Senin, 24 Agustus 2026

دار المحدث للنشر والتوزيعقَاعِدَة عَظِيمَةفي الصراط المستقيم في الزهد والورةالشيخ الإسلام تقي الدين احمد ابن تيميةقريباًفي المكتباتقَاعِدَةُ عَظِيمَةفي الصراط المستقيم في الزهد والوردفي ترك الشهوات والمحرمات والاقتصاد في العبادةالشيخ الإسلام تقي الدين احمد ابن تيمية

𝗞𝗘𝗧𝗜𝗞𝗔 𝗔𝗟𝗟𝗔𝗛 𝗣𝗘𝗥𝗕𝗔𝗜𝗞𝗜 𝗣𝗔𝗦𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡𝗠𝗨

𝗞𝗘𝗧𝗜𝗞𝗔 𝗔𝗟𝗟𝗔𝗛 𝗣𝗘𝗥𝗕𝗔𝗜𝗞𝗜 𝗣𝗔𝗦𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡𝗠𝗨

Allah Ta‘ala berfirman:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“𝗠𝗮𝗸𝗮 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗯𝘂𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗼𝗮𝗻𝘆𝗮, 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗮𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗬𝗮𝗵𝘆𝗮, 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸𝗶 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮. 𝗦𝗲𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗲𝗴𝗲𝗿𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝗷𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗸𝗲𝗯𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗼𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽 𝗱𝗮𝗻 𝗿𝗮𝘀𝗮 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁, 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗵𝘂𝘀𝘆𝘂𝗸 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗞𝗮𝗺𝗶.”

📖 QS. Al-Anbiya’: 90

Perhatikan firman Allah:

وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ

“𝗗𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸𝗶 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸𝗻𝘆𝗮.”

Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat indah tentang kehidupan rumah tangga. Perbaikan pasangan merupakan salah satu karunia besar dari Allah Ta‘ala.

---

Apa yang Diperbaiki dari Istri Nabi Zakariyya?

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan beberapa penafsiran tentang firman Allah:

وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ

Beliau berkata:

قال قتادة وسعيد بن جبير وأكثر المفسرين: إنها كانت عاقرا فجعلت ولودا

“Qatadah, Sa‘id bin Jubair, dan mayoritas ahli tafsir berkata: Dahulu ia mandul, lalu Allah menjadikannya mampu melahirkan.”

Namun terdapat penafsiran lain.

Al-Qurthubi berkata:

وقال ابن عباس وعطاء: كانت سيئة الخلق، طويلة اللسان، فأصلحها الله فجعلها حسنة الخلق

“Ibnu ‘Abbas dan ‘Atha’ berkata: Dahulu ia memiliki perangai yang buruk dan lisannya tajam, lalu Allah memperbaikinya sehingga menjadi baik akhlaknya.”

Kemudian Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

قلت: ويحتمل أن تكون جمعت المعنيين فجعلت حسنة الخلق ولودا

“Aku berkata: Ada kemungkinan bahwa kedua makna tersebut terkumpul. Allah menjadikannya baik akhlaknya sekaligus mampu melahirkan.”

📚 Al-Jāmi‘ li Ahkāmil-Qur’ān, 11/336

---

𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗲𝗹𝘂𝗵 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan firman Allah:

وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ

“Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan karunia kepada Nabi Zakariyya ketika Dia berfirman:

وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ

‘Dan Kami memperbaiki keadaan istrinya.’”

Kemudian beliau menukil perkataan sebagian ulama:

قال بعض العلماء ينبغي للرجل أن يجتهد إلى الله في إصلاح زوجته

“Sebagian ulama berkata: Sepatutnya seorang laki-laki bersungguh-sungguh kepada Allah dalam memohon perbaikan istrinya.”

📚 Majmū‘ Al-Fatāwā, 25/324

---

Terkadang kita terlalu sibuk melihat kekurangan pasangan.

Kita mengeluhkan akhlaknya.

Kita kecewa dengan sikapnya.

Kita merasa lelah menghadapi perangainya.

Namun, apakah kita sudah 𝗯𝗲𝗿𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵-𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗼𝗵𝗼𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗮𝗴𝗮𝗿 𝗗𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸𝗶𝗻𝘆𝗮?

Kita mungkin mampu memberikan nasihat.

Kita bisa berusaha menjadi contoh yang baik.

Kita dapat bersabar dan memperbaiki cara berkomunikasi.

Tetapi 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵.

Allah-lah yang mampu mengubah hati, memperbaiki akhlak, dan memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.

