Rabu, 08 Juli 2026

"al-Qur'an sebagai bekal akhirat", maksudnya bukan sekadar membaca al-Quran dengan lisan.

"al-Qur'an sebagai bekal akhirat", maksudnya bukan sekadar membaca al-Quran dengan lisan.

Dalam ajaran Islam, bekal akhirat yang berkaitan dengan al-Quran merangkumi beberapa perkara:

Tilawah – membaca al-Quran dengan betul.
Tadabbur – memahami dan merenungi maknanya.
Beramal – mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Mengajar dan menyebarkannya kepada orang lain apabila berkemampuan.

Terdapat hadis yang menunjukkan kelebihan membaca al-Quran, seperti setiap huruf diberi ganjaran, dan al-Quran akan memberi syafaat kepada pembacanya. Namun, al-Quran juga mencela orang yang membacanya tanpa menghayati atau mengamalkan kandungannya.

Oleh itu, tilawah itu sendiri adalah satu ibadah dan merupakan bekal akhirat, tetapi ia bukan keseluruhan tujuan al-Quran. Bekal yang lebih sempurna ialah membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungannya.

Antara kandungan utama al-Quran yang merupakan bekal akhirat ialah:

Akidah al-Quran (العقيدة) – Keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhirat, qada' dan qadar, serta penolakan syirik.
Ibadah al-Quran (العبادات) – Hukum dan panduan berkaitan solat, zakat, puasa, haji, doa, zikir, dan ibadah-ibadah lain.
Muamalat al-Quran (المعاملات) – Hukum urusan sesama manusia seperti jual beli, hutang, amanah, sewaan, syarikat, dan kontrak.
Munakahat al-Quran (المناكحات) – Hukum perkahwinan, perceraian, nafkah, hak dan tanggungjawab suami isteri, serta kekeluargaan.
Jinayat al-Quran (الجنايات) – Hukum berkaitan jenayah, qisas, hudud, diyat, dan hukuman bagi kesalahan tertentu.
Adab dan Akhlak al-Quran (الآداب والأخلاق) – Pembentukan akhlak mulia seperti jujur, amanah, sabar, syukur, ihsan, berbakti kepada ibu bapa, serta larangan sifat sombong, hasad, fitnah dan dusta.
Qasas al-Quran (القصص) – Kisah para nabi, umat terdahulu, dan pengajaran daripada sejarah.
Wa'd wa Wa'id (الوعد والوعيد) – Janji pahala dan syurga bagi orang beriman serta ancaman azab bagi orang yang kufur dan derhaka.
Ahkam dan Tasyri' (الأحكام والتشريع) – Prinsip-prinsip hukum dan perundangan yang menjadi panduan kehidupan umat Islam.
Ustadz abid annuriyy

pangkal keburukan

Selasa, 07 Juli 2026

(Aqidah Imam Asy-Syafi'i sebagaimana yang beliau tuliskan dalam kitab-kitabnya atau diriwayatkan oleh murid-muridnya.)

Lagi ramai pembahasan tentang Syaikh Nu'man Al-Watr hafizahullahu, seorang ulama Salafy dari Yaman, yang membawakan tema "Pengantar Mazhab Syafi'i" dalam daurah di Kota Surakarta. Dulu saya pernah menghadiri juga daurah beliau di asrama haji jakarta timur, Karena penasaran degan beliau hafizahullahu ta'ala yang disebut-sebut juga bermazhab Syafi'i, betul atau tidak ana kurang mengenal lebih dalam juga.hehe
akhirnya saya mencari beberapa kitab karya beliau.
Di antara yang saya tepukan adalah kitab,
عقيدة الإمام الشافعي كما دونها في كتبه أو رواها عنه تلاميذه
(Aqidah Imam Asy-Syafi'i sebagaimana yang beliau tuliskan dalam kitab-kitabnya atau diriwayatkan oleh murid-muridnya.)
Saat membaca dan menelusuri isi kitab tersebut, saya menemukan satu faedah yang sangat menarik, yaitu tentang keyakinan Imam Asy-Syafi'i rahimahullah bahwa kaum mukminin akan melihat Allah ta'ala di akhirat, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil syar'i.
Bahkan, dalam riwayat yang dibawakan dari Ar-Rabi' bin Sulaiman, Imam Asy-Syafi'i menegaskan bahwa keyakinan tersebut merupakan bagian dari agama yang beliau yakini. Ketika ditanya, "Apakah engkau juga meyakini hal itu?" beliau menjawab:
"نعم، وبه أدين الله."
"Ya, dengan keyakinan itulah aku beragama kepada Allah."
Ar-Rabi' kemudian menegaskan:
"ولو لم يوقن محمد بن إدريس أنه يرى الله لما عبد الله عز وجل."
"Seandainya Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa ia akan melihat Allah, niscaya ia tidak akan beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla."
Semoga Allah merahmati Imam Asy-Syafi'i dan meneguhkan kita di atas akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Aamiin.
abu kisa

