Selasa, 03 November 2026

NIKAH TANPA WALI: BERLINDUNG DIBALIK KHILAFIYAH UNTUK MEMBENARKAN PENYIMPANGAN

NIKAH TANPA WALI: BERLINDUNG DIBALIK KHILAFIYAH  UNTUK MEMBENARKAN PENYIMPANGAN 

Para Ulama, telah sepakat ketika mendapatkan dalil, maka batal semua pendapat manusia. Karena kebenaran mutlak ada pada Wahyu, bukan pada pendapat dan madzhab tertentu. Tidak boleh bagi seorang ulama pun, menolak sebuah hadits yang shohih, tanpa alasan yang kuat untuk tidak mengamalkan hadits tersebut. 

Imam Ibnu Abdil Bar berkata:

ليس أحد من علماء الأمة يثبت حديثاً عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ثم يردّه، دون ادّعاء نسخ ذلك بأثر أو بإجماع، أو بعمل يجب على أصله الانقياد، إليه أو طعن في سنده، ولو فعل ذلك أحد سقطت عدالته، فضلاً عن أن يتخذ إماماً ولزمه اسم الفسق

"Tidak ada seorang pun dari kalangan ulama umat ini yang menetapkan sahihnya suatu hadis dari Rasulullah ﷺ, kemudian menolaknya, tanpa mengemukakan alasan bahwa hadis tersebut telah dihapus hukumnya (mansukh) berdasarkan atsar atau ijmak, atau karena adanya amalan yang menurut prinsipnya wajib diikuti, atau karena mencela dan mengkritik sanad hadis tersebut.
Seandainya ada seseorang yang melakukan hal demikian, niscaya gugurlah sifat keadilannya (kredibilitasnya), terlebih lagi jika ia dijadikan sebagai imam panutan. Bahkan, ia berhak menyandang predikat fasik."
(Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, hal 422. Cet. Dar Ibn Hazm) 

Baru-baru ini, kita dikejutkan dengan seorang Dai yang sangat keras permusuhannya kepada dakwah salaf terjatuh dalam kasus pelecehan seksual dengan alasan nikah tanpa wali. Dia beralasan ada ulama yang berpendapat mensahkan nikah tanpa wali, sehingga menjerat korban yaitu santrinya yang mungkin sudah didoktrin bahwa itu bukanlah kesalahan.

Padahal, Dalil-dalil tentang tidak sahnya nikah tanpa wali, sangat jelas. Karenanya Jumhur ulama menganggap bathilnya nikah tanpa wali. Diantara dalil tersebut.

عن أبي موسى رَضِيَ اللهُ عنه، أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: ((لا نِكاحَ إلَّا بوَليٍّ))

Dari Abu Musa -Radhiyallahu 'anhu- sesungguhnya Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda: "Tidak sah nikah tanpa wali"
HR. Abu Daud (2085) Tirmidzi (1101) Ibnu Majah (1881)

Kemudian hadits: 
عن عائِشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: ((أيُّما امرأةٍ نَكَحَت بغيرِ إذنِ وَلِيِّها فنِكاحُها باطِلٌ، فنِكاحُها باطِلٌ، فنِكاحُها باطِلٌ، فإنْ دخَلَ بها فلها المَهرُ بما استحَلَّ مِن فَرجِها، فإن اشتَجَروا فالسُّلطانُ وَليُّ مَن لا وليَّ له ))
Dari Aisyah -radhiyallah 'anha- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.
Apabila laki-laki tersebut telah menggaulinya, maka perempuan itu berhak mendapatkan mahar karena hubungan badan yang telah dihalalkan dengannya.
Apabila mereka berselisih (tentang urusan perwalian), maka penguasa adalah wali bagi perempuan yang tidak memiliki wali."
HR. Abu Daud (2083) Tirmidzi (1102) Ibnu Majah (1879)

Seringkali, kami menjelaskan tentang wajibnya ittiba', wajibnya tunduk kepada dalil, dan keharusan mengagungkan dalil. Karena memang ada sebagian orang yang lebih mengedepankan pendapat ulama dibandingkan dalil, terjebak dalam bingkai madzhab walaupun menyelisihi dalil. Dan tentu direspon negatif oleh fanatikus madzhab.

