Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Senin, 14 September 2026
BUAT LO PECINTA KOPI!
Kisah Imam Syafii berseteru dengan pengikut dan Murid Murid Imam Malik lainnya.
Al-'Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah
Al-'Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah
Beliau adalah Asy-Syaikh Al-'Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid, seorang pakar fikih, ushul fikih, dan peneliti. Beliau merupakan salah satu ulama Arab Saudi pada abad ke-15 Hijriah, mantan anggota Dewan Ulama Senior (Hai'ah Kibaril 'Ulama) dan Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa (Lajnah Da'imah), mantan Ketua Akademi Fikih Islam Internasional, serta penulis berbagai karya tersohor dalam bidang fikih, isu-isu kontemporer (nawazil), adab, bahasa, dan silsilah (ansab).
Beliau dilahirkan pada tahun 1365 H di 'Aliyah Najd dan tumbuh dalam lingkungan pencari ilmu. Beliau kemudian pindah ke Riyadh untuk belajar di Ma'had 'Ilmi, lalu melanjutkan ke Fakultas Syariah hingga lulus. Pendidikan lanjutannya ditempuh di Ma'had 'Ali lil Qada' hingga meraih gelar Magister pada tahun 1399/1400 H, dan meraih gelar Doktor pada tahun 1403 H.
📚 Biografi Syaikh Bakr Abu Zaid, Ensiklopedia Sejarah Dorar Arya, Peristiwa Tahun 1429 H.
Guru-Guru Beliau
Beliau menimba ilmu dari para ulama besar pada zamannya. Beliau berguru kepada Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah dan bermulazamah (mendampingi) beliau selama kurang lebih dua tahun. Beliau mempelajari beberapa kitab di bawah bimbingannya, antara lain:
- Fathul Bari
- Bulughul Maram
- Berbagai risalah dalam bidang fikih, tauhid, dan hadis
Syaikh Ibn Baz rahimahullah juga memberikan ijazah ilmiah kepada beliau.
📚 Biografi Syaikh Bakr Abu Zaid, Arsip Multaqa Ahl al-Hadith, hlm. 110.
Guru yang paling berpengaruh bagi beliau adalah Al-'Allamah Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti rahimahullah, penulis tafsir Adwa'ul Bayan. Beliau bermulazamah dengannya selama kurang lebih sepuluh tahun.
Dalam biografi murid-murid Asy-Syanqiti disebutkan:
"Syaikh Bakr Abu Zaid: Penulis banyak karya ilmiah, seorang peneliti yang tekun dan mendalam (muhaqqiq), bermulazamah kepada Syaikh (Asy-Syanqiti) rahimahullah selama sepuluh tahun."
📚 Abdul Rahman bin Abdul Aziz As-Sudais, Biografi Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti Penulis Adwa'ul Bayan, hlm. 215.
Beliau mempelajari beberapa kitab dari Asy-Syanqiti, seperti:
- Adwa'ul Bayan
- Adab al-Bahts wa al-Munazarah
- Sejumlah kitab tentang silsilah (ansab)
Beliau menimba ilmu silsilah darinya hingga Syaikh Asy-Syanqiti pernah berkata kepadanya:
"Tidak ada yang mengambil ilmu silsilah dariku di negeri ini selain engkau."
📚 Abdul Rahman As-Sudais, Biografi Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti, hlm. 215 dan seterusnya.
Beliau sangat tekun mendampingi gurunya tersebut. Salah seorang yang hidup sezaman dengannya meriwayatkan:
"Aku melihat Syaikh Bakr Abu Zaid menghadiri halaqah tafsir Syaikh (Asy-Syanqiti) pada bulan Ramadan tanpa absen satu hari pun."
📚 Abdul Rahman As-Sudais, Biografi Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti, hlm. 215 dan seterusnya.
Kehidupan Ilmiah dan Karier
Setelah lulus, beliau diangkat menjadi hakim di Madinah Al-Munawwarah dan menjalankan tugas tersebut hingga sekitar tahun 1400 H. Beliau juga mengajar di Masjid Nabawi serta diangkat menjadi imam dan khatib di sana untuk beberapa waktu.