Karena itu, jangan hanya sibuk berkata:

“𝗬𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵, 𝘂𝗯𝗮𝗵𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗮𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻𝗸𝘂.”

Tetapi berdoalah dengan penuh harap:

“𝗬𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵, 𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗱𝘂𝗮.”

Sebab, bisa jadi kita sibuk melihat kekurangan pasangan, sementara kita lupa bahwa 𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗽𝘂𝗻 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗸𝗲𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸𝗶.

وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ

“𝗗𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸𝗶 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸𝗻𝘆𝗮.”

Jika Allah mampu memperbaiki keadaan istri Nabi Zakariyya ‘alaihissalam, maka tidak ada yang sulit bagi Allah untuk memperbaiki keadaan kita dan keluarga kita.

Maka jangan berhenti berusaha.

Jangan berhenti menasihati dengan cara yang baik.

Dan yang terpenting, 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗼𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵.

Karena terkadang, perubahan yang tidak mampu kita lakukan selama bertahun-tahun, Allah mampu mengubahnya dalam sekejap.

Semoga Allah memperbaiki diri kita, pasangan kita, dan keluarga kita.

آمين يا رب العالمين

✍️ Saudara kalian, Abdullah Bin Dahrul 

#TadabburQuran #AlAnbiya #NabiZakariyya #RumahTangga #NasihatIslam #ManhajSalaf #PerbaikiDiri #Pasangan #KeluargaSakinah

Maka di dalam syariat beliau ﷺ terdapat kelembutan, pemaafan, kelapangan dada, dan akhlak mulia yang lebih agung

Maka di dalam syariat beliau ﷺ terdapat kelambutan, pemaafan, kelapangan dada, dan akhlak mulia yang lebih agung daripada apa yang ada di dalam Injil. Di dalamnya juga terdapat ketegasan, jihad, dan penegakan hukum (hudud) terhadap orang-orang kafir serta munafik yang lebih agung daripada apa yang ada di dalam Taurat. Ini merupakan puncak dari kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: (Musa diutus dengan keagungan/ketegasan [Al-Jalal], Isa diutus dengan keindahan/kelembutan [Al-Jamal], dan Muhammad diutus dengan kesempurnaan [Al-Kamal])"

​📚 Al-Jawab Ash-Shahih | Jilid 5 | Halaman 85

ففي شريعته ﷺ من اللين والعفو والصفح ومكارم الأخلاق أعظم مما في الإنجيل، وفيها من الشدة والجهاد وإقامة الحدود على الكفار والمنافقين أعظم مما في التوراة، وهذا هو غاية الكمال؛ ولهذا قال بعضهم: (بعث موسى بالجلال، وبعث عيسى بالجمال، وبعث محمد بالكمال)".


‏📚 الجواب الصحيح | جـ٥ | صـ٨٥


Kisah Al-Ashma‘i dan Si Penjual Kelontong

Kisah Al-Ashma‘i dan Si Penjual Kelontong

Al-Ashma‘i berkata,
“Dahulu aku berada di Bashrah untuk menuntut ilmu, sementara aku hidup dalam keadaan miskin.
Di depan gang tempat tinggalku ada seorang penjual kelontong. Setiap kali aku keluar pagi-pagi, ia bertanya kepadaku,
"Mau ke mana?"
Aku menjawab, ""Ke tempat si Fulan, seorang ahli hadis."
Ketika aku pulang pada sore hari, ia kembali bertanya:
""Dari mana?"
Aku menjawab, ‘Dari tempat si Fulan, seorang ahli sejarah atau ahli bahasa.’

Maka si penjual itu berkata kepadaku,
" Wahai anak muda, dengarkan nasihatku! Engkau masih muda. Jangan sia-siakan dirimu dalam kesia-siaan seperti ini. Carilah pekerjaan yang menghasilkan manfaat bagimu. Berikan kepadaku semua buku yang engkau miliki, biar kubakar semuanya. Demi Allah, seandainya engkau meminta kepadaku satu wortel sebagai imbalan atas semua bukumu itu, niscaya aku pun tidak akan memberikannya!’

Karena aku sudah merasa sesak dengan perkataannya yang terus-menerus itu, akhirnya aku mulai keluar dari rumah pada malam hari dan pulang juga pada malam hari, agar tidak bertemu dengannya.

