Minggu, 25 Oktober 2026

سؤال : هل يكتفى بدراسة نظم الورقات و المذكرة في علم أصول الفقه ؟


nazham (nadhom / bait syair) atau ringkasan berbentuk puitis berbahasa Arab yang membahas ringkasan dari disiplin ilmu ushul fiqh (metodologi hukum Islam)

 nazham (nadhom / bait syair) atau ringkasan berbentuk puitis berbahasa Arab yang membahas ringkasan dari disiplin ilmu ushul fiqh (metodologi hukum Islam), berjudul "إجابة العجول، وإعانة الكسول على حفظ فهرس الأصول" (Jawaban bagi yang tergesa-gesa, dan bantuan bagi yang malas untuk menghafal daftar isi Ushul Fiqh).
Berikut adalah terjemahan teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah Ijabah al-Ujul, wa I'anah al-Kasul 'ala Hifzhi Fahris al-Ushul (Panduan ringkas untuk menghafal kerangka Ushul Fiqh):
 * Ilmu Ushul ada empat pokok: [1] Hukum-hukum, [2] Dalil-dalil, [3] Penunjukan (Dalalah), [4] Hukum/Ketetapan.
 * Maka yang pertama (Hukum-hukum), terbagi menjadi dua: Taklifiy (pembebanan hukum) atau Wadh'iy (hukum وضع / penetapan sebab, syarat, penghalang) tanpa keraguan.
 * Adapun hukum-hukum Taklifiy adalah: Fardhu (wajib), Sunnah, Mubah (boleh), Makruh (dibenci), dan Haram.
 * Hukum-hukum Wadh'iy adalah: Sebab, 'Illat (alasan hukum), Syarat, Mani' (penghalang) yang meniadakan, Rukhshah (keringanan), dan kebalikannya adalah 'Azimah (hukum asal).
 * Kemudian: Fasad (rusak), Shahih (sah), Qawim (lurus/benar).
 * Kedua (Dalil-dalil): Di antaranya ada yang diperselisihkan, dan sebagiannya disepakati untuk dijadikan rujukan.
 * Yaitu: Al-Quran, As-Sunnah, Al-Ijma', Qiyasnya. Pada selainnya terdapat perselisihan (niza').
 * Di antaranya: Syariat umat sebelum kita (Syarat Man Qablana), perkataan sahabat, Mashalih Mursalah, Istihsan, Istishhab.
 * Ketiga (Penunjukan Lafadz / Dalalah): Penunjukan lafadz yang jelas meliputi: Nash, Zhahir, dan Mujmal.
 * Dari sisi lain terbagi menjadi: Mafhum (makna tersirat) dan kebalikannya yaitu Manthuq (makna tersurat).
 * Zhahir menunjukkan arti: Perintah (Amr) menunjukkan Wajib, dan larangan (Nahyi) menunjukkan Haram dalam perkataan yang jelas.
 * Kemudian kata 'Umum (umum): Setiap individu mencakup secara keseluruhan, dan Muthlaq (mutlak) bersifat umum secara alternatif (Badl).
 * Dan ditinggalkannya yang zhahir karena ada dalil: Dinamakan ini sebagai At-Ta'wil (penakwilan).
 * Dan Al-Mujmal (samar) ditangguhkan hingga ada penjelasan (bayan): Dan An-Nash (teks yang jelas) tidak mengemban makna kedua (tidak bisa ditafsirkan lain).
 * Keempat (Mabihul Mujtahid / Pembahasan tentang Mujtahid): Dan kebalikannya adalah Al-Mau-shuf bil-Muqallid (orang yang disifati sebagai muqallid/pengikut).
 * Maka yang pertama (Mujtahid): Orang alim dengan dalil-dalilnya, ketetapan (tsubut)-nya, pemahamannya, serta bahasa.
 * Bersama dengan pemahaman jiwa yang dinamakan dengan malakah (kemampuan/keahlian): Dengan kesungguhannya dalam ilmu sehingga menjadi keahliannya.
 * Ketika terjadi pertentangan (ta'arudh) di antara dua dalil secara bersamaan: Maka lakukan Naskh (penghapusan hukum) lalu Tarjih (mengunggulkan salah satunya), kemudian diamlah dan jangan mengklaim (tanpa ilmu).
Dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita, beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.