Selanjutnya, beliau menduduki berbagai posisi penting di bidang keilmuan dan peradilan, di antaranya:
- Wakil Menteri Kehakiman
- Anggota Dewan Ulama Senior (Hai'ah Kibaril 'Ulama)
- Anggota Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa (Lajnah Da'imah)
- Anggota Akademi Fikih Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
- Ketua Akademi Fikih Islam Internasional
Beliau juga mengajar di Ma'had 'Ali lil Qada' dan program pascasarjana Fakultas Syariah.
📚 Ensiklopedia Sejarah Dorar Arya, Peristiwa Tahun 1429 H, Biografi Bakr Abu Zaid.
Perhatian Terhadap Fikih Kontemporer (Fiqh An-Nawazil)
Salah satu bidang keilmuan utama beliau adalah fikih isu-isu kontemporer (fiqh an-nawazil). Beliau menghimpun riset-risetnya dalam karya monumental:
- Fiqh An-Nawazil
Beberapa isu yang beliau bahas di dalamnya meliputi:
- Alat penunjang hidup dan tanda kematian klinis
- Bayi tabung
- Surat jaminan bank (bank guarantee)
- Asuransi
- Transplantasi organ
- Kartu kredit
- Kartu diskon
- Berbagai isu fikih kontemporer lainnya
Hal ini menunjukkan perhatian beliau yang besar dalam menghubungkan fikih dengan perkembangan zaman.
📚 Bakr Abu Zaid, Fiqh An-Nawazil, Jilid 1-3, Pengantar Penulis dan Indeks Masalah.
Hilyah Talib al-'Ilm
Salah satu karyanya yang paling tersohor adalah:
- Hilyah Talib al-'Ilm (Perhiasan Penuntut Ilmu)
Kitab ini membahas adab, akhlak, serta metode belajar bagi penuntut ilmu, sekaligus peringatan agar tidak terburu-buru tampil di publik sebelum matang secara keilmuan.
Salah satu kutipan terkenal dalam kitab ini:
"Waspadalah dari tampil di publik (mengajar/fatwa) sebelum engkau memiliki kualifikasi, karena hal itu adalah petaka dalam ilmu dan amal."
📚 Bakr Abu Zaid, Hilyah Talib al-'Ilm, hlm. 64 pada beberapa cetakan umum.
Beliau juga menyatakan:
"Waspadalah dari menyibukkan diri dengan menulis sebelum engkau menyempurnakan perangkat ilmu, memenuhi kualifikasi, dan matang di bawah bimbingan guru-gurumu."
📚 Hilyah Talib al-'Ilm, lihat Syarah Ibn 'Uthaymeen, hlm. 292-298.
Syaikh Muhammad bin Salih Al-'Uthaymeen rahimahullah memberikan perhatian khusus pada kitab ini dengan menjelaskannya secara menyeluruh kepada para muridnya. Penjelasan tersebut dicetak dengan judul:
- Syarh Hilyah Talib al-'Ilm
Perhatian dari Syaikh Ibn 'Uthaymeen ini menjadi salah satu bukti nyata akan kedudukan kitab ini dan penulisnya.
📚 Muhammad bin Salih Al-'Uthaymeen, Syarh Hilyah Talib al-'Ilm, Yayasan Syaikh Ibn 'Uthaymeen, Cet. 1, 1434 H.
Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah
Karya tersohor beliau lainnya adalah:
- Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah (Kamus Ungkapan yang Dilarang)
Dalam kitab ini, beliau mengumpulkan berbagai kekeliruan lafaz dan ungkapan populer—baik klasik maupun modern—yang mengandung larangan syariat, kesalahan bahasa, atau memerlukan koreksi.
Beliau menyatakan dalam pengantarnya:
"Ini adalah bab penyusunan yang menghimpun sejumlah besar lafaz dan ucapan yang beredar di lisan orang-orang, baik dulu maupun sekarang, yang dilarang untuk diucapkan."
