Selasa, 12 Mei 2026

Mauqif Syaikh Rabî' dalam tabdî' tidak seserampangan imâm jarh wa ta'dîl lokalan.

Mauqif Syaikh Rabî' dalam tabdî' tidak seserampangan imâm jarh wa ta'dîl lokalan.

Simak gambar itu adalah gambar salah satu halaman dari kitâb Al-Lubâb, Nashâihus Syaikh Rabî' Lis Syabâb hal 229,  dan terjemahannya:

Pertanyaan: 

"Apakah setiap orang yang terjatuh ke dalam bid'ah dianggap mubtadi' ?."

Jawab: 

"Tidak setiap orang yang terjatuh ke dalam bid'ah menjadi mubtadi', karena terkadang ia berijtihâd mencari Al-Haq, ia mengerahkan segala kemampuannya, kemudian ia terjatuh ke dalam bid'ah, di mana ia tidak tahu karena salah satu sebab dari bermacam sebab, immâ karena hadîts dha'îf yang ia kira shahîh, immâ ia memahami dari nash dengan pemahaman yang salah yang ia kira benar, dan yang serupa itu, dan banyak ulamâ' dari kalangan salaf dan khalaf terjatuh dalam ini, maka tidak boleh tergesa-gesa mentabdî'. 

Dan sesungguhnya hanyalah jika bid'ah wâdhihah jaliyyah dan para ulamâ' benar-benar telah mentahdzîr darinya seperti ucapan Al-Qurân itu makhlûq, atau menginkari melihat Allâh pada hari kiamat, atau ucapan ta'thîl (meniadakan) sifat-sifat Allâh 'azza wa jalla, dan apa saja yang serupa itu dari perkara jaliyyah wâdhihah, maka ia mubtadi'.

Jika ia mencela sahabat maka orang ini dikatakan Râfidhiy, jika ia mengajak kepada selain Allâh, beristighâtsah kepada selain Allâh, menyembelih untuk selain Allâh dikatakan mubtadi', bid'ah, syirk, tetapi ia tidak dikafirkan sampai ditegakkan hujjah kepadanya, dan jangan pula tergesa-gesa mentabdî', sebab orang yang terjatuh ke dalam bid'ah terkadang ia orang yang ikhlâsh karena Allâh menginginkan Al-Haq, lalu ia berbuat kesalahan, maka orang ini diingatkan kepada Al-Haq, dan jika ia termasuk orang yang menginginkan Al-Haq, maka kelak ia akan rujû', dan jika ia benar-benar telah mati, dan ia terjatuh dalam sesuatu dari kebid'ahan ini, maka ia dimintakan ampunan Allâh untuknya, dan tidak diyakini padanya bahwasanya ia mubtadi'."

[Kitâb Al-Lubâb hal 229]

Kekeliruan, kritik, dan saran terkait terjemahan sampaikan pada penerjemah

FB Penerjemah: Dihyah Abdussalam 
IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Komentar kami dari fâidah yang sudah kita dapatkan:

Sangat beda kalau kita ngambil langsung penjelasan para aimmah dengan penjelasan lokalan.

Kalau syaikh Rabî' ada sikap rahmat, tidak setiap orang jatuh dalam bid'ah dibid'ahkan, karena bisa jadi karena ada sebab-sebab yang diberi udzur, adapun imâm jarh wa ta'dîl lokalan bermudah-mudah sekali dalam bâb ini, tidaklah ketergesa-gesaan ini muncul melainkan karena kurang ilmu dan ada sikap tashaddur (ingin tampil jadi imâm rujukan).

KAIDAH DAN HUKUM SEPUTAR WANITA HAID DAN HAJI

KAIDAH DAN HUKUM SEPUTAR WANITA HAID DAN HAJI

1. Haid bukan penghalang sahnya haji
 2. Wanita haid tetap melakukan seluruh manasik haji kecuali thawaf
 3. Boleh berihram dalam keadaan haid (tidak disyaratkan thaharah ketika masuk ihram)
 4. Wanita haid tetap membaca talbiyah, dzikir, dan doa
5. Haid tidak menghalangi wukuf di Arafah.
6. Haid tidak menghalangi mabit di Muzdalifah dan Mina
7. Haid tidak menghalangi melempar jumrah
8. Wanita haid tidak boleh thawaf sampai suci
9. Jika sampai waktu kepulangan haid belum berhenti, dan thowaf ifadah belum dilaksanakan, maka boleh memakai pembalut dan tetap thawaf ifadhah. Karena itu rukun haji.
10. Sa‘i tetap sah bagi wanita haid
11. Jika haid datang setelah thawaf ifadhah, dan haid tidak berhenti sampai waktu kepulangan maka wanita mendapat udzur tidak mengapa tidak melaksanakan thowaf wada’
12. Boleh menggunakan obat penunda haid bila aman dan tidak membahayakan Dengan pertimbangan medis yang baik
13. Suami tetap haram menggauli istrinya sampai tahallul yang membolehkan jima‘ dan istri tidak sedang haid.
14. Wanita haid tetap mendapatkan pahala dan keutamaan haji secara penuh bila ikhlas dan mengikuti sunnah