Sementara itu, keadaan ekonomiku semakin sulit, sampai-sampai aku terpaksa menjual sebagian pakaianku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mendapatkan biaya untuk makan sehari-hari.
Rambutku memanjang, pakaianku menjadi lusuh, dan tubuhku pun kotor. Dalam keadaan seperti itu, ketika aku kebingungan memikirkan nasibku, tiba-tiba datang seorang pelayan milik Amir Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi.
Ia berkata,
"Penuhi panggilan Amir!’
Aku menjawab:
‘Apa yang mungkin dilakukan Amir terhadap seseorang yang kemiskinannya telah membawanya kepada keadaan seperti yang kalian lihat ini?’
Ketika pelayan itu melihat buruknya keadaanku dan betapa buruk penampilanku, ia kembali dan menceritakan keadaanku kepada Muhammad bin Sulaiman.
Kemudian ia kembali kepadaku dengan membawa beberapa peti pakaian, sebuah wadah berisi wewangian/bukhur, dan sebuah kantong berisi seribu dinar.
Ia berkata:
‘Amir memerintahkanku untuk membawamu ke pemandian, memandikanmu, mengenakan pakaian-pakaian ini kepadamu, dan meninggalkan sisanya untukmu. Aku juga diperintahkan memberimu makanan dan mengharumimu dengan wewangian agar semangatmu kembali. Setelah itu aku harus membawamu menghadap Amir.’

Aku sangat gembira dan mendoakan kebaikan untuknya. Aku pun melakukan semua yang diperintahkannya.
Setelah itu aku pergi bersamanya hingga menghadap Muhammad bin Sulaiman.
Ketika aku mengucapkan salam kepadanya, ia mendekatiku, mengangkat kedudukanku, lalu berkata," Wahai Abdul Malik, aku telah mendengar tentangmu. Aku memilihmu untuk mendidik putra Amirul Mukminin. Bersiaplah untuk berangkat ke Baghdad."
Aku berterima kasih kepadanya dan mendoakan kebaikan untuknya.
Aku berkata," Saya siap menaati perintah. Saya akan mengambil beberapa buku yang saya perlukan, lalu besok saya berangkat."

Aku pun kembali ke rumah, mengambil buku-buku yang kubutuhkan, sedangkan buku-buku lainnya kusimpan di sebuah kamar yang kemudian kukunci. Aku juga meminta seorang wanita tua dari keluargaku untuk tinggal di rumah dan menjaganya.
Ketika aku sampai di Baghdad, aku menghadap Amirul Mukminin, Harun ar-Rasyid.
Ia berkata kepadaku," Engkau Abdul Malik al-Ashma‘i?"
Aku menjawab,
‘Ya, saya Abdul Malik al-Ashma‘i, wahai Amirul Mukminin.’
Ia berkata," Ketahuilah, seorang anak adalah buah hati ayahnya. Dan sekarang aku menyerahkan putraku kepadamu sebagai amanah dari Allah. Jangan ajarkan kepadanya sesuatu yang dapat merusak agamanya. Barangkali kelak ia menjadi seorang imam bagi kaum Muslimin.’
Aku menjawab:
‘Saya dengar dan saya taat.’

Kemudian putranya diserahkan kepadaku. Aku ditempatkan bersamanya di sebuah rumah yang telah disiapkan khusus untuk mendidiknya. Setiap bulan aku diberi gaji sepuluh ribu dirham.
Aku tinggal bersamanya sampai ia mampu membaca Al-Qur'an, memahami fikih dan agama, meriwayatkan syair dan menguasai bahasa Arab, serta mengetahui sejarah dan berbagai kisah bangsa-bangsa terdahulu. Kemudian Harun ar-Rasyid mengujinya. Ia sangat kagum dengan kemampuan anak tersebut. Ia berkata,
‘Aku ingin dia menjadi imam shalat Jumat dan memimpin orang-orang dalam shalat.’
Maka ia memintaku memilihkan sebuah khutbah untuknya dan menghafalkannya. Aku pun mengajarinya sepuluh khutbah.

Pada hari Jumat, ia keluar dan memimpin shalat Jumat sementara aku mendampinginya. Harun ar-Rasyid semakin kagum kepadanya.

Setelah itu, berbagai hadiah dan pemberian datang kepadaku dari segala penjuru.
Aku berhasil mengumpulkan kekayaan yang sangat besar. Dengan harta itu aku membeli rumah-rumah, tanah pertanian, dan berbagai properti. Aku juga membangun sebuah rumah untuk diriku sendiri di Bashrah.
Setelah rumahku selesai dibangun dan tanah serta hartaku semakin banyak, aku meminta izin kepada Harun ar-Rasyid untuk kembali ke Bashrah. Ia pun mengizinkanku.
Ketika aku tiba di Bashrah, penduduknya berdatangan kepadaku untuk memberikan penghormatan. Berita tentang kekayaan dan keberuntunganku telah tersebar di antara mereka.

