Senin, 23 Februari 2026

Pemilik kebahagiaan sejati adalah dia yang memiliki tauhid yang benar

" Pemilik kebahagiaan sejati adalah dia yang memiliki tauhid yang benar " (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah/Majmu' Fatawa) 

Perkara yang dianggap temeh, tapi sebenarnya sangatlah penting.

Tauhid, asas kebahagiaan yang dilupakan kebanyakan orang.

Barangsiapa mencari jalan kebahagiaan sejati tanpa tauhid, niscaya dia tidak akan mendapatkannya. 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan ahlu tauhid.
ustadz dr adika mianoki

Nasehat Emas untuk Para Ulama dan Penguasa

Nasehat Emas untuk Para Ulama dan Penguasa

Al-Qadhi Asy-Syaikh Abdul Hakim Al-Haqqani hafidzahullah

​Para ulama tidak selayaknya bertikai dalam masalah-masalah cabang fiqh (furu’iyyah). Perselisihan mereka saat ini sangat berbeda dengan perbedaan pendapat para mujtahid dan Salafus Shalih dahulu.

​Dahulu, perbedaan pendapat di kalangan Salaf didasari semangat untuk menyingkap kebenaran dan berpijak di atas dalil. 

Perbedaan itu tidak menjadi bibit kerusakan; justru mereka tetap harmonis, bersatu, dan saling merangkul. Maka, perbedaan semacam itulah yang tidak tercela dalam ayat Al-Qur'an.

​Adapun perselisihan yang dimaksud (dan dicela) adalah perselisihan yang memicu kerusakan, pertentangan, dan sikap keras kepala, sebagaimana yang sering kita saksikan di zaman sekarang.

​Tidakkah kalian melihat? Jika ulama zaman kita berselisih dalam suatu masalah, masing-masing akan menyeret sekelompok orang awam ke pihaknya hingga berujung pada pertikaian fisik. Satu sama lain saling menuding sesat. Bahkan, ada yang sampai mencetak selebaran-selebaran untuk menjatuhkan pihak lawan dan menempelkannya di dinding-dinding.

​Inilah 'penyakit' yang merusak masyarakat awam, mengguncang stabilitas, dan melumpuhkan kekuatan umat Islam di hadapan musuh. Bahkan, musuh sengaja mengupayakan terjadinya perpecahan seperti ini, hingga mereka rela menggelontorkan dana besar demi membiayainya.
ustadz reza bin nasrullah 

Beberapa tata cara mengangkat tangan saat berdoa

Beberapa tata cara mengangkat tangan saat berdoa

1. Telapak tangan menghadap ke atas langit. 
2. Telapak tangan ke wajah pendo'a dan ujung jari ke langit. 
3. Menjadikan telapak tangan ke atas langit dan punggung telapak tangan di bawah. 
4. Kebalikan yg ketiga. Punggung tangan menghadap ke atas langit dan telapak tangan ke arah bawah..

Ini 4 sifat mengangkat tangan...

Rasulullaah mengangkat tangannya dgn telapak menghadap langit ketika berdoa ( Raghbah ) Harapan khusus yg sangat tinggi dgn harapan yg besar. Adapun dgn punggung menghadap ke atas langit (Rahbah) Rasa takut yg khusus...Wallaahu a'lam.
https://www.facebook.com/share/v/1E6mT1Eok6/

Istighfarnya manusia itu adalah doa yang lebih utama dibanding seluruh doa

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
"Istighfarnya manusia itu adalah doa yang lebih utama dibanding seluruh doa" 

Abu Minhal Ar-Riyahi rahimahullah berkata :
"Tidak ada ‘teman’ yang lebih baik bagi seorang hamba di dalam kuburnya selain banyak beristighfar.”

birul walidain

Shâlih Al-Maghâmisiy diangkat kerajaan Saudi menjadi imâm masjid nabawiy, pengangkatan ini tidak bermakna bahwasanya tazkiyyah akan baiknya manhaj Al-Maghâmisiy.

Shâlih Al-Maghâmisiy diangkat kerajaan Saudi menjadi imâm masjid nabawiy, pengangkatan ini tidak bermakna bahwasanya tazkiyyah akan baiknya manhaj Al-Maghâmisiy.

Al-Maghâmisiy menghalalkan musik, Al-Maghâmisiy ingin membuat madzhab baru yang dipelopori oleh dirinya, Al-Maghâmisiy menyebutkan Syî'ah itu "saudaraku" seperti ucapannya di sini:

 https://www.facebook.com/100077413997250/videos/%D9%85%D9%86-%D8%B6%D9%84%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%BA%D8%A7%D9%85%D8%B3%D9%8A-%D9%88%D8%B1%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%B5%D8%A7%D9%84%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D9%81%D9%88%D8%B2%D8%A7%D9%86-%D8%AD%D9%81%D8%B8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87/528501727754796/

Sehingga pengangkatan sebagai imâm oleh kerajaan tidak bermakna itu tazkiyyah akan manhajnya yang ditahdzîr oleh para aimmah.
Udas

FAIDAH AGUNG DARI KEUTAMAAN PUASA

FAIDAH AGUNG DARI KEUTAMAAN PUASA 

Syaikh Al Allamah Muhamamd bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah berkata :

Bahkan di hari kiamat, ketika seseorang yang berpuasa memiliki dosa kedhaliman kepada hamba yang lain, maka diambil darinya kebaikan pada dirinya kecuali puasa, sesungguhnya pahala puasa tidak diambil sedikitpun.

Karena puasa itu adalah untuk Allah bukan untuk manusia, dan ini bermakna baik, bahwa puasa itu pahalanya tetap mengalir dan tidak diambil sedikitpun dikarenakan kedhaliman kepada makhluq, sebagaimana hal ini telah tetap dari para ulama tentang pengkhususan puasa hamba hamba Nya hanya untuk Allah ta'ala.
ustadz hafit muhammad