn al-Jawzi, hlm. 39.

KETIKA AR-RAZI MENYEBUT PLATO DENGAN GELAR "AL-IMAM" DAN MEMBELA TESISNYA


KETIKA AR-RAZI MENYEBUT PLATO DENGAN GELAR "AL-IMAM" DAN MEMBELA TESISNYA

Dalam kajian ilmu kalam dan turots falsafi, pergeseran pemikiran Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) pada fase akhir hidupnya menarik untuk dicermati. Salah satu yang paling menonjol di kitab pamungkasnya, "Al-Mathalib al-'Aliyyah", adalah pembelaan dan adopsi terbukanya terhadap metafisika Plato (Aflatun) dalam menghadapi dominasi filsafat Peripatetik Aristotelian.

Bukan sekadar mengutip, Ar-Razi bahkan menyematkan gelar "Al-Imam" dan "Al-Ilahi" kepada Plato, serta memenangkan tesis-tesisnya terkait entitas abstrak dan hakikat zaman.

Berikut beberapa nukilan otentik dari karya beliau:

1. Kitab Al-Mathalib al-'Aliyyah min al-'Ilm al-Ilahi

Jilid 7, Halaman 29 (Penetapan entitas immateriil / Al-Muthul):

«فَثَبَتَ بِهَذَا الْبُرْهَانِ: وُجُودُ مَوْجُودَاتٍ مُجَرَّدَةٍ فِي الْأَعْيَانِ، وَهِيَ الَّتِي كَانَ يَقُولُ بِهَا الإِمَامُ أَفْلَاطُونُ، وَكَانَ يُسَمِّيهَا بِالْمُثُلِ الْمُجَرَّدَةِ، وَاللهُ أَعْلَمُ»

"Maka terbukti secara pasti dengan burhan (argumen rasional) ini: adanya entitas-entitas immateriil (al-maujūdāt al-mujarradah) dalam realitas objektif eksternal (fī al-a'yān). Inilah pendapat yang dipegang oleh al-Imam Plato, dan ia menamakannya dengan ide-ide immateriil (al-muthul al-mujarradah). Wallāhu a'lam."

Jilid 5, Halaman 52 (Hakikat zaman/waktu & pembelaan atas mazhab Plato):

«بَلْ عِنْدِي: أَنَّ هَذَا الْقَوْلَ أَقْرَبُ الْأَقْوَالِ الْمَذْكُورَةِ فِي مَاهِيَّةِ الزَّمَانِ وَفِي حَقِيقَتِهِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الإِمَامِ أَفْلَاطُونَ... وَأَمَّا مَذْهَبُ الإِمَامِ أَفْلَاطُونَ فَهُوَ إِلَى الْعُلُومِ الْبُرْهَانِيَّةِ أَقْرَبُ، وَعَنْ ظُلُمَاتِ الشُّبُهَاتِ أَبْعَدُ»

"...Bahkan menurut pandanganku: pendapat inilah yang paling mendekati kebenaran di antara seluruh pendapat yang disebutkan mengenai esensi dan hakikat waktu, dan ini merupakan mazhab al-Imam Plato... Adapun mazhab al-Imam Plato itu lebih dekat kepada disiplin ilmu yang berbasis burhan (demonstratif-pasti) dan paling jauh dari kegelapan kerancuan berpikir (syubhat)."

Jilid 5, Halaman 77 (Memenangkan tesis Plato atas Aristoteles):

«...أَنَّ الْحَقَّ فِي حَقِيقَةِ الْمَكَانِ وَالزَّمَانِ مَا قَالَهُ أَفْلَاطُونُ الإِلَهِيُّ، لَا مَا اخْتَارَهُ أَرِسْطُوطَالِيسُ»

"...bahwa kebenaran mengenai hakikat ruang dan waktu adalah apa yang dikemukakan oleh Plato sang Teolog/Metafisikus (Aflatun al-Ilahi), bukan pandangan yang dipilih oleh Aristoteles."

2. Kitab Al-Mabahits al-Masyriqiyyah

Jilid 1, Halaman 658–660 (Hakikat zaman dan durasi murni):

«وَهَذَا هُوَ قَوْلُ الإِمَامِ أَفْلَاطُونَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ: الْمُدَّةُ إِنْ لَمْ يَقَعْ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْحَوَادِثِ كَانَتْ دَهْرًا، فَإِذَا وَقَعَتْ فِيهَا الْحَوَادِثُ صَارَتْ زَمَانًا...»

"Dan inilah pendapat al-Imam Plato, sebab ia menyatakan: rentang durasi (al-muddah) apabila belum terjadi padanya sesuatu dari peristiwa-peristiwa temporal (al-hawādits), maka ia merupakan masa murni (dahr); namun manakala telah berlangsung padanya peristiwa-peristiwa temporal, barulah ia menjadi waktu (zamān)..."