Akhirnya ada segelintir orang yang berdalil dengan pendapat ulama, untuk melegitimasi hawa nafsu dan kebusukannya. Berusaha mencari-cari pendapat yang sesuai hawa nafsunya. 
Para ulama berkata:

مَنِ اتَّبَعَ الرُّخَصَ تَزَنْدَقَ
"Barang siapa yang mencari-cari rukhsoh maka dia menjadi zindiq.

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata:

[Tidak Boleh Memberikan Fatwa Berdasarkan Hawa Nafsu dan Memilih-milih Pendapat Sesuai Keinginan]

Faedah ke-28:
Seorang mufti (pemberi fatwa) tidak boleh mengamalkan pendapat atau berbagai pandangan hukum yang ia sukai tanpa mempertimbangkan mana yang lebih kuat (tarjih). Sikap seperti ini tidak dapat dibenarkan.
Tidak cukup bagi seorang mufti untuk sekadar mengetahui bahwa suatu pendapat pernah dikemukakan oleh seorang imam atau merupakan pandangan yang dianut oleh sekelompok ulama, lalu ia bebas memilih pendapat mana saja yang ia kehendaki.

Ketika ia menemukan suatu pendapat yang sesuai dengan keinginan dan kepentingannya, ia pun mengamalkannya. Dengan demikian, keinginan dan kepentingannyalah (hawa nafsu) yang menjadi tolok ukur, sekaligus dasar dalam menentukan pendapat yang dianggap lebih kuat. Perbuatan seperti ini hukumnya haram berdasarkan kesepakatan umat Islam..."

Kemudian beliau berkata:
"...Kesimpulannya, tidak boleh mengamalkan suatu pendapat atau memberikan fatwa dalam agama Allah Ta'ala berdasarkan hawa nafsu dan sikap memilih-milih pendapat sesuka hati demi memenuhi kepentingan pribadi.

Seseorang mencari pendapat yang sesuai dengan keinginannya atau kepentingan orang yang ingin ia istimewakan, lalu mengamalkan, memfatwakan, dan menetapkan hukum dengannya. Sementara itu, terhadap orang yang menjadi musuhnya, ia memberikan hukum dan fatwa yang bertolak belakang dengan pendapat tersebut.
Perbuatan seperti ini termasuk bentuk kefasikan yang paling buruk dan dosa besar yang paling besar.

Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan."

(I'lamul Muwaqqi'in, (V/124-125) Tahqiq: Syaikh Masyhur Alu Salman)

Dika Wahyudi 
4 November 2026
24 jumadal ula 1448 H

Dan dengan memuji Allah, tidaklah seseorang menyerang Ahlussunnah kecuali dia pasti jatuh

Syaikh Muqbil -رحمه الله- berkata:

وبحمد الله فما قام أحد يهاجم أهل السنة إلا سقط

Dan dengan memuji Allah, tidaklah seseorang menyerang Ahlussunnah kecuali dia pasti jatuh.

المصدر:

تحفة المجيب على أسئلة الحاضر والغريب ١/‏٣٦٩ — مقبل بن هادي الوادعي (ت ١٤٢٢)

UAN


Larangan Syamatah

Larangan Syamatah
(Berbahagia atas musibah orang lain)

Pengingat buat kita semua.

لَا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ، فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
"Janganlah engkau menampakkan kegembiraan/kebahagiaan atas musibah yang menimpa saudaramu, karena boleh jadi Allah akan mengasihinya dan justru mengujimu (dengan musibah/dosa tersebut)." (HR. Tirmidzi)

Apa yang diselisihi oleh Abu Hasan al-Asy'ari dari mayoritas 'Ahlus Sunnah wal Jamaah'."

