Jumat, 14 Agustus 2026

kisah nabi adam

إبليس يطيف به، فلما رآه أجوف عرف أنه لا يتمالك

https://www.islamweb.net/ar/library/content/53/7662/%D8%A8%D8%A7%D8%A8-%D8%AE%D9%84%D9%82-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%86%D8%B3%D8%A7%D9%86-%D8%AE%D9%84%D9%82%D8%A7-%D9%84%D8%A7-%D9%8A%D8%AA%D9%85%D8%A7%D9%84%D9%83

 riwayat hadis dari Shahih Muslim (dengan penjelasan dari Syarh An-Nawawi 'ala Muslim) dalam bab: "Penciptaan Manusia Adalah Makhluk yang Tidak Mampu Menahan Diri" (Bab Khalq al-Insan Khalqan La Yatamalak).
 penjelasan (syarah) Imam An-Nawawi yang terdapat pada halaman tersebut:
1. Judul Bab
> بَاب خَلْقِ الْإِنْسَانِ خَلْقًا لَا يَتَمَالَكُ
> "Bab: Manusia Diciptakan Sebagai Makhluk yang Tidak Dapat Menahan Diri"
2. Teks Hadis (HR. Muslim No. 2611)
> حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يُوُنُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
> «لَمَّا صَوَّرَ اللَّهُ آدَمَ فِي الْجَنَّةِ تَرَكَهُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَتْرُكَهُ فَجَعَلَ إِبْلِيسُ يُطِيفُ بِهِ يَنْظُرُ مَا هُوَ فَلَمَّا رَآهُ أَجْوَفَ عَرَفَ أَنَّهُ خُلِقَ خَلْقًا لَا يَتَمَالَكُ»
Terjemahan Hadis:
> Abu Bakr bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Yunus bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Ketika Allah telah membentuk (tubuh) Adam di surga, Dia membiarkannya sesuai dengan kurun waktu yang dikehendaki-Nya untuk dibiarkan. Maka Iblis mulai mengelilinginya untuk mengamatinya, makhluk apakah ini. Ketika Iblis melihatnya memiliki rongga (berlubang/memiliki saluran pencernaan), Iblis pun tahu bahwa ia diciptakan sebagai makhluk yang tidak dapat menahan diri."
3. Terjemahan Syarah (Penjelasan) Imam An-Nawawi
> Sabda Nabi ﷺ: ( يُطِيفُ بِهِ - Yutifu bihi)
> Para ahli bahasa mengatakan: Kata thafa bish-shay'i yathufu thawfan dan athaafa yutifu berarti mengelilingi di sekitarnya.
> Sabda Nabi ﷺ: ( فَلَمَّا رَآهُ أَجْوَفَ - Falammar a'ahu ajwafa)
> Maka Iblis tahu bahwa ia diciptakan sebagai makhluk yang tidak dapat menahan diri.
> * Al-Ajwaf (أَجْوَف): Artinya sesuatu yang memiliki rongga/perut. Ada pula yang mengartikan bahwa bagian dalamnya kosong/berlubang.
> * Makna ( لَا يَتَمَالَكُ - La yatamalak):
> * Tidak mampu menguasai dirinya sendiri dan tidak mampu menahan jiwanya dari syahwat/keinginan.
> * Dikatakan pula: Tidak mampu menolak atau mengusir bisikan (waswas) dari dirinya.
> * Dikatakan pula: Tidak mampu mengendalikan dirinya saat marah.
> (Dan yang dimaksud di sini adalah sifat dasar jenis/keturunan anak cucu Adam).

ولهذا كانت المرأة عوجاء لأنها خلقت من أعوج وهو الضلع وقال الشاعر

(۲) رواه البخاري (٣٦٣/٦) الأنبياء قال القرطبي : قال العلماء: ولهذا كانت المرأة عوجاء لأنها خلقت من أعوج وهو الضلع وقال الشاعر :
Oleh karena itu wanita itu memiliki sifat bengkok (sensitif/mudah emosional), karena ia diciptakan dari bagian yang 
paling bengkok yaitu tulang rusuk

(۱) عقيدة أهل الإيمان في خلق آدم على صورة الرحمن (صه)، دار اللواء.

(۲) رواه البخاري (٣٦٣/٦) الأنبياء قال القرطبي : قال العلماء: ولهذا كانت المرأة عوجاء لأنها خلقت من أعوج وهو الضلع وقال الشاعر :

هِيَ الضُّلْعُ العَوْجَاءُ لَسْتَ تُقِيمُهَا أَلَا إِنَّ تَقْوِيمَ الضُّلُوعِ انْكَسَارُهَا

أَتَجْمَعُ ضَعْفاً وَاقْتِدَاراً عَلَى الفَتَى أَلَيْسَ عَجِيباً ضَعْفُهَا وَاقْتِدَارُهَا

(۳) انظر: القصص القرآني إيماؤه ونفحاته للدكتور فضل حسن عباس (ص ٦٢)، دار الفرقان.