Aku memperhatikan orang-orang yang datang. Ternyata di antara mereka ada si penjual kelontong itu!
Ia masih mengenakan sorban yang kotor dan jubah yang pendek.
Ketika melihatku, ia berteriak:
‘Abdul Malik!’
Aku tertawa melihat kebodohannya dan caranya memanggilku dengan nama biasa, padahal dahulu Harun ar-Rasyid memanggilku dengan penuh penghormatan.
Kemudian aku berkata kepadanya:
‘Wahai orang ini, demi Allah, ternyata buku-buku yang dahulu engkau anggap tidak berharga itu telah mendatangkan kepadaku sesuatu yang jauh lebih baik daripada sebuah wortel!’ 😂
 
#Copas

Noted:
Jika saat ini kita melihat kondisi sosial ekonomi para para Ustadz itu lbh baik drpd kehidupan kebanyakan dr kita ya wajarlah. Gak usah iri/hasad apalagi suudzon, blh jadi mereka dulu pernah mengalami hal² yg menyedihkan spt kisah diatas.
Al akh andik susilo hadi

Syubhat: "Abu Lahab Diringankan Adzabnya Karena Gembira Atas Kelahiran Rasulullah?"

Syubhat: "Abu Lahab Diringankan Adzabnya Karena Gembira Atas Kelahiran Rasulullah?"

Sebagian orang menggunakan argumen: "Abu Lahab saja diringankan adzabnya karena gembira atas kelahiran Rasulullah, maka seharusnya kita lebih layak untuk gembira" untuk melegalkan peringatan Maulid Nabi. 

Maka kita jawab syubhat ini dengan beberapa poin:

Pertama, tidak benar bahwa Abu Lahab diringankan adzabnya karena membebaskan Tsuwaibah di hari kelahiran Rasulullah.

Adapun riwayat dari Urwah bin Az-Zubair rahimahullah:

وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، َلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ – أي بسوء حال -، قَالَ لَهُ : مَاذَا لَقِيتَ ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ : لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

"Tsuwaibah adalah seorang maula (budak perempuan yang telah dimerdekakan) milik Abu Lahab. Abu Lahab telah memerdekakannya, kemudian Tsuwaibah menyusui Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam. Ketika Abu Lahab meninggal, sebagian keluarganya melihatnya dalam keadaan yang sangat buruk dalam mimpi. Orang tersebut bertanya kepadanya: “Apa yang telah engkau alami?”. Abu Lahab menjawab: “Aku tidak mendapatkan apa pun setelah kalian meninggalkanku, kecuali bahwa aku diberi minum sedikit dari sini karena memerdekakan Tsuwaibah”" (Diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih-nya no.5101). 

Riwayat ini disebutkan Al-Bukhari sebagai pelengkap hadits shahih tentang persusuan, sebagai tambahan faedah. Namun riwayat ini adalah riwayat yang mursal. Karena Urwan bin Az-Zubair bukan sahabat Nabi. Sehingga riwayat ini dha'if (lemah) karena mursal.

Demikian disebutkan bahwa sumber informasi bahwa Abu Lahab diringankan adzabnya adalah mimpi seorang kerabatnya. Sedangkan mimpi bukanlah dalil dalam syariat, apalagi dalam masalah gaib (yaitu adzab kubur).

Demikian juga fakta bahwa Tsuwaibah dibebaskan oleh Abu Lahab bukan ketika Nabi lahir namun jauh setelah itu, yaitu ketika Nabi sudah hijrah ke Madinah. Ibnu Hajar mengatakan:

وأعتقها أبو لهب بعدما هاجر النبي صلى الله عليه وسلم إلى المدينة

"Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah setelah Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam hijrah ke Madinah" (Al-Isti'ab, 1/12).

Maka jelaslah sudah bahwa riwayat di atas tidak benar sama sekali. 

Kedua, andaikan riwayat di atas shahih pun, Abu Lahab tidak merayakan Maulid Nabi. Dia tidak mengadakan peringatan tahunan untuk merayakan Maulid Nabi setelah itu. 

Sehingga berdalil dengan riwayat ini sangat jauh panggang dari api. Terlalu memaksakan diri. Kecuali jika disebutkan bahwa Abu Lahab setiap tahun merayakan Maulid Nabi, barulah bisa dikatakan ada korelasi.

Ketiga, sejak kapan perbuatan Abu Lahab menjadi dalil dalam syariat? Dalil adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah dipahami dengan pemahaman salafus shalih. 

