Kamis, 03 September 2026

Kehidupan Rumah Tangga yang Bahagia (Halaman 22)


Kehidupan Rumah Tangga yang Bahagia (Halaman 22)

[10] Perhatian Setiap Orang Terhadap Pasangannya Lebih dari Orang Lain

Hal terpenting bagimu—wahai sang suami—adalah istrimu, walaupun seluruh manusia marah. Dan hal terpenting bagimu—wahai sang istri—adalah suamimu, walaupun seluruh manusia marah. Maka janganlah kalian mendengarkan perkataan orang lain selama kalian saling memahami dan bersepakat.

Akan tetapi, kalian berdua wajib saling menjaga dan membujuk pasangan saat ia sedang marah atau saat terjadi hal yang tidak disukainya.

Sebagian istri hidup bahagia bersama suaminya, namun tidak lama kemudian ia duduk bersama si Fulanah atau si 'Alanah, lalu keyakinan dan pandangannya berubah. Begitu kembali ke rumah, ia memutarbalikkan keadaan rumah tangganya!

Hal ini terlihat jelas setelah adanya kunjungan atau pertemuan-pertemuan sosial.

Sebagian istri—semoga Allah memberi mereka petunjuk—lebih memedulikan perkataan dan pandangan orang lain daripada keinginan suaminya! Hal inilah yang memicu rasa benci sang suami kepadanya, karena ia melihat istrinya lebih mementingkan orang lain daripada dirinya.

Tidak diragukan lagi bahwa hal itu tidak membawa kebaikan bagi dirinya sendiri maupun bagi suaminya, melainkan merupakan jalan menuju perpecahan.

Menjauhi Sifat Bekeretapan Menyalahkan dan Mengkritik (Halaman 23)

[11] Menjauhi Terlalu Banyak Menyalahkan dan Mengkritik

Janganlah kalian terlalu sering menyalahkan dan mengkritik, larilah dari sikap tersebut sebagaimana kambing lari dari serigala.

Sebagian orang suka menyalahkan untuk hal yang paling sepele. Jika sang istri menghidangkan sarapan, hal pertama yang ia ucapkan adalah kritikan: "Gula tehnya terlalu sedikit", "Mana airnya?", "Piringnya terlalu besar!!"

Begitu pula sang istri, ketika suaminya pulang ke rumah dalam keadaan lelah, ia justru menyambut kedatangannya dengan celaan dan kritikan: "Kenapa terlambat?", "Ponselmu kenapa dimatikan?!"

Ketahuilah bahwa teguran ('itab) adalah celaan dan pembalasan, yaitu ketika salah satu dari kalian mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada pasangan.

Teguran ('itab) itu terbagi menjadi dua jenis:

  • Jenis Pertama: Teguran yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang, dan kasih sayang serta persahabatan tidak akan bertahan tanpanya. Yaitu teguran dengan nada manja dan lembut, serta memberitahunya dengan santun bahwa ia tidak menyukai hal tertentu, lalu berterus terang dengan lembut mengenai hal yang mengganggu perasaannya.Jenis ini sangat penting bagi siapa saja, sebagaimana dikatakan oleh penyair: Jika teguran telah hilang, maka tidak ada lagi kasih sayang, Dan kasih sayang akan tetap ada selama teguran itu masih ada.Teguran seperti ini sangat bermanfaat jika disampaikan dengan gaya bahasa yang halus dan indah, serta tidak dilakukan secara berlebihan; karena segala sesuatu yang berlebihan itu membosankan.
  • Jenis Kedua: Celaan dan celaan keras dengan gaya bahasa yang kasar dan kaku. Jenis inilah yang wajib dijauhi oleh pasangan suami istri secara total. Adapun jenis yang pertama, hendaknya tidak dilakukan secara berlebihan, karena segala sesuatu yang berlebihan itu membosankan.

tujuan yg keliru ketika menuntut ilmu

Tanya : Apa oleh nganggo kalung manik-manik, kerang, lan sejenise kanggo tolak bala?

Tanya : Apa oleh nganggo kalung manik-manik, kerang, lan sejenise kanggo tolak bala?

Jawab : mboten saget nganggo iku kanggo nyegah penyakit 'ain
Dasare firman Allah Ta'ala: 
"Lan yen Allah nemtokake musibah kanggo kowe, mula ora ana sing bisa ngilangi kejaba Panjenengane dhewe (Allah Ta'ala)." 
___
QS. Al-An'am: 17

Terus uga ana sabdane Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ: 
"Sapa sing nganggo jimat, maka saestu (sungguh) dheweke wis nglakoni amalan syirik.

" (Hadits sahih, riwayate Imam Ahmad)

Cathetan: 
Sing diarani jimat / tamimah iku yaiku manik-manik utawa kerang sing digantung kanggo tolak bala.

