Kamis, 26 Februari 2026

rahasia kesembuhan hati melalui surah Al-Fatihah.

قال ابن القيم: "وكثيرا ما كنت أسمع شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه يقول: {إياك نعبد} [الفاتحة: ٥] تدفع الرياء {وإياك نستعين} [الفاتحة: ٥] تدفع الكبرياء.
١-فإذا عوفي من مرض الرياء ب {إياك نعبد} [الفاتحة: ٥] 
٢-ومن مرض الكبرياء والعجب ب {إياك نستعين} [الفاتحة: ٥]
٣-ومن مرض الضلال والجهل ب {اهدنا الصراط المستقيم} [الفاتحة: ٦] 
عوفي من أمراضه وأسقامه، ورفل في أثواب العافية، وتمت عليه النعمة، وكان من المنعم عليهم غير المغضوب عليهم وهم أهل فساد القصد، الذين عرفوا الحق وعدلوا عنه والضالين وهم أهل فساد العلم، الذين جهلوا الحق ولم يعرفوه".
مدارج السالكين ١/ ٧٨.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menukil hikmah yang sangat dalam dari gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, mengenai rahasia kesembuhan hati melalui surah Al-Fatihah.

Ibnu al-Qayyim berkata:
"Aku sering mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—berkata:
> 'Ayat {إياك نعبد} (Hanya kepada-Mu kami menyembah) dapat menangkal penyakit riya (ingin dipuji), sedangkan ayat {وإياك نستعين} (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) dapat menangkal penyakit kibriya’ (kesombongan).'
 * Jika seseorang disembuhkan dari penyakit riya dengan ayat {Hanya kepada-Mu kami menyembah},
 * Serta disembuhkan dari penyakit kesombongan dan ujub (bangga diri) dengan ayat {Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan},
 * Dan disembuhkan dari penyakit kesesatan serta kebodohan dengan ayat {اهدنا الصراط المستقيم} (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus),
Maka ia akan sembuh dari segala macam penyakit dan gangguan (hati)nya, mengenakan pakaian kesehatan (iman), serta mendapatkan kenikmatan yang sempurna.
Ia pun termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberi nikmat, bukan golongan orang yang dimurkai—yaitu mereka yang memiliki kerusakan niat (mengetahui kebenaran namun berpaling darinya)—dan bukan pula golongan orang yang sesat—yaitu mereka yang memiliki kerusakan ilmu (tidak mengetahui kebenaran karena kebodohan mereka)."
— Madarijus Salikin, Jilid 1, Hal. 78.
Intisari Pesan
Pesan ini menekankan bahwa Al-Fatihah adalah obat (asy-Syifa) yang menyeluruh:
 * Ibadah yang murni mematikan keinginan untuk dipuji manusia.
 * Ketergantungan total pada Allah mematikan rasa sombong atas kemampuan diri.
 * Permohonan hidayah menyelamatkan kita dari tersesatnya ilmu maupun niat.
Syaikh muhammad al khalifa

Syaikh Abdurrozaq Al Badr Hafizhohullah Berkata" Seorang Wanita muslimah akan tetap tinggi kedudukannya, tidak mudah didekati,dan terpelihara akhlaknya

Syaikh Abdurrozaq Al Badr Hafizhohullah Berkata
" Seorang Wanita muslimah akan tetap tinggi kedudukannya, tidak mudah didekati,
dan terpelihara akhlaknya
* selama ia berpegang teguh dengan agamanya
* menjaga perintah perintah Robb Nya
* mentaati nabinya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam
* wanita muslimah yang tunduk pada Allah, patuh pada hukum dan keputusan Nya
* menegakan hak hak islam dan kewajiban-kewajibannya dan adab-adabnya
 yang agung dengan penuh kenyamanan, kepercayaan dan ketenangan
* tidak menoleh kepada orang orang yang terabaikan dari kalangan manusia
yaitu dari da'i da'i penyeruh perbuatan keji dan fitnah"

Mau'izhoh An Nisa 20/19

Membaca do'a istiftah di setiap awal dua raka'at shalat tarawih

📚Membaca do'a istiftah di setiap awal dua raka'at shalat tarawih 

📝Mu'tamad madzhab Syafi'i disunnahkan membaca do'a istiftah setiap setelah takbiratul ihram baik itu shalat fardhu maupun shalat sunnah selain shalat jenazah. Ini pendapat yang dipegang oleh muta'akhkhirin seperti Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam ar-Ramli, Khathib asy-Syirbini dan Ashabul Hawasyi. 