:
  "Apa yang diselisihi oleh Abu Hasan al-Asy'ari dari mayoritas 'Ahlus Sunnah wal Jamaah'."
 "Berkata 'Ahlus Sunnah wal Jamaah': 'Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki perbuatan-perbuatan, yaitu menciptakan, memberi rezeki, dan rahmat. Dan Allah Ta'ala itu qadim (terdahulu) dengan seluruh perbuatan-perbuatan-Nya, dan perbuatan-perbuatan Allah Ta'ala tidaklah baru (hadits), serta tidak pula baru (sebagai makhluk), bukan pula Zat Allah Ta'ala, dan bukan pula selain Allah Ta'ala, seperti halnya sifat-sifat yang lain'."
 "Dan Abu Hasan al-Asy'ari mengingkari bahwa Allah Ta'ala memiliki perbuatan, dan ia berkata: 'Perbuatan dan yang diperbuat adalah satu.' Dan ia menyetujui dalam hal ini golongan 'Qadariyah' dan 'Jahmiyah', serta di atas pendapat inilah kebanyakan para pengikutnya, dan ini adalah kesalahan yang murni."
 "Dan berkata 'Ahlus Sunnah wal Jamaah': 'Kemaksiatan dan kekafiran bukanlah keridaan Allah Ta'ala dan bukan pula kecintaan-Nya, melainkan hal itu terjadi dengan kehendak Allah Ta'ala'."
 "Dan Abu Hasan berkata: 'Allah Ta'ala rida terhadap kekafiran dan kemaksiatan serta mencintainya.' Dan ini adalah kesalahan yang murni pula."
  Ustadz nidlol mas'ud 

Senin, 02 November 2026

Sunnahnya Memberi Nama Barang

Sunnahnya Memberi Nama Barang

Nabi Shallallaahu 'alaihi Wasallam menamai barang barang yang beliau miliki.

Nama pedang pedang milik Nabi Shallallaahu 'alaihi Wasallam : Al Adlob, al qol'a, al battar, al hatf, ar rusub, al mikhdzam, al qodhib dan dzul fiqor.

Nabi mempunyai tujuh baju besi. Namanya dzatul fudhul yang pernah digadaikan kepada Yahudi untuk membeli 30 sho gandum. Kemudian Dzatul wisyah, dzatul hawasyi, sa'diyah, fidhoh, al batro dan al khirniq.

Nabi Shallallaahu 'alaihi Wasallam memeliki dua perisai yaitu az zaluq dan al fataq.

Beliau memiliki lima tombak yaitu al matswa, al matsna, an nab'ah, al baidha ini nama tombak besar beliau dan satu lagi tombak kecil al anazah.

Beliau memiliki gelas yang dinamai: Ar Royyan dan mughits.

Beliau mempunyai nampan untuk makan bernama al gorro.

Unta beliau bernama al qoshwa.
Keledainya bernama Ufair.
Bigholnya bernama duldul.
Dan beliau memilki beberapa kuda yaitu as sakab, al murtajaz, al lahif, al lazzaz, az zorib, subhah dan al ward.

Minggu, 01 November 2026

Nabi pernah Bekerjasama dan Minta diBack Up oleh TOKOH KAFIR di awal dakwah. ___

Nabi pernah Bekerjasama dan Minta diBack Up oleh TOKOH KAFIR di awal dakwah. 
___

Sejarah Islam kerap mencatat strategi-strategi brilian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menyebarkan risalah Islam. Jauh sebelum era perjanjian damai seperti Piagam Madinah, ternyata di fase-fase paling kritis periode Mekkah, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa sallam. pernah menempuh langkah taktis yang sangat pragmatis namun tetap beretika yaitu Nabi pernah meminta jaminan keamanan (jiwar atau suaka) dari seorang tokoh kafir.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Di balik keputusan tersebut tersimpan kisah perjuangan yang menguji mental, keteguhan, sekaligus keluhuran akhlak Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam dalam mengenang jasa kebaikan seseorang, bahkan kepada orang yang belum beriman.

A. Titik Balik Tersulit saat Amul Huzni dan Tragedi Thaif.

Peristiwa ini bermula pada tahun kesedihan (Amul Huzni), saat Nabi kehilangan dua pelindung terbesarnya yaitu sang paman Abu Thalib dan istri tercinta Siti Khadijah radhiyallahu anha. 

Tanpa perlindungan sosial yang kuat dari klannya, kaum musyrikin Quraisy semakin leluasa menindas dan menghalangi dakwah Islam di Mekkah.

Berharap menemukan angin segar, Nabi berhijrah sementara ke Thaif untuk menemui Bani Tsaqif. Namun, kenyataan pahit harus diterima. Alih-alih mendengarkan dakwah, penduduk Thaif mengusir beliau dengan lemparan batu hingga kaki beliau berdarah.
Saat hendak kembali ke Mekkah, Nabi dihadapkan pada dilema besar yaitu beliau tidak memiliki pelindung (protektor), sementara adat bangsa Arab saat itu melarang siapapun masuk ke sebuah wilayah tanpa berada di bawah suaka (jiwar) tokoh yang berpengaruh.