Kaidah inti:

“Wanita haid mengerjakan seluruh amalan haji kecuali sholat dan  thawaf di Ka‘bah sampai suci.”
   
    Berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā:

    “Lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji, hanya saja jangan thawaf di Ka‘bah sampai engkau suci.” HR. al-Bukhari dan Muslim).
Ustadz fadlan fahamsyah

ماذا قال الشيخ؟"Apa yang dikatakan asy-Syaikh [yang dimaksud al-Albaniy]?".

Diantara hal yang menakjubkan adalah sikap hormatnya Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'iy terhadap Syaikh al-Albaniy. Keduanya sering berbeda pendapat dalam Tashhih dan Tadh'if hadits. Namun setiap kali membahas hadits di Dars-nya, Syaikh Muqbil seringkali bertanya pada para muridnya,

ماذا قال الشيخ؟

"Apa yang dikatakan asy-Syaikh [yang dimaksud al-Albaniy]?".

Untuk dijadikan salah satu rujukan dalam Tashhih dan Tadh'if-nya. Dimaklumi bahwa sudah menjadi Tradisi Syaikh Muqbil; jika di-muthlaq-kan penyebutan "asy-Syaikh" dalam majelisnya, berarti maksud beliau adalah Syaikh al-Albaniy rahimahullah. Begitulah sikap hormat sang murid terhadap gurunya.

— Faedah Daurah Du'at Majalengka bersama Syaikh Dr. Akram Ziyadah al-Falujiy [salah satu murid Syaikh al-Albaniy dan Syaikh Muqbil].

✒️ Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar al-Atsariy, Lc., MA.

pernikahan bagi anak muda di masa fitnah lebih wajib daripad haji

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata:
"Pernikahan bagi pemuda di masa penuh fitnah (ujian moral/godaan) lebih wajib daripada ibadah haji."

Hanbali Fiqh - Dinamika Mertua dan Menantu dalam Ijtihad Ulama

Hanbali Fiqh - Dinamika Mertua dan Menantu dalam Ijtihad Ulama

Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai'ir hafizhahullah mengatakan : "(Hendaknya calon istri) tidak memiliki ibu."

​Maksudnya, dianjurkan untuk memilih istri yang ibunya sudah wafat. Hal ini pun secara tegas disebutkan oleh Imam Ahmad dalam riwayat Abdullah.

​Alasannya:
Para ulama menyebutkan bahwa kehadiran ibu mertua sering kali menjadi pemicu keretakan hubungan antara suami dan istri. Hal ini terutama terjadi jika sang istri masih berusia muda dan sangat bergantung pada pendapat ibunya dalam segala hal.

​Sudah menjadi rahasia umum bahwa rasa sayang seorang ibu terkadang justru mendorongnya untuk memberikan saran yang kurang tepat bagi kebaikan rumah tangga anaknya. Hal seperti ini banyak terjadi. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan ulama lainnya kemungkinan memiliki landasan dari perkataan ulama salaf, meskipun riwayat pastinya belum sampai kepada kita.

​Namun, saya menduga ini adalah hasil ijtihad beliau sendiri. Ada juga yang menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifah semoga Allah merahmatinya pernah menyampaikan pesan serupa kepada Abu Yusuf: "(Pilihlah yang) tidak punya ibu." 

Logikanya, jika seorang wanita tidak lagi memiliki ibu, dia akan mencurahkan seluruh perhatian dan keterikatannya kepada suaminya. Bahkan, jika ada kekurangan atau kesalahan kecil dari suaminya, dia akan lebih mudah memaklumi karena rasa keterikatan yang kuat tersebut. Itulah sebabnya mengapa ada anjuran tersebut.

​Tentu saja, tidak bisa dimungkiri bahwa ada banyak ibu yang justru membawa kebaikan luar biasa, bahkan lebih baik daripada tidak ada ibu sama sekali. Sebab, kematangan berpikir, pengalaman, serta kebijaksanaan seorang ibu dalam mengarahkan urusan putrinya sering kali memberikan manfaat yang luas bagi keharmonisan rumah tangga.

