Jumat, 31 Juli 2026

Menjaga Wibawa Pemimpin

*Menjaga Wibawa Pemimpin*

Burhanuddin Al Biqa'i berkata: 

"Sesungguhnya kemaslahatan agama tidak mungkin terwujudkan tanpa menghormati pemimpin".

(Nadhmu Surat 9/302)

Bantahan Asy'ariyah kepada Mu'tazilah dalam masalah sifat adalah bantahan yg sama Atsariyah/salafiyah kepada asy'ariyah.

Bantahan Asy'ariyah kepada Mu'tazilah dalam masalah sifat adalah bantahan yg sama Atsariyah/salafiyah kepada asy'ariyah.

๐—”๐˜€-๐—ฆ๐˜‚๐˜†๐˜‚๐˜๐—ต๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ฎ๐˜‚๐—บ ๐—บ๐˜‚๐˜€๐—น๐—ถ๐—บ๐—ถ๐—ป

[๐™†๐™š๐™ฃ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ]

Sekitar dua tahun setelah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal atas jasa beliau dalam melayani Islam, saya mengunjungi beliau di masjidnya di 'Unaizah. Saya bertanya kepada beliau tentang karya-karya Imam As-Suyuthi.

Beliau menjawab:

"๐—”๐˜€-๐—ฆ๐˜‚๐˜†๐˜‚๐˜๐—ต๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ฎ๐˜‚๐—บ ๐—บ๐˜‚๐˜€๐—น๐—ถ๐—บ๐—ถ๐—ป. ๐—œ๐—น๐—บ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—น๐˜‚๐—ฎ๐˜€. ๐—”๐—ธ๐˜‚ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—น ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ณ๐—ฎ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ, ๐—ธ๐—ต๐˜‚๐˜€๐˜‚๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ถ๐—น๐—บ๐˜‚ ๐—ป๐—ฎ๐—ต๐˜„๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ. ๐—”๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ, ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜๐—ถ. ๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป-๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ท๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ป๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ป ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ๐—น๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐˜‚."

— Dr. Ahmad bin Musfir Al-'Utaibi

๐™๐™–๐™š๐™™๐™–๐™

Inilah manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi para ulama:

- Mengakui keutamaan dan jasa mereka.
- Mengambil manfaat dari ilmu mereka.
- Tidak mengikuti kesalahan mereka.
- Menjelaskan kekeliruan dengan dalil dan adab.
- Tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menjatuhkan kehormatan seorang alim.

Sebagaimana dikatakan:
ูŠُุฑَุฏُّ ุงู„ْุฎَุทَุฃُ، ูˆَูŠُุญْูَุธُ ุงู„ْูَุถْู„ُ
"Kesalahan ditolak, namun keutamaan tetap dijaga."

๐—œ๐—ป๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—น: ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐˜‚๐—น๐˜๐˜‚๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฎ ๐˜‚๐—ฐ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—ฝ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐˜๐˜‚๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚๐—ฎ๐—ป.

๐Ÿ“ Kisah ini juga menunjukkan salah satu akhlak mulia Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah. Meskipun beliau telah meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal—sebuah penghargaan bergengsi di dunia Islam—hal itu tidak membuat beliau sombong, ujub, atau meremehkan ulama lain.

Beliau tetap mengakui keilmuan Imam As-Suyuthi, mengambil manfaat dari karya-karyanya, sekaligus menjelaskan bahwa beliau memiliki beberapa kekeliruan yang tidak boleh diikuti. Tanpa celaan, tanpa merendahkan kehormatan beliau.
ustadz abu ya'la hizbul majid

Bantah berbantah itu terus berkembang, dengan bahasa yang pedas atau bahasa yang lebih pendas lagi.

Bantah berbantah itu terus berkembang, dengan bahasa yang pedas atau bahasa yang lebih pendas lagi.

Silahkah simak, agar anda yang seperti saya kelas penonton dan tukang sorak tidak usah gatel lisan ikut masuk ke lapangan.

