Minggu, 05 April 2026

Di antara banyak adab dan akhlak seorang alim rabbani yang pernah saya baca dari kisah Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, ada beberapa hal yang mungkin sekarang sudah jarang kita temukan dari sosok ustadz atau guru atau bahkan kita sendiri:

Di antara banyak adab dan akhlak seorang alim rabbani yang pernah saya baca dari kisah Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, ada beberapa hal yang mungkin sekarang sudah jarang kita temukan dari sosok ustadz atau guru atau bahkan kita sendiri:

1. Sikap wara’ dalam berfatwa
Beliau pernah ditanya dalam sebuah majelis tentang masalah nama-nama dan sifat Allah. Beliau diam cukup lama sambil menulis sesuatu di kertas, lalu akhirnya menjawab:
“Saya tidak tahu.”
Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam berbicara tentang agama.

2. Perhatian kepada para pelajar
Beliau menyediakan sebuah kotak berisi uang di kampus tempat beliau mengajar, yang bisa dimanfaatkan oleh para pelajar. Jika uang di kotak itu habis, para pelajar melapor kepada beliau, dan beliau pun mengisinya kembali dari hartanya sendiri.

3. Zuhud terhadap dunia
Suatu hari, beliau diberi hadiah mobil baru saat sedang mengajar. Awalnya beliau menolak, namun karena pemberi amanah memaksa, akhirnya beliau menerimanya.
Beliau tetap melanjutkan pelajaran tanpa memperhatikan mobil tersebut.
Kemudian datang seseorang yang mengundang beliau ke acara walimah. Karena tidak bisa hadir, beliau justru memberikan mobil baru itu sebagai hadiah kepada orang tersebut, lalu kembali mengajar seolah tidak terjadi apa-apa.

4. Menjaga lisan dari membicarakan orang lain
Beliau tidak suka jika ada yang membicarakan atau menyinggung kesalahan ulama atau da’i di hadapan beliau.
Bahkan sering beliau menegur dengan mengatakan:
“Bukankah sudah saya katakan agar tidak menanyakan keadaan orang tertentu kepada saya? Maka saya tidak akan menjawab pertanyaan itu.”

5. Rendah hati dalam mencari kebenaran
Pernah beliau menjawab suatu pertanyaan sesuai pemahamannya. Namun ketika penanya bertanya apakah ada pendapat lain, beliau mengatakan akan mendiskusikannya dengan Syaikh Ibnu Baz.
Beberapa hari kemudian, beliau benar-benar menyampaikan pendapat Syaikh Ibnu Baz tersebut.

6. Kasih sayang kepada anak-anak
Ketika berjalan menuju masjid, anak-anak sering menyapa beliau.
Beliau membalas salam, menanyakan kabar mereka, dan mendoakan mereka.
Bahkan jika diberi hadiah sederhana seperti potongan siwak, beliau menerimanya dengan senang hati.

7. Menjaga adab dengan wanita
Jika ada wanita yang ingin bertanya saat beliau berjalan, beliau berhenti dan meminta orang yang bersamanya untuk menanyakan keperluan mereka.
Beliau tetap menjaga adab, namun tetap membantu kebutuhan mereka, termasuk menjawab pertanyaan atau memberi bantuan materi.

8. Tawadhu’ dan melayani dengan tangan sendiri
Pernah ada keran toilet di tempat beliau mengajar rusak. Saat dilaporkan, beliau izin pulang sebentar karena rumahnya dekat.
Beliau kembali membawa peralatan dan memperbaikinya sendiri, bahkan dengan keahlian yang baik, lalu melanjutkan pelajaran seperti biasa.

9. Sangat dermawan
Beliau dikenal sangat pemurah. Bahkan orang yang mengenal beliau merasa segan meminta bantuan, karena tahu beliau akan membantu semaksimal mungkin.

10. Tidak suka dipuji
Saat mengisi kajian di radio atau seminar, beliau sering berpesan agar tidak disebut-sebut dengan gelar, jabatan, atau pujian tentang dirinya.
Beliau lebih suka diperkenalkan secara sederhana.

11. Semangat belajar sejak kecil
Beliau telah menghafal Al-Qur’an sejak usia sekitar 6 tahun dan sudah terbiasa menghabiskan waktu di perpustakaan Islam sejak kecil, bahkan sebelum baligh.

12. Perhatian terhadap akhlak
Beliau pernah bermimpi bertemu Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, lalu bertanya apa yang membuat beliau dalam keadaan baik. Maka jawabannya adalah akhlak yang baik, dan ini sangat membekas dalam diri beliau.