Allahu a'lam

Ibnul Qayyim

Senin, 11 Mei 2026

hidayahnya al-‘Allamah, imam Masjid Nabawi, Mahmud Syuwail al-Madani, dari tasawuf menuju manhaj salafi melalui tangan al-‘Allamah al-Mujtahid Abdullah bin Idris as-Sanusi

-ذكر اهتداء العلامة إمام الحرم المدني محمود #شويل المدني من التصوف  إلى السلفية على يد العلامة المجتهد عبد الله بن إدريس #السنوسي.

يقول العلامة المحدث السلفي إمام الحرم المدني محمود شويل متحدثا عن نفسه

" ... و ذهبت إلى #المغرب الأقصى عن طريق طرابلس ثم تونس فاجتمعت بعلمائها بجامع الزيتونة ولم أتلق عنهم شيئا لأني لم أر أحدا منهم يشتغل بعلم الأثر إلا قراءة تبرك على نمط ما يقرأه #المقلدون الذين يقرأون الحديث ثم لا يعملون به.

ثم ذهبت إلى المغرب الأقصى ومكثت في عاصمته الأولى #فاس أربعة أعوام أكرع من علم الأثر إذ وجدت عش هذا العلم في دار آل #الكتاني الذين تخصصوا بعلوم الحديث والمصطلح إلا أنهم كان يغلب عليهم #التصوف و القول #بوحدة_الوجود مذهب الإتحاديين المشهور فمشيت معهم مدة إقامتي مستقيا من بحور الحديث فقرأت على السيد عبد الكبير الكتاني كتب الصحيح والسنن وكان ذا علم بها.

إلا انه كان يغلب عليه #التصوف أكثر من ولديه محمد و عبد الحي و إن كان محمد ولده الأكبر قد انتحل له طريقا صوفيا درج فيه على طغيان الطريقة التيجانية المؤسسة على استعباد مريديها بما أوحاه الشيطان لشيخها أحمد التيجاني من غلو و إطراء و تأله نعوذ بالله.

ولقد كرعت من حياض هذه الطريقة #الكتانية و برزت فيها مدة إقامتي بفاس حتى قيض الله لي الرجوع.

فإذا وصلت طنجة ميناء المغرب الكبرى أتاح الله لي عالم هدى و سنة يدعى السيد عبد الله #السنوسي كان يسكن بسفح جبل أنجرا خارج #طنجة.

فذهبت إليه لأباحثه عن التصوف ومحاسنه فاجتدبني الله إلى دينه الصحيح بواسطته إذ وجدته عالما سنيا ومحدثا #سلفيا فقدم لي من كتب الشيخين ابن تيمية و ابن القيم
" اقتضاء الصرط المستقيم" و " الجواب الكافي " فوجدت الحق فيهما #فرجعت إليه و لله الحمد و المنة.

... ثم لازمت مطالعة كتب الإمامين :ابن تيمية وابن القيم وتابعت مدارستهما و ما امتن الله عليهما به من علم صحيح و دين خالص فأشربت العقيدة الصحيحة عاملا في كل أحوالي بالكتاب والسنة و ما ألهمني الله منهما غير مقلد شخصا مسمى أو #مذهبا مخصوصا غير شخص النبي صلى الله عليه وسلم ".

ويقول الشيخ محمود شويل في ترجمته لنفسه بعد ذكره سبب توبته من الطريقة الكتانية

" ... و من ذلك الحين انتحل محمود النحلة السلفية فكاتب الشيخ الكتاني -يقصد محمد بن عبد الكبير- مبينا له الطريق الواضح و الصراط السوي فلم تنجح فيه الأدوية ولم يؤثر فيه النصح "
https://www.facebook.com/share/p/1Cwszq6MyU/

المصدر : كتاب الثمر الينيع في إجازات الصنيع ص:168.
Kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallaah memang beda, bersyukur diberi kesempatan menelaahnya.

