Kamis, 14 Mei 2026

Baju-baju bekas digunakan sebagai lap untuk membersihkan rumah hukumnya boleh saja. Tidak ada masalah sama sekali

Syaikh Dr. Aziz Farhan al-Anazi:
Baju-baju bekas digunakan sebagai lap untuk membersihkan rumah hukumnya boleh saja. Tidak ada masalah sama sekali. Adapun orang yang mengatakan bahwa perbuatan seperti itu tidak diperbolehkan, ini adalah khurafat*). Bahkan sebaliknya, perbuatan demikian termasuk sikap hemat yang terpuji. Yaitu daripada baju-baju tersebut dibuang ke tempat sampah, lebih baik digunakan untuk lap. Yang lebih utama lagi, jika anda mengetahui ada wanita yang miskin yang membutuhkan pakaian, maka sedekahkan kepada mereka. 

Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=bctRR7rbbjw 

*) sebagian orang berkeyakinan bahwa jika baju bekas digunakan untuk lap maka nanti akan menimbulkan penyakit pada badan pemilik baju tersebut.

Silakan share ...
Ustadz yulian purnama 

عشر وصايا وتوجيهات في الشدائد والملمات

من جديد الكتب:

📙 «عشر وصايا وتوجيهات في الشدائد والملمات»

🌐 رابط للتحميل:
https://al-badr.net/ebook/210
🌐 رابط آخر للتحميل:
https://al-badr.net/download/ebook/10-wasoya-wataujihat-fish-shadaid-walmulimat.pdf

cerita bisa mengajar di Masjid Nabawi

Cerita Pagi Ini Bersama Ustadz Dr. Abdullah Roy, MA. حفظه الله 

Saat sesi jamuan pasca kajian muslimah kami ngobrol bareng Ustadz Abdullah Roy dan Ustadz Afifi.

Pendamping " Afwan Ustadz, kalau boleh tahu, bagaimana ceritanya dulu antum bisa mengajar di Masjid Nabawi ?

UAR " Oh .. jadi begini Ustadz ( sambil memandang ke Ustadz Afifi), Syaikh 'Abdurrahman As Sudais ( Syaikh Sudais) punya ide bagaimana kalau di Masjid Nabawi ada kajian dengan menggunakan bahasa selain bahasa arab. Ide ini pun kemudian direalisasikan"

Sambil duduk santai, UAR kemudian melanjutkan ceritanya " Kemudian Syaikh Sudais menyampaikan gagasan ini ke Syaikh 'Abdurrazaq bin Abdul Muhsin. Pada saat gagasan ini muncul, kebetulan Ustadz Firanda, saya dan Ustadz Anas Burhanudin sedang ditugasi menterjemahkan kajian Syaikh 'Aburrazaq di Radio Rodja. Karena sebab inilah, akhirnya Syaikh 'Abdurrazaq menunjuk Ustadz Firanda, saya dan Ustadz Anas sebagai pengajar di Masjid Nabawi . Alhamdulillah mungkin ini rezeki saya".

Pendamping " Berapa lama antum ngajar di Masjid Nabawi ?

UAR " Kurang lebih 4 tahun ".
https://www.facebook.com/share/1Ju4QUzLpW/

Rabu, 13 Mei 2026

Syaikh Dr. Sulaiman Ar-Ruhayli menjelaskan konsep at-taghaful (sikap pura-pura tidak tahu atau mengabaikan kesalahan kecil) dalam kehidupan berumah tangga.​Berikut adalah terjemahan poin-poin penting dari penjelasan beliau:

Syaikh Dr. Sulaiman Ar-Ruhayli menjelaskan konsep at-taghaful (sikap pura-pura tidak tahu atau mengabaikan kesalahan kecil) dalam kehidupan berumah tangga.

​Berikut adalah terjemahan poin-poin penting dari penjelasan beliau:

​1. Definisi dan Batasan At-Taghaful

  • Tiada Batasan dalam Kebaikan: Seseorang yang menanyakan "apa batasan dalam mengabaikan kesalahan istri" sebenarnya belum benar-benar ingin mempraktikkan sikap tersebut. At-Taghaful seharusnya tidak memiliki batasan dalam kehidupan sehari-hari, kecuali dalam tiga hal:
    • Kemungkaran: Jika terjadi pelanggaran syariat.
    • Meninggalkan Kewajiban: Jika kewajiban agama atau rumah tangga diabaikan.
    • Hal yang Membahayakan: Jika perbuatan tersebut membahayakan diri atau keluarga.

