Kamis, 09 Juli 2026

Rujukan: Ijtimā‘ al-Juyūsh al-Islāmiyyah ‘alā Ḥarb al-Mu‘aṭṭilah wa al-Jahmiyyah

اعتراف شيخ الأشعروجهميـة الأكبر  

✍🏻قال عبد الله بن سعيد بن كلّاب( تـ 245 ه‍ـ):
«ورسول الله صلى الله عليه وسلم وهو صفوة الله من خلقه، وخيرته من بريته، وأعلمهم جميعًا به، #يجيز قول الأين ويقوله، #ويستصوب قول القائل: إنه #في_السماء، ويشهد له بالإيمان عند ذلك، وجهم بن صفوان وأصحابه، لا يجيزون الذي زعموا، ويحيلون القول به» قال: «ولو كان خطأ كان رسول الله أحق بالإنكار له، وكان ينبغي أن يقول لها: لا تقولي ذلك، فتوهمين أنه عز وجل #محدود، وأنه في مكان دون مكان، ولكن قولي: إنه في كل مكان، لأنه هو الصواب دون ما قلت»..... 

📚اجتماع الجيوش الاسلامية على حرب المعطلة والجهمية ( 1/436)، دار عالم الفوائد للنشر والتوزيع 
✍🏻للإمام محمد ابن قيم الجوزية ( تـ 751 هـ )
Pengakuan syeikh terbesar golongan Asya'irah dan Jahmiyyah
✍🏻 Berkata Abdullah bin Sa'id bin Kullab (wafat 245H):
"Rasulullah ﷺ, sedangkan Baginda ialah makhluk pilihan Allah, sebaik-baik ciptaan-Nya, insan pilihan daripada seluruh makhluk-Nya, dan orang yang paling mengetahui tentang Allah, mengiktiraf penggunaan ungkapan 'di mana (أين)', serta menggunakannya. Baginda juga membenarkan jawapan orang yang mengatakan bahawa Allah 'di langit (في السماء)', lalu Baginda memberikan kesaksian bahawa orang itu beriman berdasarkan jawapan tersebut.
Sedangkan Jahm bin Safwan dan para pengikutnya tidak membenarkan apa yang telah disebutkan itu, bahkan mereka menganggap mustahil dan menolak kenyataan tersebut."
Beliau juga berkata:
"Kalaulah jawapan itu suatu kesalahan, nescaya Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling berhak mengingkarinya. Sepatutnya Baginda akan berkata kepada wanita itu:
'Janganlah engkau mengatakan demikian sehingga engkau menyangka bahawa Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung itu terbatas (terhad), atau berada di suatu tempat dan tidak di tempat yang lain. Akan tetapi katakanlah: Sesungguhnya Dia berada di setiap tempat, kerana itulah yang benar, bukan seperti yang engkau katakan.'
(Namun Rasulullah ﷺ tidak berkata demikian.)"
📚 Rujukan: Ijtimā‘ al-Juyūsh al-Islāmiyyah ‘alā Ḥarb al-Mu‘aṭṭilah wa al-Jahmiyyah (1/436), terbitan Dar ‘Alam al-Fawa'id.
✍🏻 Disusun oleh: Muhammad ibn Qayyim al-Jawziyyah (wafat 751H).
Ibn salam

Ngaji I'anatut Thalibin : Iddah bagi Laki-Laki, Mungkinkah?

Ngaji I'anatut Thalibin : Iddah bagi Laki-Laki, Mungkinkah?

Pada dasarnya, iddah memang hanya diwajibkan bagi perempuan, sebab tujuan utamanya adalah memastikan rahim bersih dari kemungkinan kehamilan akibat pernikahan sebelumnya demi menjaga kejelasan nasab. Dengan demikian, iddah dalam Islam hakikatnya merupakan bentuk perlindungan dan tanggung jawab sosial terhadap perempuan, bukan sebagai bentuk pembatasan kebebasan atau diskriminasi.

Meski secara umum iddah merupakan kewajiban khusus bagi perempuan, ada kondisi tertentu di mana laki-laki juga harus menjalani “iddah” dalam arti khusus. Dalam kitab I‘anatut Thalibin dijelaskan bahwa ada dua keadaan ketika seorang laki-laki diwajibkan menunggu selesainya masa iddah mantan istrinya sebelum menikah lagi:

فلا عدة عليه قالوا إلا في حالتين الأولى ما إذا كان معه امرأة وطلقها رجعيا وأراد التزوج بمن لا يجوز جمعها معها كأختها الثانية ما إذا كان معه أربع زوجات وطلق واحدة منهن رجعيا وأراد التزوج بخامسة فلا يجوز له ذلك في الحالتين المذكورتين إلا بعد انقضاء العدة
Artinya, “Seorang laki-laki pada dasarnya tidak wajib menjalani iddah, kecuali dalam dua keadaan: 

Pertama, ketika seorang laki-laki menceraikan istrinya dengan talak raj‘i, lalu ingin menikah dengan perempuan yang tidak boleh dikumpulkan bersamanya dalam satu ikatan pernikahaan, seperti saudari mantan istrinya. 