Bismilah. Berikut ini beberapa kesimpulan tentang nama-nama Allah Ta'ala selain yang Lafzuljalalah (الله), hasil ijtihad para ulama, yang kriterianya:

Bismilah. Berikut ini beberapa kesimpulan tentang nama-nama Allah Ta'ala selain yang Lafzuljalalah (الله), hasil ijtihad para ulama, yang kriterianya:

I. Daftar Asma Husna (berjumlah 62) yang ada di riwayat Tirmidzi (idraj) dan disepakati oleh Empat Versi perhitungan populer (versi Al-Hafizh Ibnu Hajar, versi Syaikh Utsaimin, versi Syaikh Ridhwani, dan versi Syaikh Abdul Muhsin):

الرحمن، الرحيم، الملك، القدوس، السلام، المؤمن، المهيمن، العزيز، الجبار، المتكبر، الخالق، البارئ، المصور، الغفار، القهار، الوهاب، الرزاق، الفتاح، العليم، السميع، البصير، الحكم، اللطيف، الخبير، الحليم، العظيم، الغفور، الشكور، العلي، الكبير، الحفيظ، المقيت، الحسيب، الكريم، الرقيب، المجيب، الواسع، الحكيم، الودود، المجيد، الشهيد، الحق، الوكيل، القوي، المتين، الولي، الحميد، الحي، القيوم، الواحد، الصمد، القادر، المقتدر، الأول، الآخر، الظاهر، الباطن، البر، التواب، العفو، الغني، الوارث،

II. Daftar kesimpulan Asma Husna (berjumlah 14) yang tidak ada di riwayat Tirmidzi dan disepakati oleh Empat Versi perhitungan populer (versi Al-Hafizh Ibnu Hajar, versi Syaikh Utsaimin, versi Syaikh Ridhwani, dan versi Syaikh Abdul Muhsin):

 الإله، الأحد، الأعلى، الأكرم، الخلاق، الرب، الشاكر، القاهر، القدير، القريب، المبين، المليك، المولى، النصير، 

III. Daftar kesimpulan Asma Husna (berjumlah 4) yang ada di riwayat Tirmidzi dan disepakati oleh Tiga Versi perhitungan populer yang juga menelusuri di Hadis selain Al-Quran (versi Syaikh Utsaimin, versi Syaikh Ridhwani, dan versi Syaikh Abdul Muhsin):

القابض، الباسط، المقدم، المؤخر

IV. Daftar kesimpulan Asma Husna (berjumlah 11) yang tidak ada di riwayat Tirmidzi dan disepakati oleh Tiga Versi perhitungan populer yang juga menelusuri di Hadis selain Al-Quran (versi Syaikh Utsaimin, versi Syaikh Ridhwani, dan versi Syaikh Abdul Muhsin):

الجميل، الحيي، الرفيق، السبوح، السيد، الشافي، الطيب، المحسن، المعطي، المنان، الوتر

Jumlah yang di atas: 1+62+14+4+11 = 1+91. Walhamdulillah.
https://www.facebook.com/share/p/1C9omCsM9m/

AKIDAH SYEKH MUHAMMAD AL-AMIN AL-SYINQITHI DALAM TAFSIR ADHWA' AL-BAYAN: MENETAPKAN SIFAT ALLAH TANPA TASYBIH DAN TANPA TA'THIL

AKIDAH SYEKH MUHAMMAD AL-AMIN AL-SYINQITHI DALAM TAFSIR ADHWA' AL-BAYAN: MENETAPKAN SIFAT ALLAH TANPA TASYBIH DAN TANPA TA'THIL

Syekh Muhammad al-Amin al-Syinqithi (w. 1393 H), penulis tafsir Adhwa' al-Bayan fi Idhah al-Qur'an bil-Qur'an, merupakan salah seorang ulama tafsir yang memberikan pembahasan mendalam tentang akidah, khususnya masalah asma wa sifat.

