Ada mata yang terang, tetapi gagal melihat penderitaan manusia. Ada pula mata yang telah kehilangan cahayanya, namun hatinya memandang jauh menembus apa yang tak sanggup ditangkap oleh penglihatan.
Demikianlah yang kita saksikan pada diri Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
Selama tinggal di Madinah, rumah beliau nyaris tak pernah sepi dari tamu. Meja makannya terbuka setiap hari. Para penuntut ilmu, tokoh masyarakat, orang-orang biasa, hingga kaum fakir duduk bersama menikmati rezeki yang Allah hamparkan.
Di rumah itu, kemuliaan seseorang tidak diukur dari pakaian yang dikenakan atau kedudukan yang disandang, melainkan dari keimanannya kepada Allah.
Suatu hari datang seorang lelaki miskin dengan pakaian yang lusuh dan sederhana. Ia dipersilakan duduk di samping Syaikh Bin Baz, lalu makan bersama beliau dari nampan yang sama.
Namun, seorang pelayan merasa pemandangan itu kurang pantas. Dalam pandangannya, lelaki miskin itu tidak layak duduk di sisi seorang ulama besar. Maka dengan halus ia memindahkan lelaki itu ke tempat lain. Semua berlangsung begitu cepat hingga Syaikh Bin Baz tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Usai makan siang, ketika waktu Asar tiba, Syaikh Bin Baz berangkat menuju Masjid Nabawi. Di dalam mobil bersama beliau ada sopir dan beberapa orang dekat, di antaranya Syaikh Ibrahim Al-Hushain.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba beliau bertanya,
"Apakah tadi saat makan siang terjadi sesuatu?"
Syaikh Ibrahim menjawab dengan heran,
"Tidak, wahai Syaikh. Saya tidak melihat sesuatu."
Beliau kemudian mengulangi pertanyaan itu kepada sopir.
Sang sopir berkata,
"Tidak ada sesuatu yang besar, wahai Syaikh. Hanya saja, salah seorang pelayan memindahkan seorang lelaki miskin dari tempat duduk di samping Anda ke tempat lain."
Mendengar jawaban itu, wajah Syaikh Bin Baz berubah. Kesedihan memenuhi hatinya. Padahal, beliau dikenal sebagai sosok yang amat penyabar dan hampir tak pernah marah karena urusan dirinya sendiri.
Dengan suara yang bergetar dan kedua mata yang tak lagi melihat dunia namun basah oleh air mata, beliau berkata,
"Apakah rumah ini miliknya? Mengapa orang miskin itu dipindahkan?"
Hari itu hati beliau tidak tenang. Beliau memerintahkan agar lelaki miskin tersebut segera dicari. Bukan untuk diberi harta, tetapi untuk dimintai maaf dan diobati luka yang mungkin telah tergores di dalam hatinya. Para pelayan pun beliau tegur dengan keras agar jangan sekali-kali membeda-bedakan orang kaya dan orang miskin di meja makan. Sebab, rezeki itu milik Allah, dan rumah itu hanyalah titipan dari-Nya.
๐๐ถ๐ธ๐บ๐ฎ๐ต
๐ญ. ๐๐ฒ๐บ๐๐น๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฒ๐๐ฎ๐ธ ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ.
Allah tidak meninggikan seseorang karena kemewahan yang dikenakannya, tetapi karena ketakwaan yang bersemayam di dalam dadanya. Seorang fakir tetap memiliki kemuliaan yang sama sebagai hamba Allah.
๐ฎ. ๐ ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฏ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐ฏ๐๐๐ฎ, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ต๐ฎ๐๐ถ ๐ท๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฐ๐ฎ๐ต๐ฎ๐๐ฎ.
Syaikh Bin Baz tidak lagi melihat dengan kedua matanya. Namun Allah menggantinya dengan hati yang begitu peka. Ketika orang lain melihat tidak terjadi apa-apa, beliau justru merasakan ada hati yang telah terluka.
๐ฏ. ๐๐๐ธ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฒ๐๐ฎ๐ฟ ๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ป๐ด ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐บ๐ถ๐๐ธ๐ถ๐ป๐ฎ๐ป, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ต๐ธ๐ฎ๐ป.
Barangkali memindahkan tempat duduk tampak sebagai perkara kecil. Namun bagi hati seorang fakir, perlakuan semacam itu dapat menjadi luka yang sulit sembuh.
๐ฐ. ๐ฃ๐ฒ๐บ๐ถ๐บ๐ฝ๐ถ๐ป ๐๐ฒ๐ท๐ฎ๐๐ถ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ต๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ด๐ฎ ๐ต๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ท๐๐ด๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ด๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ.
Karena itulah Syaikh Bin Baz tidak merasa cukup dengan menegur pelayan. Beliau ingin mencari lelaki miskin itu, meminta maaf kepadanya, dan mengembalikan kehormatan yang sempat terusik.
๐. ๐๐ฌ๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐๐ฃ๐๐ซ๐ค๐๐ง ๐ฉ๐๐ซ๐ฌ๐๐ฆ๐๐๐ง ๐๐ข ๐ก๐๐๐๐ฉ๐๐ง ๐๐ฅ๐ฅ๐๐ก.
Rasulullah ๏ทบ bersabda,
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
Betapa banyak manusia yang matanya terbuka, tetapi hatinya tertutup. Ia melihat wajah, namun tidak melihat air mata yang tersembunyi. Ia melihat pakaian, tetapi gagal melihat kemuliaan seorang hamba.
Sebaliknya, Syaikh Bin Baz kehilangan cahaya penglihatannya, namun Allah memenuhi hatinya dengan cahaya iman. Dari kisah ini kita belajar, bahwa kebutaan yang paling menakutkan bukanlah ketika mata tak lagi mampu memandang, melainkan ketika hati tak lagi mampu merasakan luka sesama.
____
• Diterjemahkan dan digubah dari tulisan Syaikh Muhammad Abdul Latif, admin akun fage al-Imam Nashiruddin al-Albaniy
• Yani Fahriansyah