​2. Esensi Kehidupan

  • ​Para pendahulu (Salaf) mengatakan bahwa sembilan persepuluh (90%) akhlak yang baik ada pada sikap at-taghaful.
  • ​Jika seseorang tidak menerapkan sikap ini dalam berinteraksi dengan orang lain (terutama pasangan), maka hidupnya akan terasa sempit, menderita, dan ia pun akan menyengsarakan orang lain.

​3. Strategi dalam Menegur (Kisah Garam)

​Syaikh menceritakan sebuah kisah tentang seorang suami yang istrinya sering lupa memasukkan garam ke dalam masakan.

  • Sikap Suami: Ia tidak langsung memarahi istrinya di depan meja makan. Ia memilih untuk bersabar dan "pura-pura tidak tahu" saat itu agar tidak merusak suasana.
  • Cara Menegur yang Cerdas: Suatu ketika, sang suami bercerita kepada istrinya tentang "seorang teman" yang mengeluh karena istrinya tidak pernah menaruh garam di makanan. Si suami kemudian berkata (seolah menasihati temannya), "Semoga Allah membantumu dan memberimu istri yang baik, yang mengerti apa yang kamu sukai."
  • Hasilnya: Sang istri langsung paham pesan tersirat tersebut tanpa merasa dipojokkan, dan kemudian memperbaiki masakannya.
  • https://www.facebook.com/share/v/1CPWfcDZjR/

Tidak ada satupun ulama di zaman dulu yg berpendapat bolehnya menyembelih sekaligus membagikan Hadyu di luar tanah suci Makkah

asy syaikh al albani rahimahullah

Syaikh berkata:
“Kami menolak untuk tetap menisbatkan diri kepada apa yang dahulu kami nisbatkan diri kepadanya. Sebagaimana yang kalian ketahui, saya adalah orang Albania.”

Penanya berkata:
“Semoga Allah menjaga Anda.”

Syaikh kemudian berkisah:

“Orang-orang Albania mayoritas bermazhab Hanafi. Jadi bisa dimaklumi kalau mereka tidak mengenal Islam kecuali dari sudut pandang mazhab Hanafi. Ayahku, kakekku, hingga leluhur terakhir yang kami ketahui, semuanya adalah penganut mazhab Hanafi. Dan aku menuntut ilmu di atas dasar itu dari ayahku.

Ayahku rahimahullah, semoga Allah mengampuni kami dan beliau, adalah seorang ulama dalam mazhab Hanafi, dan beliau memiliki jasa besar kepadaku. Bahkan ada dua keutamaan khusus yang beliau miliki, selain keutamaan yang dimiliki setiap ayah terhadap anaknya. Kalian tentu mengetahui sabda Nabi ‘alaihis shalatu was salam: 

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ
‘Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.’ 

Maka setiap ayah memiliki jasa terhadap setiap anaknya. Adapun ayahku, beliau memiliki dua keutamaan yang membuatnya berbeda dari kebanyakan ayah lainnya.

Keutamaan pertama adalah bahwa beliau berhijrah bersama keluarganya, anak-anaknya yang salah satunya yaitu aku, dari Albania menuju Damaskus, negeri Syam. Hijrah itu menjadi sebab pertama keselamatan kami dari kebodohan, kalau tidak dikatakan dari kehidupan tanpa agama,  yang meliputi orang-orang Albania ketika itu setelah hijrahnya ayahku rahimahullah. Dengan hijrah tersebut, beliau menyelamatkan kami dari musibah itu. Ini yang pertama.

Kemudian yang kedua, hijrah itu juga menjadi sebab aku mempelajari bahasa Arab, sehingga ketika membaca Al-Qur’an aku dapat memahaminya, dan ketika membaca hadits Rasulullah aku juga dapat memahaminya. Hijrah ini beserta segala dampak yang lahir darinya merupakan karunia besar dari Allah sebelum segala sesuatu, kemudian melalui ayahku sebagai sebabnya.

Adapun keutamaan kedua adalah ketika aku lulus dari sekolah dasar, ayahku adalah seorang yang miskin dan memiliki banyak tanggungan keluarga. Karena itu kami terpaksa tidak melanjutkan pendidikan, khususnya pendidikan formal pemerintah. Maka mau tidak mau aku harus memiliki suatu pekerjaan.