Kedua, ketika laki-laki memiliki empat istri, lalu menceraikan salah satunya dengan talak raj‘i dan ingin menikahi perempuan lain. Dalam dua kondisi ini, laki-laki tersebut tidak diperkenankan menikah kembali sampai berakhirnya masa iddah mantan istrinya,” (I‘anatut Thalibin, cet: Darus salam juz 4) 

Meski dalam dua kondisi tersebut laki-laki diwajibkan menunggu selesainya masa iddah istrinya sebelum menikah lagi, secara prinsip hal ini tidaklah sama dengan iddah yang dijalani perempuan. Sebab, ada faktor hukum lain yang menjadi alasan utama penghalangnya.

Dalam kondisi talak raj‘i, perempuan yang sedang menjalani iddah secara syar‘i masih berstatus sebagai istri, sehingga suaminya dilarang menikah dengan perempuan yang haram dihimpun dengannya dalam satu pernikahan, seperti saudari perempuan tersebut, bibi dari pihak ibu maupun ayah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis berikut:

{وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ}
Artinya, “Dan (diharamkan pula) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan bersaudara, kecuali yang telah terjadi di masa lampau.” (QS. An-Nisa’: 23)

لَا تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلَا الْعَمَّةُ عَلَى بِنْتِ أَخِيهَا وَلَا الْمَرْأَةُ عَلَى خَالَتِهَا وَلَا الْخَالَةُ عَلَى بِنْتِ أُخْتِهَا (رواه النسائي)

Artinya, “Seorang perempuan tidak boleh dinikahi bersamaan dengan bibi dari pihak ayahnya, demikian pula sebaliknya; perempuan tidak boleh dinikahi bersamaan dengan bibi dari pihak ibunya, demikian pula sebaliknya,” (HR. An-Nasa’i)
 
Begitu pula dalam kasus laki-laki yang telah memiliki empat istri lalu menceraikan salah satunya dengan talak raj‘i, ia tidak boleh menikah lagi sebelum masa iddah mantan istrinya selesai. Sebab, jika dia menikah lagi sebelum berakhirnya iddah, secara otomatis ia akan memiliki lebih dari empat istri sekaligus, sesuatu yang dilarang dalam syariat.

📚 I‘anatut Thalibin, cet: Darus salam juz 4
Wallohu a'lam semoga bermanfaat ✍️ 
#Ngaji

Rabu, 08 Juli 2026

Ketika Ragu dalam Shalat, Apa yang Harus Dilakukan?

Ketika Ragu dalam Shalat, Apa yang Harus Dilakukan?

Keraguan saat shalat merupakan sesuatu yang bisa dialami oleh siapa saja. Terkadang seseorang lupa sudah berada di rakaat kedua atau ketiga, atau tidak yakin apakah sudah menambah atau mengurangi rakaat. Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan solusi yang jelas terhadap keadaan ini melalui syariat sujud sahwi.

Para ulama menjelaskan bahwa keraguan dalam shalat pada dasarnya terbagi menjadi dua keadaan. Masing-masing memiliki cara penyelesaian yang berbeda berdasarkan apa yang dipahami dari petunjuk Rasulullah ﷺ.

*Berikut dua keadaan ragu dalam jumlah rakaat shalat*

*Keadaan Pertama:* Ada Dugaan yang Lebih Kuat kepada Salah Satu Kemungkinan

Yaitu ketika seseorang ragu dalam shalat, tetapi hatinya lebih cenderung kepada salah satu kemungkinan, apakah jumlah rakaat yang lebih sedikit atau yang lebih banyak.

Dalam keadaan ini, ia mengikuti dugaan yang paling kuat, lalu menyempurnakan shalatnya, mengucapkan salam, kemudian melakukan sujud sahwi *setelah salam.*

Contoh:
Seseorang ragu saat shalat Zuhur, apakah ia sedang berada di rakaat kedua atau ketiga.