🔎Berkata Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu':

يستحب لكل مصل من إمام ومأموم ومنفرد وامرأة وصبي ومسافر ومفترض ومتنفل وقاعد ومضطجع وغيرهم أن يأتي بدعاء الاستفتاح عقب تكبيرة الإحرام فلو تركه سهوا أو عمدا حتى شرع في التعوذ لم يعد إليه لفوات محله ولا يتداركه في باقي الركعات

"Dianjurkan bagi orang shalat baik ia imam, makmum, munfarid (shalat sendiri), wanita, anak kecil, musafir, melaksanakan shalat fardhu, shalat sunnah, shalat dalam keadaan duduk, berbaring, dan selain mereka untuk membaca do'a istiftah setelah takbiratul ihram. Jika ia meninggalkannya karena lupa atau sengaja sampai ia membaca ta'awwudz maka ia tidak harus membacanya karena momentumnya sudah lewat, dan tidak pula membacanya di raka'at yang tersisa." [Al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab: 3/318]

✒️Adapun waktunya yaitu: sebelum bacaan ta'awwudz ketika masih berdiri -yang bukan i'tidal- kecuali si makmum takut terlewatkan membaca al-Fatihah sedangkan imam akan ruku'. Karena di antara mufradat Syafi'iyyah makmum tetap wajib membaca al-Fatihah di belakang imam shalat jahriyah.

📔Jika imam sudah mulai membaca al-Fatihah apakah makmum tetap membaca do'a istiftah? Imam al-Bajuri dalam Hasyiyah Fathul Qarib tetap menganjurkannya walaupun imam sudah mulai membaca al-Fatihah. [Hasyiyah al-Bajuri cet. Darul Minhaj: 1/644]
Ustadz muhammad taufiq 

Dua Kaidah yang Wajib Dihafal oleh Penuntut Ilmu :

Dua Kaidah yang Wajib Dihafal oleh Penuntut Ilmu :

1️⃣ Tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihad
Artinya: Tidak boleh seseorang mengingkari (menyalahkan dengan keras) seorang mujtahid atau muqallid dalam masalah yang tidak terdapat dalil yang jelas dan tegas di dalamnya.
(Syarh Muntahā al-Irādāt, 1/275)

2️⃣ Siapa yang melakukan suatu perkara cabang (furu’) yang diperselisihkan di antara para imam, dengan takwil atau karena mengikuti imam yang diakui keilmuannya, maka ia tidak dihukumi fasik dan sah shalat di belakangnya.
(Sumber: Kashshāf al-Qinā‘, 6/422)
Ustadz hasbi majdi

doa agara anak keturunan paham dalam ilmu agama

Orang yang berpuasa itu siang malam dalam ibadah. Di siang hari ia berpuasa & bersabar, di malam hari ia menyantap makanan & bersyukur"

قال الحافظ ابن رجب الحنبلي - رحمه الله - :

" الصائم في ليله ونهاره في عبادةٍ ، فهو في نهاره صائمٌ صابرٌ ، وفي ليله طاعمٌ شاكرٌ "

【 لطائف المعارف  -  ابن رجب 】
"Orang yang berpuasa itu siang malam dalam ibadah. Di siang hari ia berpuasa & bersabar, di malam hari ia menyantap makanan & bersyukur"
【 Ibnu Rajab al-Hanbali 】
Ubf

TIDAK BOLEH SEMBARANG DALAM BERFATWA

TIDAK BOLEH SEMBARANG DALAM BERFATWA

Sahnun bin Sa'id rahimahullah berkata, 

أَجْسَرُ الناس على الفتيا أقلهم علماً، يكون عند الرجل الباب الواحد من العلم يظن أن الحق كله فيه. 

"Seorang yang sangat lancang dalam urusan fatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya. Ia hanya memiliki satu bab ilmu, tetapi ia menyangka bahwa kebenaran seluruhnya ada padanya."

📚 I'lamul Muwaqqi'in, Halaman 39
___________________

AAAA