Wahai penuntut ilmu, ustadz, dan ulama, bekerjalah dan memiliki kecukupan harta agar engkau tidak terhina
Dalam sebuah nasehat yang panjang, Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mewasiatkan kepada para penuntut ilmu agar mereka bekerja dan memiliki penghasilan sendiri tanpa minta-minta kepada orang lain
Beliau berkata dalam kitab Shaidul Khatir hal 175 - 176 :
ليس في الديا أنفع للعلماء من جمع المال للاستغناء عن الناس؛ فإنه إذا ضم إلى العلم، حيز الكمال.
Tidak ada di dunia ini sesuatu yang lebih bermanfaat bagi para ulama selain mengumpulkan harta agar tidak bergantung kepada orang lain. Karena jika harta itu digabungkan dengan ilmu, maka seseorang akan mencapai keadaan yang sempurna.
وإن جمهور العلماء شغلهم العلم عن الكسب، فاحتاجوا إلى ما لا بد منه، وقل الصبر، فدخلوا مداخل شانتهم، وإن تأولوا فيها، إلا أن غيرها كان أحسن لهم ! فالزهري مع عبد الملك، وأبو عبيد مع طاهر بن الحسين، وابن أبي الدنيا مؤدب المعتضد، وابن قتيبة صدر كتابه بمدح الوزير "ابن خاقان".
Mayoritas ulama disibukkan oleh ilmu sehingga mereka tidak sempat mencari penghasilan. Akibatnya, mereka tetap membutuhkan hal-hal yang tidak bisa ditinggalkan (kebutuhan hidup), sementara kesabaran itu sedikit (tidak semua kuat bersabar). Maka mereka pun masuk ke jalan-jalan yang memperburuk keadaan mereka (seperti mendekati orang kaya dan penguasa). Walaupun mereka memberikan alasan (pembenaran) atas hal itu, tetap saja selain itu sebenarnya lebih baik bagi mereka.
Seperti Al-Zuhri yang bersama Abdul Malik, Abu Ubayd al-Qasim ibn Sallam bersama Ṭahir bin al-Husain, Ibn Abi al-Dunya sebagai pendidik al-Mu‘taḍid, dan Ibn Qutaybah yang membuka kitabnya dengan memuji menteri Ibn Khaqan.
وما زال خلف من العلماء والزهاد يعيشون في ظل جماعة من المعروفين بالظلم، وهؤلاء وإن كانوا سلكوا طريقا من التأويل؛ فإنهم فقدوا من قلوبهم وكمال دينهم أكثر مما نالوا من الدنيا.
Dan terus-menerus akan ada generasi dari kalangan ulama dan orang-orang zuhud yang hidup di bawah naungan sekelompok orang yang dikenal dengan kezaliman. Mereka ini, walaupun memiliki alasan (kuat), tetap saja mereka kehilangan dari hati mereka dan kesempurnaan agama mereka lebih banyak daripada apa yang mereka dapatkan dari dunia.
وقد رأينا جماعة من المتصوفة والعلماء يغشون الولاة لأجل نيل ما في أيديهم، فمنهم من يداهن ويرائي، ومنهم من يمدح بما لا يجوز، ومنهم من يسكت عن منكرات إلى غير ذلك من المداهنات وسببها الفقر، فعلمنا أن كمال العز، وبعد الرياء، إنما يكون في البعد عن العمال الظلمة.
Kami juga telah melihat sekelompok dari para sufi dan ulama yang mendatangi para penguasa untuk mendapatkan apa yang ada di tangan mereka. Di antara mereka:
• ada yang bersikap menjilat dan berpura-pura,
• ada yang berbuat riya (ingin dilihat dan dipuji),
• ada yang memuji dengan sesuatu yang tidak boleh,
• ada yang diam terhadap kemungkaran,
• dan berbagai bentuk penjilatan lainnya.
Dan penyebab semua itu adalah kemiskinan. Maka kami mengetahui bahwa kesempurnaan kemuliaan dan menjauh dari riya hanya bisa dicapai dengan menjauh dari para pejabat yang zalim.
ولم نر من صح له هذا إلا في أحد رجلين:
أما من كان له مال كسعيد بن المسيب، كان يتجر في الزيت وغيره، وسفيان الثوري، كانت له بضائع، وابن المبارك.
وأما من كان شديد الصبر، قنوعًا بما رزق، وإن لم يكفه كبشر الحافي، وأحمد بن حنبل. ومتى لم يجد الإنسان كصبر هذين، ولا كمال أولئك؛ فالظاهر تقلبه في المحن والآفات، وربما تلف دينه.
Dan kami tidak melihat orang yang benar-benar selamat dalam hal ini kecuali pada dua jenis orang:
Pertama: orang yang memiliki harta, seperti Sa'id ibn al-Musayyib yang berdagang minyak dan lainnya, Sufyan at Tsauri yang memiliki barang dagangan, dan Abdullah ibn al-Mubarak.
Kedua: orang yang sangat sabar, merasa cukup dengan rezeki yang diberikan kepadanya, walaupun sebenarnya tidak mencukupi, seperti Bishr al-Hafi dan Ahmad ibn Hanbal.
Dan kapan saja seseorang tidak memiliki kesabaran seperti kedua orang ini, dan tidak pula memiliki kecukupan seperti kelompok pertama, maka yang terlihat adalah ia akan terombang-ambing dalam berbagai ujian dan musibah, bahkan bisa jadi agamanya akan rusak.
فعليك يا طالب العلم بالاجتهاد في جمع المال للغنى عن الناس؛ فإنه يجمع لك دينك!
Maka hendaklah engkau—wahai penuntut ilmu—bersungguh-sungguh dalam mengumpulkan harta agar tidak bergantung kepada manusia. Karena hal itu akan menjaga agamamu.
فما رأينا في الأغلب منافقا في التدين والتزهد والتخشع ولا آفة طرأت على عالم ، إلا بحب الدنيا، وغالب ذلك الفقر.
Kami tidak melihat—dalam kebanyakan kasus—orang yang bersikap munafik dalam agama, atau berpura-pura zuhud dan khusyuk, dan tidak pula kerusakan yang menimpa seorang ulama, kecuali disebabkan oleh cinta dunia. Dan kebanyakan dari itu berasal dari kemiskinan.
فإن كان من له مال يكفيه، ثم يطلب بتلك المخالطة الزيادة، فذلك معدود في أهل الشره، خارج عن حيز العلماء، نعوذ بالله من تلك الأحوال.
Jika ada orang yang sudah memiliki harta yang mencukupinya, tetapi tetap mencari tambahan dengan cara bergaul (mendekati penguasa), maka dia termasuk orang yang rakus (tamak), keluar dari golongan ulama. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan seperti itu"
-------------
Hal ini menunjukkan urgensi bagi seorang santri, ustadz, dan penuntut ilmu agar memiliki kebebasan finansial
Dengan bekerja dan memiliki penghasilan yang cukup sehingga dunia dan akhirat nya bisa tegak
Problem nya di antara orang-orang ada yang biasanya "sinis" terhadap seorang ustadz yang bekerja atau bahkan sampai kaya raya, dianggap nya sang ustadz tidak layak dan tidak berhak untuk kaya
Dianggap nya sang ustadz itu harus "anti dunia" dan tiap waktu harus belajar dan berdakwah
Ustadz lutfi setiawan