13. Cara berbicara yang tenang dan ilmiah
Ketika menjelaskan ilmu, ucapan beliau mengalir dengan tenang seperti air, disertai dalil dan hujjah yang kuat.

14. Kepribadian yang hangat
Beliau dikenal sebagai sosok yang ramah, mudah bergaul, murah senyum, dan tidak membuat orang merasa kecewa ketika berinteraksi dengannya.

Sumber: fatwa-online (dengan penyesuaian bahasa)
al akh sucipto hadi

Daftar Khalifah Dinasti Umayyah

Daftar Khalifah Dinasti Umayyah 
​​
Total ada 14 khalifah selama Dinasti Umayyah berkuasa:

​​1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
​​2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
3. ​​Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
​​4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
​​5. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
​​6. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
​​7. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
​​8. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
​​9. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
​​10. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
​​11. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
​​12. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
​​13. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
​​14. Marwan II bin Muhammad (memerintah di Harran, Jazira), 127-133 H / 744-750 M
​​
Pusat dinasti Umayyah di Damaskus.

​​Setelah Marwan bin Muhammad, Dinasti Umawiyah runtuh. Abu al-Abbas ِAbdullah al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah Dinasti Abbasiyah yang pertama.

Fawaid Kangaswad | Support Media Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad

Sabtu, 04 April 2026

Syaikh Abu Laila al-Atsari

Syaikh Abu Laila al-Atsari: Pengingat akan gurunya, Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani.

​Beliau adalah salah satu murid Syaikh al-Albani yang paling menonjol. Beliau adalah pengawas dan pendokumentasi rekaman-rekaman sang Syaikh. Beliau senantiasa mendampingi Syaikh dan telah merekam ribuan kaset... lebih dari ribuan kaset audio, di antaranya adalah seri terkenal berjudul "Silsilah al-Huda wa an-Nur", yang terdiri dari 901 kaset audio yang membahas masalah fikih dan akidah.

​Di antaranya juga terdapat pertanyaan-pertanyaan dakwah dari Abi al-Hasan, yang baru-baru ini dicetak dalam dua jilid, serta pertanyaan-pertanyaan dari al-Huwaini.

​Syaikh al-Albani —semoga Allah merahmatinya— adalah seorang pria yang murah senyum; beliau terlihat sering bercanda dengan beberapa muridnya di dalam rekaman-rekaman tersebut.

​Syaikh Abu Laila al-Atsari hingga kini masih terus menyebarkan Manhaj Salafi dan rekaman-rekaman Syaikh al-Albani. Setiap orang yang mengambil manfaat dari pelajaran-pelajaran sang Syaikh (Al-Albani) sudah sepatutnya mendoakan Abu Laila al-Atsari.

​Semoga Allah merahmati al-Albani dan menjaga Abu Laila al-Atsari.


Penakluk Mongol yang Tunduk di Hadapan An-Nawawi

Penakluk Mongol yang Tunduk di Hadapan An-Nawawi

​Al-Malik az-Zahir Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari, sang pemenang Pertempuran Ain Jalut yang berhasil memukul mundur tentara Mongol, ternyata menaruh rasa segan dan takut yang luar biasa terhadap Imam an-Nawawi.

​As-Sakhawi meriwayatkan bahwa Sultan Baibars pernah berkata:

أنا أفزع منه
​"Aku merasa gentar di hadapannya." 
(Tarjamah Syaikhul Islam an-Nawawi, hlm. 45)

​Akar Konflik: Keadilan di Atas Kepentingan Militer

​Talib Hashmi merangkum penyebab ketegangan di antara keduanya sebagai berikut:

​Suatu ketika, Sultan Baibars tiba di Damaskus dengan niat mengumpulkan dana dari rakyat Syam untuk membiayai tentaranya yang sedang berjihad. Sejumlah ulama di Syam mengeluarkan fatwa yang mendukung kebijakan tersebut. Namun, Imam an-Nawawi dengan tegas menentangnya.

​Sultan yang merasa tidak senang kemudian memerintahkan sang Imam untuk meninggalkan kota. Menanggapi itu, Imam an-Nawawi pun memilih pulang ke desa asalnya, Nawa.