Jika yang lebih kuat menurutnya adalah rakaat ketiga, maka ia menganggapnya sebagai rakaat ketiga, lalu menyempurnakan shalatnya satu rakaat lagi, salam, kemudian sujud sahwi *setelah salam.*

Jika yang lebih kuat menurutnya adalah rakaat kedua, maka ia menganggapnya sebagai rakaat kedua, lalu menyempurnakan shalatnya, salam, kemudian sujud sahwi *setelah salam.*

Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
> «إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ، فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ»
"Apabila salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, hendaklah ia mencari mana yang paling benar menurut dugaannya. Kemudian sempurnakan shalat berdasarkan dugaan tersebut, lalu salam, kemudian sujud dua kali (sujud sahwi)." (HR. Bukhari dan Muslim) 

*Keadaan Kedua:* Ragu, tetapi Tidak Ada yang Lebih Kuat

Jika seseorang ragu dalam shalatnya dan tidak ada dugaan yang lebih kuat antara dua kemungkinan, maka ia kembali kepada yang diyakini, yaitu mengambil jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah menyempurnakan shalatnya, ia melakukan *sujud sahwi sebelum salam,* kemudian baru mengucapkan salam.

Contoh:
Seseorang sedang shalat Zuhur, lalu ragu apakah ia sedang berada di rakaat kedua atau ketiga. Karena tidak ada yang lebih kuat dalam dugaannya, maka ia mengambil yang pasti (yang lebih sedikit) yaitu menganggap baru rakaat kedua. Setelah itu ia menyempurnakan shalatnya, lalu *sujud sahwi sebelum salam,* kemudian mengucapkan salam.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
> «إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى، أَثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ»
"Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, sehingga tidak tahu apakah ia telah shalat tiga rakaat atau empat rakaat, hendaklah ia membuang keraguan itu dan berpegang pada yang diyakini. Kemudian hendaklah ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata ia telah shalat lima rakaat, maka dua sujud itu menjadi penyempurna shalatnya. Namun jika ternyata shalatnya memang genap empat rakaat, maka dua sujud itu menjadi penghinaan bagi setan." (HR. Muslim).

*Kesimpulan Praktis*
Agar mudah diingat, gunakan kaidah berikut:
• Jika ada dugaan yang lebih kuat → ikuti dugaan tersebut → sujud sahwi *setelah salam.*
• Jika tidak ada dugaan yang lebih kuat → ambil jumlah rakaat yang yakin yaitu yang lebih sedikit → sujud sahwi *sebelum salam.*

*Penutup*
Sujud sahwi adalah salah satu bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya. Dengannya, kekurangan yang terjadi karena lupa atau ragu dalam shalat dapat disempurnakan sesuai tuntunan Nabi ﷺ. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya mempelajari hukum-hukumnya agar dapat mengamalkan ibadah sesuai sunnah dan tidak diliputi kebingungan ketika lupa dalam shalat.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk senantiasa menjaga shalat, memahami sunnah Nabi ﷺ, dan mengamalkannya dengan benar. Wallahu a'lam.

[Mengambil faidah dari kitab 35 Faidah dalam sujud Sahwi, Karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid]
Ustadz nurhadi nugroho

"al-Qur'an sebagai bekal akhirat", maksudnya bukan sekadar membaca al-Quran dengan lisan.

"al-Qur'an sebagai bekal akhirat", maksudnya bukan sekadar membaca al-Quran dengan lisan.

Dalam ajaran Islam, bekal akhirat yang berkaitan dengan al-Quran merangkumi beberapa perkara:

Tilawah – membaca al-Quran dengan betul.
Tadabbur – memahami dan merenungi maknanya.
Beramal – mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Mengajar dan menyebarkannya kepada orang lain apabila berkemampuan.

Terdapat hadis yang menunjukkan kelebihan membaca al-Quran, seperti setiap huruf diberi ganjaran, dan al-Quran akan memberi syafaat kepada pembacanya. Namun, al-Quran juga mencela orang yang membacanya tanpa menghayati atau mengamalkan kandungannya.

Oleh itu, tilawah itu sendiri adalah satu ibadah dan merupakan bekal akhirat, tetapi ia bukan keseluruhan tujuan al-Quran. Bekal yang lebih sempurna ialah membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungannya.