----

Demikian
La ode abu hanifa

Keluarlah bersama saudarimu. Sebab, seorang wanita tanpa pria yang melindunginya dan melapangkan jalan baginya bagaikan seekor domba di tengah kawanan serigala; yang paling lemah di antara serigala pun akan berani memangsanya."


Seorang wanita datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Ia termasuk salah satu wanita yang paling jelita. Ketika pergi melempar jumrah, Umar bin Abi Rabi'ah—seorang penyair terkenal—melihatnya.

Umar adalah seorang yang sangat menyukai wanita dan gemar merayu mereka. Ia pun mengajak wanita itu berbicara, tetapi wanita tersebut tidak menghiraukannya. Pada malam kedua, Umar kembali mengganggunya. Wanita itu menyoaknya dan berkata: "Jauhilah aku! Sungguh aku berada di tanah haram Allah dan di hari-hari yang sangat suci (agung kehormatannya)." Namun Umar terus mendesaknya. Wanita itu khawatir masalah ini akan mencoreng nama baiknya, sehingga ia meninggalkannya dan kembali ke kemahnya.

Pada malam ketiga, ia berkata kepada saudaranya: "Keluarlah bersamaku dan tunjukkanlah tata cara manasik kepadaku."

Ketika Umar bin Abi Rabi'ah melihat saudara laki-lakinya berjalan bersamanya, ia diam di tempatnya dan tidak berani mengganggunya lagi.

Wanita itu pun melantunkan syair:

Anjing-anjing hanya akan menyerang orang yang tidak memiliki singa (pelindung) Dan mereka takut terhadap serangan singa yang garang.

Ketika Abu Ja'far Al-Manshur mendengar kisah ini, ia berkata: "Aku berharap tidak ada seorang pun gadis dari kaum Quraisy melainkan ia telah mendengar kabar (pelajaran) ini!"

Di suatu negeri, ada seorang wanita salehah dan bijaksana yang memiliki seorang putri. Setiap kali putrinya hendak keluar rumah, wanita itu berkata kepada putra laki-lakinya: "Keluarlah bersama saudarimu. Sebab, seorang wanita tanpa pria yang melindunginya dan melapangkan jalan baginya bagaikan seekor domba di tengah kawanan serigala; yang paling lemah di antara serigala pun akan berani memangsanya."

Sumber: Tarikh Al-Islam karya Imam Adz-Dzahabi (12/54).

Ketika Kamu Sampai pada Bab Haid, kamu Akan tahu Seberapa Banyak Ilmu yang kamu Kuasai!

Ketika Kamu Sampai pada Bab Haid, kamu Akan tahu Seberapa Banyak Ilmu yang kamu Kuasai!

Ini adalah pengingat agar seseorang mempelajari tingkat yang sedang dia jalani dengan baik dan benar terlebih dahulu, sebelum mengkhawatirkan tingkatan yang akan datang setelahnya.

Syaikh Ahmad Al-Quaimi Al-Hanbali hafidzohullah berkata :

"Jika seseorang sudah mempelajari Ar-Roudhul Murbi', maka dia telah siap untuk membaca syarah Muntaha Al-Iradat."

Selain itu banyak orang atau para penuntut ilmu berkata :

“Aku telah mempelajari Ar-Roudhul Murbi' di universitas. Apakah Anda menyarankan saya untuk melanjutkan ke kitab setelahnya?”

Syaikh menjawab; “Tidak. Aku tidak menyarankanmu untuk pindah ke kitab selanjutnya.”

Sebab belajar harus dilakukan dengan cara tertentu dan metodologi yang khusus. Kamu harus terlebih dahulu benar-benar kokoh dalam mazhab dan menguasai secara mendalam berbagai pendapat serta masa'il yang ada dalam mazhab tersebut. Setelah itu barulah kamu pindah ke Al-Muntaha.

Banyak penuntut ilmu yang keras kepala dan berkata; “Aku sudah bergelar Magister, aku sedang menempuh PhD.... dan seterusnya. Mereka telah mencapai jenjang-jenjang yang tinggi lalu berkata; “Aku sudah siap.”

Kami berkata kepadanya (maksudnya jika dia masih belum sepenuhnya yakin; “Baiklah, Ar-Roudhul Murbi'…”

Lalu kami katakan kepadanya; “Cobalah Al-Muntaha, cobalah Al-Muntaha. Begitu kamu sampai pada Kitabul Haid, kamu akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya.”

Terlebih lagi pada Muntaha Al-Iradat.

Muntaha Al-Iradat sebagaimana yang ditunjukkan oleh namanya, adalah puncak mazhab Hanbali. Kitab Haid di dalamnya berisi beberapa pembahasan yang sangat sulit.
https://www.facebook.com/share/v/19XPK9UAnB/