​Setelah kepergiannya, para ulama Syam mendatangi Baibars dan memprotes tindakan tersebut. Mereka berkata, "Dia adalah imam kami. Tanpanya, Damaskus terasa gelap." Mendengar hal itu, Sultan mencabut perintah pengasingannya dan meminta mereka membawa kembali Imam an-Nawawi dengan penuh penghormatan. Akan tetapi, sang Imam menolak dan bersumpah, "Aku tidak akan kembali ke Damaskus selama Baibars masih hidup." Tak lama berselang, Sultan Baibars pun wafat sebelum sempat meminta maaf secara langsung.

​Argumen Sang Imam

​Dalam riwayat lain disebutkan bahwa penolakan ini dipicu oleh kebijakan Sultan yang mengenakan pajak tambahan kepada penduduk Syam sekaligus memotong tunjangan para pengajar (mudarrisin).

​Imam an-Nawawi menegur Sultan dengan kalimat yang sangat tajam:

​"Dahulu Anda adalah budak milik Amir al-Bunduqdar. Anda bahkan tidak memiliki sehelai jubah pun. Sekarang, Allah telah mengaruniakan Anda kekuasaan dan negeri, serta dikelilingi pelayan laki-laki dan perempuan yang memiliki harta melimpah. Bagaimana mungkin saya mengeluarkan fatwa untuk mengambil harta rakyat kecil, sementara Anda sendiri belum mengambil harta yang ada pada para pelayan Anda?"

​(Disarikan dari Malik Zahir Baibars karya Talib Hashmi, hlm. 293)

Diterjemahkan dari tulisan
Asim Ul Haq
Ibn nashrullah 

Jumat, 03 April 2026

Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh

 **Syekh Abdul Muhsin al-Abbad** yang membahas tentang fenomena menguji orang lain berdasarkan tokoh tertentu. 
### **Judul Utama: Dorongan untuk Mengikuti Sunnah, Peringatan Terhadap Bid'ah, dan Penjelasan Bahayanya**
**Sub-judul: Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh (Imtihanun Nas bil Asykhash)**
"Termasuk bid'ah mungkar yang terjadi di zaman ini adalah perbuatan sebagian Ahlus Sunnah yang menguji sebagian lainnya dengan tokoh-tokoh tertentu. Baik motif pengujian tersebut adalah kebencian terhadap orang yang dijadikan bahan ujian, atau motifnya adalah pujian yang berlebihan kepada orang lainnya.
Jika hasil pengujian tersebut sesuai dengan keinginan si penguji, maka orang yang diuji akan mendapatkan sambutan, pujian, dan sanjungan. Namun jika tidak, maka bagiannya adalah celaan (tahjir), dianggap ahli bid'ah (tabdi'), boikot (hajr), dan peringatan (tahdzir).
Berikut ini adalah nukilan dari **Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah**—semoga Allah merahmatinya—di awal dan akhir tulisannya mengenai larangan menguji orang dengan tokoh-tokoh tertentu karena kebencian kepada mereka, atau menguji dengan tokoh lain karena pujian berlebih kepada mereka. Beliau berkata dalam *Majmu' al-Fatawa* (3/413-414) saat membahas tentang Yazid bin Muawiyah:
> 'Dan yang benar adalah apa yang dipegang oleh para Imam: Bahwasanya dia (Yazid) tidak dikhususkan untuk dicintai dan tidak pula dilaknat. Namun meskipun demikian, jika dia adalah seorang fasik atau zalim, maka Allah mengampuni orang fasik dan zalim, terlebih jika dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar. Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Pasukan pertama yang memerangi Konstantinopel diampuni dosanya." Dan pasukan pertama yang memeranginya dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah, dan bersamanya ada Abu Ayub al-Anshari...'
Maka kewajibannya adalah bersikap pertengahan dalam hal tersebut, dan berpaling dari menyebut-nyebut Yazid bin Muawiyah serta menjadikannya bahan untuk menguji kaum muslimin; karena sesungguhnya ini termasuk **bid'ah yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah**.'
Beliau juga berkata (3/415):
> 'Demikian pula memecah belah umat dan menguji mereka dengan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.'
Dan beliau berkata (20/164):
> 'Tidak boleh bagi siapapun untuk mengangkat seseorang bagi umat, lalu mengajak orang lain mengikuti jalannya, serta membangun wala' (loyalitas) dan bara' (permusuhan) di atasnya kecuali kepada Nabi ﷺ. Tidak boleh pula mengangkat perkataan bagi mereka selain firman Allah dan sabda Rasul-Nya serta apa yang telah disepakati umat, lalu membangun loyalitas dan permusuhan di atasnya. Bahkan ini adalah perbuatan ahli bid'ah yang mengangkat seorang tokoh atau suatu perkataan lalu memecah belah umat dengannya, membangun loyalitas atau permusuhan berdasarkan tokoh atau ucapan tersebut.'"
 Sampul buku "Al-Hats 'ala Ittiba'is Sunnah wa al-Tahdzir minal Bida'".
 Foto Syekh Abdul Muhsin al-Abbad.