Menariknya, beliau tidak sekadar menyatakan mengikuti manhaj salaf, tetapi membangun argumentasinya dengan dalil Al-Qur'an, kaidah bahasa, dan penalaran yang sistematis.

Berikut beberapa bukti langsung dari karya beliau.

1. Seluruh sifat Allah berada dalam satu kaidah

Beliau berkata:

أن جميع الصفات من باب واحد؛ لأن الموصوف بها واحد

"Sesungguhnya seluruh sifat berada dalam satu pembahasan karena yang disifati dengannya adalah satu."

Beliau melanjutkan:

فمن أثبت مثلا أنه سميع بصير، وسمعه وبصره مخالفان لأسماع الحوادث وأبصارهم، لزمه مثل ذلك في جميع الصفات؛ كالاستواء، واليد، ونحو ذلك من صفاته جل وعلا

"Barang siapa menetapkan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, sedangkan pendengaran dan penglihatan-Nya berbeda dari pendengaran dan penglihatan makhluk, maka ia harus menerapkan prinsip yang sama terhadap seluruh sifat, seperti istiwa, tangan, dan sifat-sifat Allah lainnya."

📚 Adhwa' al-Bayan, 2/375.

https://shamela.ws/book/20766/917

Argumentasinya sangat kuat. Jika pendengaran dan penglihatan Allah dapat ditetapkan tanpa menyerupakannya dengan makhluk, mengapa prinsip yang sama tidak diterapkan pada sifat istiwa dan tangan?

2. Zat Allah dan sifat-Nya berada dalam satu kaidah

Beliau berkata:

أن الذات والصفات من باب واحد أيضا، فكما أنه جل وعلا له ذات مخالفة لجميع ذوات الخلق فله تعالى صفات مخالفة لجميع صفات الخلق

"Sesungguhnya zat dan sifat juga berada dalam satu pembahasan. Sebagaimana Allah memiliki Zat yang berbeda dari seluruh zat makhluk, demikian pula Allah memiliki sifat-sifat yang berbeda dari seluruh sifat makhluk."

📚 Adhwa' al-Bayan, 2/375.

https://shamela.ws/book/20766/917

Dengan demikian, menetapkan sifat bagi Allah tidak otomatis berarti melakukan tasybih. Sebagaimana menetapkan adanya Zat Allah tidak berarti menyerupakan Zat-Nya dengan zat makhluk.

3. Istiwa Allah ditetapkan sesuai keagungan-Nya

Al-Syinqithi berkata:

وأن للخالق جل وعلا استواء لائقا بكماله وجلاله، وللمخلوق أيضا استواء مناسبا لحاله

"Sesungguhnya Sang Pencipta memiliki istiwa yang sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, sedangkan makhluk memiliki istiwa yang sesuai dengan keadaannya."

📚 Adhwa' al-Bayan, 2/375.

https://shamela.ws/book/20766/917

Kesamaan istilah tidak mengharuskan kesamaan hakikat. Istiwa Allah adalah sifat yang layak bagi keagungan-Nya, bukan seperti istiwa makhluk.

4. Tidak mengetahui kaifiyah bukan berarti meniadakan sifat

Beliau mengajukan pertanyaan:

أعرفت كيفية الذات المقدسة المتصفة بتلك الصفات؟

"Apakah engkau mengetahui bagaimana hakikat Zat Yang Mahasuci yang memiliki sifat-sifat tersebut?"

Kemudian beliau menjelaskan:

معرفة كيفية الاتصاف بالصفات متوقفة على معرفة كيفية الذات

"Mengetahui kaifiyah suatu zat dalam memiliki sifat bergantung pada pengetahuan tentang kaifiyah zat tersebut."