(٤) محاسن التأويل» (٩٤/١ ، ٩٥).

Al-Qurtubi berkata: Para ulama berkata
 Oleh karena itu wanita memiliki sifat bengkok, karena ia diciptakan dari bagian yang paling bengkok yaitu tulang rusuk. Dan seorang penyair berkata:
Dia adalah tulang rusuk yang bengkok, tidak akan mampu engkau meluruskannya
Ketahuilah, sesungguhnya meluruskan tulang rusuk itu adalah mematahkannya.
Apakah dia mengumpulkan kelemahan sekaligus kekuasaan atas seorang pemuda?
Bukankah sangat mengherankan kelemahannya sekaligus kekuasaannya?

Kisah Nabi Adam AS


Halaman 166: Kisah Nabi Adam AS

Dan Allah Ta'ala berfirman: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.' Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?' Tuhan berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.' (30) Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!' (31) Malaikat menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.' (32) Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.' Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: 'Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?' (33) Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (34) Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.' (35) Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: 'Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat tinggal di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.' (36) Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (37) Kami berfirman: 'Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.' (38) Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (39)" [QS. Al-Baqarah: 30-39]

Dan sebelum kita memulai penjelasan ayat-ayat yang mulia ini yang menjelaskan kepada kita bagaimana Allah menakdirkan penciptaan Adam عليه السلام, dan ini tidak diragukan lagi merupakan bagian dari hal gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah; karena hal gaib mencakup masa lalu dan masa depan: (Allah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan pengawal-pengawal (malaikat) di muka dan di belakangnya. [QS. Al-Jinn: 26-27]

Kita mulai dengan mengenali Adam عليه السلام, dan dia juga bagian dari yang gaib, serta tidak ada jalan untuk mengetahui hal gaib kecuali melalui Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah yang shahih.

Bagaimana Adam عليه السلام Diciptakan?

Adam عليه السلام adalah bapak manusia dan nabi yang pertama, berbeda dengan apa yang diklaim oleh para filsuf bahwa...

Halaman 167

...kemanusiaan pada awalnya berada dalam kesyirikan, lalu menyembah matahari, bulan, pohon, dan sapi berdasarkan ijtihad mereka. Kebatilan pendapat ini ditunjukkan oleh perkataan Ibn Abbas رضي الله عنهما yang berhukum marfu': "Masa antara Adam dan Nuh adalah sepuluh abad, semuanya berada di atas Islam." <sup>(1)</sup>

Berbeda pula dengan apa yang diklaim oleh orang Yahudi, "Darwin", dalam teorinya yang telah dibuang ke tong sampah sejarah, di mana syariat dan akal menyaksikan kebatilannya, yaitu (klaimnya) bahwa manusia hanyalah hewan yang berkembang dari kera!

Pikiran ini muncul pada mereka karena kesesatan yang nyata dan kedustaan yang jelas; sebab mata mereka buta dari wahyu langit dan hati mereka telah tertutup, sehingga mereka tidak bisa menerima apa yang dibawa oleh para nabi: Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah maka tidaklah dia mempunyai cahaya sedikit pun. [QS. An-Nur: 40]

Dan wahyu yang jujur ini—Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih—menjelaskan bagaimana Adam عليه السلام diciptakan, apa sifatnya, dan bagaimana istrinya diciptakan dari dirinya.

Allah Ta'ala berfirman: Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. [QS. Ali 'Imran: 59]

Dari Abu Musa, dari Nabi صلى الله عليه وسلم beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil-Nya dari seluruh bagian bumi. Maka anak cucu Adam datang sesuai dengan kadar/unsur bumi; di antara mereka ada yang berkulit putih, merah, hitam, dan di antara itu (campuran). Ada yang jahat, baik, lembut, keras, dan di antara itu." <sup>(2)</sup>

Dan dari Anas رضي الله عنه, marfu': "Ketika Allah membentuk Adam, Dia membiarkannya sesuai kehendak Allah. Lalu Iblis..."

Catatan Kaki (Halaman 167):

  1. Diriwayatkan oleh Al-Hakim (2/442) dari Ibn Abbas secara mauquf, dan dishahihkan sesuai syarat Al-Bukhari serta disetujui oleh Adz-Dzahabi.
  2. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (16/11, 17) dalam 'Aridhat al-Ahwadzi, Abu Dawud (4668) bab As-Sunnah, bab Al-Qadar.
    • At-Tirmidzi berkata: Ini hadits hasan shahih, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah (1630).
    • Sabdanya "Maka datang anak cucu Adam sesuai kadar bumi": Shamsul Haq Abadi berkata dalam Al-Nihayah: Maksudnya kadar warna dan tabiat yang berasal dari mereka; ada yang merah, putih, hitam sesuai tanah mereka. Tiga warna ini adalah induk warna dan selainnya adalah racikan dari warna-warna tersebut. Maksud dari "di antara itu": yaitu antara merah, putih, dan hitam. Al-Qari berkata: "Al-Sahl" artinya: yang lembut/ramah. "Al-Hazn" artinya: yang kasar/keras tabiatnya. "Al-Khabits" artinya: buruk kebiasauannya/akhlaknya. (Awn al-Ma'bud: 12/456, 457).