Keempat, andaikan shahih riwayat di atas, maka kegembiraan Abu Lahab atas kelahiran Nabi adalah kegembiraan yang sifatnya thabi'i (manusiawi). Yaitu gembira karena memiliki keponakan baru. Maka ini kegembiraan yang biasa saja dan tidak berpahala. Sehingga tidak bisa dijadikan rujukan untuk melegalkan suatu ibadah dalam syariat. 

Kelima, andaikan dibenarkan menggunakan argumen "Abu Lahab saja melakukan seperti itu, maka kaum Muslimin lebih layak seperti itu" tentu para sahabat yang sudah terlebih dahulu memahami dan mengamalkan argumen ini. 

Kaum Muhajirin tinggal di Mekkah bersama Abu Lahab. Mereka melihat perbuatan dan sikap-sikap Abu Lahab. Mengapa andaikan benar kisah di atas, maka mengapa para sahabat Nabi tidak ada yang meniru sikap Abu Lahab dan menggunakan argumen tersebut? Apakah Abu Lahab lebih cinta kepada Nabi daripada kaum Muhajirin? Apakah kaum Muhajirin kurang cinta kepada Nabi? Tentu ini sesuatu yang mustahil.

Keenam, mengapa para sahabat Nabi terutama kaum Muhajirin tidak ada yang merayakan Maulid Nabi dalam bentuk apapun? Andaikan perayaan Maulid Nabi itu baik tentu para sahabat sudah lebih dahulu melakukannya.

Ketujuh, yang menjadi masalah bukan tentang cinta kepada Nabi. Cinta kepada Nabi itu wajib dan sifat orang beriman. Para sahabat Nabi pun cinta kepada Nabi, bahkan yang paling cinta, namun mereka tidak merayakan Maulid Nabi. Demikian juga para ulama Ahlussunnah yang melarang Maulid Nabi pun cinta kepada Nabi. Para Imam 4 Madzhab (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi'i, Ahmad bin Hambal), merekapun cinta Nabi namun mereka tidak merayakan Maulid Nabi.

Namun yang jadi masalah adalah perayaan Maulid Nabi yang tidak ada tuntunan dan contohnya dari Nabi dan para salaf, sehingga merupakan kebid'ahan yang dilarang oleh Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam sendiri.

Kesimpulannya, berdalil untuk melegalkan Maulid Nabi dengan riwayat di atas adalah pendalilan yang lemah dan terlalu memaksakan diri. 

Fawaid Kangaswad | lynk.id/kangaswad

tasyayyu' nya dalam istilah belakangan semodel Rofidhoh, Syi'ah Iran. tentu ini beda dengan para ulama terdahulu atau perowi yang terjatuh dalam pemahaman tasyayyu'.

Dengan bangganya Majusi Syi'ah membawakan gambar ini untuk mengklaim Yahya bin Ya'mar peletak pertama titik pada al Qur'an sama seperti mereka. 

Coba dia lanjutin kalimat di gambar itu. tertulis دون أن ينتقص من غيرهم. Tanpa mencela/meremehkan para sahabat lainnya. 

Beliau seorang tabi'in dan jatuh kepada paham tasyayyu'. tapi, 

ما معنى التشيع في المصطلح الأولين؟ . 

Tasyayyu' dalam istilah ulama terdahulu  menurut Syaikh Sa'id al Kamali adalah

 الذين يفضلون عليا على عثمان. و لا يسبون عثمان أو عمر و أبو بكر. 
“ orang yang mengutamakan Ali dibanding Utsman. Namun ia tidak mencela Utsman, Umar atau Abu Bakar”

Menurut Ibnu Hajar dalam Tahdzibut Tahdzib  1/81

اعتقاد تفضيل علي على عثمان وأن عليا كان مصيبا في حروبه وأن مخالفه مخطئ مع تقديم الشيخين وتفضيلهما

"Keyakinan mendahulukan 'Ali atas 'Utsman, dan bahwa 'Ali benar dalam peperangan-peperangannya, dan orang yang menyelisihinya adalah salah dan TETAP mendahulukan Abu Bakar dan Umar dan mengutamakan keduanya.”

