Rabu, 12 Agustus 2026

Ilmu adalah Obat Tatkala Terjadi Fitnah

Ilmu adalah Obat Tatkala Terjadi Fitnah

“Fitnah itu muncul karena adanya kesamaran, sedangkan kesamaran tersebut dapat dihilangkan dengan ilmu. 

Maksudnya, seseorang akan mampu membedakan suatu fitnah dari perkara lainnya dengan ilmu. 

Karena apabila perkara fitnah itu masih samar baginya, ia tidak akan aman dari kemungkinan terjerumus ke dalamnya.”

(Faedah dari Syaikh Abdul Malik Ramadhani dalam pembahasan kitab “Tamyiz Dzawi al-Fithan hal 43”, di Mahad Abu Dzar Al-Ghifari, Lombok Barat NTB)

*Fitnah di sini maksudnya adalah musibah, ujian, kekacauan, atau keadaan yang membuat kebenaran menjadi samar dan tidak jelas.

Selasa, 11 Agustus 2026

Kapasitas pikiran kita terbatas.

Dalam psikologi disebut

cognitive load.

Kapasitas pikiran kita terbatas.

Saat terlalu banyak beban memenuhi kepala, ruang untuk fokus, menghafal, dan berpikir mendalam ikut menyempit.

semuanya akan berakhir

“Seberat dan sepanjang apa pun ujian yang kita hadapi, yakinlah bahwa berbagai kesulitan, rasa sakit, dan keburukan di dunia ini akan hilang, tidak ada yang kekal dan semuanya pasti akan berakhir.”

(Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam ash-Shawaiq al-Mursalah, 268)
ustadz muadz mukhadasin 

tidak ada yg sesuatu yg menggembirakan dalam tiga perkara

Ustadz ali sutan 

FAKHRUDDIN PASHA DI MATA PENDUDUK MADINAH

FAKHRUDDIN PASHA DI MATA PENDUDUK MADINAH 

-------

Fakhruddin Pasha kerap kali diglorifikasi sebagai Medine Mudafi, “The Defender of Madina” (Pahlawan yang Mempertahankan Madinah) dan dengan berbagai gelar kepahlawanan lainnya.

Perannya sangat penting bagi Turki Utsmani dalam mempertahankan Kota Madinah dari serangan Syarif Husein yang saat itu memang sudah memproklamirkan pemisahan dirinya dari Kekhilafahan Turki Utsmani.

FYI, Syarif Husein dan pasukannya ini muslim ya. Bahkan anak keturunan Rasulullah. Jadi yang menyerang posisi Fakhruddin itu juga muslim, bukan kafir seperti yang ditulis di salah satu foto Fakhruddin Pasha.

Baik...  bagaimana pendapat penduduk Madinah sendiri terhadap sosok ini?

Ahmad Amin Shalih Mursyid telah menghimpun berbagai kesaksian, dokumen, dan rekaman dari keluarga-keluarga Madinah mengenai  masa pengepungan Madinah di era Fakhruddin dalam Thaybah wa Dzikrayat Al Ahibbah (طيبة وذكريات الأحبة) kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia: At Taiba (Madinah) Kenangan dari Orang-orang Tercinta. 

Kesaksian-kesaksian tersebut menggambarkan sisi yang gelap dan pahit.

Saat itu kelaparan melanda penduduk Madinah. Dalam kutipan Mursyid disebutkan bahwa kelaparan bahkan membuat sebagian penduduk Madinah dan sekitarnya memakan kucing. 

Kucing jadi hewan yang langka karena bila ditemukan, pasti disembelih dan dijadikan makanan, meskipun kita semua tahu hukumnya haram.

Disebutkan dalam sebuah kesaksian (halaman 183)

"Seorang laki-laki dari Takarna (Afrika) berhasil menangkap seekor kucing, sesuatu yang pada waktu itu sangat jarang terjadi. Harga seekor kucing pada masa itu setara dengan harga seekor domba. Ia kemudian dihentikan oleh dua orang penduduk Madinah yang membeli kucing tersebut seharga tiga junaih, lalu membawanya kepada seorang tukang jagal Turki yang berada di Jembatan al-Mudarraj.

Ketika ditanya berapa biaya untuk menyembelihnya, tukang jagal tersebut menjawab bahwa ia bersedia menyembelih dan menguliti kucing itu dengan syarat ia diperbolehkan ikut memakannya. Mereka menyetujuinya. Kucing tersebut kemudian disembelih, lalu mereka memakannya bersama-sama.