Halaman 168

...Iblis mengelilinginya, dan ketika melihat bahwa bagian dalamnya berongga, Iblis tahu bahwa Adam adalah makhluk yang tidak dapat menguasai dirinya (tidak tahan terhadap hawa nafsu).* <sup>(1)</sup>

  • Al-Hafizh berkata: Nama "Adam" adalah nama Suryani menurut Ahli Kitab. Kata "آدم" (Adam) dibaca dengan memanjangkan alif berwazan Khatam, wazannya Fa'al, dan dilarang dari sharf (tidak bertanwin) karena 'ujmah (bukan bahasa Arab asli) dan 'alamiyyah (nama diri).
  • Al-Tha'labi berkata: Al-Turab (tanah) dalam bahasa Ibrani adalah Adam, maka ia dinamai Adam dengannya, dan alif kedua dihapus.
  • Dikatakan pula: Kata itu berbahasa Arab. Al-Jauhari dan Al-Jawaliqi memastikannya, dan dikatakan: wazannya Af'al dari kata Al-Udmah (warna cokelat kulit), dan dikatakan: dari kata Al-Adim (permukaan tanah); karena ia diciptakan dari permukaan tanah. Dan ini diriwayatkan dari Ibn Abbas. <sup>(2)</sup>

Adapun tentang Sifatnya عليه السلام:

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم beliau bersabda: "Allah menciptakan Adam dan tingginya enam puluh hasta. Kemudian Dia berfirman: 'Pergilah dan ucapkanlah salam kepada kelompok malaikat itu, lalu dengarkanlah bagaimana mereka memberi penghormatan kepadamu, karena itu adalah penghormatanmu dan penghormatan keturunanmu.' Maka Adam mengucapkan: 'Assalamu 'alaikum.' Para malaikat menjawab: 'Assalamu 'alaika wa rahmatullah,' mereka menambahkan 'wa rahmatullah'. Maka setiap orang yang masuk surga akan berbentuk seperti Adam. Dan ciptaan manusia senantiasa berkurang (mengecil) sampai sekarang." <sup>(3)</sup>

Dan beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan Adam sesuai bentuk-Nya." <sup>(4)</sup>

  • Berkata Al-'Allamah Hamud bin Abdillah bin Hamud At-Tuwaijri: Berkata Shaykhul Islam Abu Al-'Abbas Ibn Taimiyah semoga Allah merahmatinya dalam bantahannya terhadap Ar-Razi: "Sesungguhnya hadits ini مستفيض (tersebar luas) dari banyak jalur dari sejumlah Sahabat رضي الله عنهم, dan tidak ada ikhtilaf di antara ulama Salaf pada tiga abad pertama bahwa kata ganti (kata 'Nya') kembali kepada Allah Ta'ala, dan konteks seluruh hadits menunjukkan hal tersebut."
  • Beliau juga berkata: "Sesungguhnya umat telah sepakat atas penyampaiannya dan pembenarannya, akan tetapi ketika..."

Catatan Kaki (Halaman 168):

  1. Diriwayatkan oleh Muslim (16/164) Al-Birr, dan Ahmad (3/152, 229, 240, 254).
    • Al-Nawawi berkata: Makna "لا يتمالك" (tidak menguasai diri): yaitu tidak dapat menahan dirinya dan mengekangnya dari syahwat. Dikatakan: Tidak mampu menolak bisikan setan. Dikatakan pula: Tidak mampu menguasai dirinya saat marah. Maksudnya adalah jenis anak cucu Adam. (Syarh An-Nawawi 'ala Shahih Muslim: 16/164).
  2. Fath al-Bari (6/364).
  3. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6/362) Ahadith Al-Anbiya, dan Muslim (2841) dalam Al-Jannah bab Yadkhul Al-Jannah Aqwam Af'idatuhum Mitsl Af'idat Al-Thair.
  4. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/323), dan Al-Albani berkata dalam As-Shahihah (1077): Hadits ini jalurnya shahih.

Halaman 169

... tersebar paham Jahmiyyah pada abad ketiga, sekelompok orang menjadikan kata ganti tersebut kembali kepada selain Allah Ta'ala, dan akan datang pembahasannya untuk membantah kelompok ini secara tuntas insya Allah Ta'ala. <sup>(1)</sup>

Adapun tentang istri Adam, Al-Qur'an tidak memberitahu kita tentang namanya, tidak pula tentang tata cara penciptaannya, melainkan mengisyaratkan hal itu sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan. [QS. An-Nisa: 1]

Dan mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa Allah menciptakan istri Adam dari tulang rusuk Adam, dan mereka berhujjah dengan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: "Bercakap-cakaplah (berwasiatlah) yang baik kepada wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya." <sup>(2)</sup>