Jadi, tidak setiap imam terlebih Tabi'in yang jatuh ke dalam paham tasyayyu tiba tiba sama aqidahnya seperti majusi syi'ah hari ini. Kalau tasyayyu' nya dalam istilah belakangan semodel Rofidhoh, Syi'ah Iran. tentu ini beda dengan para ulama terdahulu atau perowi yang terjatuh dalam pemahaman tasyayyu'.
Ustadz zakariya rizky

Sifat-Sifat Golongan yang Selamat (Al-Firqah An-Najiyah) dan Kelompok yang Tertolong (At-Tha'ifah Al-Manshurah)

Sifat-Sifat Golongan yang Selamat (Al-Firqah An-Najiyah) dan Kelompok yang Tertolong (At-Tha'ifah Al-Manshurah)

Halaman 377

​Dari teks-teks tersebut telah jelas: keutamaan orang yang berpegang teguh pada Sunnah, yaitu orang yang berkata: "Tuhanku adalah Allah," kemudian ia istikamah (tetap teguh dan kokoh). Namun, siapakah orang-orang asing (al-ghuraba') yang memperbaiki ketika manusia telah rusak? Mereka inilah yang berhak mendapatkan pujian yang harum dari Nabi petunjuk ﷺ, pujian yang melintasi zaman, melambungkan mereka di atas bintang Suraya, meskipun mereka adalah orang-orang yang miskin, kekurangan, dan lemah.

​Lantas, siapakah Al-Firqah An-Najiyah dan At-Tha'ifah Al-Manshurah itu?

Apa yang dimaksud dengan keunggulan dan kemenangan mereka atas manusia?

Apa jenis kemenangan dan keunggulan ini? Dan bagaimana mungkin orang yang memusuhi atau menyelisihi mereka tidak dapat memudaratkan (membahayakan) mereka?

​Sesungguhnya orang-orang yang mendapat kabar gembira dan dimaksudkan di sini adalah para pemilik akidah Salafiyyah yang sahih. Mereka adalah orang-orang yang meyakini apa yang diyakini oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, berupa tauhid yang bersih dari syirik, iman yang tidak tercampur keraguan, serta berjalan di atas Sunnah yang tidak terancam bidah. Mereka adalah orang-orang yang meyakini keesaan Allah dan keesaan-Nya dalam kesempurnaan-kesempurnaan yang tidak diserupai oleh...

[Halaman 378]

​...seorang pun, baik pada nama-nama-Nya yang terindah (Al-Asma'ul Husna) maupun sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi. Mereka menetapkannya bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya sebagaimana Dia menyifati diri-Nya sendiri dan sebagaimana disifati oleh Rasul-Nya ﷺ, seraya meyakini bahwa kesamaan dalam nama tidak memustahikan/meniscayakan kesamaan dalam hakikat sebenarnya.

​Mereka meyakini keesaan Allah dan ketunggalan-Nya dalam uluhiyyah (hak disembah). Maka, mereka mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya melalui doa, rasa takut, harapan, keinginan, kekhusyukan, rasa takut/gentar, dan selain itu. Mereka juga mengamalkan kaidah syariat dalam hal Al-Wala' (loyalitas) dan Al-Bara' (berlepas diri).

​Mereka meyakini kewajiban membenci kaum kafir penganut agama lain, serta kaum musyrikin yang menganut khurafat dari kalangan orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam tetapi berdoa kepada para penghuni kubur (ash-habul adhrihah) dan meminta pertolongan kepada mereka dalam kesulitan, seraya meyakini bahwa para penghuni kubur itu mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan duka, dan mengabulkan hajat.

​Mereka juga meyakini bahwa barang siapa yang meyakini bahwa mereka berada di atas syariat Islam bersama dengan akidah (khurafat) ini, maka ia adalah kafir seperti mereka, meskipun ia shalat, berpuasa, dan mengaku sebagai seorang muslim.

​Mereka meyakini kewajiban meneladani Nabi ﷺ, serta wajibnya ketaatan bagi setiap muslim terhadap beliau dalam apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan cegah, membenarkan apa yang beliau kabarkan, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

​Dan bahwasanya tidak ada kebebasan dari dosa ('ishmah) bagi seorang pun selain beliau, serta perkataan maupun hukum seseorang tidak boleh dipertentangkan dengan perkataan dan hukum beliau.

​Dan bahwasanya tidak ada jalan menuju surga kecuali melalui jalan beliau.

Dan bahwasanya Allah tidak akan menerima amalan dari seorang pun kecuali jika amalan tersebut sesuai dengan syariat-Nya.

Dan bahwasanya beliau —semoga shalawat Allah dan salam-Nya tercurah kepadanya— adalah penutup para rasul, tidak ada nabi setelahnya.