Akidah yang benar membentuk seorang muslim menjadi pribadi yang kokoh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Kekuatan itu bukan semata-mata terletak pada fisik, harta, atau kedudukan, melainkan pada keteguhan hati

Setelah menjalani perjalanan hidup lebih dari setengah abad, dengan berbagai persoalan yang datang dan pergi silih berganti, saya semakin memahami mengapa akidah mendapat tempat yang sangat mendasar dalam Islam, bahkan didahulukan sebelum yang lain.
Akidah yang benar membentuk seorang muslim menjadi pribadi yang kokoh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Kekuatan itu bukan semata-mata terletak pada fisik, harta, atau kedudukan, melainkan pada keteguhan hati. Saat musibah datang, ia tetap tenang, tidak kehilangan kendali, dan tetap yakin kepada Allah. Itulah kekuatan utama yang sesungguhnya.
Karena itu, seorang muslim perlu terus membaca Al-Qur’an berulang-ulang, mempelajari Sunnah, meneladani kehidupan Nabi ﷺ dan para salaf, serta mengkaji penjelasan para ulama tentang akidah dalam kitab-kitab mereka. Sebab iman dan keteguhan hati tidak tumbuh dari bacaan sekali lewat, tetapi dari pengulangan, perenungan, dan kesungguhan untuk terus kembali kepada petunjuk Allah Ta’ala.

Doktrin Penuh Kontradiksi

Doktrin Penuh Kontradiksi

Dalam Al-Jawab Ash-Shahih, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak mengkritik doktrin Inkarnasi Nasrani secara emosional, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih mematikan, konsistensi logika.

Beliau membiarkan doktrin itu berdiri di atas kakinya sendiri, lalu menunjukkan bahwa kaki-kaki itu justru saling menjegal. Salah satu contohnya adalah ketika beliau mengangkat peristiwa Nabi Musa di Bukit Sinai. Allah menampakkan firman-Nya melalui sebatang pohon hingga gunung hancur luluh dan Musa tersungkur tak sadarkan diri.

Namun, tak seorang pun yang berakal menyimpulkan bahwa Allah telah menjelma menjadi pohon atau bersemayam di dalamnya. Jika manifestasi firman Allah melalui pohon saja menghasilkan guncangan semacam itu, lalu bagaimana mungkin Dzat Allah dikatakan berada dalam rahim selama sembilan bulan, lahir sebagai bayi, menyusu, tidur, dan tumbuh seperti manusia biasa tanpa meninggalkan jejak keagungan yang bahkan mampu membuat sebutir pasir bergetar?

Kontradiksi berikutnya bahkan lebih menarik. Ketika hendak membuktikan Inkarnasi, mereka bersikeras bahwa lahut (aspek ketuhanan) dan nasut (aspek kemanusiaan) telah melebur menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Persatuan itu digambarkan begitu erat hingga nyaris mustahil dibedakan.

Namun anehnya, ketika tiba pada kisah penyaliban, persatuan yang sebelumnya begitu kokoh mendadak berubah selembut lilin yang meleleh di bawah matahari. Yang menderita hanyalah kemanusiaannya. Yang disalib hanyalah kemanusiaannya. Yang mati pun hanyalah kemanusiaannya. Adapun ketuhanannya tetap utuh, aman, dan tak tersentuh sedikit pun. Seolah-olah persatuan itu memiliki tombol hidup dan mati yang dapat diaktifkan sesuai kebutuhan argumentasi.

Jika ketuhanan dapat dipisahkan dari rasa sakit dan kematian, mengapa tidak dapat dipisahkan pula dari rahim, darah, tangisan bayi, dan kebutuhan untuk menyusu?