---

“Disebutkan tentang hidayahnya al-‘Allamah, imam Masjid Nabawi, Mahmud Syuwail al-Madani, dari tasawuf menuju manhaj salafi melalui tangan al-‘Allamah al-Mujtahid Abdullah bin Idris as-Sanusi.
Al-‘Allamah ahli hadits salafi, imam Masjid Nabawi, Mahmud Syuwail, berkata tentang dirinya sendiri:
‘… Aku pergi ke Maroko bagian barat melalui Tripoli lalu Tunisia. Aku bertemu para ulama mereka di Jami’ Zaitunah, namun aku tidak mengambil ilmu dari mereka sedikit pun, karena aku tidak melihat seorang pun di antara mereka yang benar-benar menekuni ilmu atsar (hadits), selain hanya membaca untuk mengambil berkah, seperti cara para muqallid yang membaca hadits tetapi tidak memahami kandungannya.
Kemudian aku pergi ke Maroko bagian barat dan tinggal di ibu kotanya yang pertama, yaitu Fez, selama empat tahun. Aku menimba ilmu atsar di sana karena aku menemukan sarang ilmu ini di rumah keluarga Al-Kattani yang memang khusus mendalami ilmu hadits dan musthalah. Akan tetapi, mereka sangat didominasi oleh tasawuf dan keyakinan wahdatul wujud, yaitu mazhab kaum ittihadiyyah yang terkenal.
Maka aku pun berjalan bersama mereka selama masa tinggalku di sana sambil mengambil ilmu hadits dari lautan ilmu mereka. Aku belajar kepada Sayyid Abdul Kabir al-Kattani kitab-kitab Shahih dan Sunan, dan beliau memang memiliki ilmu dalam bidang itu.
Namun, tasawuf lebih mendominasi dirinya dibanding kedua anaknya, Muhammad dan Abdul Hayy. Meski begitu, Muhammad — anak sulungnya — telah menempuh jalan sufi yang diwarnai dominasi tarekat Tijaniyah, yang dibangun di atas perbudakan para pengikutnya melalui ilham setan kepada pendirinya, Ahmad at-Tijani, berupa sikap ghuluw, pujian berlebihan, dan pengkultusan. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.
Aku pun telah meminum dari telaga tarekat Kattaniyah tersebut dan cukup menonjol di dalamnya selama aku tinggal di Fez, sampai akhirnya Allah mentakdirkan aku untuk kembali.
Ketika aku sampai di Tangier, pelabuhan besar Maroko, Allah mempertemukanku dengan seorang alim pembawa petunjuk dan sunnah bernama Sayyid Abdullah as-Sanusi. Beliau tinggal di kaki Gunung Anjra di luar Tangier.
Aku mendatanginya untuk berdiskusi tentang tasawuf dan sisi-sisi baiknya. Namun Allah menarikku menuju agama-Nya yang benar melalui perantara beliau. Aku mendapati beliau sebagai seorang alim Sunni, ahli hadits, dan salafi.
Beliau memberikan kepadaku kitab-kitab dua imam, yaitu Ibn Taymiyyah dan Ibn al-Qayyim:
Iqtidha' al-Sirat al-Mustaqim
Al-Jawab al-Kafi
Maka aku menemukan kebenaran dalam kedua kitab itu, lalu aku kembali kepadanya, segala puji dan karunia hanya milik Allah.
… Kemudian aku terus-menerus menelaah kitab-kitab kedua imam tersebut — Ibn Taymiyyah dan Ibn al-Qayyim — serta mendalami pelajarannya dan ilmu yang Allah anugerahkan kepada keduanya berupa ilmu yang benar dan agama yang murni. Maka aku pun meresapi akidah yang benar, beramal dalam seluruh keadaanku dengan Al-Qur’an dan Sunnah serta apa yang Allah ilhamkan kepadaku melalui keduanya, tanpa bertaklid kepada seorang tokoh tertentu atau mazhab tertentu selain kepada Nabi ﷺ.’
Dan Syaikh Mahmud Syuwail berkata dalam autobiografinya setelah menyebut sebab taubatnya dari tarekat Kattaniyah:
‘… Sejak saat itu Mahmud menganut manhaj salafi. Ia pun menulis surat kepada Syaikh al-Kattani — maksudnya Muhammad bin Abdul Kabir — untuk menjelaskan kepadanya jalan yang terang dan shirath yang lurus. Namun obat-obatan itu tidak berhasil padanya dan nasihat itu tidak memberi pengaruh.’
Sumber: Kitab ats-Tsamar al-Yani’ fi Ijazah ash-Shani’, hlm. 168.”
Ustadz noor akhmad setiawan

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Al-Madkhal al-Mufashshal li Madzhab al-Imam Ahmad ketika membahas keistimewaan fiqih Hanbali, khususnya dalam aspek kemudahan hukum (taysir) pada ibadah, muamalah, syarat-syarat akad, pernikahan, dan selainnya:

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Al-Madkhal al-Mufashshal li Madzhab al-Imam Ahmad ketika membahas keistimewaan fiqih Hanbali, khususnya dalam aspek kemudahan hukum (taysir) pada ibadah, muamalah, syarat-syarat akad, pernikahan, dan selainnya:

Madzhab Imam Ahmad memiliki keistimewaan dalam beberapa bab fiqih. 