Sedangkan sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa makna firman-Nya: {وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا} [QS. An-Nisa: 1] yaitu: menciptakan istrinya dari jenisnya (sama-sama manusia), agar tidak terjadi pertentangan/penolakan di antara keduanya. <sup>(3)</sup>

Dan kita akan mulai menjelaskan ayat-ayat mulia dalam kisah ini, kemudian kita susul dengan faedah-faedah dan i'tibar imaniyyah (hikmah keimanan):

Firman Allah Ta'ala:

وقول تعالى: {وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً} [QS. Al-Baqarah: 30]

  • Al-Qasimi berkata: Maksudnya: Suatu kaum yang menggantikan sebagian yang lain dari generasi ke generasi, sebagaimana firman Allah Ta'ala: {وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ} [QS. Al-An'am: 165]. Dan Allah berfirman: {وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ} [QS. An-Naml: 62]. Dan Allah berfirman: {وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلَائِكَةً فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُونَ} [QS. Az-Zukhruf: 60]. <sup>(4)</sup>

Catatan Kaki (Halaman 169):

  1. 'Aqidah Ahl al-Iman fi Khalqi Adama 'ala Surati ar-Rahman (hal. 5), Dar al-Liwa'.
  2. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6/363) Al-Anbiya'. Al-Qurtubi berkata: Ulama berkata: Oleh karena itu wanita menjadi bengkok (mudah emosional/sensitif) karena ia diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Dan penyair berkata: Dia adalah tulang rusuk yang bengkok, tidak dapat engkau luruskan... ketahuilah jika engkau mencoba meluruskannya, ia akan patah. Apakah engkau menggabungkan kelemahan dan kekuasaan pada seorang pemuda... bukankah sangat mengherankan kelemahan dan kekuasaannya?
  3. Lihat: Al-Qashash Al-Qur'ani I'ma'uhu wa Nafahatuh karya Dr. Fadhl Hasan Abbas (hal. 62), Dar Al-Furqan.
  4. Mahasin At-Ta'wil (1/94, 95).

Halaman 170

Dan Al-Shanqiti رحمه الله berkata: Firman-Nya: "خَلِيفَةً" (Khalifah) memiliki dua pandangan bagi para ahli tafsir:

  1. Pertama: Maksud dari khalifah adalah bapak kita Adam عليه الصلاة والسلام; karena ia adalah khalifah Allah di bumi-Nya dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. Dan dikatakan: Karena ia menjadi pengganti dari jin yang dulu mendiami bumi sebelum dirinya.
  2. Kedua: Bahwa kata "خَلِيفَةً" adalah bentuk mufrad (tunggal) yang bermakna jama' (jamak), yaitu: khala'if (para pengganti/generasi penerus). Ini adalah pilihan Ibn Katsir. Bentuk tunggal jika merupakan isim jenis, maka sering diucapkan dalam bahasa Arab dengan maksud jamak, sebagaimana firman Allah Ta'ala: {إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ} [QS. Al-Qamar: 54] yaitu: taman-taman dan sungai-sungai, dengan dalil firman-Nya: {فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آَسِنٍ} [QS. Muhammad: 15].

Jika ayat yang mulia ini mengandung dua pandangan tersebut, maka ketahuilah bahwa ayat-ayat lain telah menunjukkan pandangan yang kedua, yaitu bahwa yang dimaksud dengan khalifah adalah para pengganti dari anak cucu Adam, bukan Adam saja secara mandiri. Sebagaimana firman-Nya: {قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ...} [QS. Al-Baqarah: 30]. Dan sudah maklum bahwa Adam عليه الصلاة والسلام bukanlah orang yang membuat kerusakan di bumi dan bukan orang yang menumpahkan darah. Dan juga seperti firman-Nya: {هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ...} [QS. Fathir: 39], dan firman-Nya: {وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ...} [QS. Al-An'am: 165], serta firman-Nya: {وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ...} [QS. An-Naml: 62], dan ayat-ayat serupa lainnya. <sup>(1)</sup>

Firman Allah:

{قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ} [QS. Al-Baqarah: 30]

  • Al-Zamakhsyari berkata: Jika engkau bertanya: Untuk tujuan apa Allah memberitahu para malaikat tentang hal itu? Aku katakan: Agar mereka menanyakan hal tersebut dan menjawab dengan apa yang dijawabkan, sehingga mereka mengetahui hikmah-Nya dalam menjadikan manusia sebagai khalifah sebelum keberadaan mereka, menjaga mereka dari prasangka buruk pada suatu saat. Dan dikatakan: Agar Dia mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya untuk bermusyawarah dalam urusan mereka sebelum melaksanakannya, serta menunjukkan kepada mereka tentang kepercayaan dan nasihat mereka, meskipun Dia dengan ilmu-Nya dan hikmah-Nya yang sempurna tidak membutuhkan musyawarah. <sup>(2)</sup>
  • Al-Qasimi berkata: Ini adalah bentuk kekaguman atas diangkatnya pengganti (manusia) untuk memakmurkan bumi dan mengelolanya.

Catatan Kaki (Halaman 170):

  1. Adhwa' al-Bayan (1/48, 49) ringkasan.
  2. Al-Kassyaf (1/124), Al-Rayyan.

kisah adam


Halaman 21

Bab Pertama: Manfaat Kisah-Kisah Al-Qur'an

Ustadz Manna' Al-Qaththan berkata: "Peristiwa yang terikat dengan sebab-sebab dan akibat-akibatnya akan menarik perhatian pendengar. Jika di dalamnya diselingi dengan titik-titik pelajaran dari berita orang-orang terdahulu, rasa ingin tahu untuk mengetahuinya menjadi salah satu faktor terkuat untuk menanamkan pelajarannya ke dalam jiwa. Nasihat dalam bentuk pidato/ceramah mendiktekan penyampaian satu arah, di mana akal tidak dapat mengumpulkan seluruh sisinya dan tidak dapat memahami semua yang disampaikan. Namun, ketika nasihat itu mengambil bentuk gambaran realitas kehidupan dalam peristiwa-peristiwa yang jelas tujuannya, seseorang akan merasa tenang mendengarkannya, menyimaknya dengan penuh kerinduan dan antusiasme, serta terpengaruh oleh ikhtibar (pelajaran) dan nasihat di dalamnya." ⁽¹⁾

  • Di antara manfaat kisah Al-Qur'an: Keimanan kepada para nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak akan sempurna melainkan dengannya. Meskipun kita beriman kepada semua nabi secara umum dan global, keimanan secara rinci (al-īmān at-tafṣīlī) yang dipetik dari kisah-kisah mereka—mengenai kejujuran yang sempurna, sifat-sifat sempurna yang merupakan puncak dari segala sifat, keutamaan serta kebaikan mereka kepada seluruh jenis manusia, bahkan sampai kepada hewan—menuntut orang-orang yang dibebani syariat (mukallaf) untuk menaruh perhatian dan menunaikan hak-hak mereka. Keimanan rinci kepada para nabi inilah yang mengantarkan seorang hamba pada keimanan yang sempurna, dan ini termasuk hal-hal yang menambah keimanan.
  • Di antaranya: Kisah-kisah tersebut menetapkan keimanan kepada Allah dan ketauhidan-Nya, mengikhlaskan amal hanya untuk-Nya, beriman kepada hari Akhir, menjelaskan keindahan tauhid dan kewajibannya, serta keburukan syirik dan bahwa syirik adalah penyebab kebinasaan di dunia dan akhirat.
  • Di antaranya juga: Kisah-kisah tersebut menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman, agar mereka meneladani para nabi dalam seluruh tingkatan agama: dalam hal tauhid dan menunaikan peribadahan ('ubūdiyyah), dalam hal dakwah, kesabaran, dan keteguhan saat menghadapi segala musibah yang menggoncangkan, serta membalas hal tersebut dengan ketenangan, ketentraman, dan keteguhan.

(1) Diringkas dari "Mahasin At-Ta'wil" (9/305, 306).

Halaman 22

...yang sempurna, dan dalam hal ketulusan (ash-shidq) serta keikhlasan kepada Allah dalam semua gerakan maupun diam, mengharapkan pahala dan ganjaran hanya dari Allah Ta'ala, tidak meminta balasan maupun ucapan terima kasih dari makhluk melainkan hanya dalam hal-hal yang bermanfaat bagi makhluk.

  • Di dalamnya terdapat manfaat fikih, hukum-hukum syariat, dan rahasia-rahasia hikmah yang sangat penting dan tidak boleh tidak diketahui oleh setiap penuntut ilmu.
  • Di dalamnya terdapat nasihat, peringatan, dorongan (targhīb), ancaman (tarhīb), kelapangan setelah kesempitan, kemudahan urusan setelah kesulitannya, dan akibat baik yang disaksikan di dunia ini. Serta pujian dan kecintaan yang baik di hati para makhluk yang menjadi bekal bagi orang-orang bertakwa, kegembiraan bagi ahli ibadah, hiburan bagi orang-orang yang bersedih, dan nasihat bagi orang-orang beriman. Maka maksud dari kisah-kisah mereka bukanlah sebagai hiburan/cerita pengantar tidur, melainkan tujuan utamanya adalah sebagai peringatan dan pelajaran. ⁽¹⁾
  • Di antaranya adalah pembuktian kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Rasul kita ﷺ, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    "Itu adalah di antara berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sungguh, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa." [Surah Hud: 49]

    Karena Nabi ﷺ tidak pernah mempelajari kitab-kitab terdahulu.
  • Di antaranya adalah hiburan bagi Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman atas apa yang mereka hadapi berupa pendustaan, gangguan, serta tuduhan sihir dan kegilaan. Sungguh, rasul-rasul sebelum mereka pun telah didustakan, lalu mereka bersabar hingga datang pertolongan Allah dan kebinasaan bagi para pendusta. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    "Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, melainkan mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan terhadap mereka) sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu." [Surah Al-An'am: 34]

  • Di antara tujuan kisah Al-Qur'an adalah menonjolkan hakikat akidah penting yang terlihat melalui narasi sejarah, yaitu bahwa para nabi dan rasul seluruhnya (sholawatullah wa salamuhu 'alaihim) datang dengan satu kalimat dan satu pokok persoalan lintas generasi. Kalimat yang satu itu adalah: Laa ilaha illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), dan pokok persoalan yang satu itu adalah: "Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia."

(1) Diringkas dari "Taisir Al-Lathif Al-Mannan fi Khulashah Tafsir Al-Qur'an" karya Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (hal. 101) dengan penyesuaian.

Halaman 23

Tauhid Uluhiyyah adalah isu/persoalan terbesar dalam sejarah kehidupan manusia, di mana para rasul diutus secara berurutan demi menegakkannya, dan segala sesuatu setelah itu dibangun di atasnya. Hal ini memberikan rasa memiliki (intima') pada satu umat yang bersatu lintas generasi:

"Sungguh, (agama tauhid) inilah umat kamu, umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." [Surah Al-Anbiya: 92]

  • Di antara manfaatnya adalah penjelasan bahwa cobaan (ibtila') pasti terjadi pada orang-orang beriman, dan tidak boleh tidak mereka pasti akan menghadapi kejahatan jahiliyah dengan berbagai macam gangguannya. Kemudian mereka berada dalam masa penundaan di mana Allah belum menolong mereka, melainkan Allah menangguhkan para penguasa zalim sehingga mereka semakin melampaui batas dan menambah kedzaliman mereka. Sampai ketika janji Allah tiba, pertolongan Allah datang kepada orang-orang beriman sesuai takdir-Nya, dan kebinasaan jatuh kepada para pendusta juga sesuai takdir-Nya. ⁽¹⁾
  • Di antara manfaatnya adalah penjelasan tentang tugas para rasul, yaitu menyampaikan wahyu Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, dan bahwa mereka tidak memiliki kuasa di balik penyampaian tersebut untuk memberikan kemanfaatan bagi manusia, baik secara agama seperti keimanan dan ketakwaan, maupun secara duniawi seperti rezeki dan kesehatan. Mereka juga tidak bisa menghilangkan bahaya dari manusia. Demikian pulalah keadaan ayah Nabi Ibrahim, putra Nabi Nuh, istri Nabi Nuh, dan istri Nabi Luth yang termasuk orang-orang kafir.
  • Dalam kisah-kisah ini juga terdapat penjelasan untuk membantah keraguan (syubhat) kaum-kaum terdahulu terhadap rasul mereka bahwa rasul adalah manusia biasa, serta bantahan terhadap anggapan mereka bahwa mukjizat para nabi adalah sihir, atau tuntutan mereka agar malaikat turun atau memperlihatkan tanda-tanda alam materi. Bantahan kepada mereka adalah bahwa mukjizat/tanda-tanda tersebut merupakan perbuatan Allah Ta'ala, bukan dari kemampuan para rasul itu sendiri.
  • Dalam kisah-kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa hidayah agama adalah sebab bertambahnya nikmat dan terjaganya nikmat tersebut, sebagaimana hidayah itu sendiri merupakan jalan untuk meraih kebahagiaan akhirat.
  • Di antara manfaatnya adalah mengambil pelajaran dari nasihat para nabi dan imbauan khusus mereka kepada setiap kaum sesuai dengan kondisi mereka: seperti kaum Nuh dalam kesesatan dan kesombongan mereka; keluarga Firaun dan pembesar-pembesarnya dalam kekuasaan dan kesewenang-wenangan mereka; kaum Luth dalam kekejian mereka; kaum 'Aad dalam kekuatan dan kediktatoran mereka; kaum Tsamud dalam keangkuhan dan kemewahan mereka; kaum Madyan dalam kecurangan menakar/menimbang dan merusak timbangan; serta Bani Israil dalam pembangkangan dan ketegaran hati mereka.
  • Penjelasan tentang ketetapan (sunnatullah) Allah Ta'ala dalam hal kesiapan psikologis dan intelektual manusia bagi setiap orang dari...

(1) Diringkas dari "Dirasat Qur'aniyyah" karya Ustadz Muhammad Quthb (94 - 111), Dar Al-Syuruq.

Halaman 24

...keimanan, kekafiran, kebaikan, keburukan, petunjuk, kesesatan, kesombongan para pemimpin dan tokoh, kaum elit yang mewah, para pengikut taklid taklid buta terhadap nenek moyang yang berpaling dari keimanan dan perbaikan, serta menjadi orang yang pertama kali mendapat petunjuk dari kaum yang tertindas dan miskin. Serta menjelaskan tentang kesudahan kekafiran, pembangkangan, kezaliman, dan kefasikan. ⁽¹⁾

  • Di antara manfaat mempelajari kisah-kisah tersebut adalah membenarkan para nabi terdahulu, menghidupkan kenangan tentang mereka, dan mengabadikan jejak-jejak mereka.
  • Di antaranya adalah membantah Ahli Kitab dengan argumen atas apa yang mereka sembunyikan berupa penjelasan dan petunjuk, serta menantang mereka dengan apa yang ada di dalam kitab-kitab mereka sebelum terjadinya perubahan (tahrīf) dan penggantian (tabdīl), sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    "Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil sebelum Taurat diturunkan, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Yakub) untuk dirinya sendiri. Katakanlah (Muhammad), 'Maka bawalah Taurat lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar.'" ⁽²⁾ [Surah Ali 'Imran: 93]

  • Di antaranya adalah memupuk rasa cinta kepada para nabi dan rasul serta wali-wali mereka, yang mana hal itu merupakan penyempurna keimanan. Demikian pula memusuhi musuh-musuh mereka dan membenci mereka. Tidak diragukan lagi bahwa mencintai para nabi merupakan salah satu sebab terbesar masuk surga, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya." ⁽³⁾
  • Di antaranya adalah bahwa saksi (asy-syāhid) sepatutnya mempelajari dan mengetahui apa yang akan dipersaksikannya pada hari Kiamat. Umat ini akan menjadi saksi bagi seluruh nabi pada hari Kiamat bahwa mereka telah menyampaikan risalah, dan Rasulullah akan menjadi saksi atas mereka.Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Nuh akan dipanggil pada hari Kiamat, lalu ia menjawab: 'Aku penuhi panggilan-Mu wahai Rabbku.' Allah bertanya: 'Apakah engkau telah menyampaikan (risalah)?' Nuh menjawab: 'Ya.' Lalu dikatakan kepada umatnya: 'Apakah dia telah menyampaikan kepada kalian?' Mereka menjawab: 'Tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang datang kepada kami.' Maka Allah bertanya: 'Siapa yang menjadi saksi bagimu?' Nuh menjawab: 'Muhammad dan umatnya.' Maka mereka (umat Muhammad) bersaksi bahwa Nuh telah menyampaikan risalah, dan Rasul menjadi saksi atas mereka." Hal itulah yang dimaksud dalam firman Allah Ta'ala:

    "Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) 'umat pertengahan' (pilihan dan adil) agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kamu." ⁽⁴⁾ [Surah Al-Baqarah: 143] Dan Al-Wasath artinya: Al-'Adl (adil).

(1) Diringkas dan disesuaikan dari "Tafsir Al-Manar" karya Al-Allamah Muhammad Rasyid Ridha (12/41, 42). (2) "Mabahits fi 'Ulum Al-Qur'an" karya Syaikh Manna' Al-Qaththan (hal. 307) dengan penyesuaian dan ringkasan. (3) Hadis mutawatir diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6/557) "Al-Adab", dan Muslim (16/187) "Al-Birr wa Ash-Shilah", dari Abdullah bin Mas'ud dengan lafaz ini. Diriwayatkan juga dari Anas dengan lafaz: "Engkau bersama orang yang engkau cintai." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas, dan dari Safwan bin 'Assal (9/233) "Az-Zuhd". (4) Diriwayatkan oleh Ahmad (3/32), dan Ibn Majah (4284) dengan tambahan di awalnya dengan sanad sahih sesuai syarat =

Halaman 25

= Al-Bukhari dan Muslim, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam "Shahih Ibn Majah" nomor (3457). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6/371) "Al-Anbiya", dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz: "Nuh dan umatnya akan datang...".

(1) "Mabahits fi 'Ulum Al-Qur'an" (hal. 307, 308).

• Pelengkap (Takmīl):

Ustadz Manna' Al-Qaththan berkata: Al-Qur'anul Karim mencakup banyak kisah yang diulang di lebih dari satu tempat. Satu kisah yang sama disebutkan berulang kali dalam Al-Qur'an dan disajikan dalam bentuk yang berbeda-beda: dalam hal mendahulukan (at-taqdīm) dan mengakhirkan (at-ta'khīr), ringkas (al-ījāz) dan panjang lebar (al-iṭnāb), serta hal-hal serupa lainnya. Di antara hikmah dari hal ini adalah:

  1. {1} Penjelasan tentang keindahan balaghah Al-Qur'an pada tingkatannya yang paling tinggi: Di antara keistimewaan balaghah adalah menyajikan satu makna yang sama dalam bentuk yang berbeda-beda. Kisah yang diulang di setiap tempat disampaikan dengan gaya bahasa yang berbeda dari tempat lainnya, dituang dalam cetakan yang berbeda dari cetakan sebelumnya, sehingga manusia tidak merasa bosan dengan pengulangannya, bahkan terlahir kembali dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak ia dapatkan saat membacanya di tempat lain.
  2. {2} Kekuatan kemukjizatan (I'jaz): Menyajikan satu makna yang sama dalam berbagai bentuk cerita beserta ketidakmampuan bangsa Arab untuk mendatangkan satu bentuk saja darinya merupakan bentuk tantangan (at-tahaddī) yang paling tajam.
  3. {3} Perhatian besar terhadap posisi kisah tersebut untuk menancapkan pelajarannya dalam jiwa: Pengulangan merupakan salah satu cara penguatan (takkīd) dan tanda-tanda perhatian. Sebagaimana yang terjadi pada kisah Musa bersama Firaun, karena kisah tersebut menggambarkan pertempuran antara kebenaran (al-haqq) dan kebatilan (al-bāṭil) dengan penggambaran yang paling sempurna—meskipun kisah tersebut tidak diulang dalam satu surah yang sama, betapapun sering pengulangannya.
  4. {4} Perbedaan tujuan utama disajikannya kisah tersebut: Disebutkan sebagian maknanya yang mencukupi tujuan pada suatu tempat, dan ditonjolkan makna-makna lain di tempat yang berbeda sesuai dengan tuntutan keadaan (muqtaḍā al-aḥwāl). ⁽¹⁾

Tanya: Berapa lama Imam al-Bukhari menyusun kitab Shahih-nya?

Tanya: Berapa lama Imam al-Bukhari menyusun kitab Shahih-nya?

Jawab: Beliau menyusunnya selama 16 tahun.

Tanya: Berapa lama jarak antara selesainya penyusunan kitab Shahih dengan wafatnya Imam al-Bukhari?

Imam al-Bukhari selesai menyusun Al-Jami‘ ash-Shahih pada tahun 233 H.

Beliau kemudian masih hidup selama sekitar 23 tahun setelah menyelesaikan dan menyempurnakan kitab tersebut, karena beliau wafat pada tahun 256 H.

Pelajaran penting:

Hal ini menunjukkan bahwa Imam al-Bukhari tidak hanya bersungguh-sungguh ketika menulis kitabnya, tetapi juga melakukan peninjauan, pemeriksaan, dan penyempurnaan dalam waktu yang sangat panjang.

Oleh karena itu, setiap lafaz tambahan yang tidak beliau cantumkan dalam suatu hadis, pada dasarnya kita pahami bahwa beliau sengaja meninggalkannya karena pertimbangan ilmiah.

Demikian pula, apabila terdapat sebuah hadis yang menjadi pokok pembahasan dalam suatu bab tetapi tidak dicantumkan oleh Imam al-Bukhari, maka pada asalnya beliau sengaja meninggalkannya karena alasan ilmiah yang beliau pertimbangkan.

Jadi, dalam memahami Shahih al-Bukhari, kita tidak boleh menganggap setiap perbedaan lafaz, pemilihan hadis, atau hadis yang tidak dicantumkan sebagai sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Imam al-Bukhari adalah seorang imam yang sangat teliti dalam memilih, menyusun, meninjau, dan menyempurnakan kitabnya.

Wallāhu a‘lam.

[Syaikh Dr. Ahmad Al-Khalil -hafidzahullah-
https://www.facebook.com/share/1cGoGLoGp1/

Betapa banyak pintu yang membuatmu menangis di baliknya saat ia tertutup, padahal tertutupnya pintu itu adalah awal dari keselamatanmu

Hidup tak jarang menghadirkan jeda yang tak kita inginkan atau penolakan yang membenturkan ekspektasi. Di sinilah iman kepada takdir menjadi jangkar jiwa yang begitu krusial. Ia adalah benteng kokoh yang mencegah kita dari putus asa, menyunggingkan senyum di tengah kepungan badai, serta menjaga diri kita dari buruk sangka kepada Allah.

​Ketika hidup berjalan tak sesuai rencana, iman kepada takdir memeluk kita—menghindarkan diri dari depresi dan stres. Kita belajar untuk selalu bersyukur dan tersenyum, sebab hati kita memahami betul bahwa apa pun yang belum atau tidak diberikan kepada kita saat ini, selalu menyimpan hikmah dan kebaikan yang melampaui logika manusia.

​Syaikh Dr. Said Al-Kamali hafizhahullah  mengingatkan kita dengan bahasa yang indah:

قد يمنعُ الله عنك ما تُحبّ، ليحميك ممّا لا ترى… ثم يُعطيك ما لم تحلم به. فلا تحزن على تدبيرٍ اختاره الله لك

​"Bisa jadi Allah menahan apa yang kamu cintai demi melindungimu dari apa yang tak mampu kamu lihat. Lalu Dia akan memberimu sesuatu yang bahkan tak pernah kamu impikan. Maka, janganlah bersedih atas takdir yang telah Allah pilihkan untukmu."

Beliau juga menasehati:

كم من باب بكيت خلفه، وكان إغلاقه أول  نجاتك

"Betapa banyak pintu yang membuatmu menangis di baliknya saat ia tertutup, padahal tertutupnya pintu itu adalah awal dari keselamatanmu." 

​Pada akhirnya, melapangkan dada menerima takdir bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan bentuk kepercayaan tertinggi bahwa skenario Rabbul 'ālamīn tak pernah salah alamat.
ustadz hafidin achmad