Dan bahwasanya beliau adalah pemilik Syafaat yang Agung (Al-Uzhma), Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan yang terpuji), dan Al-Haudh Al-Maurud (telaga yang didatangi) di akhirat. Beliau memiliki mukjizat-mukjizat, dan mukjizat yang paling agung adalah Al-Qur'an.

Mereka meyakini bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah, diturunkan, dan bukan makhluk.

Dan bahwasanya Allah akan dilihat di akhirat; kaum mukminin akan melihat-Nya di surga sebagaimana mereka melihat bulan pada malam purnama, mereka berbicara kepada-Nya dan Dia pun berbicara kepada mereka.

Dan bahwasanya tidak ada keekalan di dalam neraka bagi pelaku dosa besar jika ia meninggal di atas Islam dan Tauhid.

Dan bahwasanya para pelaku dosa besar berada di bawah kehendak (masyi'ah) Allah: di antara mereka ada yang diampuni oleh Allah tanpa azab, dan di antara mereka ada yang diadzab di neraka selama beberapa waktu, kemudian Allah mengeluarkan mereka darinya melalui syafaat para pemberi syafaat atau dengan rahmat dari Dzat yang Paling Penyayang, lalu memasukkan mereka ke dalam surga.

Mereka meyakini bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ semuanya adil/terpercaya (`adil), dan yang paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali. Kemudian sisa dari Sepuluh Orang yang Diberi Kabar Gembira Masuk Surga, kemudian ahli Badar, kemudian ahli Bai'atur Ridwan, kemudian orang-orang yang masuk Islam sebelum Pembebasan Makkah (Fathu Makkah) dan berhijrah, lalu orang-orang yang masuk Islam setelah Pembebasan Makkah.

Sekaligus mereka mencintai Ahlulbait (keluarga) Rasulullah ﷺ, dan mereka tidak meyakini pada seorang pun dari Ahlulbait...

[Halaman 380]

...adanya sifat kebebasan dari dosa ('ishmah). Bahkan mereka meyakini bahwa di antara Ahlulbait ada yang taat, ada yang maksiat, ada yang baik, dan ada pula yang jahat, sebagaimana keadaan orang selain mereka. Hanya saja, mereka yang taat di antara Ahlulbait memiliki hak kerabat dari Rasulullah ﷺ dan hak Islam.

Dan bahwasanya Al-Firqah An-Najiyah adalah At-Tha'ifah Al-Manshurah, dan mereka itulah Al-Ghuraba' (orang-orang asing), yaitu orang-orang yang terasing dari suku-suku/kelompok mereka. Dikatakan sebagai "orang-orang asing" karena jumlah mereka yang sedikit dan perbedaan mereka dengan keadaan penganut zaman mereka, serta keberadaan mereka di tengah kerusakan dan keburukan, namun mereka tetap mengikuti syariat di tengah kerumunan massa yang rusak.(1)

(Catatan Kaki 1):

Yang benar adalah bahwa At-Tha'ifah Al-Manshurah adalah Al-Firqah An-Najiyah, dan mereka adalah Al-Ghuraba', serta An-Nuzzā' min al-qabā'il (orang-orang terasing dari suku-suku). Ini semua adalah sebutan bagi satu kelompok yang sama; mereka adalah Ahlul Hadits dan orang-orang yang meyakini akidah mereka. Akidah ini telah dijelaskan sebagian ringkasannya secara umum, dan dijelaskan secara rinci dalam kitab-kitab khusus tentangnya. Mereka adalah para pengikut atsar (riwayat) sebagaimana ditegaskan oleh para ulama dan imam petunjuk.

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Ma'rifah 'Ulum Al-Hadits dari Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahwa beliau ditanya tentang makna hadits ini: "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tertolong, tidak akan memudaratkan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga terjadi hari kiamat." Maka beliau (Ahmad) berkata: "Jika kelompok yang tertolong ini bukan Ash-habul Hadits (para ahli hadits), maka aku tidak tahu lagi siapa mereka?!"

Dan Abu Abdillah berkata: "Mengenai perkataan seperti ini: Barang siapa yang mengutamakan Sunnah atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan, maka ia telah berbicara dengan kebenaran."

Maka alangkah indahnya penafsiran Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terhadap kabar ini, bahwa At-Tha'ifah Al-Manshurah yang menolak kehinaan hingga hari kiamat adalah Ash-habul Hadits. Mereka adalah orang-orang yang paling berhak dengan penafsiran ini dari kelompok yang menempuh jalan orang-orang saleh, mengikuti jejak Salaf dari generasi terdahulu, dan menghancurkan para pelaku bidah yang menyelisih ajaran Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya...