Intine: Nggantung barang kanggo nyegah musibah utawa penyakit iku kalebu syirik, merga percaya yen barang mau sing nduweni kekuwatan, dudu Allah. 

_____
Faidah kajian Kitab "Khud Aqidatak minal kitab was sunnah shahihah
ustadz nurcholis aminudin

Metode Nabi ﷺ dalam mengingkari kesalahan orang lain ditandai dengan menjelaskan kebenaran sekaligus membedakan antara pelaku kesalahan dan perbuatannya.

Metode Nabi ﷺ dalam mengingkari kesalahan orang lain ditandai dengan menjelaskan kebenaran sekaligus membedakan antara pelaku kesalahan dan perbuatannya.

Pengingkaran Nabi ﷺ bukan sekadar luapan emosi, tetapi merupakan proses perbaikan yang menyeluruh. Di dalamnya dapat mencakup beberapa hal berikut:

- Menghentikan kesalahan dan mencegah agar tidak terus dilakukan.
- Menjelaskan hukum syariat terkait kesalahan tersebut.
- Menjelaskan buruknya kesalahan dan dampak yang ditimbulkannya.
- Memperbaiki kerugian atau dampak buruk yang telah terjadi.
- Menjaga orang yang melakukan kesalahan agar tidak berputus asa atau semakin keras kepala.
- Memberikan pelajaran kepada orang-orang yang menyaksikan atau mendengar tentang kejadian tersebut.
- Membedakan antara pribadi orang yang salah dengan kesalahannya. Perbuatannya diingkari, tetapi keutamaan dan kedudukannya tetap dihargai.
- Memilih cara yang paling mendatangkan maslahat dan paling sedikit menimbulkan mafsadat.

Karena itu, tidak tepat mengambil satu sikap Nabi ﷺ misalnya :
Kelembutan beliau kepada seorang Arab Badui yang buang air kecil di masjid, atau ketegasan beliau kepada Usamah ketika membunuh seseorang yang telah mengucapkan syahadat, atau teguran beliau kepada orang yang mengumumkan barangnya yang hilang di masjid, lalu menjadikannya sebagai satu metode yang berlaku mutlak dalam setiap bentuk pengingkaran.

Sikap Nabi ﷺ dalam mengingkari kemungkaran sangat mempertimbangkan keadaan, orang yang melakukan kesalahan, jenis kesalahannya, serta maslahat dan mafsadat yang ditimbulkan.
_____
Dr. Muhammad Abdullah Al-Khudhairi -hafidzahullah-
Ustadz nurhadi nugroho

Salah seorang kawan Syaikh Al Albani pada tahun 1405 H pernah menawarkan beliau untuk Safari Dakwah ke Bangladesh sekitar tiga hari, dan temennya meyakinkan bahwa peserta yang akan hadir sebanyak 3 jt orang.

Salah seorang kawan Syaikh Al Albani pada tahun 1405 H pernah menawarkan beliau untuk Safari Dakwah ke Bangladesh sekitar tiga hari, dan temennya meyakinkan bahwa peserta yang akan hadir sebanyak 3 jt orang.

Dengan berat hati Syaikh menolak undangan tersebut, walaupun sudah dibujuk berkali-kali bahkan walau hanya sehari saja, Syaikh tetep pada pendiriannya. 

Tatkala sampai di rumah, orang terdekatnya bertanya apa sebab penolakan tersebut, “Aku Khawatir Fitnah (popularitas) pada diriku, karena mereka menyebut jumlah peserta yang begitu banyak”.

Pada suatu ketika beliau menangis sejadi-jadinya tatkala ada yang menyebut beliau seorang Alim minal Ulama, 

Beliau berkata : 
اللهم لا تؤاخذني بما يقولون، و اجعلني خيرا مما يظنون، و اغفر لي ما لا يعلمون 

“Ya Allah, jangan engkau siksa diriku atas apa yang mereka ucapkan, Jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka duga. Dan ampunilah aku apa yang tidak aku ketahui”.

Semoga ini adalah tanda keikhlasan beliau dalam berdakwah.

Rahmati beliau dan ampuni segala kesalahan beliau.

Abu Yusuf Akhmad Ja’far

Kita berlarut-larut dalam ketakutan terhadap masa depan, dan kita lupa bahwa masa depan kita ada di tangan Allah.

Kita berlarut-larut dalam ketakutan terhadap masa depan, dan kita lupa bahwa masa depan kita ada di tangan Allah.

Sungguh, tipu daya kalian (wahai para wanita) sangat besar!"

Makanya Dalam Surah Yusuf, Allah mengabadikan perkataan Sang Mentri Al Azis kepada Istrinya..

 "Inna Kayda Kunna 'Adziim..!"
Sungguh, tipu daya kalian (wahai para wanita) sangat besar!"