Dalam masalah thaharah, misalnya, madzhab ini berpendapat sucinya air kencing dan kotoran hewan yang halal dimakan dagingnya. Seandainya tidak ada pendapat ini, niscaya urusan akan menjadi sempit dan banyak menimbulkan kesulitan, khususnya bagi para pekerja kandang dan pemerah susu.

Madzhab ini juga berpendapat bolehnya mengusap khuf ketika berwudhu, padahal jaurab merupakan alas kaki yang umum dipakai masyarakat sepanjang tahun.

Di antara keistimewaan madzhab Imam Ahmad pula adalah prinsip bahwa hukum asal dalam akad dan syarat adalah sah. Prinsip ini membuka ruang yang luas bagi para pihak untuk membuat berbagai bentuk akad dan persyaratan selama tidak bertentangan dengan nash syariat.

Hal ini menunjukkan kuatnya pegangan madzhab ini terhadap prinsip dasar syariat, yaitu memberi kemudahan dan menghilangkan kesempitan. Di antaranya juga ialah pendapat sahnya jual beli mu’athah (transaksi dengan serah-terima tanpa lafaz ijab qabul).

Dalam bab perceraian, madzhab ini memiliki keistimewaan dengan memandang khulu’ sebagai fasakh (pembatalan akad nikah), bukan talak. Karena itu, khulu’ tidak mengurangi jumlah talak suami. Dalam hal ini terdapat upaya mempersempit peluang terjadinya perpisahan total. Namun di sisi lain, madzhab ini juga menetapkan bolehnya fasakh karena tidak adanya nafkah atau tidak adanya hubungan suami-istri, demi menghilangkan mudharat dari pihak perempuan.

Dalam masalah wakaf, terdapat salah satu riwayat dari Imam Ahmad yang membolehkan seseorang berwakaf untuk dirinya sendiri selama masa hidupnya. Ini merupakan bentuk perluasan pintu amal kebaikan.

Siapa saja yang menelaah kitab-kitab mufradat dalam madzhab Hanbali akan melihat banyak bentuk kemudahan dan upaya menghilangkan kesulitan yang selaras dengan maqashid syariat tanpa bertentangan dengan nash-nashnya. 

Dalam hal ini juga terdapat bantahan terhadap celotehan kaum modernis yang menuduh mazhab-mazhab fiqih sebagai sistem yang keras, kaku, atau menjauh dari prinsip kemudahan dan penghilangan kesulitan dalam syariat.

Wallahu a’lam.
___

قال الشيخ بكر أبوزيد
 في كتابه المدخل المفصل لمذهب الإمام أحمد 
في مبحث: مزايا الفقه الحنبلي،
 تحت مزية: التيسير في الأحكام من العبادات والمعاملات والشروط والنكاح وغيرها:
 تميز مذهب الإمام أَحمد في أَبواب الطهارة ـ بالقول بطهارة بول وروث مأكول اللحم، ولولا هذا لضاق الأَمر، وكثر الحرج، لاسيما على الدائس، والحالب.

ـ وبالقول بالمسح على الجوربين، والجورب ـ الشراب ـ لباس القدمين، لعامة أهل المصر، على مدار العام.

ـ تميز مذهب الإمام أَحمد بأَن الأَصل في العقود والشروط هو الصحة، وهذا يفتح حرية المتعاقدين في إِبرام العقود والشروط، بناء على هذا الأَصل، وتستمر في التوسع ما لم تصادم نَصًّا.

وهذا تمسك ونزوع إلى الأَصل الشرعي: التيسير، ورفع الحرج، ومن مذهبه: صحة البيع بالمعاطاة ـ وتميز مذهبه في: أبواب الفرقة من النكاح بأن الخُلع فسخ لا طلاق، لذا، فلا ينقص به عدد الطلاق، وفي هذا تضييق لدائرة الفِراق وأمام هذا: أن مذهبه: الحكم بالفسخ، لعدم النفقة والوطء، وفي هذا إِبعاد لمضارة النساء.
ـ وفي الوقف: جواز وقف الإنسان على نفسه مدة حياته، في إحدى الروايتين عنه، وفي هذا توسيع لدائرة عمل البر والخير، ومن نظر في كتب المفردات في المذهب، رأى فيها من التيسير ورفع الحرج مما يلتقي مع مقاصد الشريعة، لا يناهض نصوصها الخير الكثير، وفي هذا دفع للمهاترة العصرية نحو المذاهب، بنسبتها إلى ركوب الصَّعْب والذَّلول في أصولها، وفروعها، والعدول عن التيسير ورفع الحرج. اهـ.

والله أعلم.

أبو تقي الدين الحنبلي
Ibn nashrullah