خطورة الدعوة بالتمثيل" (Bahaya Berdakwah dengan Drama/Metode Teater) oleh Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili:
- [00:00] Salah seorang saudara yang mulia mengundang saya ke acara wisuda para penghafal Al-Qur'an. Agendanya adalah agar saya menyampaikan sepatah kata (nasihat) kepada para wisudawan dan para orang tua murid. Maka saya pun hadir.
- [00:14] Berdasarkan agenda tersebut, sebelum saya menyampaikan sambutan, mereka mengatakan bahwa ada sebuah pertunjukan/kegiatan terlebih dahulu.
- [00:21] Beberapa santri kemudian naik ke atas panggung dan mereka mengatakan bahwa ini adalah sebuah pementasan drama/teater.
- [00:31] Datanglah seorang santri yang membawa mushaf Al-Qur'an. Dia berdiri, membaca, dan menjunjung mushaf tersebut di atas kepalanya. Adegan ini menyimbolkan seorang pemuda yang berpegang teguh pada agamanya. Kemudian datang sekelompok pemuda lain.
- [00:47] Mereka mengelilingi pemuda tersebut dengan maksud untuk mendorong, menjatuhkan, serta menggugurkan mushaf yang dipegangnya. Pemuda itu pun mencoba bertahan sekuat tenaga. Adegan pertama pun selesai. Kemudian masuk ke adegan kedua, di mana sekelompok pemuda lain masuk.
- [01:01] Salah satu dari mereka membawa bola, yang lain membawa mainan tertentu, dan yang lainnya lagi membawa simbol-simbol syahwat duniawi. Masing-masing dari mereka menunjukkan apa yang ada di tangannya kepada pemuda tadi.
- [01:15] Sampai akhirnya pemuda (yang memegang Al-Qur'an) tersebut mulai menurunkan posisi mushafnya, hingga benar-benar meletakkannya (meninggalkannya) dan ikut mengikuti mereka. Adegan pementasan ini sebenarnya mengandung unsur-unsur kekufuran, yaitu tindakan mereka yang mencoba menjatuhkan mushaf Al-Qur'an.
- [01:29] Mereka mengira bahwa sebuah pementasan drama melegalkan mereka untuk melakukan hal semacam itu. Begitu pula dengan adegan pemuda yang meletakkan mushaf Al-Qur'an setelah sebelumnya dia menjunjungnya, demi menunjukkan bahwa dia lebih memilih syahwat dan meninggalkan Al-Qur'an. Ini adalah hal yang sangat berbahaya.
- [01:47] Namun, saya pribadi tidak suka langsung memotong (menginterupsi) di tengah-tengah acara. Setelah pementasan tersebut selesai, saya katakan kepada mereka bahwa perkara ini adalah sesuatu yang diada-adakan (perkara baru/bid'ah). Metode (drama) ini bukanlah sarana dakwah.
- [02:05] Potongan drama ini mengandung unsur-unsur yang membuat saya khawatir terhadap orang yang membuat pementasan ini serta mereka yang ikut berpartisipasi di dalamnya. Saya pun memberikan peringatan keras kepada mereka mengenai hal ini. Mereka lalu berkata: "Demi Allah, kami tidak berniat kecuali untuk kebaikan."
- [02:16] Maka saya katakan kepada mereka sebagaimana perkataan sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu: "Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun ia tidak mendapatkannya." Ini adalah dampak dari kebodohan (ketidaktahuan) dan berpalingnya seseorang dari dakwah yang haq menuju sarana-sarana baru (yang diada-adakan). Yang mana sangat disayangkan, sebagian saudara-saudara kita yang saleh ikut terkelabui oleh metode ini.
- [02:36] Tentu kita tidak mencela personil mereka. Saya pribadi menentang sebagian saudara kita yang bersikap terlalu keras saat ini dengan menuduh: "Orang-orang ini ingin menghancurkan Sunnah." Tidak ada seorang muslim pun (di tempat itu) yang ingin menghancurkan Sunnah. Mereka adalah para penghafal Kitabullah, mengajar para santri, dan memiliki andil serta jasa-jasa yang baik.
- [02:45] Akan tetapi, pada diri mereka terdapat ketidaktahuan (kebodohan terhadap syariat). Oleh karena itu, sudah sepatutnya mereka ini dibimbing dan kita semua diberi peringatan dari perkara-perkara (metode dakwah yang keliru) seperti ini.
- https://youtu.be/X8QaidAkwBQ?si=IYCIZMAqPfIjzeZ-