B. Mengetuk Pintu Tokoh-Tokoh Kafir tapi Ditolak hingga Diterima.

Sebelum memasuki tanah haram Mekkah, Nabi mencoba mendekati beberapa pemuka Quraisy untuk meminta perlindungan keamanan. Upaya ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai realitas sosial dan hukum adat yang berlaku saat itu demi keselamatan misi dakwah:

å Akhnas bin Syuraiq, Didekati Nabi, namun menolak karena merasa dirinya hanyalah sekutu (halif) dan bukan anggota asli klan utama.

å Suhail bin Amru, Menolak dengan alasan kabilahnya tidak berada dalam jalur aliansi yang tepat untuk memberikan suaka tersebut.

å Al-Muth'im bin 'Adi, Melalui perantara, Nabi akhirnya meminta suaka kepada Al-Muth'im bin 'Adi, seorang pemuka dari Bani Naufal (salah satu klan suku Quraisy yang kafir). Di luar dugaan, Al-Muth'im menyambut permohonan tersebut dengan tangan terbuka.

C. Pembelaan Sang Tokoh Kafir di Mata Para Sejarawan.

Peristiwa heroik ini diabadikan secara rinci oleh para sejarawan agung Islam, salah satunya oleh Ibnu Hisyam dalam kitab monumental As-Sirah An-Nabawiyah:

قَالَ ابْنُ هِشَامٍ: ثُمَّ إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَجَارَ بِالْمُطْعِمِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ نَوْفَلِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ أَنْ يَدْخُلَ مَكَّةَ فِي جِوَارِهِ، فَقَالَ الْمُطْعِمُ: نَعَمْ. وَدَعَا بَنِي حَومِهِ وَقَوْمَهُ، فَقَالَ: إلْبِسُوا السِّلَاحَ، فَكُونُوا عِنْدَ أَرْكَانِ الْبَيْتِ، فَإِنِّي قَدْ أَجَرْتُ مُحَمَّدً

"Ibnu Hisyam berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Al-Muth'im bin 'Adi bin Naufal bin Abdu Manaf agar bisa masuk ke Mekkah di bawah suakanya. Al-Muth'im berkata, 'Baiklah.' Ia lalu memanggil anak-anak dan kaumnya, seraya berkata, 'Kenakanlah senjata kalian dan berdirilah di sudut-sudut Baitullah, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Muhammad.'"

Bahkan, ketika para pemuka Quraisy lain seperti Abu Jahal mendatangi Al-Muth'im untuk memastikan status perlindungan tersebut—apakah Al-Muth'im sudah masuk Islam atau sekadar melindungi—dengan tegas ia menjawab bahwa dirinya hanya memberikan suaka. Abu Jahal pun akhirnya menghormati keputusan itu dengan berkata, "Kami melindungi siapa saja yang telah engkau lindungi."

D. Kesetiaan Abadi, Balas Budi Nabi kepada Al-Muth'im.

Meskipun Al-Muth'im bin 'Adi wafat dalam keadaan kafir sebelum Perang Badar, Rasulullah saw. tidak pernah melupakan budi baiknya. Prinsip wafa' (kesetiaan dan balas budi) yang dijunjung tinggi oleh Nabi terlihat jelas usai Perang Badar.

Melihat banyaknya tawanan perang Quraisy dari pihak musuh, Nabi bersabda mengenang jasa Al-Muth'im:

لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا، ثُمّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ

"Seandainya Al-Muth'im bin 'Adi masih hidup, kemudian ia berbicara kepadaku mengenai para tawanan yang busuk ini, niscaya akan aku bebaskan mereka untuknya." 

(HR. Bukhari no. 4023)

Kisah kerja sama Nabi Muhammad saw. dengan Al-Muth'im bin 'Adi memberikan pelajaran berharga (faedah) bagi umat Islam. Bahwa dalam berdakwah dan bernegara, Islam sangat rasional, terbuka terhadap hukum perlindungan yang berlaku, serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan balas budi—bahkan kepada orang yang berbeda keyakinan.

Referensi.
å As-Sirah An-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.
å Tarikh al-Umur wal Muluk karya Imam Al-Thabari.

å Sahih Al-Bukhari (Kitab Al-Maghazi).

å Al-Rahiq Al-Makhtum karya Syeikh Safiurrahman Al-Mubarakpuri.
Mahad griya sunnah cileungsi