📚 Bakr Abu Zaid, Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah, Pengantar Cetakan Ketiga, hlm. 7.
Jumlah ungkapan beserta catatannya yang dihimpun dalam buku ini mencapai sekitar 1.500 lafaz.
📚 Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah, Halaman Judul dan Pengantar Buku.
At-Ta'alum
Buku populer lainnya adalah:
- At-Ta'alum wa Atharuhu 'ala al-Fikr wa al-Kitab (Sikap Pura-Pura Berilmu dan Pengaruhnya terhadap Pemikiran dan Karya Tulis)
Kitab ini memperingatkan bahaya mengklaim ilmu secara tergesa-gesa dan tampil mengajar sebelum kokoh keilmuannya.
Tasniif an-Naas baina adh-Dhann wa al-Yaqin
Beliau juga menulis:
- Tasniif an-Naas baina adh-Dhann wa al-Yaqin (Pengelompokan Manusia Antara Prasangka dan Keyakinan)
Karya ini memberikan peringatan agar tidak terburu-buru menghakimi para ulama, da'i, dan penuntut ilmu hanya berdasarkan prasangka atau desas-desus. Ini adalah prinsip penting dari metodologi beliau: memperingatkan bahaya sok berilmu (at-ta'alum) di satu sisi, sekaligus melarang ketergesaan dalam menjatuhkan reputasi orang lain di sisi lain.
Karya-Karya dalam Mazhab Hanbali
Secara kepakaran fikih, beliau berlatar belakang mazhab Hanbali. Salah satu buku terpentingnya di bidang ini adalah:
- Al-Madkhal Al-Mufassal ila Mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal wa Takhrijat Al-Ashab
Buku ini merupakan referensi utama untuk memahami sejarah, dasar-dasar, terminologi, tingkatan ulama, dan literatur mazhab Hanbali. Beliau juga memiliki studi dan penelitian mendalam mengenai warisan ilmiah Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim.
Perhatian Terhadap Ibn al-Qayyim
Beliau sangat menaruh perhatian pada warisan ilmiah Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Di antara karyanya:
- Ibn al-Qayyim: Hayatuhu, Aatsaruhu, Mawariduhu
- At-Taqrib li 'Ulum Ibn al-Qayyim
Hal ini menunjukkan pengaruh kuat dari pemikiran Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan muridnya, Ibn al-Qayyim, dalam metodologi dan penyusunan ilmu beliau.
Perhatian Terhadap Ilmu Silsilah (Nasab)
Ilmu silsilah merupakan salah satu keahlian khas beliau. Buku terbesarnya dalam bidang ini adalah:
- Tabaqat An-Nassabin
Pengetahuannya dalam bidang ini banyak dipengaruhi oleh gurunya, Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti rahimahullah, yang dikenal memiliki wawasan sangat luas tentang silsilah bangsa Arab.
Akidah dan Manhaj
Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berpegang pada akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di atas metode Athariyah Salafiyah dalam penetapan Tauhid, Asma' wa Sifat, mengagungkan teks Al-Qur'an dan Sunnah, serta memperingatkan masyarakat dari perbuatan syirik dan bid'ah.
Sebagai anggota Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, beliau berpartisipasi dalam mengeluarkan berbagai fatwa terkait tauhid, akidah, dan sunnah. Beliau juga sangat memperhatikan warisan pemikiran:
- Ibn Taimiyah
- Ibn al-Qayyim
- Para ulama Dakwah Salafiyah
Pujian Para Ulama Terhadap Beliau
Salah satu ulama besar yang mengakui kedudukan beliau adalah Syaikh Muhammad bin Salih Al-'Uthaymeen rahimahullah. Beliau menggambarkan Syaikh Bakr dengan perkataan:
"Beliau menduduki berbagai jabatan penting, namun karakter beliau saat menjabat maupun setelahnya tetap sama seperti sebelum menjabat; kedudukan tidak mengubah pribadinya."