Syeikh Musyhur Hasan Al Salman menkritik Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhli.

https://youtu.be/XXIFus7gwj4?si=63vxrkScQRWOlsj

Kritik di atas dicounter oleh Syeikh Sholeh As Suhaimi.

https://youtu.be/Qa__CIcJq1c?si=TESccGnBcjqZZXMs

Di bawah ini juga contoh bagaimana komentar syeikh Sholeh As Suhaimi perihal Syiekh Utsman Al khumais.

https://youtu.be/ldy2W_o8mN4?si=YCXgGjUP9JsTtADj

Kawan! Menurut saya, sekali lagi menurut saya nih ya, tema seperti ini membingungkan anda bukan? 

Saya yakin banyak dari anda yang bingung duduk masalahnya antara para syeikh itu sebenarnya apa sih.

Akan lebih membingungkan lagi, bila anda mengikuti jejak mereka dengan menggunakan isu yang sama untuk menilai orang lain sesama penuntut ilmu di negri kita, sedangkan syeikh syeikh panutan anda saja saling lempar tuduhan.

So?

Nantikan seri selanjutnya

https://www.facebook.com/share/18xisLuQs5/

Tidak Semua Orang Mampu Menghadapi Ujian Kekayaan

Tidak Semua Orang Mampu Menghadapi Ujian Kekayaan

Ibnu Taimiyah rahimahullah:

“Kemiskinan lebih cocok bagi kebanyakan orang, sedangkan kekayaan hanya cocok bagi sedikit orang saja. Karena itu, orang-orang miskin lebih banyak masuk surga, sebab ujian kemiskinan pada umumnya lebih ringan daripada ujian kekayaan. Baik orang miskin maupun orang kaya sama-sama menghadapi ujian; yang satu dituntut untuk bersabar, sedangkan yang lain dituntut untuk bersyukur. Akan tetapi, karena keadaan kaya identik dengan kenikmatan, sedangkan keadaan miskin identik dengan kesulitan dan penderitaan, maka syukur lebih sering disebut dalam konteks kenikmatan, sedangkan sabar lebih sering disebut dalam konteks kesulitan.”
ustadz didik suyadi

Kamis, 30 Juli 2026

hati hati yang suka jawab pertanyaan agama tanpa ilmu maka dia berdosa meskipun benar jawabannya sebagaimana dijelaskan imam an nawawi rahimahullah ,


hati hati yang suka jawab pertanyaan agama tanpa ilmu maka dia berdosa meskipun benar jawabannya sebagaimana dijelaskan imam an nawawi rahimahullah  , sebab benarnya tersebut hanya kebetulan ,bukan diatas ilmu ... sedangkan dihadist patokannya bukan benar salah ,tapi diatas ilmu dan dasar yang jelas atau tidak
sebaliknya fatwa ahli ilmu tetap dapat pahala , jika benar dapat 2 pahala jika salah dapat 1 pahala  , sebab dibangun diatas ilmu 

ingat baik baik hadist berikut

ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: "ู…ู†
 ุฃูุชูŠ ุจุบูŠุฑ ุนู„ู… ูƒุงู† ุฅุซู…ู‡ ุนู„ู‰ ู…ู† ุฃูุชุงู‡" .ูˆุฑูˆู‰ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡  ุฃูŠุถุงً ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: "ู…ู† ุฃูุชูŠ ุจูุชูŠุง ุบูŠุฑ ุซุจุช، ูุฅู†ู…ุง ุฅุซู…ู‡ ุนู„ู‰ ู…ู† ุฃูุชุงู‡"

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:
"Barang siapa memberikan fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberikan fatwa tersebut."
Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:
"Barang siapa diberi fatwa dengan suatu fatwa yang tidak memiliki dasar (tidak kokoh kebenarannya), maka sesungguhnya dosanya ditanggung oleh orang yang memberikan fatwa kepadanya."
Ustadz abdurahman patri

tidah usah trauma