Sabtu, 19 September 2026

Jenis-jenis Ziarah Kubur:


Jenis-jenis Ziarah Kubur:
 * Ziarah Syar'iyyah (Sesuai Syariat): Yaitu menziarahi kubur dengan tujuan untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal, memohonkan rahmat untuk mereka, serta mengingat kehidupan akhirat.
 * Ziarah Bid'ah: Yaitu meniatkan dan mendatangi kubur untuk beribadah di sisinya; seperti membaca Al-Qur'an, shalat, menyembelih hewan, atau ibadah lainnya, karena menganggap bahwa beribadah di sisi kubur memiliki keutamaan khusus. Hal ini merupakan bid'ah dan termasuk perantara menuju kesyirikan.
 * Ziarah Syirkiyyah (Kesyirikan): Yaitu menziarahi kubur untuk berdoa/meminta kepada penghuni kubur, memohon pertolongan (istighatsah) kepada mereka, menyembelih atau bernazar untuk mereka, atau bentuk-bentuk ibadah lainnya yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah. Hal ini merupakan perbuatan syirik kepada Allah Azza wa Jalla.
Ensiklopedi Fikih - Situs Dorar Al-Saniyya

Thalhah bin Ubaidillah. Ketika mendapatkan keuntungan 400.000 dirham (Kurs rupiah sekitar 81-100 Miliar), beliau gelisah karena takut akan hisabnya di akhirat.

Manteman, pernahkah kita merasa tidak bisa tidur semalaman bukan karena kekurangan uang, melainkan karena kebanyakan uang? Itulah yang dialami oleh sahabat Nabi, Thalhah bin Ubaidillah. Ketika mendapatkan keuntungan 400.000 dirham (Kurs rupiah sekitar 81-100 Miliar), beliau gelisah karena takut akan hisabnya di akhirat. Di sinilah peran luar biasa Su’da binti Auf, sang istri tercinta. Bukannya meminta bagian untuk membeli perhiasan atau kemewahan, ia justru menjadi kompas takwa bagi suaminya dengan memberi solusi: "Bagikan semuanya kepada keluargamu & fakir miskin besok pagi."

Saudaraku, jadikan harta di tangan untuk dibagi, bukan di hati sebagai ambisi. Saat rezekimu melimpah, jgn sombong, angkuh, merasa punya segala-galanya, merendahkan org lain atau menjadi ajang flexing. Tidakah engkau belajar dari kisah Qarun & umat terdahulu? Justru khawatirlah pertanggung jawabannya kelak!

Faidah kajian pagi ini ba'da Subuh bersama Ikhwan & Ikhwat di Masjid Al Hijrah. Saya nukil dari kitab Min Mawaqif Ash-Shahabah.
Siswanto hambali

Allahummaghfir lahu' (Ya Allah, ampunilah dia) tiga kali, dan 'Allahumma tsabbithu' (Ya Allah, teguhkanlah ia)

هذه هي الترجمة الإندونيسية للنص الظاهر في الصورة من كتاب شرح رياض الصالحين (الشيخ ابن عثيمين، ص 562):
"...dan استغفار (memohonkan ampunan) serta membaca. Hal itu karena apabila mayit telah dikuburkan, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang akan menanyakannya tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ apabila telah selesai dari menguburkan mayit, beliau berdiri di sisinya (yakni: di dekat kuburnya) dan bersabda: 'Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian dan mohonkanlah keteguhan baginya, karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.'
Maka disunnahkan bagi seseorang apabila orang-orang telah selesai dari menguburkan mayit untuk berdiri di sisinya dan mengucapkan: 'Allahummaghfir lahu' (Ya Allah, ampunilah dia) tiga kali, dan 'Allahumma tsabbithu' (Ya Allah, teguhkanlah dia) tiga kali; karena Nabi ﷺ 
 apabila berdoa, beliau berdoa sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu ia berpaling (pergi) dan tidak duduk untuk berzikir, membaca Al-Qur'an, maupun memohon ampunan. Demikianlah petunjuk yang diajarkan oleh Sunnah.
Adapun apa yang disebutkan oleh beliau—semoga Allah merahmatinya—tentang 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhu bahwasanya beliau memerintahkan keluarganya untuk berdiam di sisinya setelah dimakamkan selama waktu yang diperlukan untuk menyembelih seekor unta, lalu beliau berkata: 'Agar aku merasa tenang dengan keberadaan kalian sampai aku melihat jawaban apa yang akan kuberikan kepada utusan-utusan Tuhanku'—maksudnya para malaikat—maka ini adalah ijtihad dari beliau radhiyallahu 'anhu. Namun, ini adalah ijtihad yang tidak kita sepakati; sebab petunjuk Nabi ﷺ adalah petunjuk yang paling sempurna dibandingkan petunjuk selain beliau. Nabi ﷺ tidak pernah berdiri atau duduk di sisinya kubur setelah pemakaman selama waktu penyembelihan unta dan pembagian dagingnya, dan beliau pun tidak pernah memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan hal tersebut. Batas maksimal yang ada adalah beliau memerintahkan mereka untuk berdiri di atas kubur, memohonkan ampunan untuk penghuninya, serta memohonkan keteguhan (jawaban) baginya."
Catatan Kaki (Footnotes):
 * HR. Muslim, Kitab Al-Jana'iz, Bab Doa untuk Mayit dalam Shalat..., No. (963).
 * HR. Bukhari, Kitab Al-Wudhu, Bab Apabila Dilemparkan Kotoran ke Punggung Orang yang Shalat..., No. (240); dan Muslim, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, Bab Apa yang Ditemui Nabi ﷺ dari Gangguan Orang-orang Musyrik..., No. (1794).