Dorongan untuk Mengikuti Sunnah, Peringatan terhadap Bid'ah, dan Penjelasan Bahayanya
Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh (Imtihanun Nas bil Asykhas)
Beliau berkata (15/28-16):
"Jika seorang guru atau ustadz memerintahkan untuk memboikot seseorang, menjatuhkannya, menjauhkannya, atau hal semacamnya, maka hal itu harus ditinjau kembali:
Jika orang tersebut melakukan dosa secara syariat, maka ia dihukum sesuai kadar dosanya tanpa berlebihan.
Jika ia tidak melakukan dosa secara syariat, maka tidak boleh menghukumnya dengan cara apa pun demi tujuan pribadi sang guru atau selainnya.
Para guru tidak sepatutnya membuat kelompok-kelompok di antara manusia dan melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan permusuhan serta kebencian. Sebaliknya, mereka harus menjadi seperti saudara yang saling tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
'Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.'"
Sekiranya dibolehkan untuk menguji manusia dengan tokoh tertentu di zaman ini untuk mengetahui siapa yang termasuk pengikut Sunnah (Ahlus Sunnah) atau bukan, maka orang yang paling berhak dan utama untuk dijadikan tolok ukur ujian tersebut adalah Syaikhul Islam, Mufti Dunia, dan Imam Ahlus Sunnah di zamannya, yaitu guru kami Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (yang wafat pada 27 Muharram 1420 H). Semoga Allah merahmatinya, mengampuninya, dan memberinya pahala yang melimpah. Beliau dikenal oleh kalangan khusus maupun umum karena keluasan ilmunya, besarnya manfaatnya, kejujurannya, kelembutannya, kasih sayangnya, serta semangatnya dalam memberi petunjuk kepada manusia. Kami menilainya demikian, dan kami tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah.
Beliau memiliki manhaj (metode) yang unik dalam berdakwah kepada Allah, mengajarkan kebaikan kepada manusia, memerintah yang makruf, dan mencegah yang mungkar dengan kelembutan. Manhaj yang lurus ini membangun kekuatan Ahlus Sunnah, bukan memecah belahnya; menyatukan mereka, bukan mencerai-beraikannya; mempermudah, bukan mempersulit. Betapa butuhnya para penuntut ilmu saat ini untuk mengikuti jalan yang lurus dan manhaj yang agung ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan bagi kaum muslimin dan penolak marabahaya dari mereka.
Dan wajib bagi para pengikut maupun tokoh yang diikuti yang telah terjerumus ke dalam ujian (terhadap tokoh) tersebut untuk melepaskan diri dari jalan ini, yang telah memecah belah Ahlus Sunnah dan membuat mereka saling memusuhi. Caranya adalah dengan meninggalkan ujian tersebut dan segala dampak kebencian serta boikot yang ditimbulkannya. Hendaklah mereka menjadi saudara yang saling mencintai dan tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Para tokoh yang diikuti harus berlepas diri dari metode ini dan dari perbuatan orang-orang yang melakukannya. Dengan demikian, para pengikut dan tokoh tersebut akan selamat dari beban dosa akibat ujian ini dan dari dampak buruk yang menimpa mereka maupun orang lain.

IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR: Ulama Ahlul Bait yang Mencintai Sahabat

IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR: Ulama Ahlul Bait yang Mencintai Sahabat

Muhammad Al-Baqir rahimahullah adalah salah satu imam besar dari kalangan Ahlul Bait. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, lahir pada tahun 56 H dan wafat pada tahun 114 H. Beliau hidup di tengah limpahan kemuliaan nasab, ilmu, dan ibadah. Namun sebagaimana para imam Ahlul Bait lainnya, jejak hidup beliau justru membantah propaganda Syi’ah yang berusaha mempertentangkan keluarga Nabi ﷺ dengan para sahabat.