Sambungan Catatan Kaki 1 dari Halaman 380 ke Halaman 381]

= ...mendampingi para ulama yang membawa riwayat. Beliau menyampaikan sanadnya sampai kepada Hafsh bin Ghiyats bahwa dikatakan kepadanya: "Tidakkah engkau melihat kepada para ahli hadits dan keadaan mereka?" Beliau menjawab: "Merekalah sebaik-baik penganut dunia." Dan sampai kepada Abu Bakar bin Ghiyats bahwasanya ia berkata: "Sesungguhnya aku sungguh berharap bahwa para ahli hadits adalah sebaik-baik manusia."

Kemudian Al-Hakim berkata: "Dan sungguh keduanya telah berkata benar secara mutlak bahwa para ahli hadits adalah sebaik-baik manusia. Bagaimana mungkin mereka tidak menjadi demikian, padahal mereka telah mencampakkan dunia di belakang punggung mereka secara keseluruhan, menjadikan makanan mereka adalah menulis (hadits), racun/obat mereka adalah membandingkan riwayat, istirahat mereka adalah diskusi ilmiah, tinta adalah wewangian mereka, akal pikiran mereka dipenuhi kelezatan Sunnah, hati mereka ridha dalam segala kondisi, pembelajaran Sunnah adalah kebahagiaan mereka, dan majelis-majelis ilmu adalah kuburan (tempat menetap) mereka. Seluruh pengikut Sunnah adalah saudara mereka, sedangkan seluruh pelaku bidah adalah musuh mereka."

Aku mendengar Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-Hantzhali di Baghdad berkata: Aku mendengar Abu Ismail Muhammad bin Ismail Al-Tirmidzi berkata: Aku dan Ahmad bin Al-Hasan Al-Tirmidzi berada di dekat Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, lalu Ahmad bin Al-Hasan berkata kepadanya: "Wahai Abu Abdillah, mereka menyebut-nyebut Ibn Abi Qatilah di Makkah di hadapan para ahli hadits, lalu ia berkata: 'Para ahli hadits adalah kaum yang buruk!'" Maka Abu Abdillah (Imam Ahmad) berdiri seraya mengibaskan pakaiannya dan berkata: "Zindiq, zindiq, zindiq!" Lalu ia masuk ke dalam rumah.

Kemudian beliau menyadarkan sanadnya sampai kepada Ahmad bin Sinan Al-Qatthan bahwa ia berkata: "Tidak ada seorang pun pelaku bidah di dunia ini melainkan ia membenci ahli hadits. Dan apabila seseorang melakukan bidah, dicabutlah kemanisan hadits dari hatinya."

Abu Abdillah berkata: "Berdasarkan hal ini, janji kita di perjalanan dan di tanah air kita adalah bahwa setiap orang yang menisbatkan diri kepada jenis penyimpangan (ilhad) dan bidah tidak akan memandang kepada At-Tha'ifah Al-Manshurah melainkan dengan pandangan hina, dan mereka menjulukinya sebagai Hashwiyyah (kelompok dangkal/rendah)." Selesai. Dengan perantara kitab: Ahlul Hadits Hum At-Tha'ifah Al-Manshurah karya Syaikh Rabi' Al-Madkhali (hal. 99-101).

[Teks Utama Halaman 381]

Dan sungguh telah jelas dari hal ini bahwasanya Al-Firqah An-Najiyah, At-Tha'ifah Al-Manshurah, dan Al-Ghuraba' yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak, serta orang-orang yang terasing dari suku-suku mereka, merekalah Ahlul Hadits. Merekalah para pembawa Sunnah, pengikut atsar (riwayat), pengamal Sunnah, pembela Sunnah, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmunya, menyebarkannya siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, baik lewat perkataan maupun perbuatan. Dan barang siapa yang mengikuti mereka di atas akidah mereka, menempuh jalan mereka dalam akidah dan amalan, maka ia bagian dari mereka, dan jalannya adalah jalan mereka, meskipun tingkatan/derajatnya berada di bawah mereka.

Maka jadilah bagian dari mereka wahai hamba Allah, niscaya engkau akan selamat, bahagia, dan meraih tempat duduk/kedudukan terbaik di surga:

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa." (QS. Al-Qamar: 54-55)

 Diambil dari Buku: Al-Mawrid Al-'Azb Al-Zulal fi ma Untuqida 'ala Ba'dh Al-Manahij Ad-Da'wiyyah min Al-'Aqa'id wa Al-A'mal Karya Al-'Allamah Asy-Syaikh: Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah