Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Kamis, 05 November 2026
Hukum Riwayat Orang Fasik dengan Bid'ahnya
Pendapat Ketiga: Riwayat ahli bidah yang fasik dengan bidahnya diterima jika ia tidak menyeru (berdakwah) kepada bid'ahnya, dan tidak diterima jika ia adalah seorang dai (penyeru bid'ah)
Halaman 129
[Pendapat Ketiga: Riwayat ahli bidah yang fasik dengan bidahnya diterima jika ia tidak menyeru (berdakwah) kepada bid'ahnya, dan tidak diterima jika ia adalah seorang dai (penyeru bid'ah).]
Dan di antara ulama yang berpendapat mazhab ini adalah: Abdullah bin Al-Mubarak, Yahya bin Sa'id Al-Qatthan, Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad bin Hanbal, dan Yahya bin Ma'in; serta diriwayatkan pula dari Malik.
Al-Khatib meriwayatkan dalam Al-Kifayah, dari Abdurrahman bin Mahdi, ia berkata: "Barangsiapa yang melihat suatu pendapat lalu tidak menyeru orang kepadanya, maka ia dapat ditoleransi. Dan barangsiapa yang melihat suatu pendapat lalu menyeru kepadanya, maka ia layak untuk ditinggalkan."
Dan dari Nu'aim bin Hammad, ia berkata: "Aku mendengar Ibnu Al-Mubarak berkata: 'Telah ditinggalkan hadis Amr bin Ubaid dan diriwayatkan dari Hisyam Ad-Dastuwa'i (1), Fulan dan Fulan, padahal mereka semua menganut paham Qadariyah?' Ia berkata: 'Sesungguhnya Amr adalah seorang yang menyeru kepada pahamnya (dai).'"
Dan dari Ahmad bin Hanbal ketika ditanya: "Apakah aku menulis (hadis) dari golongan Murji'ah dan Qadariyah?" Beliau menjawab: "Jika ia tidak menyeru (kepada bid'ahnya)."
Al-Khatib berkata: "Sesungguhnya para ulama melarang untuk menulis hadis dari para dai (penyeru bid'ah) karena khawatir hal itu akan membawa kepada tersebarnya dakwah menuju bid'ah, menumbuhkan minat terhadapnya, serta membantu dalam mewujudkan apa yang mereka tuju."
Yahya bin Ma'in berkata: "Janganlah kamu menulis hadis dari mereka, kecuali jika mereka bukan orang yang diyakini melakukan hal tersebut [yaitu tidak menyeru kepadanya]."
(Catatan Kaki nomor 1)
Al-Hafiz Al-Imam Abu Bakar Hisyam bin Abi Abdullah Nashr Al-Bashri, pemilik julukan Asy-Syabab Ad-Dastuwa'i... Beliau adalah seorang yang tsiqah (terpercaya), tsabit (kuat hafalannya) dalam hadis, dan merupakan hujah, hanya saja beliau meyakini paham Qadar (Qadariyah). Beliau wafat pada tahun 154 H. (Lihat Siyar A'lam al-Nubala, 149/7; Thabaqat Ibnu Sa'd, 279/7; dan Tarikh Khalifah, hlm. 426)
Halaman 130
...dan tidak menyeru kepada ajaran Hisyam Ad-Dastuwa'i dan selainnya dari kalangan orang yang meyakini paham Qadar serta tidak menyeru kepadanya.
Adapun riwayat yang dinukil dari Malik dalam masalah ini, maka Al-Sakhawi berkata: "Al-Qadhi Abdul Wahhab berkata dari perkataan Malik: 'Janganlah mengambil hadis dari pelaku hawa nafsu (bid'ah) yang menyeru kepada hawa nafsunya,' namun Al-Qadhi Iyad membantahnya, karena pendapat yang dikenal adalah penolakan secara mutlak."
Dan Al-Hafiz Muhammad bin Al-Barqi berkata (3): "Aku berkata kepada Yahya bin Ma'in: 'Bagaimana pendapatmu tentang orang yang dituduh menganut paham Qadar, apakah hadisnya ditulis?' Beliau menjawab: 'Ya, Qatadah, Hisyam Ad-Dastuwa'i, Sa'id bin Abi Arubah (4) dulunya ada sekelompok orang yang berpendapat dengan paham Qadar, namun mereka adalah orang-orang yang tsiqah (terpercaya), dan hadis mereka ditulis selama mereka tidak menyeru kepada sesuatu pun (dari bid'ah mereka)' (5)."
Kekecewaan masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah saat ini, turut memicu munculnya seruan di media sosial untuk menghentikan pembayaran pajak kendaraan bermotor.
Apa hukum pajak (ad-dhara'ib)?"
https://youtu.be/aCRnoxodsp8?si=Zs2MMS5r6M94l4VJ
Pertanyaan:
"Apa hukum pajak (ad-dhara'ib)?"
Jawaban (Syaikh Dr. Utsman al-Khamis):
"Hukum asal dari pajak adalah dilarang/diharamkan (termasuk dalam kategori al-mokus / pungutan liar atau pungutan yang diharamkan dalam Islam).
Pajak tidak diperbolehkan kecuali dalam kondisi darurat, yaitu ketika kas negara (Baitul Maal) kosong dan negara sangat membutuhkan dana untuk mengelola urusan kaum Muslimin (seperti pertahanan, fasilitas publik yang mendesak, dsb.). Pada kondisi tersebut, pemerintah boleh mengenakan pajak secukupnya sesuai kebutuhan, dan wajib dihentikan ketika kebutuhan tersebut telah terpenuhi."
Poin Utama Ringkasan:
- Hukum Asal: Pajak/pungutan harta dari masyarakat pada dasarnya haram dalam hukum Islam.
- Pengecualian (Kondisi Darurat): Pajak hanya dibolehkan jika kas negara tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan mendesak umat Islam.
- Syarat Pembatasan: Pengenaan pajak harus terbatas pada besaran yang dibutuhkan saja dan bersifat sementara hingga kondisi darurat/kebutuhan tersebut selesai