Antara kandungan utama al-Quran yang merupakan bekal akhirat ialah:

Akidah al-Quran (العقيدة) – Keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhirat, qada' dan qadar, serta penolakan syirik.
Ibadah al-Quran (العبادات) – Hukum dan panduan berkaitan solat, zakat, puasa, haji, doa, zikir, dan ibadah-ibadah lain.
Muamalat al-Quran (المعاملات) – Hukum urusan sesama manusia seperti jual beli, hutang, amanah, sewaan, syarikat, dan kontrak.
Munakahat al-Quran (المناكحات) – Hukum perkahwinan, perceraian, nafkah, hak dan tanggungjawab suami isteri, serta kekeluargaan.
Jinayat al-Quran (الجنايات) – Hukum berkaitan jenayah, qisas, hudud, diyat, dan hukuman bagi kesalahan tertentu.
Adab dan Akhlak al-Quran (الآداب والأخلاق) – Pembentukan akhlak mulia seperti jujur, amanah, sabar, syukur, ihsan, berbakti kepada ibu bapa, serta larangan sifat sombong, hasad, fitnah dan dusta.
Qasas al-Quran (القصص) – Kisah para nabi, umat terdahulu, dan pengajaran daripada sejarah.
Wa'd wa Wa'id (الوعد والوعيد) – Janji pahala dan syurga bagi orang beriman serta ancaman azab bagi orang yang kufur dan derhaka.
Ahkam dan Tasyri' (الأحكام والتشريع) – Prinsip-prinsip hukum dan perundangan yang menjadi panduan kehidupan umat Islam.
Ustadz abid annuriyy

pangkal keburukan

Selasa, 07 Juli 2026

(Aqidah Imam Asy-Syafi'i sebagaimana yang beliau tuliskan dalam kitab-kitabnya atau diriwayatkan oleh murid-muridnya.)

Lagi ramai pembahasan tentang Syaikh Nu'man Al-Watr hafizahullahu, seorang ulama Salafy dari Yaman, yang membawakan tema "Pengantar Mazhab Syafi'i" dalam daurah di Kota Surakarta. Dulu saya pernah menghadiri juga daurah beliau di asrama haji jakarta timur, Karena penasaran degan beliau hafizahullahu ta'ala yang disebut-sebut juga bermazhab Syafi'i, betul atau tidak ana kurang mengenal lebih dalam juga.hehe
akhirnya saya mencari beberapa kitab karya beliau.
Di antara yang saya tepukan adalah kitab,
عقيدة الإمام الشافعي كما دونها في كتبه أو رواها عنه تلاميذه
(Aqidah Imam Asy-Syafi'i sebagaimana yang beliau tuliskan dalam kitab-kitabnya atau diriwayatkan oleh murid-muridnya.)
Saat membaca dan menelusuri isi kitab tersebut, saya menemukan satu faedah yang sangat menarik, yaitu tentang keyakinan Imam Asy-Syafi'i rahimahullah bahwa kaum mukminin akan melihat Allah ta'ala di akhirat, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil syar'i.
Bahkan, dalam riwayat yang dibawakan dari Ar-Rabi' bin Sulaiman, Imam Asy-Syafi'i menegaskan bahwa keyakinan tersebut merupakan bagian dari agama yang beliau yakini. Ketika ditanya, "Apakah engkau juga meyakini hal itu?" beliau menjawab:
"نعم، وبه أدين الله."
"Ya, dengan keyakinan itulah aku beragama kepada Allah."
Ar-Rabi' kemudian menegaskan:
"ولو لم يوقن محمد بن إدريس أنه يرى الله لما عبد الله عز وجل."
"Seandainya Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa ia akan melihat Allah, niscaya ia tidak akan beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla."
Semoga Allah merahmati Imam Asy-Syafi'i dan meneguhkan kita di atas akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Aamiin.
abu kisa

Akidah yang benar membentuk seorang muslim menjadi pribadi yang kokoh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Kekuatan itu bukan semata-mata terletak pada fisik, harta, atau kedudukan, melainkan pada keteguhan hati

Setelah menjalani perjalanan hidup lebih dari setengah abad, dengan berbagai persoalan yang datang dan pergi silih berganti, saya semakin memahami mengapa akidah mendapat tempat yang sangat mendasar dalam Islam, bahkan didahulukan sebelum yang lain.
Akidah yang benar membentuk seorang muslim menjadi pribadi yang kokoh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Kekuatan itu bukan semata-mata terletak pada fisik, harta, atau kedudukan, melainkan pada keteguhan hati. Saat musibah datang, ia tetap tenang, tidak kehilangan kendali, dan tetap yakin kepada Allah. Itulah kekuatan utama yang sesungguhnya.
Karena itu, seorang muslim perlu terus membaca Al-Qur’an berulang-ulang, mempelajari Sunnah, meneladani kehidupan Nabi ﷺ dan para salaf, serta mengkaji penjelasan para ulama tentang akidah dalam kitab-kitab mereka. Sebab iman dan keteguhan hati tidak tumbuh dari bacaan sekali lewat, tetapi dari pengulangan, perenungan, dan kesungguhan untuk terus kembali kepada petunjuk Allah Ta’ala.