Yang lebih menyakitkan, menurut kesaksian tersebut, gudang-gudang militer sebenarnya dipenuhi persediaan makanan, persediaan itu diperuntukkan bagi tentara Turki, penduduk Madinah tidak diperbolehkan mengambil bahkan kurma atau gandum dari gudang tersebut.

Dalam kondisi kelangkaan itu, makanan menjadi barang yang sangat mahal dan sulit diperoleh oleh masyarakat.

Asy Syakh Mahdi al-Jarrah rahimahullah menceritakan pada saat itu para tentara Turki membuang seekor kuda mati milik salah seorang komandan Turki di kawasan Masjid Sab’ah (dekat lokasi Perang Khondaq).

Syaikh Mahdi al-Jarrah bersama beberapa orang lainnya kemudian membawa sebuah pisau dan pergi ke tempat tersebut untuk memotong-motong daging kuda yang telah mati itu agar dapat mereka makan dan menghilangkan rasa lapar. 

Namun ketika mereka tiba di sana, “pertempuran” mereka justru terjadi dengan anjing-anjing liar. Kawasan tersebut benar-benar sepi, kecuali Syaikh Mahdi dan kawan-kawannya. Anjing-anjing itu berusaha mengusir mereka dengan gonggongan keras dan menerjang ke arah mereka. Dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil memotong sepotong daging kuda tersebut. (halaman 323)

Belum lagi pemindahan penduduk Madinah secara paksa dari kampung halaman mereka sendiri. 

Mursyid bahkan menyusun kesaksian dan daftar keluarga yang mengalami pemindahan paksa, pemindahan sukarela, maupun yang tetap tinggal di Madinah.

Tragedi tersebut juga menyebabkan banyak keluarga tercerai-berai. Suami terpisah dari istri, orang tua dari anak, dan sebagian keluarga akhirnya menetap jauh dari Madinah setelah dipindahkan melalui jalur kereta Hijaz.

Tentu, dari sudut pandang Turki, ada seribu satu alasan untuk menjelaskan dan membenarkan kebijakan tersebut. Mereka bisa saja beralasan bahwa Madinah sedang dalam pengepungan, perang sedang berlangsung, pasokan makanan terbatas, dan kekuatan para tentara harus diprioritaskan.

Tetapi penduduk Madinah juga manusia. Mereka adalah kaum Muslimin yang hidup di kota Nabi shallallahu alaihi wasallam. Penderitaan mereka tidak semestinya dihapus dari sejarah hanya untuk mengglorifikasi seorang Fakhruddin Pasha.

Wira Mandiri Bachrun, pengajar Sejarah Islam di ANB Channel.

takhrij hadis mengusap wajah ketika selesai berdoa. Dan kesimpulannya, semua hadis doifnya parah.

Tengah persiapan nyidang skripsi takhrij hadis mengusap wajah ketika selesai berdoa. Dan kesimpulannya, semua hadis doifnya parah. 

Tapi praktik ini, telah ada dari sebagian salaf, seperti yang disebutkan oleh Abdur Razzaq dalam Musannafnya.
Ustadz muhammad kurnaini
https://www.facebook.com/share/19SKHJEP3V/

Senin, 10 Agustus 2026

Ada sebuah ungkapan indah yang terdapat dalam kitab ihya imam Ghozali:

Ada sebuah ungkapan indah yang terdapat dalam kitab ihya imam Ghozali: 

وقيل لبعض الحكماء أي الأشياء تقتنى قال الأشياء التي إذا غرقت سفينتك سبحت معك يعني العلم
Pernah ditanyakan kepada sebagian hukama tentang sesuatu apa yang paling layak untuk di dimiliki?

Ia menjawab: Sesuatu yang apabila kapalmu tenggelam, ia tetap berenang bersamamu. Maksudnya adalah ilmu.

Kemudian dijelaskan:
وقيل أراد بغرق السفينة هلاك بدنه بالموت
Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan tenggelamnya kapal adalah hancurnya tubuh seseorang karena kematian.

Alangkah indahnya perumpamaan ini.. Kapal yang tenggelam menggambarkan kehidupan dunia yang berakhir.

Maka jangan hanya berpikir:
Berapa banyak harta yang berhasil saya kumpulkan?

Tetapi tanyakan juga:
Berapa banyak ilmu yang saya pelajari, amalkan, dan ajarkan?

Wallohu a'lam semoga bermanfaat 
Oleh: Irwan Saleh 
📚 Ihya Ulumiddin juz 1