Pekerjaan pertamaku adalah menjadi tukang kayu, yaitu pertukangan kayu model Arab. Aku bekerja dalam bidang itu selama dua atau tiga tahun. Pada masa itu, di Damaskus sering turun hujan dan salju sehingga kami beberapa kali tidak dapat bekerja.

Suatu hari ayahku berkata kepadaku:
‘Bagaimana menurutmu wahai anakku? Menurutku pekerjaan ini bukan pekerjaan yang baik untukmu. Bagaimana kalau engkau bekerja bersamaku sebagai tukang jam?’

Aku menjawab sebagaimana biasanya:
‘Terserah ayah saja.’

Maka aku pun bekerja bersama beliau. Aku mempelajari profesi itu hingga menjadi mahir di dalamnya, dan pekerjaan itu memberiku kesempatan serta waktu untuk menuntut ilmu.

Sampai di sini saja agar tidak terlalu panjang. Jadi, ayahku rahimahullah memiliki jasa besar kepada kami karena telah menyelamatkan kami dari negeri kufur dan membawa kami ke negeri Islam.

Tujuanku menyampaikan kisah ini adalah untuk menjelaskan bahwa dakwah yang pertama kali aku tumbuh di atasnya adalah mazhab ayahku, yaitu mazhab Abu Hanifah. Namun ketika aku mulai memahami dan mendapatkan cahaya dari Al-Qur’an dan Sunnah, aku menolak untuk tetap fanatik kepada mazhab tersebut, menolak untuk hanya mengikutinya dan loyal sepenuhnya kepadanya.

Karena itu aku berpaling dari sikap fanatik terhadap mazhab dalam mengikuti agama, menuju ittiba’ kepada Nabi kita Muhammad ‘alaihis shalatu was salam. Dan semakin waktu berlalu, aku semakin yakin bahwa sebagaimana seorang muslim wajib mentauhidkan Allah dalam ibadahnya, maka ia juga wajib mengesakan Rasulnya dalam ittiba’, yaitu menjadikan beliau satu-satunya panutan dalam mengikuti ajarannya.”
https://www.al-albany.com/audios/content/2810/%D8%AB%D9%86%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%84%D8%A8%D8%A7%D9%86%D9%8A-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D8%A3%D8%A8%D9%8A%D9%87?fbclid=IwdGRjcARyOdVjbGNrBHI5z2V4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHhxN7CqxDOAuqVQVTIhJ3aBvv4u9TvLyYKE0k8E7nie2MxfiYjTfFgchVrGV_aem_vscF3mem9ona7IMStdIzvA

Mengapa puasa Arafah menghapus dosa dua tahun?

Mengapa puasa Arafah menghapus dosa dua tahun?

Para ulama menjelaskan bahwa penghapusan dosa dua tahun pada puasa Arafah memiliki beberapa hikmah, di antaranya:

1. Karena Arafah adalah hari istimewa bagi umat Nabi Muhammad ﷺ

Hari Arafah merupakan hari yang Allah muliakan untuk umat Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan hari ‘Asyura adalah hari yang dimuliakan untuk umat Nabi Musa ﷺ.

Karena Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi paling mulia dan umat beliau adalah umat terbaik, maka keutamaan hari Arafah pun lebih besar, sehingga dosanya dihapus selama dua tahun.

2. Karena Arafah berada diantara bulan yang mulia

Hari Arafah berada di bulan Dzulhijjah, yang termasuk bulan haram, bahkan diapit oleh dua bulan haram.Karena kemuliaan waktu ini, Allah menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.

3. Karena kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ

Karena Nabi kita ﷺ adalah nabi paling agung, maka amal yang berkaitan dengan beliau pun diberi keutamaan yang lebih besar.
Inilah sebab puasa Arafah diberi pahala yang lebih tinggi.

4. Karena Allah memberi keistimewaan khusus kepada umat ini

Umat Nabi Muhammad ﷺ diberi pahala besar, meskipun amal mereka tidak selalu lebih banyak dari umat-umat sebelumnya.

Sebagai bentuk kasih sayang Allah, umat ini diberi keutamaan khusus, salah satunya puasa Arafah yang menghapus dosa dua tahun, sebagai ganti dari keutamaan yang dimiliki umat terdahulu.
Ustadz didik suyadi