📚 Adhwa' al-Bayan, 2/377.

https://shamela.ws/book/20766/919

Inilah perbedaan penting antara makna dan kaifiyah. Ketidaktahuan manusia mengenai bagaimana sifat Allah tidak mengharuskan penolakan terhadap sifat yang telah Allah tetapkan.

5. Makna zahir sifat Allah bukanlah penyerupaan dengan makhluk

Beliau menegaskan:

والحق الذي لا يشك فيه أدنى عاقل أن كل وصف وصف الله به نفسه، أو وصفه به رسوله صلى الله عليه وسلم فظاهره المتبادر منه السابق إلى فهم من في قلبه شيء من الإيمان، هو التنزيه التام عن مشابهة شيء من صفات الحوادث

"Kebenaran yang tidak diragukan oleh orang berakal adalah bahwa setiap sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya, maka makna zahir yang segera dipahami oleh orang yang memiliki keimanan adalah penyucian Allah secara sempurna dari keserupaan dengan sifat makhluk."

📚 Adhwa' al-Bayan, 2/376.

https://shamela.ws/book/20766/918

Ini merupakan bantahan terhadap anggapan bahwa memahami sifat Allah menurut zahirnya pasti berujung pada tasybih.

Menurut al-Syinqithi, kesalahan justru bermula ketika seseorang terlebih dahulu membayangkan sifat Allah seperti sifat makhluk, kemudian merasa harus menakwilnya untuk menghindari penyerupaan tersebut.

6. Membela manhaj salaf dan mengkritik takwil kalam

Dalam pembahasannya mengenai al-Juwayni, al-Ghazali, dan para tokoh ilmu kalam, al-Syinqithi menegaskan bahwa metode salaf merupakan metode yang benar.

Setelah mengutip argumentasi al-Ghazali, beliau berkata:

ولا شك أن استدلال الغزالي هذا لأن مذهب السلف هو الحق استدلال لا شك في صحته ووضوح وجه الدليل فيه

"Tidak diragukan bahwa argumentasi al-Ghazali ini, bahwa mazhab salaf adalah yang benar, merupakan argumentasi yang tidak diragukan ketepatan dan kejelasan dalilnya."

📚 Adhwa' al-Bayan, 7/506.

https://shamela.ws/book/20766/4872

Perlu dibedakan antara pendapat yang beliau nukil dari tokoh lain dan pendapat yang beliau tegaskan sendiri. Kutipan di atas merupakan penilaian langsung al-Syinqithi.

KESIMPULAN

Dari berbagai penjelasan tersebut, tampak jelas bahwa dalam masalah asma wa sifat, Syekh Muhammad al-Amin al-Syinqithi mengikuti pendekatan akidah salaf atau Atsari.

Prinsipnya adalah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk, serta tidak mengklaim mengetahui kaifiyah sifat-Nya.

Pendekatan ini memiliki kesamaan argumentasi yang sangat kuat dengan Ibnu Taimiyah, terutama dalam dua kaidah:

- القول في الصفات كالقول في الذات
  
  Pembahasan sifat mengikuti kaidah pembahasan zat.

- القول في بعض الصفات كالقول في بعض
  
  Kaidah yang diterapkan pada sebagian sifat juga diterapkan pada sifat-sifat lainnya.

Hal yang patut diperhatikan adalah bahwa al-Syinqithi tidak membangun pembelaannya dengan meniadakan makna nash, tetapi dengan membedakan antara penetapan sifat, penyucian dari tasybih, dan ketidaktahuan tentang kaifiyah.

Dengan demikian, itsbat bukanlah tasybih, dan tanzih tidak harus berarti ta'thil.

Sebagaimana firman Allah:

ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Inilah prinsip yang berulang kali ditekankan al-Syinqithi dalam tafsirnya.
Ustadz noor akhmad setiawan

Kamis, 22 Oktober 2026

berhati hatilah

Telah wafat Sheikh Ali Al-Halabi rahimahullah, sementara beliau menanggung hutang antara 170 hingga 200 ribu dinar!