Salah satu bukti terangnya tampak dari pernikahan beliau dengan Ummu Farwah, putri Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq. Dengan pernikahan ini, Imam Muhammad Al-Baqir terhubung langsung dengan keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ini bukan sekadar jalur nasab, tetapi juga bukti bahwa hubungan Ahlul Bait dengan keluarga Abu Bakar bukanlah hubungan permusuhan, melainkan hubungan kedekatan, cinta, dan pertalian keluarga. Mustahil seorang imam Ahlul Bait menikah dengan keturunan Abu Bakar jika memang Abu Bakar diyakini sebagai musuh besar keluarga Nabi.

Beliau juga tumbuh dalam lingkungan ilmu yang agung. Dari kalangan sahabat, disebutkan bahwa beliau mengambil ilmu dari enam sahabat Nabi ﷺ, yaitu Jabir bin Abdullah Al-Anshari, Abdullah bin Abbas Al-Hasyimi, Abdullah bin Umar bin Khaththab, Ummu Salamah Ummul Mukminin, Abu Sa’id Al-Khudri Al-Anshari, dan Anas bin Malik Al-Anshari radhiyallahu ‘anhum. Ini menunjukkan bahwa Imam Muhammad Al-Baqir tidak hidup dalam tradisi memusuhi sahabat, tetapi justru belajar dari mereka, menerima warisan ilmu dari mereka, dan berdiri di atas mata rantai keilmuan Islam yang bersambung dengan generasi terbaik umat.

Kecintaan beliau kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq juga tampak dari ucapan beliau yang masyhur. Ketika ditanya tentang Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau menjawab dengan penuh penghormatan: “نعم الصديق، نعم الصديق”, “Benar, beliau adalah Ash-Shiddiq, benar, beliau adalah Ash-Shiddiq.” Lalu beliau menegaskan bahwa siapa yang tidak menyebut Abu Bakar dengan gelar Ash-Shiddiq, maka Allah tidak akan membenarkan ucapannya di dunia dan di akhirat. Ini adalah pembelaan yang sangat jelas dari seorang imam Ahlul Bait kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Maka sungguh aneh jika kaum Syi’ah tetap menisbatkan kebencian kepada Abu Bakar atas nama Ahlul Bait, padahal salah seorang imam besar mereka justru membela beliau dengan lisan yang tegas.

Adapun julukan Al-Baqir disematkan kepada beliau karena kedalaman ilmunya. Para ulama menjelaskan bahwa beliau disebut Al-Baqir karena membelah ilmu, yakni menyingkap, menguraikan, dan memperinci ilmu dengan sangat dalam. Beliau bukan sekadar ahli ibadah dari kalangan Ahlul Bait, tetapi juga seorang alim besar yang dikenal karena keluasan ilmu, pemahaman yang mendalam, dan kemampuan menjelaskan hakikat-hakikat agama dengan terang. Julukan ini menjadi pengakuan atas kedudukan ilmiah beliau yang tinggi di tengah umat.

Ketinggian ilmu itu juga tampak dari banyaknya riwayat hadits beliau. Disebutkan bahwa terdapat sekitar 240 riwayat hadits dari Imam Muhammad Al-Baqir dalam Kutub Tis’ah. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang diakui dalam transmisi ilmu Islam, bukan tokoh pinggiran. Beliau hadir dalam warisan hadits Islam, meriwayatkan dan diajak meriwayatkan, serta menjadi bagian dari bangunan ilmu Ahlus Sunnah yang kokoh.

Karena itu, sosok Imam Muhammad Al-Baqir sangat penting untuk dipahami dengan jujur. Beliau adalah imam dari Ahlul Bait, tetapi bukan imam bagi propaganda kebencian kepada sahabat. Beliau menikah dengan keturunan Abu Bakar, belajar dari para sahabat, memuliakan Abu Bakar dengan gelar Ash-Shiddiq, dan dikenal karena kedalaman ilmunya. Semua ini menunjukkan bahwa jalan Ahlul Bait yang sejati bukanlah jalan Rafidhah, tetapi jalan ilmu, cinta kepada para sahabat, dan kesetiaan kepada warisan Islam yang murni.

Wallahu a'lam.
Ustadz abul abbas aminullah 

Takut Dan Harap Kepada Allah

Takut Dan Harap Kepada Allah

Fudhail bin Iyadh berkata, "Rasa takut kepada Allah lebih utama daripada pengharapan selama seseorang itu masih dalam keadaan sehat, adapun ketika mendekati kematian maka pengharapan lebih utama."

("At-Takhwif Minan Nar", Ibnu Rajab, hal. 8)
ustadz al mizzi