Membolehkan pemisahan pada satu keadaan sambil menolaknya pada keadaan lain bukanlah misteri teologis. Tapi lebih menyerupai pintu belakang yang dibuka diam-diam setiap kali doktrin itu terjebak oleh kesimpulan kontradiksi yang lahir dari premis-premisnya sendiri.

Puncaknya, Ibnu Taimiyah memberikan sebuah sindiran yang sederhana sekaligus menghancurkan. Jika rahim seorang wanita dianggap layak menjadi jalan lahir Tuhan karena kemuliaannya, maka lisan para nabi yang menyampaikan wahyu Allah tentu jauh lebih mulia daripada itu.

Mengapa tidak dikatakan saja bahwa Tuhan keluar melalui mulut para nabi?

Pertanyaan ini memang terdengar absurd. Namun justru di situlah letak hantamannya. Sebab ketika premis yang keliru diterima sejak awal, kesimpulan yang lebih absurd pun tidak lagi memiliki alasan untuk ditolak.

Dengan cara inilah Ibnu Taimiyah membongkar doktrin Inkarnasi, bukan dengan luapan emosi, tetapi dengan membiarkan kontradiksi-kontradiksinya tumbuh hingga menjadi bantahan bagi dirinya sendiri. Dan ketika sebuah doktrin telah berubah menjadi bantahan bagi dirinya sendiri, biasanya tidak diperlukan bantahan yang panjang; cukup sebuah pertanyaan sederhana yang dijawab dengan jujur.

Allahul musta'an
Ibn Nashrullah
https://www.facebook.com/share/1ERy4UB37u/

perkataan Imam Ahmad mengenai sebuah riwayat yang berbunyi, فَخُذْ دُكَّانًا ، تَكُونُ جَنَازَةً ، يَكُونُ مَرِيضٌ yang artinya, "Ambillah (bukalah) toko; (supaya jika) ada jenazah (kamu bisa melayat), atau ada orang sakit (kamu bisa menjenguk)."

Perkataan para pendahulu kita (generasi Salaf), termasuk Imam Ahmad, itu punya ciri khas yang unik banget: super ringkas, lugas, tapi sarat makna. Bagi orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka, ucapan itu bisa langsung dipahami tanpa ada keraguan. Tapi bagi kita yang hidup belakangan, sering kali kita butuh "bedah makna" ekstra supaya bisa menangkap esensi mendalam di baliknya.

​Salah satu contohnya adalah perkataan Imam Ahmad mengenai sebuah riwayat yang berbunyi,

 فَخُذْ دُكَّانًا ، تَكُونُ جَنَازَةً ، يَكُونُ مَرِيضٌ 

yang artinya, "Ambillah (bukalah) toko; (supaya jika) ada jenazah (kamu bisa melayat), atau ada orang sakit (kamu bisa menjenguk)."

Kalau dibaca sekilas, kesannya memang sederhana sekali, tapi maknanya ternyata sangat dalam terkait dengan etos kerja dan pengelolaan waktu ibadah.

​Maksud dari Imam Ahmad adalah jika kita bekerja berdagang atau memiliki usaha mandiri untuk diri sendiri, kita akan memiliki keleluasaan waktu yang longgar untuk menyalatkan atau mengiringi jenazah serta menjenguk orang sakit. Dengan kendali penuh atas waktu tersebut, kita jadi lebih mudah untuk mengamalkan berbagai macam amal saleh dan ketaatan yang dianjurkan. Sebaliknya, jika status kita adalah seorang pekerja atau karyawan yang digaji oleh orang lain, maka kita tidak memiliki kebebasan tersebut karena waktu kita sudah disewa dan terikat oleh kontrak kerja. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan tanggung jawab di tengah-tengah waktu kerja demi melakukan ibadah-ibadah sunah, sehingga kesempatan untuk meraih pahala-pahala tersebut menjadi terbatas.

​Catatan malam ini yang mengupas Kitab tentang Bekerja karya Imam Al-Khallal, yang diampu langsung oleh Ustadz  Yuana Ryan Tresna di Ma'had Khadimus Sunnah Bandung

 Barakallahu fiikum.

penuntut ilmu ibarat pohon