"Adapun apa yang disebutkan oleh beliau—semoga Allah merahmatinya—tentang 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhu bahwasanya beliau memerintahkan keluarganya untuk berdiam di sisinya setelah dimakamkan selama waktu yang diperlukan untuk menyembelih seekor unta, lalu beliau berkata: 'Agar aku merasa tenang dengan keberadaan kalian dan melihat jawaban apa yang akan kuberikan kepada utusan-utusan Tuhanku'—maksudnya para malaikat—maka ini adalah ijtihad dari beliau radhiyallahu 'anhu. Namun, ini adalah ijtihad yang tidak kita sepakati; sebab petunjuk Nabi ﷺ adalah petunjuk yang paling sempurna dibandingkan petunjuk selain beliau. Nabi ﷺ tidak pernah berdiri atau duduk di sisinya kubur setelah pemakaman selama waktu penyembelihan unta dan pembagian dagingnya, dan beliau pun tidak pernah memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan hal tersebut. Batas maksimal yang ada adalah beliau memerintahkan mereka untuk berdiri di atas kubur, memohonkan ampunan untuk penghuninya, serta memohonkan keteguhan (jawaban) baginya."
— Ibnu 'Utsaimin, Syarah Riyadhush Shalihin, Jilid 4, Halaman 562.

Tafsir Surah Yusuf Ayat 25–28" oleh Syaikh Dr. Ali Al-Tuwaijri:

"Tafsir Surah Yusuf Ayat 25–28" oleh Syaikh Dr. Ali Al-Tuwaijri:

  • Latar Belakang Kejadian (Ayat 25):
    • ​Nabi Yusuf 'alaihissalam dan istri Al-Aziz berlari menuju pintu. Nabi Yusuf berusaha keluar untuk menyelamatkan diri, sementara wanita tersebut mengejar dan menarik baju gamis Nabi Yusuf dari belakang hingga robek.
    • ​Saat membuka pintu, mereka mendapati Al-Aziz (suami wanita tersebut) ada di depan pintu. Wanita itu langsung membalikkan tuduhan untuk membela diri dengan berkata: "Apakah balasan bagi orang yang bermaksud berbuat jahat terhadap istrimu...?" dan mengusulkan agar Nabi Yusuf dipenjara atau dihukum dengan azab yang pedih.
  • Pembelaan Nabi Yusuf & Kesaksian Saksi (Ayat 26–27):
    • ​Nabi Yusuf 'alaihissalam membela diri dan membantah tuduhan tersebut dengan membongkar fakta sebenarnya bahwa wanita itulah yang menggoda beliau.
    • ​Kemudian ada saksi dari keluarga wanita tersebut. Mengenai saksi ini:
      • ​Sebagian pendapat menyebutkan saksi itu seorang bayi, namun riwayat ini berderajat dha'if (lemaf).
      • ​Pendapat yang lebih kuat/terkenal adalah saksi tersebut seorang pria bijaksana dari kerabat/sepupu wanita itu.
    • ​Saksi tersebut memberikan kaidah hukum berdasarkan bukti fisik (qarain):
      • ​Jika baju gamis Nabi Yusuf robek di bagian depan, maka wanita itu benar dan Nabi Yusuf berdusta.
      • ​Jika baju gamisnya robek di bagian belakang, maka wanita itulah yang berdusta dan Nabi Yusuf adalah orang yang benar.
  • Keputusan Al-Aziz & Pernyataan “Inna Kaidakunna ‘Azhim” (Ayat 28):
    • ​Ketika Al-Aziz melihat baju gamis Nabi Yusuf robek di bagian belakang, terbukti bahwa Nabi Yusuf sedang berlari menjauh dan wanita itu yang mengejarnya dari belakang.
    • ​Al-Aziz pun berkata: "Sesungguhnya ini adalah dari tipu daya kalian (wahai para wanita), sesungguhnya tipu daya kalian adalah besar."
    • ​Syaikh menjelaskan bahwa tipu daya (kayd) di sini mencakup makar dan kelincahan/keahlian wanita dalam mencari celah untuk melepaskan diri dari kesalahan/kejepitan.