Telah wafat Sheikh Ali Al-Halabi rahimahullah, sementara beliau menanggung hutang antara 170 hingga 200 ribu dinar!

Fokus utama beliau adalah tentang perpustakaannya; bagaimana beliau dapat memberikan manfaat kepada orang-orang melalui perpustakaan ini, dan bagaimana orang-orang dapat mengambil manfaat darinya setelah kematian beliau.

Beliau ingin menjualnya agar dijadikan sebagai wakaf sehingga dapat dimanfaatkan oleh para penuntut ilmu. Beliau pun selalu memilih cetakan-cetakan terbaik dan berkualitas untuk perpustakannya.

Sheikh Sufyan Ayesh bercerita:

"Saya pernah melihat sebuah kitab yang sangat agung di sisinya, jilidnya mencapai lebih dari 30 jilid berukuran besar, dan kitab tersebut tidak berbahasa Arab!

Maka saya bertanya kepada Sheikh tentang kitab itu. Beliau menjawab: 'Ini adalah sejarah dunia dalam bahasa Latin [padahal Sheikh Ali tidak menguasai bahasa Latin].'

Saya bertanya lagi: 'Lalu apa yang membuat Anda membelinya?' Beliau menjawab: 'Wahai Sufyan, bisa jadi kelak ada orang yang dapat mengambil manfaat darinya di perpustakaanku ini!'"

Perpustakaan tersebut telah diinventarisasi dan dikatalogkan oleh pegawai perpustakaan, Ahmad Al-Halabi, dipilah berdasarkan judul-judulnya, serta dimasukkan data katalognya ke dalam komputer.

Sheikh Ali sempat berusaha menjual seluruh isi perpustakaannya kepada Sheikh Saleh Aal ash-Sheikh. Kemudian datanglah para ahli untuk memeriksa dan menelitinya. Sheikh Saleh Aal ash-Sheikh sendiri adalah seorang pengumpul (kolektor) buku; di antara keilmuannya, beliau bagaikan ensiklopedia dalam hal mengoleksi buku, dan di Mesir beliau adalah orang nomor satu yang selalu ditawari buku-buku langka!

Sheikh Saleh sangat menyukai guru kami, Sheikh Ali Al-Halabi. Beliau sering mendatangi atau mengirimkan visa haji untuknya, serta pernah mengundang Sheikh Al-Halabi ke Riyadh dan menemuinya di sana.

Namun Sheikh Ali rahimahullah wafat secara mendadak. Beliau meninggalkan anak-anaknya yang tidak begitu paham mengenai buku dan cetakan-cetakannya, sehingga mereka tidak mampu mewujudkan cita-cita ayah mereka untuk menjadikan perpustakaan tersebut sebagai wakaf.

Lalu datanglah Sheikh Ali Al-Kurdi hafidzahullah. Beliau sangat mencintai Sheikh Ali dan termasuk orang yang berkecukupan (berada). Beliau pun membeli perpustakaan tersebut, karya-karya yang ditulis oleh Sheikh, serta rekaman-rekaman kaset ceramahnya—seluruh hak cipta dan segala hal yang berkaitan dengan Sheikh Ali Al-Halabi beliau bayar harganya. Uang hasil penjualan ini cukup untuk melunasi seluruh hutang-hutang Sheikh, dan masih tersisa sebagian untuk para ahli warisnya.

Saat ini, beliau sedang berusaha mencari tempat yang sesuai agar perpustakaan tersebut dapat dijadikan wakaf yang bermanfaat bagi para penuntut ilmu. Beliau juga telah menugaskan pihak yang mengurus rekaman-rekaman dan pelajaran-pelajaran terrekam tersebut untuk ditranskrip agar dapat diterbitkan dalam bentuk cetakan, insya Allah.

(Dipetik dari kutipan ceramah Sheikh Sufyan Ayesh)