📚 Dikutip dari tulisan Dr. Muhammad Al-Quwaiz, Syaikh Bakr Abu Zaid, Surat Kabar Al-Riyadh, Edisi 14476, 4 Safar 1429 H.
Pujian ini merujuk pada ketawadukan dan keteguhan sikap beliau yang tidak terpengaruh oleh jabatan duniawi.
Dr. Abdul Rahman As-Sudais juga menggambarkan beliau sebagai:
"Pemilik karya tulis yang banyak, seorang peneliti yang tekun dan mendalam."
📚 Abdul Rahman As-Sudais, Biografi Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti, hlm. 215.
Ulama lain menggambarkan kitab Hilyah Talib al-'Ilm sebagai:
"Kitab yang sangat bernilai dan risalah yang bermanfaat."
📚 Komentar atas Hilyah Talib al-'Ilm, Majelis Pertama.
Syaikh 'Abdul Karim Al-Khudair juga memuji proyek ilmiah yang berada di bawah pengawasan Syaikh Bakr Abu Zaid dengan sebutan:
"Sangat rapi dan akurat."
📚 Abdul Karim Al-Khudair, Al-Hadith Al-Tahlili, Pelajaran 1.
Karya-Karya Populer
Beberapa kitab karya beliau yang paling tersohor antara lain:
- Hilyah Talib al-'Ilm
- Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah
- Fiqh An-Nawazil
- At-Ta'alum
- Tasniif an-Naas baina adh-Dhann wa al-Yaqin
- Hirasat al-Fadilah
- Adab al-Hatif
- Tasmiyat al-Maulud
- Tabaqat An-Nassabin
- Al-Madkhal Al-Mufassal ila Mazhab Al-Imam Ahmad
- At-Taqrib li 'Ulum Ibn al-Qayyim
- Ibn al-Qayyim: Hayatuhu, Aatsaruhu, Mawariduhu
- La Jadida fi Ahkam as-Salah
- At-Ta'sil li Usul at-Takhrij wa Qawa'id al-Jarh wa at-Ta'dil
Serta berbagai risalah dan hasil penelitian ilmiah lainnya.
Wafat Beliau
Di akhir hayatnya, beliau menderita sakit parah yang cukup lama hingga akhirnya wafat pada tahun:
- 1429 H / 2008 M
Beliau meninggal setelah menempuh perjalanan hidup yang penuh dengan pengabdian di bidang ilmu, peradilan, fatwa, penulisan buku, dan pengajaran.
📚 Ensiklopedia Sejarah Dorar Arya, Peristiwa Tahun 1429 H, Wafatnya Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid.
Rangkuman Biografi
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah adalah seorang ulama dan peneliti mendalam pada zamannya yang memadukan keahlian dalam bidang fikih, ushul fikih, isu-isu kontemporer, bahasa, silsilah, serta adab penuntut ilmu.
Beliau menimba ilmu dari para ulama besar, terutama:
- Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz
- Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti
Beliau mendampingi Asy-Syanqiti selama sepuluh tahun untuk mempelajari tafsir, ushul fikih, dan silsilah, sebelum akhirnya menjabat posisi penting di lembaga peradilan dan fatwa. Karya-karya beliau seperti Hilyah Talib al-'Ilm, Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah, Fiqh An-Nawazil, dan At-Ta'alum terus menjadi rujukan ilmiah yang berharga.
Semoga Allah merahmati Al-'Allamah Bakr Abu Zaid dengan rahmat yang luas, mengampuninya, dan membalas seluruh kebaikannya untuk ilmu dan umat.
orang-orang akan memandangnya remeh
maka tipu daya penyihir tidak akan bermudarat baginya. Dan tidaklah ayat ini ditulis untuk orang yang terkena sihir, melainkan Allah akan menghilangkan sihir itu darinya."