​📺 Video YouTube: Tafsir Surah Yusuf Ayat 25–28 - Syaikh Dr. Ali Al-Tuwaijri

Pendapat Para Mufasir Tentang Siapa yang Mengucapkan: “Sesungguhnya tipu daya kalian adalah besar”

السؤال

(إن كيدكن عظيم). قالها عزيز مصر، واستحسنها الله، وأنزلها في القرآن؟ أم أنزلها الله على لسان عزيز مصر، وقالها عزيز مصر؟

الإجابــة

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:                                      

 فما سألت عنه جزء من الآية الكريمة: إنه من كيدكن إن كيدكن عظيم {يوسف:28}.

وقائل جملة "إنه من كيدكن إن كيدكن عظيم" الواردة في الآية، اختلف فيه المفسرون, فقيل: العزيز، وقيل: الشاهد المذكور في قوله تعالى: وشهد شاهد من أهلها {يوسف:26}.  

قال القرطبي في تفسيره: قوله تعالى: (فلما رأى قميصه قد من دبر قال إنه من كيدكن) قيل: قال لها ذلك العزيز عند قولها: " ما جزاء من أراد بأهلك سوءا" [يوسف: 25]. وقيل: قاله لها الشاهد. والكيد: المكر والحيلة، وقد تقدم في الأنفال. (إن كيدكن عظيم) وإنما قال" عظيم" لعظم فتنتهن واحتيالهن في التخلص من ورطتهن. وقال مقاتل عن يحيى بن أبي كثير عن أبي هريرة قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: "إن كيد النساء أعظم من كيد الشيطان؛ لأن الله تعالى يقول: " إن كيد الشيطان كان ضعيفا" [النساء: 76] وقال: "إن كيدكن عظيم". اهـ.   

والله أعلم.


Judul:

Pendapat Para Mufasir Tentang Siapa yang Mengucapkan: “Sesungguhnya tipu daya kalian adalah besar”

Pertanyaan:

(إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ) — Apakah kalimat ini diucapkan oleh Al-Aziz (penguasa) Mesir lalu diakui kebaikannya oleh Allah dan diturunkan dalam Al-Qur'an? Atau Allah menurunkannya melalui lisan Al-Aziz Mesir, dan Al-Aziz Mesir yang mengucapkannya?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, serta shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba'du:

Mengenai apa yang Anda tanyakan tentang potongan ayat yang mulia:

“Sesungguhnya ini adalah dari tipu daya kalian, sesungguhnya tipu daya kalian adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)


Siapa yang mengucapkan kalimat “Sesungguhnya ini adalah dari tipu daya kalian, sesungguhnya tipu daya kalian adalah besar” dalam ayat tersebut, para mufasir berbeda pendapat:

  Ada yang berpendapat bahwa pengucapnya adalah Al-Aziz.

 * Ada pula yang berpendapat bahwa pengucapnya adalah saksi yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala: “Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksian...” (QS. Yusuf: 26).

Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya:

Mengenai firman Allah Ta'ala: (Maka ketika suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di bagian belakang, dia berkata: "Sesungguhnya ini adalah dari tipu daya kalian..."):

  Ada yang mengatakan bahwa Al-Aziz mengucapkan hal tersebut kepadanya ketika si wanita berkata: “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud berbuat jahat dengan istrimu...?” (QS. Yusuf: 25).

  Ada yang mengatakan bahwa yang mengucapkannya kepadanya adalah saksi tersebut.

Dan Al-Kayd (كَيْد) artinya adalah tipu daya dan makar. Adapun kalimat (Sesungguhnya tipu daya kalian adalah besar), dikatakan demikian karena besarnya fitnah dan keahlian/kelincahan wanita dalam melepaskan diri dari jeratan kesalahan mereka.

Muqatil meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

 “Sesungguhnya tipu daya wanita itu lebih besar daripada tipu daya setan, karena Allah Ta'ala berfirman: ‘Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah’ [QS. An-Nisa: 76], sedangkan Dia berfirman (tentang wanita): ‘Sesungguhnya tipu daya kalian adalah besar’.” Selesai.

https://www.islamweb.net/amp/ar/fatwa/431932/

Bapak Para Fakir dan Miskin Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah


Bapak Para Fakir dan Miskin Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Salah satu kisah paling indah tentang ketawaduan Sheikh Bin Baz dan kecintaannya kepada orang-orang miskin serta para pekerja.

Dr. Nasir bin Musfir Al-Zahrani meriwayatkan bahwa beberapa orang datang menemui Yang Mulia Sheikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Mereka mengusulkan agar beliau menyediakan ruangan/majelis khusus terpisah bagi orang-orang miskin, pekerja, dan pegawai untuk makan, serta menyediakan majelis lain yang dikhususkan bagi beliau dan para tamu agung/pejabat tinggi.

Alasan di balik usulan tersebut adalah karena sebagian tamu agung dan pengunjung mungkin merasa canggung atau keberatan untuk duduk bersama para pekerja, orang miskin, dan masyarakat umum.

Ketika mendengar usulan tersebut, raut wajah Sheikh berubah, lalu beliau bersabda:

"Kasihan, kasihan sekali orang yang berpendapat demikian. Dia belum pernah merasakan kenikmatan duduk bersama orang-orang miskin dan makan bersama mereka."

Kemudian beliau menegaskan bahwa beliau akan terus duduk bersama mereka dan tidak memiliki keistimewaan atau perlakuan khusus. Barang siapa yang ridha untuk duduk bersama beliau beserta orang-orang fakir dan miskin, maka selamat datang; dan barang siapa yang tidak ridha, maka tidak ada paksaan baginya.

Demikianlah sosok Sheikh Bin Baz rahimahullah; kedudukan ilmiahnya yang tinggi maupun martabatnya di tengah masyarakat tidak menghalanginya untuk duduk bersama orang-orang miskin dan pekerja, berbagi makanan dengan mereka, serta memuliakan mereka di majelisnya.

Semoga Allah merahmati Ibn Baz, seorang ulama yang tidak melihat kemiskinan sebagai alasan untuk merendahkan manusia, dan tidak pula melihat kekayaan sebagai alasan untuk mengutamakannya dari yang lain.

Kita memohon kepada Allah agar mengangkat derajat beliau di antara orang-orang yang mendapat petunjuk, dan membalas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan balasan yang terbaik.

Sumber-sumber:

  • Hamud bin Abdullah Al-Mathar, Mawaqif Mudhi'ah fi Hayat Al-Imam Abdul Aziz Ibn Baz, Dar Al-Wathan, Cetakan Pertama, 1420 H, hlm. 48–49.
  • Nasir bin Musfir Al-Zahrani, Imam Al-'Ashr, hlm. 93.
  • Abdul Rahman bin Yusuf, Al-Injaz fi Tarjamah Al-Imam Abdul Aziz bin Baz, hlm. 256, sebagaimana tercantum dalam kutipan yang dipublikasikan dari buku tersebut.

Abu Mujahid

keajaiban doa-doa yang dikabulkan

من عجائب الأدعية المستجابة

‏قال الإمام الشافعي رحمه الله : دهمني في هذه الأيام أمر أمضّني وآلمني ، ولم يطّلع عليه غير الله ، فلما كان البارحة أتاني آت في منامي فقال: يا محمد بن إدريس،
‏قل: 
‏"اللهم إني لا أملك لنفسي ضراً ولا نفعًا، ولا موتًا ولا حياة ولا نشورًا، ‏ولا أستطيع أن آخذ إلا ما أعطيتني ، ولا أتقي إلا ما وقيتني ، ‏اللهم فوفقني لما تحب وترضى من القول والعمل في عافية ". 
‏فلما أن أصبحت أعدت ذلك، فلما ترحل النهار أعطاني طلبتي ، وسهّل لي الخلاص مما كنت فيه ، فعليكم بهذه الدعوات فلا تغفلوا عنها.

طبقات الشافعية/ ابن الصلاح (١٤٤)
‏Termasuk dari keajaiban doa-doa yang dikabulkan:
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata:
 "Suatu hari aku ditimpa sebuah masalah yang sangat menyusahkan dan menyakitkan hatiku, dan tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Ketika malam harinya, seseorang mendatangi aku dalam mimpi lalu berkata: 'Wahai Muhammad bin Idris, ucapkanlah:
 «Ya Allah, sesungguhnya aku tidak memiliki kuasa atas diriku sendiri untuk mendatangkan kemudaratan maupun kemanfaatan, tidak pula kematian, kehidupan, maupun kebangkitan. Aku tidak mampu mengambil sesuatu kecuali apa yang Engkau berikan kepadaku, dan aku tidak mampu melindungi diri kecuali dari apa yang Engkau lindungi. Ya Allah, berilah aku taufik kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridai, baik berupa perkataan maupun perbuatan, dalam keadaan sejahtera/sehat walafiat.»
 Maka ketika pagi hari, aku mengulang-ulang doa tersebut. Hingga ketika siang berlalu, Allah mengabulkan permintaanku dan mempermudah jalanku keluar dari kesulitan yang kualami. Maka hendaknya kalian berpegang teguh pada doa-doa ini dan janganlah melupakannya."
 
— Thabaqat Asy-Syafiiyyah karya Ibn Ash-Shalah (144)