Senin, 03 Agustus 2026

biografi Abu Muslim Al Khurasani, salah satu tokoh dan panglima perang pendiri Dinasti/Khilafah Abbasiyah.

Sejarah masa lalu penuh dengan pelajaran.

Iseng iseng membaca biografi Abu Muslim Al Khurasani, salah satu tokoh dan panglima perang pendiri Dinasti/Khilafah Abbasiyah.

Namun demikian, tatkala khilafah Umawiyah telah berhasil diruntuhkan, dan dinasti Abbasiyah berdiri, Khalifah Abbasiyah kala itu yaitu Al Manshur merasa bahwa keberadaan Abu Muslim dapat menjadi ancaman kekuasaan Dinasti Abbasiyah.

Menyadari hal ini, tanpa ragu Khalifah Al Manshur mengatur siasat untuk menyingkirkan al Manshur, demi stabiliutas kekuasaan dinasti Abbasiyah.

Khalifah Al Mansur benar benar mengabaikan jasa besar Abu Muslim yang rela menjadi pembunuh berdarah dingin, demi merebut kekuasaan dari Dinasti Umawiyah dan menamcapkan pilar pilar khilafah Abbasiyah.

Menurut Imam Az Zahabi, jomlah orang yang dibunuh oleh Abu Muslim jauh lebih banyak dibanding yang dibunuh oleh Al Hajjaj bin Yusuf. (Siyar A'alam An Nubala' 6/51)

Beliau juga berkata: Abu Muslim Al KHurasani adalah biang bencana  besar bagi orang orang Arab di negri Khurasan, ia membasmi mereka dengan ketajaman pedangnya,(Siyar A'alam An Nubala' 6/53).

Demikianlah contoh fakta bahwa betapa banyak di dunia ini orang orang yang berjasa besar bagi penguasa suatu negri. Namun tatkala kehadirannya berubah menjadi ancaman bagi kekuasaan penguasa, maka penguasa tidak segan segan menyingkirkannya. , 

Sejarawan juga mengisahkan bagaimana arogansi Abu Muslim yang merasa berjasa besar bagi dinasti, dan memiliki dukungan massa besar bersikap kurang patuh kepada penguasa pada masanya, terlebih bila mulai merasakan enaknya jabatan, harta yang melimpah, kewenangan yang seakan tanpa batas, memiliki dukungan sosial, pasukan dan lainnya. 

Kondisi ini menjadikannya bersikap arogan, sehingga enggan patuh kepada penguasa yang sah. Kondisi ini tergambar pada surat yang ditulis Abu Muslim Al Khurasi kepada sang Khalifah Al Manshur:
إنه لم يبق لك عدو إلا أمكنك الله منه.
وقد كنا نروي عن ملوك آل ساسان: إن أخوف ما يكون الوزراء، إذا سكنت الدهماء.
فنحن نافرون من قربك، حريصون على الوفاء بعهدك ما وفيت، فإن أرضاك ذلك، فأنا كأحسن عبيدك، وإن أبيت، نقضت ما أبرمت من عهدك، ضنا بنفسي والسلام
Tidak ada musuhmu yang tersisa kecuali -atas kehendak Allah - telah berhasil engkau tundukkan .

Kami banyak mendengar petuah raja raja Sasaniyah bahwa : "Ketakutan terbesar seorang menteri adalah ketika rakyat jelata  telah tunduk dan patuh."

Atas dasar itu, kami merasa kawatir untuk dekat denganmu, namun kami tetap komitmen menghormati janji setia kami kepadamu, selama engkau  juga menjaga komitmenmu. 

Bila engkau puas dengan pilihan sikapku ini, maka aku tetap menjadi pelayan-Mu yang paling setia; tetapi jika kamu menolak sikap pilihanku ini, maka gugurlah janji setiaku kepadamu, dalam rangka menjaga keselamatan jiwaku sendiri .  (Siyar A'alam An Nubala' 6/62)

So! baca dan baca sejarah masa lalu,  karena sejarah adalah ensiklopedia perilaku manusia. Aktornya tidak bisa kembali lagi, namun perilaku akan terus berulang dan berulang, minimal terdapat keserupaan. 

Semoga bermanfaat
https://www.facebook.com/share/197Q5E7B7k/

Penjelasan Syaikh Abdurrahman al-barrak tentang nama hijroh. Kata beliau hukumnya tidak wajib atau sunnah

Penjelasan Syaikh Abdurrahman al-barrak tentang nama hijroh. Kata beliau hukumnya tidak wajib atau sunnah mengganti nama yang non arab menjadi arab kecuali mengandung makna yang diharamkan, apalagi jika maknanya bagus. Selengkapnya bisa baca keterangan beliau.
ustadz febrian f

Aku bertanya kepada syaikhunâ Prof. Dr. Shâlih Sindi tentang Al-Imâm an-Nawawiy, lalu beliau menjawab:

سألت شيخنا أ.د صالح سندي عن النووي فقال : " هو أشعري مطرد في أشعريته في شرحه على مسلم ولا يصح رجوعه "
ونقلت له ما قاله ابن تيمية -كما في مجموع الفتاوى- من أن النووي نقل كتاب الإبانة للأشعري بخطه فهل يدل هذا على رجوعه لاعتقاد السلف فقال لي : " لايدل على شيء وعقيدته تؤخذ من شروحه وأما مجرد النقل فلا يدل على شيء "

إبراهيم بانون الطرابلسي
المدينة المنورة - 1447هـ
https://www.facebook.com/share/p/1DQQA4UGT2/
Aku bertanya kepada syaikhunâ Prof. Dr. Shâlih Sindi tentang Al-Imâm an-Nawawiy, lalu beliau menjawab:

"Beliau adalah seorang Asy'ariy yang konsisten dalam ke-Asy'ariahannya pada kitâb Syarh Shahîh Muslim-nya, dan tidak benar (klaim) bahwa beliau telah rujû' (dari pemahaman Asy'ariyah)."

Lalu Aku menyampaikan kepada beliau apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah —sebagaimana terdapat dalam Majmû' al-Fatâwâ— bahwa Al-Imâm An-Nawawiy pernah menyalin kitab Al-Ibânah karya Al-Asy'ariy dengan tulisan tangannya sendiri. Apakah hal ini menunjukkan bahwa beliau telah kembali kepada 'aqîdah Salaf? 

Dan beliau berkata kepadaku:

"Hal itu tidaklah menunjukkan apa-apa. 'Aqîdah beliau diambil dari kitâb-kitâb syarhnya. Adapun sekadar menyalin (mengutip), maka itu tidak menunjukkan apa-apa."

Ibrahim Banûn At-Tharâbulsiy
[Madinah al-Munawwarah - 1447 H]
https://www.facebook.com/share/1cMLFJNQnc/

𝙆𝙤𝙠 𝙆𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝘾𝙪𝙢𝙖 𝙎𝙞𝙗𝙪𝙠 𝙆𝙖𝙟𝙞𝙖𝙣?"

📚 "𝙆𝙤𝙠 𝙆𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝘾𝙪𝙢𝙖 𝙎𝙞𝙗𝙪𝙠 𝙆𝙖𝙟𝙞𝙖𝙣?"

Sering terdengar komentar seperti ini:

"𝙺𝚘𝚔 𝚔𝚊𝚕𝚒𝚊𝚗 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚜𝚒𝚋𝚞𝚔 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚎 𝚖𝚊𝚓𝚎𝚕𝚒𝚜 𝚝𝚊𝚔𝚕𝚒𝚖? 𝙺𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚍𝚞𝚕𝚒 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚞𝚛𝚞𝚜𝚊𝚗 𝚙𝚘𝚕𝚒𝚝𝚒𝚔, 𝚗𝚎𝚐𝚊𝚛𝚊, 𝚎𝚔𝚘𝚗𝚘𝚖𝚒, 𝚍𝚊𝚗 𝚔𝚘𝚗𝚍𝚒𝚜𝚒 𝚔𝚊𝚞𝚖 𝚖𝚞𝚜𝚕𝚒𝚖𝚒𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚝𝚒𝚗𝚍𝚊𝚜? 𝙸𝚜𝚕𝚊𝚖 𝚒𝚝𝚞 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚊𝚓𝚒𝚊𝚗!"

𝙺𝚊𝚕𝚒𝚖𝚊𝚝 seperti ini terdengar meyakinkan. Seolah-olah orang yang rutin menghadiri majelis ilmu dianggap tidak peduli pada umat.

Padahal justru di sinilah letak kekeliruannya.

Perhatikan nasihat Syaikh Al-'Ushaimī hafizahullah

مَنْ ظَنَّ أَنَّ الْجَالِسِينَ فِي حِلَقِ الْعِلْمِ لَا يَنْصُرُونَ الْإِسْلَامَ، فَقَدْ أُوتِيَ مِنْ جَهْلِهِ، فَإِنَّهُ لَا أَحَدَ يَنْصُرُ الْإِسْلَامَ كَأَهْلِ الْعِلْمِ وَطُلَّابِهِ. فَحِفْظُ الدِّينِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِالْعِلْمِ؛ فَإِنَّ الْخُطَبَ النَّارِيَّةَ وَالْبُكَاءَ عَلَى الْأَطْلَالِ لَا تَبْنِي دِينًا، وَلَا تَحْفَظُ شَرْعًا، وَلَا تُبْقِي ذِكْرًا، وَإِنَّمَا بَقَاءُ الْمُسْلِمِينَ فِي بَثِّ الْعِلْمِ وَإِحْيَائِهِ.

"𝗕𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗿𝗮 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸 𝗱𝗶 𝗺𝗮𝗷𝗲𝗹𝗶𝘀 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺, 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗶𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝘁𝗶𝗺𝗽𝗮 𝗸𝗲𝗯𝗼𝗱𝗼𝗵𝗮𝗻. 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗷𝗮𝘀𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗺𝗲𝗻𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗻𝘁𝘂𝘁 𝗶𝗹𝗺𝘂. 𝗔𝗴𝗮𝗺𝗮 𝗶𝗻𝗶 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗶𝗹𝗺𝘂. 𝗣𝗶𝗱𝗮𝘁𝗼 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗽𝗶-𝗮𝗽𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮, 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗴𝗮 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁, 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗯𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮. 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗸𝗮𝘂𝗺 𝗺𝘂𝘀𝗹𝗶𝗺𝗶𝗻 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝘀𝘆𝗮𝗿'𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝘀𝘆𝗮𝗿'𝗶."

Peduli kepada umat itu penting. Peduli pada kezaliman juga penting. Namun jangan lupa, solusi yang benar harus dibangun di atas ilmu yang benar.

Tanpa ilmu, semangat mudah berubah menjadi emosi. Kepedulian mudah berubah menjadi kebencian. Dan keberanian mudah berubah menjadi tindakan yang justru merusak umat.

Karena itu, jangan remehkan orang yang sedang duduk di majelis ilmu. Bisa jadi mereka sedang menyiapkan fondasi yang jauh lebih kokoh daripada sekadar komentar yang viral.

Islam tidak kekurangan orang yang pandai berteriak. Islam selalu membutuhkan lebih banyak orang yang mau belajar, mengamalkan, lalu mengajarkan ilmu dengan benar.

(𝗔𝗬𝗛𝗠)

Minggu, 02 Agustus 2026

Berkata Syaikhuna Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah: "Tidak mungkin dua orang yang mensyarah dua kitab tershahih setelah al-Qur'an merupakan Asy'ari."

Semoga Allah merahmati dua ulama umat; Imam Muhyiddin an-Nawawi dan Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani. Keduanya telah berkhidmat kepada umat terkhusus jasa mensyarah Shahih Bukhari & Muslim. 

Berkata Syaikhuna Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah: "Tidak mungkin dua orang yang mensyarah dua kitab tershahih setelah al-Qur'an merupakan Asy'ari."

Lalu datang anak kemarin sore mentabdi' dua imam besar yang dirinya saja tak sebanding dengan pena Imam Ibnu Hajar ketika menulis Nukhbatul Fikar, salah satu matan ilmu hadits fenomenal yang menjadi tumpuan ulama hadits setelah beliau. 

Sebagai seorang penuntut ilmu hendaknya kita bijak serta lebih beradab lagi dalam menyikapi kekeliruan seorang alim. Apalagi ini kesalahan yang bukan murni dimaksud oleh mereka.
ustadz muhammad taufiq
https://www.facebook.com/share/1E3Pg1xzoX/

berbicara dengan ilmu dan diam dengan santun (sabar), serta mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya

النجاة والمصلحة والخيرات في الكلام بعلم ، والسكوت بحلم ، ورد كل أمر إلى أهله ، فليس السكوت دائما محمودا ، فقد يكون في السكوت انتشار الباطل أو إظهاره أو غش العامة أو التدليس عليهم فيكون الكلام محمودا ولكن بعلم , وقد يكون في الكلام تقوية للفتنة أو نشر لها ، أو نشر لما لا يحصل به صلاح ولا يدفع به فساد ، ونحو ذلك فيكون السكوت محمودا ولكن بحلم ، فلو لم يتكلم إلا عالم حيث يحسن الكلام أو يجب ، وسكت من لم يعلم بحلم ، وعَرف فضل من علم وتكلم بعلم ، ورُدَّ كل أمر إلى أهله ، وأمسك كل إنسان عن الخوض فيما لايعنيه أو فيما لم يحط بعلمه ، لظهر الصلاح في البر والبحر ، وقل الشر واندحر ، وانطفأت الفتن ، وكثر الخير ، واستراح الناس ، وصلحت الأحوال .
https://www.facebook.com/share/1BQn9za36W/
> "Keselamatan, kemaslahatan, dan kebaikan-kebaikan terletak pada **berbicara dengan ilmu** dan **diam dengan santun (sabar)**, serta mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya.
> Diam tidaklah selalu terpuji, sebab terkadang diam dapat menyebabkan tersebarnya kebatilan, menampakkannya, menipu masyarakat umum, atau memanipulasi mereka; maka pada kondisi tersebut berbicara menjadi terpuji, namun harus dengan dasar ilmu.
> Sebaliknya, berbicara terkadang dapat memperkuat fitnah, menyebarkannya, atau menyebarkan hal-hal yang tidak mendatangkan kebaikan dan tidak menolak kerusakan; maka pada kondisi tersebut diam menjadi terpuji, namun harus dengan sikap santun (kebijaksanaan).
> Seandainya tidak ada yang berbicara kecuali orang yang berilmu pada saat berbicara itu baik atau wajib, dan diamlah orang yang tidak berilmu dengan santun, serta diakuinya keutamaan orang yang berilmu dan berbicara berdasarkan ilmu, lalu setiap urusan dikembalikan kepada ahlinya, dan setiap orang menahan diri dari mencampuri urusan yang tidak berkepentingan baginya atau apa yang belum dikuasai ilmunya... niscaya akan nampak kebaikan di darat dan di laut, kejahatan akan berkurang dan tersingkir, fitnah-fitnah akan padam, kebaikan melimpah, manusia menjadi tenang, dan keadaan pun menjadi baik."
### **Pesan Utama:**
 * **Bicara dengan Ilmu:** Berbicara menjadi wajib/terpuji saat kebatilan meluas atau untuk mencegah penipuan publik.
 * **Diam dengan *Hilm* (Sabar/Bijak):** Diam menjadi terpuji saat ucapan hanya akan memperbesar fitnah atau tidak membawa kemaslahatan.
 * **Profesionalisme & Etika:** Menyerahkan urusan kepada ahlinya dan tidak ikut campur dalam hal yang tidak diketahui adalah kunci kedamaian dan kebaikan bersama.
Fawaid syaikh sulaiman ar ruhaily

udzur bil jahl syaikh sulaiman ar ruhaily

https://youtu.be/QxyMrPdN_sk?si=CHoelhMBZIp0aWAO