Sebagian ulama salaf berkata:
"Barang siapa berbaring di tempat tidurnya pada malam hari kemudian membaca ayat ini:
(Mā ji'tum bihi as-siḥru innallāha sayubṭiluh, innallāha lā yuṣliḥu 'amalal-mufsidīn) 'Apa yang kamu lakukan itu adalah sihir, sesungguhnya Allah akan membatalkannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan' [QS. Yunus: 81],
maka tipu daya penyihir tidak akan bermudarat baginya. Dan tidaklah ayat ini ditulis untuk orang yang terkena sihir, melainkan Allah akan menghilangkan sihir itu darinya."
(Tafsir al-Qurthubi 8/368)
Keindahan Wanita Arab
Keindahan Wanita Arab
Di salah satu majelis Raja Kisra, Abarwiz berbicara tentang keindahan wanita Arab. Di majelis itu hadir seorang pria Arab bernama Zaid bin Adi yang menyimpan dendam lama, sebab Raja An-Nu'man bin al-Mundzir pernah mengkhianati dan membunuh ayahnya, Adi bin Zaid, secara zalim.
Zaid memanfaatkan kesempatan itu dan berkata kepada Kisra: "Wahai Raja, An-Nu'man memiliki lebih dari 20 wanita—terdiri dari putri-putri, saudara-saudara perempuan, dan sepupu-sepupunya—yang semuanya merupakan wanita Arab dengan paras paling mempesona."
Perkataan ini membangkitkan keserakahan Kisra, sehingga ia mengutus utusan kepada An-Nu'man untuk meminta salah satu putrinya dijadikan selir. Namun, An-Nu'man menolaknya dengan keras; ia lebih memilih mati daripada menyerahkan seorang wanita Arab merdeka kepada raja asing (a'jam)!
Kisra pun murka dan memanggilnya ke istana. An-Nu'man yang menyadari bahwa ajalnya telah dekat, menitipkan putrinya kepada Hani bin Mas'ud asy-Syaibani, pemimpin suku Bani Syaiban, sebelum berangkat menghadap Kisra hingga akhirnya ia dihukum mati.
Setelah itu, Kisra mengirim utusan kepada Hani untuk menuntut penyerahan gadis tersebut. Namun, Hani menolak mentah-mentah dan mengucapkan kalimatnya yang abadi: "Harga diri kami menolaknya, dan cemburu pembelaan kami mencegah kami untuk menyerahkan wanita Arab merdeka kepada bangsa asing!"
Kemurkaan Kisra semakin memuncak, lalu ia memerintahkan pengiriman pasukan besar di bawah pimpinan al-Hamarz at-Tustari, sang Marzban Agung, untuk menundukkan orang-orang Arab dan merebut gadis itu.
Di sinilah momen penentu terjadi.
Suku-suku Arab berkumpul dari segala penjuru: Bakr, Rabi'ah, 'Abs, Dzubyan, Ghatafan, Hawazin, dan Tamim. Mereka melupakan perselisihan lama demi disatukan oleh kehormatan dan rasa cemburu membela harga diri. Di antara para ksatria yang menyambut panggilan martabat ini adalah: 'Urwah bin al-Ward, Sakhr bin 'Amr, Duraid bin ash-Shimmah, 'Amr bin Wudd, serta para pemberani Arab lainnya.
Bertempurlah mereka dalam perang dahsyat di tanah Dzi Qar, salah satu pertempuran paling sengit dalam sejarah Arab sebelum Islam. Meskipun bangsa Persia unggul dalam jumlah dan persenjataan, orang-orang Arab bertempur dengan keberanian langka dan keteguhan hati, hingga pertempuran berakhir dengan kemenangan mutlak di pihak Arab serta terbunuhnya panglima Persia, al-Hamarz at-Tustari.
Dzi Qar menjadi kemenangan pertama bangsa Arab atas Persia, yang meletus bukan karena tamak akan harta rampasan perang atau wilayah, melainkan demi membela kehormatan seorang wanita Arab yang membangkitkan jiwa ksatria di dada para pria.
Di Dzi Qar, darah menetes dan panji-panji berkibar demi sebuah martabat.
(Sumber: Tarikh at-Thabari / Al-Kamil fi at-Tarikh karya Ibn al-Atsir)